Luna Heart namanya, cantik, sexy dan cerdas. Dibesarkan oleh keluarga kaya semenjak dia ditemukan di depan pintu rumahnya. Semenjak orang tua angkatnya meninggal dia mulai ditindas, diusir, bahkan dibunuh. Tuhan maha besar, dia ditemukan masih bernafas oleh seorang ibu. Kebaikan ibu ini dia tebus dengan cara menjual dirinya ke kota.....
Hallo reader, ini karya baruku. support ya, dalam bentuk, like, comment, gift, vote....trimakasih love you all ♥️♥️♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TINGGAL DIRUMAH VALERIA
Hidup tidak ada yang tahu ke depannya, kita jalani saja, khayalan dan kenyataan sangat jauh berbeda. Sewaktu gadis seringkali aku mengkhayal mendapatkan pacar yang sayang dan sangat mencintaiku. Aku butuh pigur kebapakan yang sanggup melindungi diriku dari saudara papaku. Keinginan untuk dimanja dan dicintai oleh lawan jenis sebagai perempuan satu-satunya membuat aku sering mengabaikan beberapa pemuda yang mencoba mendekatiku.
Saat ini nasibku justru terpuruk, tidak ada artinya air mata yang jatuh di pipi. Nasi telah menjadi bubur. Kembali terulang kisah kelam seorang wanita hamil diluar nikah. Brengsek!! aku mengutuk diriku yang tidak berdaya. Akan lahir kembali anak haram di dunia ini.
"Luna, biarpun kau menangis darah semua ini tidak akan berubah. Hadapi kenyataan ini dengan lapang dada, kesabaran yang tinggi, jangan lupa kau berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya Tuhan yang bisa menolongmu, betapapun berat cobaan yang kamu pikul."
"Tapi Dhev...mengapa harus suami orang, yang nyata-nyata sangat mencintai istrinya. Jika dia seorang perjaka aku pasti akan lebih legowo. Saat ini dan seterusnya stempel pelakor akan tersemat di dadaku."
"Jika kau merasa berat mengandung anakmu, aborsi saja. Kau akan kembali menjadi wanita biasa layaknya gadis yang tidak punya problem. Kau bisa bekerja lagi, bahkan menuntut dan memenjarakan saudara papamu." usul Dhevalee kewalahan merayuku supaya tidak terus menangis.
"Tidak mungkin aku menggugurkan anakku, walaupun dia berada di perutku dengan cara yang tak lazim tapi ini anugrah Tuhan."
"Then face all the troubles that will come as a result of keeping a child And that child will carry a lot of things later on, count them. Why were you dumped by your mother, because she didn't want her life to be enslaved to trouble, you understand?"
"Sepanjang kita hidup pasti akan ada saja masalah yang akan datang. Aku punya keyakinan jika menghadapi masalah itu dengan jiwa besar, pasti akan ada solusi. Akhir kata, bayi ini aku akan besarkan, tanpa aborsi."
"Terserah kamu, yang penting kamu sanggup melakukan semua tugasmu."
"Aku akan menghadapinya." jawabku tegas. Dhevalee tersenyum dan menyodorkan tissue basah untuk membersihkan bekas air mataku.
"Minumlah, setelah itu kita akan menemui Valeria di kamarnya."
Aku mengangguk, dadaku rasanya plong setelah menumpahkan isi hatiku kepada Dhevalee. Semoga aku bisa melewati semua rintangan dan cobaan ini. bathinku.
Kemudian Dhevalee mengajak ku masuk ke kamar Valeria. Baru buka pintu bau obat tercium sangat keras. Aku melihat kamar Valeria seperti Sal ICU rumah sakit.Terdapat peralatan rumah sakit terhubung dengan sesosok tubuh kurus yang tergolek di tempat tidur. Ada Monitor, Ventilator, infus, semua terhubung dengan tubuh Vale.
Aku berdiri terpaku, seluruh badanku bergetar sedih. Suaraku tercekat, hilang tiba-tiba. Vale terbujur kaku dengan mata tertutup rapat Wajahnya pucat dengan bekas luka di wajah.
"Apa kau kuat melihatnya lebih lanjut?" bisik Dhevale memelukku. Aku mengangguk, air mataku bergulir jatuh kepipi.
Dhevalee membuka selimut yang menutupi tubuh Valeria. Mataku terbelalak, ternyata kaki Valeria di amputasi. Aku melihat beberaps jahitan bekas operasi di tubuhnya dan kepala. Terus terang aku sangat ngeri. Tanpa terasa air mataku bergulir jatuh. Dhevalee menutup kembali selimut Vale dan mengajak aku keluar.
"Mari kita keluar." ajak Dhevalee memegang tanganku yang gemetaran.
"Kamu harus lebih banyak bersyukur, penderitaanmu tidak seberapa dibanding dengan Valeria. Kita bertiga mengalami cobaan yang sangat berat, rasanya aku merasa pesimis." Dheva menarik nafas panjang, matanya jauh memandang ke depan.
