Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Sudah beberapa hari Felix tinggal bersama Syerly di rumahnya. Hari-hari mereka diisi dengan hal-hal sederhana, tapi sudah membuat mereka terasa nyaman dan bahagia.
Dan kebetulan hari ini, Felix ada latihan basket bersama teman-temannya. Felix sudah basah dengan keringat, tapi semangatnya seolah masih utuh.
Sementara itu, di tempat lain, Syerly larut di studio pribadinya. Dengan headphone menutup telinga, ia memutar ulang potongan nada, mencatat detail kecil, lalu menyempurnakannya satu persatu.
Meski terpisah oleh kesibukan masing-masing, ada rasa tenang yang sama-sama mereka rasakan. Jarak dan waktu itu seperti jeda kecil sebelum mereka kembali bersama.
Syerly menghelai nafas, mengakhiri pekerjaannya dengan senyum puas.
Ia melepaskan headphone besar ditelinganya lalu menoleh menatap jam.
Dengan senyum halus dibibirnya Syerly segera bangun dari tempat duduknya.
Sepertinya masih mempunyai waktu untuk melihat latihan Felix di lapangan basket.
---
Di lapangan basket, riuhnya suara penonton memenuhi udara, berpadu dengan gesekan sepatu di lantai dan dentuman bola yang tak henti dipantulkan. Seruan dukungan saling bersahutan, menambah panas dan semangat permainan.
Di tengah keramaian itu, nama Felix paling sering terdengar. Setiap kali ia menggiring bola atau melompat mencetak poin, sorakan langsung pecah dari pinggir lapangan. Beberapa gadis berteriak tanpa ragu, memanggil namanya dengan semangat, bahkan melambaikan tangan seolah ingin menarik perhatian Felix.
Syerly datang agak terlambat, jadi ia memilih duduk di barisan belakang. Dari sana, tanpa sengaja ia mendengar beberapa orang asyik bergosip tentang Felix, mereka membicarakannya sambil sesekali melirik ke arah lapangan.
"Begitu banyak penggemar Felix, aku pikir kau harus menyerah." Kata Nancy kepada Hanna yang duduk disebelahnya.
"Felix sangat suka bergonta-ganti pasangan, bahkan jika kau bisa berkencan dengannya, kau akhirnya juga akan putus dengan Felix. Bukankah itu hanya membuang-buang waktu?"
Hanna tersenyum kecil.
"Kita belum berkencan, bagaimana bisa kau begitu yakin jika dia akan putus denganku."
Nancy yang melihat kepercayaan diri dari Hanna, hanya dapat tertawa datar.
"Syerly adalah gadis yang sangat populer, dia cantik dan juga seorang musisi. Popularitasnya sangat tinggi di kampus." Katanya
Nancy diam sejenak, menatap Hanna dengan senyum kecil.
"Dan kau masih berharap mereka putus. Bahkan jika mereka putus, aku pikir..."
Nancy menatap Hanna ragu-ragu.
"Kau tidak akan betahan selama sehari."
Hanna mendengus. Lalu suaranya terdengar tetap tenang.
"Soal itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan penampilan. Bahkan orang dengan sosok yang menawan pun bisa mengakhiri hubungan, hanya karena merasa tidak cocok" Katanya pelan.
"Dan kau..." nadanya berubah tajam.
"Sebagai temanku, kau seharusnya mendukungku."
Lalu tawa Nancy terdengar ringan.
"Baiklah... aku minta maaf."
Beruntung Syerly membawa masker wajah untuk menutupi wajahnya. Ternyata pilihannya untuk menyembunyikan dirinya adalah yang terbaik. Sangat merepotkan jika harus berurusan dengan gadis-gadis ini.
Suara-suara jeritan gadis-gadis dibarisan depan terdengar menggema didalam lapangan.
"Felix kau sangat hebat."
"Felix semangat."
"Felix keren."
"Felix tampan sekali."
Syerly kembali mendengar orang-orang didepannya berbicara lagi.
"Han... bukankah itu Lucy, mantan Felix." Nancy menyenggol Hanna disebelahnya.
Hanna mendengus keras.
"Aku sudah melihatnya sejak awal."
"Mungkinkah dia akan meminta Felix untuk kembali bersama?" Tanya Nancy pelan.
"Siapa tahu."
Tapan Hanna tidak menyembunyikan rasa jijiknya.
"Tapi Felix tidak akan pernah kembali dengan gadis yang sama dua kali."
Syerly juga melihat gadis yang dibicarakan orang-orang disekitar.
Gadis itu duduk di kursi depan tampak diam, tapi sesekali memberikan semangat.
Saat latihan berakhir, suasana langsung ramai. Beberapa orang bergegas mendekat, berebut menyodorkan botol minum untuk Felix. Dari belakang, Syerly ikut berjalan pelan, memperhatikan reaksinya tanpa terburu-buru.
Felix menolak satu per satu dengan senyum sopan, mengucapkan terima kasih sambil menggeleng ringan. Namun ketika Lucy datang dan menyerahkan botol air padanya, Felix menerimanya begitu saja dan minum dengan santai.
"Apa yang terjadi?"
"Mungkinkah mereka akan kembali?"
Suara Hanna yang berada didalam kerumunan juga terdengar.
"Lucy sangat agresif." Katanya dingin.
"Ya benar." Nancy ikut mengangguk.
Hanna tidak menutupi kekesalannya.
"Dia sudah putus dengan Felix." Katanya sambil menggertakkan giginya.
