NovelToon NovelToon
SISTEM BALAS DENDAM 2

SISTEM BALAS DENDAM 2

Status: tamat
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Sistem / Reinkarnasi / Harem / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Jayden, seorang pemuda biasa, tiba-tiba terlibat dalam dunia penuh misteri, godaan, dan permainan kekuasaan setelah bertemu dengan Eveline Bloodthorne.

Dengan sistem aneh di kepalanya yang memberinya misi dan imbalan, Jayden harus bertahan dari intrik keluarga, pengkhianatan, dan bahaya yang mengintai di setiap sudut rumah megah mereka.

Sementara itu, masa lalunya kembali menghantui ketika sahabat masa kecilnya, Rose, terbaring koma di rumah sakit, dan Jayden harus menyelidiki kebenaran di balik kecelakaan yang menimpanya.

Di tengah semua ini, Jayden juga harus menghadapi godaan dari wanita-wanita disekitarnya, termasuk ibu Rose, Elena, yang hidupnya penuh dengan kepedihan.

Apakah Jayden bisa bertahan tanpa terseret dalam arus nafsu dan kekuasaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KECEWA EVELINE

Akhirnya Eveline tidak tahan lagi, dalam satu gerakan cepat, dia melangkah mendekati Jayden dan mengayunkan lengannya.

Dalam refleks bertahannya, Jayden salah menafsirkan niat Eveline, mengira dia mengincar pil itu. Tangannya bergerak cepat, menghindari apa yang dia kira sebagai upaya merebut pil darinya.

Namun sebelum dia sempat menyadarinya, Eveline justru menghantam bagian belakang kepalanya. Dia sebenarnya hanya ingin menamparnya dan bahkan tidak melirik pil di tangan Jayden sama sekali.

“Kenapa kau selalu begitu? Tidak bisakah kau serius untuk sekali saja?” tanya Eveline.

“Apa kau baru saja memukulku?” Mata Jayden membelalak tidak percaya saat dia berbalik menghadap Eveline, tangannya secara refleks mengusap bagian kepala yang terkena pukulan. “Apa kau benar-benar memukulku?”

“Aku memang memukulmu, lalu kenapa?” Eveline membalas dengan nada menantang. “Aku lebih tua darimu. Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau dan menghukum bocah nakal sepertimu.”

“Bocah nakal? Sialan kau,” umpat Jayden, rasa perih dari tamparan tak terduga itu memicu amarahnya. “Dari mana datangnya semua kepercayaan dirimu ini? Sampai kemarin kau seperti anak domba ketakutan, berjalan serba hati-hati di sekitarku. Dan sekarang lihat dirimu.” Keterkejutan Jayden terasa nyata.

“Kau membuatku mengerti, ‘anak kecil’,” kata Eveline, tak terpengaruh oleh ledakan emosi Jayden. Dia melangkah lebih dekat, suaranya merendah menjadi bisikan. “Tidak ada lagi alasan bagiku untuk hidup tercekik ketakutan. Aku bisa menjadi siapa pun yang aku mau, dengan cara apa pun yang aku mau.”

Ding!

[Cinta: +1]

Jayden menggaruk kepalanya dengan kebingungan saat notifikasi itu muncul, ‘poin cinta didapatkan?’ Alisnya berkerut sambil berpikir, ‘tunggu, aku tidak ingat ada misi atau pilihan apapun yang berhubungan dengan ini.’

Dengan mata penuh tanda tanya, Jayden menoleh menatap Eveline lalu cepat-cepat membuka sistem.

[ Nama: Eveline Bloodthorne

Usia: 28 tahun

Pengukur Hasrat: 65/100

Radar Romansa: 01/10 ]

Radar Romansa Eveline memang meningkat, bahkan Pengukur Hasrat-nya berada di angka 65. Namun Pengukur Hasrat adalah sesuatu yang sudah sering Jayden lihat naik turun, jadi dia tidak terlalu memikirkannya. Tapi ini adalah pertama kalinya Radar Romansa, sesuatu yang lebih konkret, meningkat begitu saja.

