NovelToon NovelToon
PAH, AKU TIDAK BERNAFSU LAGI

PAH, AKU TIDAK BERNAFSU LAGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Dokter / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ada Rasaku

Tiga tahun yang penuh perjuangan, Cathrine Haryono, seorang gadis desa yang memiliki ambisi besar untuk menjadi seorang Manager Penjualan Perusahaan Top Global dan memimpin puluhan orang dalam timnya menuju kesuksesan, harus menerima kenyataan pahit yang enggan dia terima, bahkan sampai saat ini.

Ketika kesempatan menuju mimpinya di depan mata, tak sabar menanti kehidupan kampus. Hari itu, seorang pria berusia 29 tahun, melakukan sesuatu yang menghancurkan segalanya.

Indra Abraham Nugraha, seorang dokter spesialis penyakit dalam, memaksa gadis berusia 18 tahun itu, menjalani takdir yang tidak pernah dia pikirkan sama sekali dalam hidupnya.

Pria yang berstatus suaminya sekarang, membuatnya kehilangan banyak hal penting dalam hidupnya, termasuk dirinya sendiri. Catherine tidak menyerah, dia terus berjuang walaupun berkali-kali tumbang.

Indra, seseorang yang juga mengenyam pendidikan psikolog, justru menjadi penyebab, Cathrine menderita gangguan jiwa, PTSD dengan Skizofrenia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ada Rasaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 | (18+) INDRA EMANG GILA!

Setelah demam selama tiga hari berturut-turut, perut bagian bawah Cathrine membuat aktivitas harian terasa lebih berat dari biasanya. Langkahnya tertatih-tatih, berjalan dipinggiran sambil tangan menyangga tembok, pegangan tangan, meja, kursi dan sesekali berhenti, untuk memegangi perutnya.

Saat hendak naik ke lantai dua, Cathrine duduk sejenak di kursi meja makan. Rasanya, seperti sesuatu menarik usus-ususnya ke bawah dan terasa tengah memanggul pasir karung 10 kg. Tidak setiap bulan nyeri seperti ini, tetapi sekali sakit nyeri, rasanya luar biasa ...

Tiga hari deman dan sekarang adalah haid pertamanya. Total empat hari, Cathrine off dari dunia Maya dan menghilang.

"Kenapa perempuan, mesti ada menstruasi setiap bulan, sih?!"

"Mana kemarin sore, Mbak Sumi minta izin cuti 4 hari buat pulang kampung lagi. Pak Erpan mengurus kebun dan taman setiap hari Minggu, sedangkan Pak Purnomo memang setiap hari, sih, stand by di ruang satpam. Tapi, ya, gitu ... Orangnya suka tiba-tiba nyelonong ke mana. Kadang bentar, kadang juga hampir lupa jam ..."

"Gila ... Sakitnya bukan main!" Catherine membungkuk sambil memeluk perutnya. "Tiap gerakan penderitaan banget,"

.

.

Akhirnya, lima hari berlalu, dengan Cathrine yang melakukan sesuatu dengan sisa tenaga yang ada. Seringkali terjeda, dan diam mengeluh kesakitan, merosot ke lantai sambil kedua tangan depan kening. Nyiksa sekali.

Hari ini Cathrine dapat bernapas lega, karena Mbak Sumi telah kembali, komplit dengan oleh-oleh dan bawaan dari tempat asalnya. Dari jam setengah delapan sampai mau jam satu, Cathrine rebahan seperti patung. Bedanya, sekarang ada Mbak Sumi yang mengurusi dan membantu Cathrine meredakan nyeri, seorang seorang Ibu ke anak perawannya.

Hari Jumat berlalu begitu saja. Catherine seharian ini full merepotkan Mbak Sumi berkali-kali, bahkan kelepasan mencengkeram erat lengan kekal mantan tukang pijet di kampung asalnya itu, dulu.

"Mbaksum ... Sakit banget! Nyeri banget! Ga kuat!"

"Beneran deh, ini kayak ditusuk-tusuk jarum gitu ... Perasaan kemarin-kemarin ... Eh, iya! Kemarin-kemarin kan aku jajan macam-macam ... Minum macam-macam ..."

Catherine menjatuhkan diri ke ranjang dari posisi duduk dan memegang kedua tangan Mbak Sumi. Malam pun tiba, tidurnya tidak nyenyak dan bolak-balik menghadap kanan-kiri sambil mencengkeram erat selimut.

Pukul setengah dua, Cathrine mendengar mesin mobil yang masuk ke pekarangan rumah. Suara guyonan Pak Purnomo, suara hangat dan cemas Mbak Sumi di teras rumah, lalu Indra yang banyak diamnya.

Bunyi gedebak-gedebuk sepatu Indra saat naik tangga, memunculkan rasa penuh tanda tanya dan alarm kewaspadaan Cathrine. Dia menarik selimut da menutupi diri sepenuhnya, kali ini ada perkara apa lagi ...

