Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon mantu
Sasa sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menikmati jajanan hasil kerja kerasnya hari ini. Seragam sekolahnya saja belum diganti, katanya tanggung bentar lagi juga mau mandi terus siaap-siap ke acara ulang tahun calon kakak iparnya. Itung-itung ia berkontribusi dalam menghemat air, sabun cuci serta tenaga ART yang menyetrika bajunya. Memang dirinya paling pengertian dalam segala hal, bahkan berhemat yang tak seharusnya pun ia lakukan.
“Cie yang abis pacaran... Mom kak Dirga baru pulang nih... belanjaannya banyak banget.” Teriaknya dari ruang keluarga saat Dirga dan Kara melewati ruangan itu.
“Pacaran dari Hongkong!” Kara menghampiri Sasa dan melemparkan boneka yang ia bawa tepat ke samping gadis yang duduk santai di sofa sambil menonton TV.
“Ya ampun jauh banget pacarannya sampe ke Hongkong, Kaleng. Pantes aja pulangnya sampe sore banget.” Ucap Sasa. “Ini oleh-oleh dari Hongkong yah?” lanjutnya seraya memeluk boneka kuning si Chimy Chimy, boneka BT21 versi Jimin si bias kesayangannya Sasa.
“Nih satu lagi, lunas yah! Dirdiran gue ambil.” Dirga ikut melempar boneka boba pada Sasa, tak lupa kantong kresek besar berisi pernak pernik KPOP pun ia letakan di samping gadis itu. “Ra, gue ambil anak kita dulu bentar.” Lanjutnya pada Kara.
“Kaleng, minum nih biar nggak kesel. Pasti cape banget yah abis dari Hongkong?” ledeknya. Sasa menyodorkan jus jeruk digelasnya yang sisa setengah.
Sekesal-kesalnya Kara pada Sasa, dia tetap saja mengambil jus jeruk yang tinggal setengah itu dan meneguknya hingga tandas.
“Gimana nggak kesel? Gue sama kakak lo ngubek mall nyari lo kemana-mana sampe cape pake banget. Gue takut lo kenapa-kenapa, eh yang dicariin malah santai di rumah. Kalo aja mami nggak nelpon, gue pasti masih belum pulang nyariin lo. Atau mungkin udah lapor polisi.” Ujar Kara.
“Maaf, Kaleng. Sasa lupa.”
“Bisa yah lo lupa sama gue sama Dirga juga?”
“Ya abisnya gimana, Kaleng... si abang mengalihkan dunia Sasa. Mau ke lantai tiga aja malah belok pas di lantai dua gara-gara liat dia.”
“Abang siapa lagi? Abang lo kan tadi bareng gue.”
“Hih yang bareng Kaleng mah Kak Dirga. Dia temen Kaleng juga tapi lebih-lebih deh, ini mah abang ganteng. Baik banget loh Kaleng, Sasa aja dibeliin tas, beli jajan juga, terus pulangnya dianterin. Jajan Sasa masih banyak loh, Kaleng mau?”
“Temen gue yang mana? Lo demen yah sama dia? Sampe ketemu dia aja bikin lupa sama gue sama Dirga juga.” Tebak Kara.
“Udah mentok hati Sasa ke dia, Kaleng. Gantengnya spek dewa dah, nggak ada lawan.” Mata Sasa berbinar, bahkan lebih dibanding saat dia menerima uang seratus ribu.
“Dari dulu tiap suka sama orang pasti bilang udah mentok ke dia, tapi liat yang cakepan dikit auto pindah itu hati mentoknya.” Cibir Kara.
“Tapi sekarang beda, Kaleng. Bener-bener mentok kayaknya.” jawab Sasa yakin.
“Kasih tau gue siapa namanya? Temen sekolah gue banyak yang cakep, meskipun yang paling cakep tetep kakak lo.” Ucap Kara, “jangan sampe lo lopelope sama cowok cakep yang suka mainin cewek. Ntar mewek lo yang ada.”