[Mengapa kau menjadi paranoid? Bukan hanya pilihan dari sistem, tetapi pilihanmu sendiri juga memengaruhi orang-orang di sekitarmu]

[Kau adalah dirimu sendiri, kau tahu itu]

‘Kalau aku menginginkan ceramah merendahkan, aku pasti sudah memintanya. Jadi terima kasih tapi tidak perlu. Bisa diam sebentar?’ Jayden segera membungkam sistem itu, dan sedikit keraguannya pun terjawab.

Jayden, sambil mengusap bagian belakang kepalanya, menatap Eveline dengan campuran rasa terkejut dan jengkel. “Kau sebenarnya bisa saja memintaku untuk serius. Tidak perlu sampai menggunakan kekerasan.”

“Aku hanya perlu mengguncangmu keluar dari pola pikir dramatismu itu,” balas Eveline tanpa gentar, menyilangkan lengannya. “Kadang-kadang tamparan adalah satu-satunya cara menembus kepalamu yang keras. Mungkin sekarang kau akan mulai menganggap ini serius.”

“Terserah,” Jayden menepis topik itu dengan lambaian tangan santai, lalu melemparkan pil kecil berwarna cokelat ke arah Eveline, yang dengan cekatan menangkapnya di udara.

Eveline menatap pil itu dan raut terkejut muncul di wajahnya. “Apa ini?”

“Obat untuk nenekmu,” jawab Jayden. “Larutkan dengan metanol dan berikan padanya. Percayalah, dia akan segera bisa bangkit kembali.”

Alis Eveline mengernyit saat dia menerima pil itu. Pandangannya berpindah dari kapsul cokelat itu ke wajah Jayden, ekspresi bingung muncul. “Apakah kau tahu apa itu metanol?” tanyanya. “Itu beracun, kalau kau tidak tahu, bahkan bagi vampir. Apakah kau mencoba membunuh nenekku?”

Jayden ragu sejenak, kepercayaan dirinya goyah oleh pertanyaan tajam Eveline. “Ya, aku tahu,” akuinya dengan sedikit ketidakpastian. “Tapi, hei, ini memang obatnya, atau setidaknya begitu yang aku ‘baca’. Mau bagaimana lagi?”

Kecurigaan Eveline semakin dalam. Dia menatap Jayden lama, menimbang kata-katanya. Setelah keheningan singkat, dia memutuskan bertindak. “Tunggu sebentar,” katanya sambil berbalik dari Jayden.

Jayden memperhatikan Eveline memanggil seorang penjaga yang sedang lewat. Penjaga itu, berjalan mendekat. Lalu Eveline berbicara. “Ambilkan aku metanol.”

Dengan anggukan, penjaga itu meninggalkan ruangan.

Jayden mulai gelisah ketika memikirkan kembali soal memberikan metanol kepada nenek tua itu.

Sementara itu, Eveline sudah sepenuhnya memantapkan pikirannya. Dia berdiri teguh, seolah tak terganggu, menunggu kembalinya penjaga itu.

Tak lama kemudian, penjaga itu kembali sambil membawa sebotol metanol. Eveline merebut botol itu darinya tanpa repot-repot mengangguk atau mengucapkan terima kasih. Dia berbalik menghadap Jayden, botol metanol tergenggam erat di tangannya.

“Oke, katakan padaku, berapa banyak metanol yang kita butuhkan?” tanyanya.

Mendengar pertanyaan Eveline, mata Jayden langsung membelalak. Saat itu juga dia tersadar—dia lupa menanyakan hal itu pada kelinci, dan si makhluk berbulu itu juga terlalu terburu-buru untuk memberinya petunjuk itu. Rasa panik menghantamnya, dan dia pun tergagap mencari jawaban.

“Sial, aku benar-benar lupa menanyakan itu pada kelinci,” akui Jayden dalam hatinya.

“Aku… um… tidak tahu sama sekali,” kata Jayden kepada Eveline.

