NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mulai masuk sekolah..

Suara langkah kaki Arjuna yang mendekat membuat Indira semakin gemetar. Ia tidak berani mendongak, meski ia merasakan kehadiran pria itu tepat di hadapannya.

​"Berhenti memunguti itu. Biarkan pelayan lain yang mengurusnya," suara Arjuna terdengar mutlak, tidak menerima bantahan.

​"Tapi Tuan, ini karena saya—"

​"Aku bilang berhenti, Indira."

​Arjuna meraih pergelangan tangan Indira, menariknya dengan lembut namun tegas untuk berdiri. Ia melirik punggung kaki Indira yang mulai melepuh merah akibat siraman teh panas tadi. Rahangnya mengeras. Tanpa kata-kata, Arjuna menuntun—hampir menyeret—Indira menuju paviliun pribadinya.

​Di Dalam Kamar

​Arjuna mendudukkan Indira di tepi ranjang besar miliknya. Ia kemudian mengambil kotak P3K dari laci meja nakas. Pria itu berlutut di depan Indira, sebuah pemandangan yang jika dilihat oleh orang luar akan sangat mengejutkan: Tuan besar yang angkuh berlutut di kaki anak seorang pelayan.

​"Sakit?" tanya Arjuna singkat sambil mengoleskan salep pendingin pada luka bakar di kaki Indira.

​"Sedikit, Tuan..." jawab Indira lirih. "Terima kasih."

​Arjuna terdiam sejenak, tangannya masih mengoleskan obat dengan telaten. "Jangan pernah biarkan siapapun merendahkanmu di rumah ini, termasuk Clarissa. Jika dia datang lagi, kau tidak perlu melayaninya."

​Indira menatap puncak kepala Arjuna. "Nona Clarissa benar, Tuan. Saya memang hanya anak pelayan. Kehadiran saya di sini hanya karena... karena Anda membutuhkan 'itu'."

​Mendengar kata-kata itu, Arjuna mendongak. Tatapannya yang tadi terlihat sedikit peduli langsung berubah menjadi gelap dan intens. Ia berdiri, membuat Indira kembali merasa terintimidasi oleh tinggi badannya.

​"Kamu terlalu banyak bicara!"

​Napas Indira tercekat. Jarak mereka sangat dekat hingga ia bisa mencium aroma sandalwood yang kuat dari tubuh Arjuna.

​"Aku haus, Indira. Dan kemarahanku pada Clarissa membuat hausku terasa membakar," bisik Arjuna di telinga Indira, suaranya serak dan rendah.

​Kepemilikan yang Tak Terelakkan

​Tanpa menunggu persetujuan, Arjuna mulai membuka kancing seragam sekolah Indira satu per satu. Indira hanya bisa memejamkan mata, merasakan jemari dingin Arjuna bersentuhan dengan kulitnya. Ada rasa malu yang luar biasa karena ia masih mengenakan seragam, namun ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak.

​Saat Arjuna mulai menyesap asupan 'obatnya', kali ini rasanya berbeda. Ada emosi yang lebih meluap-luap—seperti sebuah klaim kepemilikan.

​"Dengarkan aku," gumam Arjuna di sela kegiatannya. "Mulai hari ini, tidak ada yang boleh menyentuhmu atau menyakitimu tanpa izinku baik itu Clarissa atau siapapun,,."

​Indira merintih pelan, bukan karena sakit, tapi karena rasa sesak di dadanya. Ia merasa terjebak dalam labirin perasaan yang membingungkan. Di satu sisi, Arjuna melindunginya dari Clarissa, namun di sisi lain, pria inilah yang paling banyak 'mengambil' keuntungan darinya.

​Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama bagi Indira, Arjuna melepaskannya. Ia menyeka sisa cairan di sudut bibirnya dengan ibu jari, menatap Indira yang tampak kacau dengan seragam yang terbuka.

​"Pergilah mandi dan ganti pakaianmu. Jangan biarkan ibumu melihatmu menangis," perintah Arjuna sebelum ia berbalik menuju kamar mandinya sendiri seolah tidak terjadi apa-apa.

​Indira mengangguk lalu merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar. Ia berjalan menuju pintu penghubung kamarnya, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Arjuna lagi.

​"Indira."

​Indira menoleh.

​"Mulai besok, sopir akan menjemputmu langsung dari sekolah. Jangan pulang menggunakan angkutan umum lagi. Aku tidak ingin milikku berada di tempat yang tidak aman."

​Indira hanya bisa mengangguk lemah lalu menghilang di balik pintu. Di dalam kamarnya, ia jatuh terduduk di balik pintu yang tertutup. Ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi sekadar penawar rasa haus, melainkan burung dalam sangkar emas yang kuncinya dipegang erat oleh sang Tuan.

***

​Pagi itu, sebuah mobil sedan hitam mengkilap sudah terparkir di depan paviliun bahkan sebelum Indira selesai sarapan. Toni berdiri tegak di samping pintu mobil yang terbuka.

​"Silakan, Nona Indira. Tuan Arjuna memerintahkan saya untuk mengantar Anda sampai ke gerbang sekolah," ucap Toni dengan nada formal yang membuat Indira merasa tidak nyaman.

