Karena kebodohan keduanya, Anggun dan Alister berakhir tidur bersama. Padahal, keduanya adalah musuh bebuyutan, Alister adalah berandal, pengacau yang membuat Anggun selaku ketua OSIS selalu keluar masuk ruang BK demi menyelesaikan permasalahan nya.
Terjebak bersama dengan pria yang paling dibenci. Itu membuat Anggun menderita, apalagi keluarganya meninggalkannya dengan pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orangtua
Anggun terbangun dan mendapati sang suami yang sudah memindahkannya ke kamarnya. Sedikit tidak rela karena seingat Anggun, Alister memeluknya semalam dan itu terasa sangat hangat.
"Anggun, bangun. Sarapan dulu."
"Iya" Sahutnya dari dalam. Bergegas keluar dari kamarnya dan melihat sang suami yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.
Anggun mandi dulu. Sambil melamun kalau kehidupannya tidak ada yang berubah meskipun dirinya hamil. Anggun pikir Alister akan memperlakukannya dengan berbeda, tapi nyatanya tidak begitu. Kemewahan belum bisa dia miliki. "Al? Gue lupa bawa handuk!" Teriak Anggun saat hendak keluar. Bodoh sekali dia tidak membawa apapun. "Alister??!"
Lama menunggu Anggun kesal juga dan mengintip keluar, tidak ada Alister di dapur. "Alister?!" Panggilnya lagi sambil berteriak.
"Kenapa?" Ternyata pria itu sedang di kamarnya dan keluar, menatap kepala Anggun yang menyembul keluar. "Kenapa?"
"Ambilin anduk, gue lupa gak bawa anduk." Matanya menatap sang suami dengan berkaca kaca. Alister berdecak dan segera melakukannya.
Tadinya Anggun akan meminta Alister membawakan bajunya, tapi dia takut masa ********** nanti dilihat oleh pria itu. "Jangan liat! Berbalik!"
Alister menurut. Namun panci di depannya tidak bisa diajak bekerja sama hingga pria itu bisa melihat bagaimana lekuk tubuh Anggun yang begitu indah. Berdecak dan memalingkan wajahnya sambil menggeram frustasi. Anggun benar benar seksi jika seperti itu.
Bahkan ketika sarapan juga, Alister tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Dia adalah pria normal dan mengingat apa saja yang pernah Anggun lakukan dulu bersama dengannya.
"Kenapa liatin gue kayak gitu?"
"Gak ada. Makan yang banyak. Jangan lupa minum susunya juga."
Anggun yang merasa sedikit mual itu memilih bergeser mendekat sang suami. Aroma Alister berhasil membuat Anggun merasa tenang. "Kenapa deket deket?" Tanya pria itu yang merasa khawatir kalau dirinya terpancing.
Sadar apa yang dirinya lakukan, Anggun berdecak. "Mau ambil sosis. Bukan mau deketin lu tau."
Langsung bergeser lagi ke tempat semula.
***
Seperti biasa, Alister mengantarkan Anggun sampai ke depan gerbang kampus. Tidak lupa, sekarang Alister meminta Anggun untuk memberitahu kemanapun akan pergi, dan juga berhati hati. Anggun merasa tersindir dengan apa yang dia lakukan kemarin secara diam diam. "Iya, gue gak bakalan kemana mana lagi kok. Langsung nungguin lu di sini."
"Bagus." Alister mengusap rambut Anggun yang berantakan karena helm. Berhasil membuat perempuan itu menunduk malu karenanya. Dia mulai menerima semua perlakuan yang diberikan oleh Alister.
Pria itu memastikan dulu Anggun masuk sebelum pergi menuju ke bengkel. Mencari uang untuk persiapan melahirkan sang istri nantinya. Juga bertemu lagi dengan Alika dan ayahnya untuk membahas bisnis. Terlepas dari kesibukannya, Alister selalu tepat waktu untuk menjemput Anggun. Karena memiliki uang lebih, Alister juga mengajak Anggun untuk jalan jalan dulu supaya tidak merasa jengah di apartemen.
Namun, Anggun sedang malas, jadi dia menolak dan meminta untuk pulang setelah berkeliling kota. "Yakin gak mau beli apapun?"
"Nggak, gue mau pulang aja."
Baru ketahuan alasan Anggun menjadi seperti itu. Ternyata dia memiliki tugas yang membuatnya pusing. Bahkan perempuan itu langsung masuk ke kamarnya. Alister yang penasaran itu masuk secara diam diam dan melihat tugas sang istri. "Halah gampang inimah. Bikin essay tinggal ngarang juga," Ucapnya mengambil tugas itu dan mengerjakannya di ruang tengah.