Ekspresi Eveline tidak berubah, tatapannya tetap tajam. “Jadi kita harus menebak-nebak begitu saja?”

Jayden menggaruk kepalanya, tawa gugup lolos dari mulutnya. “Ya, kurasa begitu. Maksudku, ini memang obatnya, tapi aku tidak memiliki buku petunjuk atau apa pun.”

Eveline menghela napas, rasa kesalnya terasa jelas. “Hebat. Benar-benar hebat. Kita sedang bermain tebak-tebakan dengan nyawa nenekku.”

Di bawah tekanan tatapan skeptis Eveline, Jayden mencoba bersikap meyakinkan. “Hei, aku paham keraguanmu. Ini memang seperti menembak dalam gelap. Tapi kalau ada sedikit saja kemungkinan metanol ini bisa membuat perbedaan untuk nenekmu, bukankah kau ingin mencobanya?”

Tatapan Eveline semakin tajam, “Dan kalau hasilnya malah berbalik? Kalau justru membuat semuanya semakin buruk?”

Bahu Jayden merosot, “Dengar, aku tidak punya semua jawabannya. Aku hanya mencoba mengambil keputusan terbaik dari kartu yang kita pegang.”

Eveline, masih menggenggam botol metanol, menatap Jayden sejenak, mempertimbangkan pilihannya. Akhirnya dia berbicara, “Baiklah. Kita akan melakukannya. Tapi kalau terjadi apa-apa, itu tanggung jawabmu.”

Ruangan seketika tegang ketika Eveline menuangkan larutan metanol itu ke dalam gelas, pil yang larut mengubah cairan tersebut menjadi campuran yang terasa tidak menyenangkan. Matanya sempat melirik ke arah keluarganya, terselip harapan sesaat bahwa seseorang akan menghentikannya, bahwa seseorang akan mencegahnya melakukan tindakan nekat ini.

Namun yang dia temukan hanyalah senyum-senyum penuh dorongan, seolah diam-diam memaksanya untuk melanjutkan upaya putus asa itu.

Dengan helaan napas pasrah, Eveline mendekati neneknya, gelas metanol tergenggam kuat di tangannya. Dia ragu sejenak, matanya bertemu dengan wajah wanita tua yang terbaring di ranjang.

Mulut wanita tua itu terbuka, tubuhnya yang lemah tetap tak bergerak. Eveline perlahan menuangkan metanol itu ke mulut neneknya.

Detik demi detik berlalu menjadi menit, ruangan tetap sunyi, hanya terdengar napas tertahan mereka yang menunggu. Wanita tua itu terbaring tak bergerak di ranjang, dan keraguan mulai merayap ke dalam benak mereka.

“Apakah dia mati?” suara Michelle memecah keheningan.

Eveline, dengan mata menyala antara frustrasi dan kekhawatiran, mengarahkan tatapan tajam ke Jayden.

“Jangan menuduhku,” protes Jayden. “Selalu ada risiko. Kita memang tidak punya jaminan.”

Eveline, jelas frustrasi, melangkah mendekati neneknya. Saat mendekati sisi ranjang, dia berusaha mencari tanda-tanda kehidupan pada wanita tua itu.

Mengulurkan tangan, Eveline mencoba merasakan napas neneknya. Tepat ketika tangannya melayang dekat dada neneknya, sebuah gerakan mendadak mengejutkan mereka semua.

Mata wanita tua itu tiba-tiba terbuka.

1
Naga Hitam
yaaa
lerry
update
Coutinho
up
sweetie
cepetan tor lanjutannya
Rahmawati
teruskan tor
july
up
mytripe
lanjutkan tor
.
mbulet ceritane
mytripe
update tor
ariantono
up
july
lanjut
Billie
semgt semgt
bobbie
seru tor ceritanya
bobbie
menarik
Dolphin
ngeri kali
laba6
😍😍😍
Coffemilk
👍👍
cokky
tetap semangat tor
broari
hadir thor
orang kaya
up tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!