Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha
"Tama, gue ikut lo yah ke cafe Dirga." ucap Dila yang sudah menggandeng tangan Tama begitu ia keluar dari kelas.
"Gue juga deh. Nebeng yah." sambung yang lainnya.
"Sorry nggak bisa. Gue ada acara acara keluarga." jawab Tama.
"Nganter nyokap survei tempat nikahan." lanjutnya beralasan.
"Wah bisa dong nanti kalo lo sama Dirga nikah ambil jasa nyokap Tama aja." Selvia menepuk bahu Kara.
"Buat lo ntar gue kasih gratis deh. Mama juga pasti seneng." ucap Tama yang memisahkan diri dari anak-anak kelasnya yang sedari sibuk menagih pajak jadian pada Kara dan Dirga. Kini mereka bertolak menuju cafe milik orang tua Dirga untuk ditraktir habis-habisan. Katanya sih bebas pesan apa saja bahkan kalo mau bungkus untuk orang rumah pun dipersilahkan.
Bukan mengantar mamanya, Tama membelokkan kendaraannya ke sebuah cafe. Alasannya tak ikut serta bukan karena patah hati. Sejak awal Lengkara memang cukup menarik tapi jika untuk dipacari dengan serius, jujur saja Tama tak berminat. Selama ini yang ia lakukan hanya menuruti permintaan mamanya. Berhubung sekarang Lengkara sudah memiliki penjaga sendiri dan mamanya juga sudah membebastugaskan, maka Tama rasa ia tak perlu terus-terusan mengikuti Lengkara, toh Dirga pasti menjaganya dengan baik. Terlebih lelaki itu berubah drastis, keliatan banget kecintannya.
Tama memasuki cafe yang menurutnya cukup estetik. Ini sudah keduanya kalinya dia datang. Dari berbagai cafe yang sudah ia kunjungi, menurutnya kopi di tempat ini yang sesuai dengan seleranya.
Tama berjalan ke meja kasir untuk memesan terlebih dahulu. Ia lantas mencari tempat duduk setelah di beri nomor meja. Ia duduk di meja dekat pintu, tempat ternyaman menurutnya.
Sambil menunggu pesanan datang, Tama membuka ponselnya. Grup chat kelas penuh dengan foto dan vidio anak-anak yang sedang mendapat traktiran syukuran jadian Kara dan Dirga. Dibawahnya ada banyak chat dari siswi-siswi sekolah lama yang masih terus menghubunginya meski sudah pindah. Tama memilih mengabaikan chat tersebut. Hingga telepon yang masuk pun tak pernah ia angkat.
"Abang!" suara setengah teriak itu mengagetkannya hingga ponsel di tangannya nyaris jatuh.
Tama melirik kesal tapi setelah mengetahui pemilik suara mengagetkan itu ia hanya bisa menatap jengah sekilas kemudian menghela nafas panjang. Niatnya menenangkan diri menghindari keramaian malah harus bertemu satu gadis yang ramainya melebihi teman sekelas.
"Bang Tama sendirian aja?"
"Chat Sasa nggak dibalas satu pun ih!"
"Padahal udah kirim foto juga loh biar Abang tau kalo itu chat dari dari Sasa."
Lagi-lagi Tama hanya melirik sekilas dan meneguk kopi pesanannya yang sudah datang.
"Berasa nggak dianggep nih." ucap Sasa lirih.
"Abang ih!" Sasa menaik turunkan telapak tangannya di depan wajah Tama.
"Apa?" ucap Tama singkat.
"Kok apa doang sih? Nggak kangen gitu?" Sasa mengedipkan matanya. Centil.
"Nggak!"
"Ih!" Sasa cemberut, "kangen dong." lanjutnya.
"Orang gue nggak kangen. Maksa banget."
"Harus gimana dong caranya biar Abang kangen sama Sasa?"
"Lo harus pulang terus pura-pura nggak liat aja kalo ada gue!"
"Abang ngusir Sasa?"
"Iya. Kenapa belum pergi juga?"
"Nggak mau, orang Sasa kangen."
"Tapi gue nggak!" ketus Tama.
"Ya udah deh kalo nggak kangen. Tapi kalo cinta gimana? Udah cinta belum sama Sasa?" tanya lagi dengan ceria.
"Menurut lo?"
"Belum."
"Nah itu lo tau." sela Tama.
"Maksud Sasa tuh belum cinta banget, baru mulai dikit-dikit." ledeknya.
"Tunggu sebulan lagi deh pasti udah mentok cintanya sama Sasa."
"Eh nggak usah sebulan, dua minggu kayaknya cukup."
Tama hanya menggelengkan kepala. Ia pergi ke kasir dan membawa kembali beberapa kue, meletakkannya di depan Sasa.
"Makan, dari pada lo ngawur ngomong mulu."
Saya tersenyum, memadang Tama dengan berbinar. "Wah makasih. Bang Tama perhatian banget sama Sasa." ucapnya yang langsung mengambil sendok dan menyantap kuenya.
Tama duduk bersandar, menatap si cerewet yang seketika diam ketika diberi makan.
"Nah kalo diem kan manis." batinnya.
"Hih apaan sih!" Tama buru-buru meralatnya sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa Bang?" tanya Sasa.
"Nggak apa-apa. Ini kopi gue manis." jawabnya seraya meneguk habis espresso miliknya.
Sasa menatapnya heran, "bukannya itu pahit yah? Keliatannya aja item banget."
"Nggak!" elak Tama.
Sasa memangku dagu, "Bang, liat Sasa sini biar paitnya ilang. Kan Sasa manis." ledeknya.
"Gombal banget lo, bocil!"
"Namanya juga usaha, Bang." jawab Sasa, "habis ini Sasa minta tolong anterin pulang yah." lanjutnya.
"Ogah. Pulang aja sendiri, tadi kesini sama siapa?"
Sasa menunjuk Mayra yang nampak serius dengan calon guru lesnya. "sama temen, tapi dia masih lama kayaknya. Sasa harus pulang sekarang nih, takut mama khawatir." jelas Sasa.
"Sasa nelponin kak Dirga juga nggak diangkat dari tadi. Makanya Sasa malah kesini soalnya nggak ada yang nganterin pulang." lanjutnya lebih meyakinkan.
"yah yah anterin yah, Bang? Please." Sasa lebih mendramatisir wajahnya.
"Perut Sasa juga sakit nih, pusing juga. Pegang aja nih kening Sasa, panas." tambahnya lagi seraya mengambil tangan Tama supaya menyentuh keningnya.
Tama menghempas tangannya pelan. "Ya udah deh ayo gue anterin dari pada berisik."
"Asik." Sasa bersorak senang, "mobilnya yang brio item kan?" lanjutnya yang langsung beranjak dari tempat duduk, mengambil tas di meja Mayra kemudian berjalan setengah berlari ke mobil Tama.
Tama yang masih berdiri di depan kasir membuka akses mobilnya. Gadis cerewet itu sudah masuk ke dalam mobil.
"Katanya sakit tapi jalannya cepet." gerutunya, "kayaknya gue kena tipu itu bocil." lanjutnya.
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