"Mengapa masih menggodanya.
Syerly yang mendengarnya tersenyum tipis. Tatapan dinginnya jatuh pada dua sosok dipinggir lapangan itu.
Lucy tersenyum manis, menatap Felix didepannya.
"Kau bermain sangat hebat, Fel. Aku yakin kau pasti akan menang dalam pertandingan minggu depan." Katanya dengan lembut.
Lalu ia menatap dengan senyum cerah.
"Aku juga akan datang untuk menontonmu."
Felix hanya menatapnya ringan.
"Tidak perlu." Katanya datar.
"Aku tidak ingin pacarmu salah paham."
"Aku dan dia sudah putus. Jadi tidak akan jadi masalah." Jelas Lucy.
"Ohh." Gumam Felix ringan.
"Kalau begitu baiklah."
Lalu Felix berbalik pergi.
Tapi langkahnya berhenti ketika melihat sosok yang dikenalnya, berdiri dengan tenang ditengah kerumunan. Meski sebagian wajahnya tertutup, Felix masih mengenalinya dengan sangat baik.
"Syer..." panggilnya lembut.
Felix berjalan mendekat kearah Syerly dengan langkah ringan dan tatapan yang hangat.
Syerly keluar dari kerumunan, menghampiri Felix dengan santai.
Saat mereka benar-benar saling berhadapan. Senyum Felix semakin lebar.
"Kau datang untuk mendukungku." Katanya.
Lalu Felix menatap masker hitam yang menutupi wajah Syerly dengan geli.
"Tapi mengapa kau menutupi wajahmu."
Dibawah semua mata semua orang disana, Felix mengangkat tangannya perlahan, gerakannya hati-hati saat membuka masker yang menutupi wajah Syerly.
Wajah Syerly akhirnya terlihat jelas. Wajahnya tenang dan cantik.
Beberapa orang di sekitar terdiam, sebagian lain berbisik pelan.
"Syerly." Seru mereka lirih.
"Mungkinkah apa yang dikatakan didalam postingan Merah Jambu itu benar?"
Poppy yang sedang berada disana tanpa sengaja mendengar pertanyaan itu. Ia langsung menoleh dan dengan cepat merapat kearah mereka.
"Aku pikir postingan itu benar." Katanya dengan semangat.
"Mengapa kau begitu yakin?" Tanya mereka.
Poppy melirik sekali lagi kearah couple kesayangannya, kemudian menahan jeritan semangatnya.
"Mereka sepertinya berkencan."
Poppy terkikik sebentar.
"Dan mereka sangat cocok."
Lalu orang-orang itu juga merasakan sensasi getaran yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Poppy. Lalu mereka berteriak pelan dengan suara gemas bersama-sama sambil melihat pasangan itu.
Syerly sempat menarik nafas pelan, seolah ingin menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ada rasa hangat yang perlahan meresap didadanya. Perasaan senang karena Felix menemukannya.
"Aku tidak menyangka kau masih mengenaliku." Kata Syerly pelan.
"Itu karena kamu tidak menutupi matamu." Jawab Felix.
Tatapan Syerly begitu jernih dan berkilau, tapi ada jarak halus yang membuatnya terasa sulit disentuh. Matanya seperti pusaran tenang yang dalam, menarik Felix untuk terus masuk kedalamnya.
Felix berbicara lagi dengan nada lembut.
"Karena sejak pertama kali kita bertemu, tatapan matamu lah yang membuatku jatuh cinta padam."
Syerly tersenyum, sedikit terkejut karena Felix masih bisa berbicara dengan kata-kata manis didepan begitu banyak orang.
Syerly mengangkat wajahnya menatap Felix, senyum kecil terukir lembut di bibirnya.
"Maaf! Aku terlambat datang kesini." Katanya lembut dengan nada penyesalan.
"Aku baru saja menyelesaikan tugas dan bergegas kesini. Tapi... aku masih terlambat untuk melihat latihanmu."
Felix tersenyum.
"Tidak apa-apa." Katanya santai.
"Kau datang untuk menyemangatiku, itu sudah lebih dari cukup."
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya dan sedikit menurunkan suaranya, tapi masih cukup terdengar oleh orang-orang di sekitar.
"Lagipula, kau sudah memberiku suntikan semangat penuh sejak di rumah."
Syerly menahan senyum, pipinya menghangat.
Suara jeritan gemas dari orang-orang disekitar kembali terdengar riuh, penuh godaan dan candaan.
Syerly mendekat sedikit dan berbicara pelan.
"Fel, aku lapar."
"Baik, kita pulang sekarang." Jawab Felix dengan nada memanjakan.
Syerly menatap Felix.
"Tapi, jika kita pulang dan menunggumu mandi dan memasak pasti akan menghabiskan waktu lama."
Nada Syerly sedikit merengek.
"Aku sudah sangat lapar."
Felix tersenyum lembut.
"Kalau begitu kita cari makan dulu."
Felix meraih tangan Syerly dan menggenggamnya erat, senyum lebarnya tak lagi ia sembunyikan. Tanpa peduli pada siapa pun di sekelilingnya, ia melangkah pergi meninggalkan lapangan basket, dengan Syerly yang mengikutinya di sisi.
Saat mereka melewati Lucy, langkah Syerly sedikit melambat. Ia melirik gadis itu sekilas, lalu tersenyum kecil. Senyum seorang pemenang.
Lalu ia menatap kedepan lagi, berjalan bergandengan bersama Felix dengan penuh percaya diri.