​"Pak Toni, panggil Indira saja. Saya tidak enak kalau dipanggil Nona," bisik Indira sambil melirik ke arah jendela kamar Arjuna yang masih tertutup rapat.

"Baiklah Indira,,silahkan masuk." ulang Toni tersenyum.

​Sepanjang perjalanan, Indira hanya terdiam. Di kepalanya masih terngiang ucapan Arjuna semalam—Milikku. Kata itu terasa begitu berat dan menyesakkan.

"Indira,,apa kamu tidak ingin masuk ke kelasmu?" pertanyaan Toni membuat gadis itu tersentak.

"Ahh,iya,,terimakasih ya pak,,aku melamun,,hehehe.." Indira meringis.

"Jangan panggil bapak,,aku bukan bapakmu,,sejak kapan aku menikahi ibumu?"

Kata kata Toni membuat Indira semakin meringis.

"Lalu aku harus panggil apa? kata 'bapak' itu bukan karena menikah dengan ibu,,tapi sebagai penghormatan pada orang yang jauh lebih tua," jelas Indira.

"Apa aku setua itu? sampai sampai kamu memanggilku dengan sebutan itu?"

Astaga,,tuan dengan anak buah sama saja,sama sama menyebalkan.

"Baiklah paman,," ucap Indira.

Toni lagi lagi memutar bola matanya kesal.

"Aku tidak pernah menikahi bibimu! jadi jangan pernah sebut itu untukku,,"

"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Indira frustasi sendiri.

"Panggil saja mas Toni,,atau kak Toni,,usiaku masih muda dan status masih lajang,hmm?" Toni menaik turunkan alisnya.

ternyata pria itu tidak sedingin wajahnya.

Bisa juga bersikap hangat.

"Baiklah,,aku masuk kelas dulu kak,,kak Toni,," Indira tersenyum menampilkan lesung pipi nya yang dalam.

manis sekali,,begitu pikir Toni.

"Baik baik belajarnya,,kalau sudah selesai langsung telepon aku,,ini nomor ku." Toni menyerahkan kartu namanya kepada Indira.

"Terimakasih kak,," Indira langsung berlari kedalam.

​Di Sekolah

​Kedatangan Indira yang turun dari mobil mewah langsung menjadi pusat perhatian. Teman-teman sekolahnya yang biasanya tidak terlalu memedulikannya, kini mulai berbisik-bisik di koridor.

​"Wah, Indira sekarang naik mobil mewah ya? Siapa yang antar? Om-om kaya?" celetuk Maya, teman sekelasnya yang memang terkenal bermulut pedas.

​Indira hanya menunduk dan mempercepat langkahnya menuju kelas. Ia berusaha fokus pada pelajaran, namun konsentrasinya buyar saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.

​Tuan Arjuna: “Belajarlah dengan baik. Toni akan menjemputmu tepat jam 2 siang. Jangan terlambat satu menit pun.”

​Indira menghela napas panjang. Bahkan dari jarak jauh pun, aura mendominasi Arjuna tetap terasa.

​Saat istirahat tiba, Indira duduk menyendiri di sudut kantin. Namun, kedamaiannya terganggu saat ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan dari nomor tidak dikenal.

​"Halo?"

​"Heh, anak pelayan!" Suara melengking itu membuat Indira langsung mengenali siapa yang menelepon. Itu Clarissa. "Kau pikir dengan bersembunyi di balik ketiak Arjuna kau bisa aman? Jangan mimpi. Aku tahu apa yang kau lakukan di rumah itu."

Indira terkejut,darimana wanita itu tahu nomor teleponnya?

​"Nona Clarissa... saya tidak tahu apa maksud Anda," suara Indira bergetar.

​"Jangan pura-pura suci! Aku tahu saat Arjuna sakit dan tiba-tiba sembuh setelah kau ada di sana. Apa yang kau berikan padanya, hah? Tubuhmu? Atau kau pakai guna-guna?" Clarissa tertawa sinis. "Dengar ya, gadis gembel. Arjuna hanya menjadikanmu mainan sementara. Setelah dia bosan, kau dan ibumu akan ditendang keluar ke jalanan."

​Klik. Sambungan diputus sepihak.

​Indira meremas ponselnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Di satu sisi ada Arjuna yang posesif, di sisi lain ada Clarissa yang mengancam. Ia merasa seperti kancil yang terjepit di antara dua pemangsa besar.

​Tepat jam 2 siang, mobil hitam itu sudah menunggu di depan gerbang. Saat Indira masuk ke dalam mobil, ia terkejut melihat sosok pria yang duduk di kursi belakang sambil melipat tangan di dada.

​"Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Arjuna tanpa membuka mata.

​"T-tuan? Kenapa Anda ada di sini?"

​Arjuna membuka matanya, menatap Indira dengan tajam. "Aku sedang bosan di kantor. Dan aku ingin menjemput 'obatku' secara langsung."

​Arjuna menarik tangan Indira, melihat bekas merah di tengkuknya yang sudah mulai memudar. Tanpa diduga, ia mengecup kening Indira singkat. "Ayo pulang. Aku haus lagi."

​Indira membeku. Di dalam mobil yang melaju itu, ia menyadari bahwa dunia sekolahnya yang normal kini telah benar-benar hilang, digantikan oleh dunia gelap dan penuh obsesi milik Arjuna.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!