Pintu kamar menabrak mentok dinding, dan masih bergerak maju-mundur. Tangan Indra yang sudah lama mengepal dan penuh urat, menyibakkan selimut yang menutupi istrinya.

Mata Indra berapi-api, alis sudah seperti angry bird merah dan napasnya memburu. Dia melepaskan jam tangan rolex kemudian melempar kasar ke nakas serta kancing di kedua pergelangan tangannya, pun kemejanya. Lutut kiri naik ke ranjang, memotong jarak sembari mencopot sabuk kulitnya dan celana hitam.

Catherine menangkup tangan memohon dan berkata, "Pah ... Mamah lagi tanggal merah! Mens hari kelima, tapi nyeri perutnya masih kerasa ... Lepasin Mamah, ya? Kali ini aja ... Sakit banget soalnya,"

Indra mencengkeram kuat bahu Cathrine sehingga meninggalkan ruam merah dikulitnya. Pria itu menidurkan paksa istrinya, yang berusaha bangkit dan memberontak. Namun, apa yang Cathrine lakukan justru membuat Indra semakin mengerahkan seluruh tenaganya, dia sekarang lebih mirip menyiksa fisik alih-alih menyalurkan syahwat. Dia langsung menancapkan masuk begitu saja, tanpa pemanasan atau bantuan pelumas.

"ANJ*NG! BRENGS*K! BEDEB*H SINTING! GILA! INDRA EMANG GILA! PSIK*PAT!" maki Cathrine, dadanya kembang-kempis dengan mata melotot dan perasaan nano-nano.

Dari kamar utama di lantai dua, suara jeritan ampun dan tangisan histeris Cathrine sampai mengundang tetangga kiri-kanan rumah Indra, yang menghampiri dan masuk ke pekarangan rumah. Namun, dicegat oleh Bi Sumi dan mengatakan tidak terjadi apa-apa.

"Mbak Sumi, itu Neng Rine sampe minta ampun, serius engga lagi ada masalah apa-apa? Saya khawatir nian... Tadi lagi kupas buah di dapur, terus denger suara Neng Rine, bener engga kenapa-kenapa?"

Bi Sumi tersenyum dan mengangguk, "Tenang aja, Bu Ayu. Bapak Indra ngga mungkin bakal melukai apalagi sampe melakukan KDRT ke Bu Cathrine ..."

"Saya kira ada apa ... Oh, gitu ya sudah. Tadi Mas Danu bahkan mau manggil orang ramai kalau memang terjadi hal yang engga diinginkan," balas perempuan sosialita yang rendah hati itu.

Lelaki jangkung yang sering jadi panitia acara di sini tersenyum kikuk, "Abis suara Kak Cathrine bikin bulu kuduk berdiri, sih, kayak di film horror-horror gitu! Hehehe ... Niat awalnya, sih, gitu. Tapi kayaknya masalah anu ya ... Paham-paham ... Maaf mengganggu ya, Bi Sum, permisi ..."

Mereka berdua berjalan keluar, masih membahasnya dan Danu sempat menengok ke belakang dan kamar lantai dua itu. Tetap ngeyel, kepala Mas Danu ditoyor Bu Ayu, dia malah cengengesan. Mereka berbelok ke rumah mereka dan melanjutkan urusan yang sempat terjeda.

Senyum Bi Sumi kembali datar. Dia pun masuk, setelah menutup pintu rumah rapat-rapat dan menyelesaikan pekerjaannya, tanpa terganggu dengan suara saru di atas sana.

Catherine membekap mulutnya dengan kedua tangan, meredam suara lenguhan dan desahan pada dini hari. Permainan Indra, sejenak mengalihkannya dari rasa sakit nyeri haid. Jantung Catherine masih begitu berdegup kencang, diselingi perasaan syok dan deru napas yang tidak beraturan.

Mereka melakukan sampai pukul tiga pagi, Cathrine dan Indra tertidur, dengan dirinya yang mengkungkung tubuh istrinya seperti trenggiling. Bangun keesokan paginya, dengan kepala berdenyut pusing, Cathrine linglung persis pasien yang ke kamar mandi dalam kondisi setengah sadar.

Dini hari itu ... Mengacaukan segalanya, bagi Cathrine.

1
Ada Rasaku
Buat pembaca, yang hepi sewaktu baca ceritanya, bahkan beberapa, ada yg nungguin 'Up' Bab dari otor, terima kasih, ya. Silakan, like untuk meninggalkan jejak, dan komen untuk mengungkap apa yg ada di isi kepala, bebas tapi bertanggungjawab.

See ya, pada bab-bab berikutnya~
Ada Rasaku: ngirim gift, vote atau share kemana-mana, boleh banget, diharepin malah, hehe ...
total 1 replies
Ada Rasaku
Ga usah plagiat/ATM, gunain otakmu sendiri.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!