“Bahas apaan sih serius amat?” tanya Dirga yang baru saja tiba dengan Dirdiran di pelukannya. “ikut emak lo sana.” Dirga menyerahkan boneka itu pada Kara. Si mami abal-abal itu langsung memeluk boneka itu dengan erat.
“Tuh si micin demen sama anak sekolah kita katanya, Ga. Sampe pulang duluan ninggalin kita.” Ucap Kara.
Dirga menghembuskan nafasnya pelan, “siapa lagi sekarang, Sa? Arif, Rahman, Rizki? Yang mana?” Dirga menyebutkan satu persatu teman dekatnya yang pernah ia ajak ke rumah untuk sekedar menyelesaikan tugas.
“Bukan!” Sasa menggelengkan kepala.
“Terus siapa, Cin?” tanya Kara.
“Udah lah biarin aja, Ra. Paling juga besok ganti lagi demen ke yang lain. Kayak nggak tau Sasa aja." sela Dirga. “Pulang yuk! Gue anterin. Udah mau maghrib, lo kan mesti siap-siap buat ntar malem.” lanjutnya.
Malam harinya Sasa datang paling awal ke cafe mommy Miya. Bukan tanpa alasan, ia tak mau sampai melewatkan kehadiran Tama. Pokonya kalo Tama datang, orang pertama yang menyambut harus dirinya. Namun sudah hampir satu jam ia disana, sosok yang ditunggu tak juga terlihat. Kini ia hanya bisa berdiri di tengah keramaian tapi terasa seorang diri. Kehebohan saat teman-teman Kara meminta Dirga untuk mencium pemilik pesta pun tak membuatnya ikut bersorak.
“Kaleng sama Kak Dirga ngapain sih? Ini lagi ultah loh malah pada diskusi! Sasa nungguin kue nya nih.” Ucap Sasa yan maju ke depan dan berdiri diantara Kara dan Dirga. “Biar Sasa aja yang potong kue nya lah.” Tanpa menunggu persetujuan Sasa mengambil pisau dan memotong kue ulang tahun Kara.
“Tapi kan gue yang ultah, Cin.” Ucap Kara lirih, padahal dia sudah membayangkan memotong kue dan memberikan suapan kue pertama pada Dirga malah sudah di serobot Sasa.
“Udah nggak apa-apa sama Sasa aja.” Jawab Sasa. “Suapan pertama buat Kaleng Aaa...” Sasa menyuapkan potongan kecil kue pada Kara. “Suapan kedua buat Kak Dirga Aaaa...Pake sendok yang sama biar makin lengket.” Celoteh gadis itu. Meskipun merasa aneh tapi Kara dan Dirga menerima suapan tersebut.
“Sasa sayang banget sama Kaleng, sama Kak Dirga juga. Sasa seneng akhirnya Kaleng sama Kak Dirga bisa sama-sama kayak gini. Di ulang tahun Kaleng yang ke 17 Sasa do’ain Kaleng bahagian selalu, langgeng terus sama Kak Dirga.”
“Aamiin.” Balas Kara tak lupa memeluk gadis yang menjadi calon adik iparnya.
“Btw kadonya mana, Cin?” tanya Kara yang sudah menadahkan tangannya pada Sasa.
Sasa melirik Dirga dan mengambil tangan kanan sang Kakak kemudian menyatukannya dengan tangan Kara. “Spesial sweet seventeen Kaleng, Sasa kasih kakak Dirga. Kakak kesayangan Sasa yang paling cakep. Sasa ikhlas Kak Dirga buat kado ultah Kaleng.”
“Dan karena Kaleng udah Sasa kasih kak Dirga, jangan lupa nanti kasih Sasa ponakan yang lucu-lucu gemoy.” Lanjutnya.
Kara menoyor kening Sasa hingga gadis itu mengusap keningnya. “bilang aja nggak punya kado, pake alesan jadiin Dirga sebagai kado segala.”
“Nggak gitu juga Kaleng! Sekarang Sasa tanya deh, apa yang paling Kaleng inginin selama ini? Kak Dirga kan?” tanya Sasa dan Kara mengangguk.