Dadaku terasa sesak, rasanya ketahanan tubuhku rontok membayangkan apa yang akan terjadi dengan Valeria. Aku sangat sayang dengan Valeria dan Dhevalee. Dua orang itu adalah hidupku. Mereka juga sangat sayang padaku karena aku yatim piatu.
"Kau tahu Lun, ketika kau hilang dan di vonis sudah meninggal, Valeria pergi ke rumahmu dia menuduh saudara papamu yang sengaja membunuhmu. Dia gencar nencari bukti jika jazad yang di mobil bukan kau dan dua minggu kemudian dia mendapat musibah, tabrak lari." tutur Dhevalee menghapus air matanya.
Aku tidak bisa berkata-kata, bengong. Otak ku kosong tidak bisa mencerna apa yang di katakan Dhevalee. Tante Dessire keluar dari ruang kerja dan menghampiriku. Kemudian dia duduk disampingku dan memelukku. Dia membelai rambutku ssmbil berucap,
"Maukah kau tinggal disini Luna?"
"Hanya disini tempat yang aman untukmu. Aku juga akan menemanimu dan Valeria disini. Kita bersatu lagi." Dheva menatapku.
"Tante....." aku memeluk tante Dessire dan terus menangis.
"Kamu mau disini kan sayank, tante sangat kesepian. Sedangkan Om Abelino jarang pulang semenjak Valeria mendapat musibah mungkin Om sangat stres menghadapi ini."
"Lun, kau harus bangkit, bantu tante untuk mengurus bisnisnya, sambil membuka telingamu lebar-lebar, siapa saja yang merampok hartamu. Kita saling bantu." kata Dhevalee berharap.
"Aku mau, asal tidak merepotkan tante karena keadaanku saat ini juga sedang mengandung." kataku tersendat. Walaupun belum di periksa, aku yakin sedang hamil.
"Luna, tante akan mulai dari dirimu yang harus merawat seluruh tubuhmu setelah kamu kembali seperti dulu lagi, baru kamu boleh tampil mengurus semuanya."
"Trimakasih tante."
"Tante harusnya bertrimakasih, karena kamu mau menemani tante dan Vale disini."
Tante Dessire tidaklah asing bagiku, dia sudah aku anggap pengganti mamaku semenjak aku menginjakkan kaki di Bali setahun yang lalu. Dulu mereka jarang berada di Bali, karena urusan bisnis Club diserahkan kepada Valeria. Karena Valeria mendapat musibah, mereka akan menetap di Bali.
"Maaf tante, bagaimana bisnisnya?" tanyaku hati-hati.
"Selama Covid-19 bisnis mati suri, kosong, tidak ada pemasukan sama sekali. Tapi untungnya Vale bisa bekerja di Hotel nya Dhevalee. Setelah terjadi musibah yang menimpa Vale, semua Club di jual murah. Mungkin Om sudah putus asa mengalami cobaan ini."
"Sekarang Om dimana?" tanyaku sedih.
"Dia menutup bisnisnya di luar negeti dan rencananya akan pindah kesini. Mungkin akan bisnis perhotelan, karena properti harganya anjlok." jelas tante.
Aku putuskan tinggal bersama tante Dessire. Dhevalee yang sering menginap sudah biasa disini dan hafal semuanya. Pertama aku kagok juga karena semua dilayani oleh pembantu. Walaupun aku pernah kaya dan mempunyai pembantu, tapi aku yang dulu berbeda, karena dulu ada uang. Sekarang aku tidak punya uang, semua kartu ATM pasti diambil mereka.
"Aku tidak ada pegangan sama sekali." kataku kepada Dhevale suatu hari.
"Nanti kita urus, sudah semua di blokir oleh Bank. Waktu ini Valeria yang melapor ke Bank, uangmu aman. Kita akan mencari pengacara handal untuk memperjuangkan hak-hakmu. Aku tidak sabar melihat mereka hancur. Perasaanku mengatakan bahwa mereka yang membuat Valeria begini. Banyak alasan untuk menuduh mereka." kata Dhevalee geram.
"Aku juga berpikir begitu. Mereka maunya merampok semua punyaku. Tempo hari aku pernah bertemu tante Dewi, rupanya dia teman karib nyonya Hanun. Untungnya dia tidak mengenali diriku."
"Aku mendengar Hotelmú di kelola oleh pamanmu dan mereka merencanakan merubah management. Aku tidak tahu pasti seberapa jauh tindakan mereka."
"Aku akan menyuruh orang untuk menyelidiki, tunggu ssmpai aku betul-betul sehat." kata Luna.
Sore ini mereka duduk-duduk di gazebo sambil merencanakan bagaimana caranya menghadapi saudara papanya. Pengacara mana yang perlu dicari, serta dimana saja aset milik mama yang di hibahkan padaku. Yang aku tahu cuma Hotel Green saja, selebihnya aku tidak tahu. Banyak sertifikat yang aku tanda tangani, tapi aku tidak nengecek, disamping itu karena mama sakit keras dan masih suasana covid juga.
*****
semangat
makasih
sukses