Tidak lupa menyiapkan makan malam. Selesai, Alister memutuskan tidur dulu beristirahat sejenak. Tanpa dia ketahui, Anggun bangun dan mencari tugasnya. Ternyata dia mendapati nya di meja dan sudah selesai. Ketika dibaca, semuanya masuk akal. Dan ini benar benar membuat Anggun menatap Alister dengan penuh tanya. Bagaimana bisa? Pria ini sepintar itu?
***
"Nggak, gue cuma kebetulan pernah baca buku di perpustakaan rumah gue. Jadi bikin yang kayak gini mah gampang."
"Tapi ini tentang kedokteran loh. Bukan orang biasa yang bisa jawab ini."
"Ya gimana ya… gue emang bukan orang biasa, tapi orang luar biasa."
Anggun jadi menyesal sudah memuji pria ini. Dia berdecak dan memalingkan wajahnya. "Mau minta dibantuin yang lainnya? Bisa?"
"Bisa kalau gue sanggup. Bawa aja ke sini nanti abis makan."
Kini, meja di ruang tengah disingkirkan dan dibentangkan karpet. Dimana Alister dan juga Anggun bersama sama mengerjakan tugas di sana. Anggun sampai terheran heran, bagaimana otak dengan kapasitas sepintar itu bisa jadi berandalan di sekolah? Sekarang saja, Anggun merasa dirinya sedang diajarkan oleh Alister. "Gimana? Paham gak?"
"Paham." Segera memalingkan tatapan, terlalu lama menatap Alister ternyata bisa membuat Anggun terpesona juga. Dia tampan meskipun penampilannya urak urakan.
"Dah sekarang tidur. Dah malem."
"Boleh gak tidur sama lu lagi? Um, gue takut petir sama hujan."
Alister membuka tirai, memang hujan deras dan petir. "Gak papa. Mau dikamar siapa?"
"Kamar lu aja. Kamar gue kecil kasurnya."
Tadinya Alister ingin menggoda, tapi Anggun terlihat ketakutan. Jadi dia membiarkan perempuan itu masuk ke kamarnya dan berbaring di sisi biasanya. "Gue gak pake baju kalau tidur. Gak masalah kan?"
"Enggak." Tumben sekali perempuan ini tidak protes. Alister heran sendiri karenanya.
Bahkan ketika sudah berbaring, Anggun menusuk nusuk bisep Alister. "Gue mau peluk. Takut."
"Yaudah sini."
Anggun sendiri tidak tau kenapa menjadi lebih diam, biasanya dia emosi dengan Alister yang melakukan hal apapun di matanya. Tapi mengingat bagaimana pria itu mengantar jemputnya, bertanggung jawab juga memiliki teman teman yang baik dan otak yang pintar, Anggun jadi berfikir kalau dirinya salah menilai Alister selama ini.
Ketika Anggun tenggelam dalam pelukan Alister, dia merasakan kehangatan yang mendalam, rasanya begitu menyenangkan.
"Dah tidur?" Tanya Alister.
"Belum. Kenapa?" Mengadakan kepalanya menatap sang suami.
Anggun berdesir saat pipinya dielus, matanya ditatap dengan begitu dalam. "Gue minta maaf karena lu harus jalanin hidup yang kayak gini gara gara gue. Gue minta maaf karena lu harus hamil di usia yang masih muda. Gue bakalan berusaha jadi suami sama ayah yang baik buat kalian berdua. Kasih gue kesempatan buat jadi seseorang yang lebih baik."
Anggun tidak menyangka akan mendengarkan kalimat itu dari Alister. Semakin dipandang, Alister semakin tampan. Matanya yang indah itu menyihir Anggun untuk mendekat dan tiba tiba saja mengecup bibirnya.
Alister mengerjap kaget.
"Ayok jadi orangtua yang baik buat adek." Anggun tidak tau lagi kepada siapa dirinya akan bergantung. Saat ini, dia hanya memiliki Alister di sisinya. Pria itu terkekeh dan mengecup kening sang istri.
Dan tanpa disangka, Anggun malah mengerucutkan bibirnya dan bertanya dengan bodohnya, "Bibir gue pahit nyampe lu cium kening gue?"
Alister kaget. Dia memegang kening Anggun. "Gak demam."
****
To be continue
Komentarnya?