“Apa ada yang lebih Kaleng inginin selama ini selain jadi istrinya Dirgantara?” Kara menggelengkan kepala.
“Nah maka dari itu Sasa kadoin tuh kak Dirga buat Kaleng. Secara tidak langsung Sasa udah ngewujudin apa yang Kaleng inginin selama ini.” Ucap Sasa bangga.
“Ya tapi kan nggak gitu juga konsepnya, Cin.” Ucap Kara.
Sasa hanya tertawa, “pokoknya gitu lah Kaleng.”
Dirga kembali merangkul bahu Kara dan melihat adiknya sibuk memotong kue untuk orang tua mereka. Kadang Dirga tak habis pikir dengan jalan pikiran Sasa, terlalu absurd. Sasa seperti jalan pikiran gadis yang sedang ia rangkul.
“Sasa mau gabung sama mommy yah kak?” pamitnya seraya membawa beberapa potong kue. “males disini pada bawa pasangan semua, Sasa jomblo.” Keluhnya.
“Biasanya sama Ririd.” Ucap Kara. “tuh Ririd sendirian.” Kara menunjuk adiknya yang asik dengan ponsel.
“Ririd kalo lagi pegang HP nggak bisa diajak ngomong. Kalo Sasa gangguin ntar dia ngamuk. Dah lah Sasa mau ke mommy. Mau makan juga, laper. Dari tadi Sasa belum makan malah keliling kesana kemari nyari dia tapi nggak ada. Padahal kita udah janjian loh.” Ujar Sasa panjang lebar kemudian berlalu bergabung bersama kumpulan orang tua.
Sasa benar-benar bersama mommy nya selama acara berlangsung. Sedikit kecewa karena orang yang ia tunggu tak datang, padahal ia sudah persiapan habis-habisan. Biasanya pakai baju yang ada aja, tapi hari ini spesial demi terlihat cantik di depan Tama. Melihat satu persatu teman Kara pulang Sasa yang sedari dari bersama kelompok orang tua beranjak ke dekat pintu masuk dan memberikan paper bag berisi tumbler loveware serta kaktus sebagai sovenir perayaan ulang tahun sekaligus hari jadian Kara dan Dirga.
“Udah kayak penerima tamu di acara hajatan nih Sasa, bagi-bagi sovenir. Cape.” Ucapnya begitu menghampiri Kara. “jangan lupa bayarannya yah, Kaleng.” Lanjutnya.
“Gitu aja minta bayaran. Perhitungan banget sih calon adek ipar gue.” Kara mencubit gemas pipi Kara. Sasa tak tinggal diam balas mencubit Kara hingga kedua gadis itu saling cubit di samping meja yang berisi tumpukan kado. Dirga hanya menghela nafas panjang melihatnya, kekanakan tapi dia suka.
“Wah gue telat yah?” seru lelaki yang baru saja masuk bersama seorang wanita di sampingnya.
Sasa yang lebih dulu menoleh ke sumber suara langsung melepaskan cubitannya dan buru-buru merapikan rambut serta bajunya yang sama sekali tak berantakan. “Ya ampun 831 ya gue.” Ucapnya lirih yang langsung berlari menghampiri Tama.
“Abang, Sasa nungguin dari tadi.” Tama hanya menatap jengah gadis yang berdiri di hadapannya. “ini siapa bang? Mamanya yah?" Tebak Sasa.
“Iya, Cantik. Tante mamanya Tama.” Ucap Raya.
“Halo, Tante. Kenalin, Sasa.” Gadis imut itu mengulurkan tangannya pada Raya “Sasa Raunari Nabillah, calon mantu tante.” Lanjutnya.
yang senyam senyum
ke tawa ngakak
geleng-geleng kepala
senyum lagi
ngakak lagi
ampe aku baca pagi-pagi depan paksu, malah di curigai 🤣🤣🤣🤣
ini semua karena micin, yang gurih, gemes dan genes🤣
awas aja kalau bang tam tam hanya becandain anak orang🙄
sabar ya sa