Nadia mengira melarikan diri adalah jalan keluar setelah ia terbangun di hotel mewah, hamil, dan membawa benih dari Bramantyo Dirgantara—seorang CEO berkuasa yang sudah beristri. Ia menolak uang bayaran pria itu, tetapi ia tidak bisa menolak takdir yang tumbuh di rahimnya.
Saat kabar kehamilan itu bocor, Bramantyo tidak ragu. Ia menculik Nadia, mengurungnya di sebuah rumah terpencil di tengah hutan, mengubahnya menjadi simpanan yang terpenjara demi mengamankan ahli warisnya.
Ketika Bramantyo dihadapkan pada ancaman perceraian dan kehancuran reputasi, ia mengajukan keputusan dingin: ia akan menceraikan istrinya dan menikahi Nadia. Pernikahan ini bukanlah cinta, melainkan kontrak kejam yang mengangkat Nadia .
‼️warning‼️
jangan mengcopy saya cape mikir soalnya heheh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Bramantyo yang sekarang adalah pria yang benar-benar berbeda. Ia menjadi sosok yang sangat tulus. Namun, justru ketulusan inilah yang membuatnya rentan terhadap manipulasi.
Atas rekomendasi "palsu" yang telah diatur oleh orang-orang Adrian, seorang wanita bernama Siska masuk ke kediaman Dirgantara sebagai perawat fisioterapi pribadi Bramantyo. Siska sangat cantik, pembawaannya tenang, dan ia tahu persis celah-celah di hati Bramantyo yang sedang rapuh.
Nadia, yang terlalu sibuk mengurus operasional Dirgantara Group yang sedang digoyang isu kudeta saham, tidak sempat memeriksa latar belakang Siska secara mendalam. Ia hanya melihat Bramantyo mulai merasa nyaman berlatih jalan dengan bantuan Siska.
Suatu sore, saat Nadia sedang rapat di kantor, Siska membantu Bramantyo pindah dari kursi roda ke sofa.
"Tuan Bramantyo, Anda terlihat sangat sedih hari ini," bisik Siska sambil memijat kaki Bramantyo yang mati rasa.
"Aku hanya merasa menjadi beban bagi Nadia," jawab Bramantyo jujur. "Dia begitu hebat, begitu berkuasa... sedangkan aku hanya pria cacat yang tidak tahu masa lalunya sendiri."
Siska tersenyum tipis, sorot matanya berkilat licik. "Tahukah Anda, Tuan? Alasan Nyonya Nadia begitu berkuasa sekarang adalah karena dia yang merencanakan semua ini. Dia menginginkan aset Anda. Kecelakaan yang membuat Anda lupa ingatan... banyak orang bilang itu bukan sekadar kecelakaan gas saraf. Itu adalah cara dia untuk menyingkirkan Anda tanpa membunuh Anda."
Bramantyo tersentak. "Tidak mungkin. Nadia merawatku dengan penuh cinta."
"Cinta atau rasa bersalah? Atau mungkin... dia hanya ingin memastikan Anda tidak pernah ingat bahwa dulu Anda adalah tawanan di bawah perintahnya?" Siska menyerahkan sebuah dokumen lama yang sudah dipalsukan—sebuah surat kuasa penuh atas aset yang seolah-olah dipaksakan Nadia untuk ditandatangani Bramantyo sebelum ia lupa ingatan.
Di sisi lain, Nadia mulai merasakan perasaan yang sangat asing. Ia mendapati dirinya merindukan senyum Bramantyo yang baru ini. Bramantyo yang sekarang sering menggambar bunga untuknya, atau meminta Nadia membacakan buku sebelum tidur—hal-hal manusiawi yang tidak pernah dilakukan Bramantyo sang Naga.
Suatu malam, Nadia pulang lebih awal dan membawakan makanan favorit Bramantyo.
"Bram, aku membawakanmu—"
Nadia terhenti saat melihat Bramantyo menatapnya dengan tatapan penuh keraguan, bahkan ada sedikit ketakutan di matanya. Bramantyo menyembunyikan dokumen dari Siska di bawah bantalnya.
"Ada apa, Bram? Kenapa kau menatapku seolah aku orang asing lagi?" tanya Nadia lembut, mencoba menyentuh kening Bramantyo.
Bramantyo menarik kepalanya menjauh. "Nadia... apakah benar kau menikahiku hanya karena kau ingin menguasai harta keluarga Dirgantara? Apakah benar aku ini sebenarnya adalah musuhmu yang kau lumpuhkan?"
Nadia membeku. Ia menoleh ke arah Siska yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah tertunduk pura-pura sopan. Nadia menyadari ada ular yang sedang bersarang di dalam rumahnya.
Nadia tidak meledak marah di depan Bramantyo. Ia menarik napas panjang, lalu berjalan mendekati Siska. Dengan satu gerakan cepat, Nadia merenggut tas kerja Siska dan membongkarnya di depan Bramantyo.
Di dalamnya, ditemukan alat penyadap dan ponsel dengan nomor terenkripsi yang berisi pesan-pesan dari anak buah Adrian.
"Kau ingin tahu masa lalu yang sebenarnya, Bram?" suara Nadia bergetar, tapi tegas. "Aku memang pernah membencimu. Aku memang pernah ingin menghancurkanmu karena kau merampas hidupku. Tapi pria yang ada di depanku sekarang... pria yang lupa segalanya ini... adalah satu-satunya versi dirimu yang membuatku ingin tetap tinggal."
Nadia menatap Siska dengan tajam. "Seret wanita ini keluar, dan pastikan dia menyusul bosnya ke penjara!"
Setelah Siska diseret pergi, suasana menjadi sangat sunyi. Bramantyo tampak sangat terpukul. Ia menyadari bahwa dunianya yang baru saja terbentuk kembali terancam runtuh oleh kenyataan.
"Ceritakan padaku, Nadia," bisik Bramantyo. "Ceritakan yang sebenarnya. Seberapa jahatnya aku di masa lalu? Jangan sembunyikan apa pun lagi. Aku lebih baik tahu aku seorang monster daripada hidup dalam kebohongan."
Nadia duduk di lantai, bersimpuh di depan kursi roda Bramantyo. Ia mulai bercerita—tentang masa-masa ia menjadi simpanan, tentang kehilangan bayi mereka, tentang Arka, dan tentang pengorbanan Bramantyo di ruang gas saraf.
Bramantyo mendengarkan tanpa memotong. Air mata jatuh dari matanya yang kini penuh dengan emosi yang kembali.
"Jadi... aku kehilangan segalanya untuk menyelamatkanmu dan Arka?" tanya Bramantyo setelah Nadia selesai bercerita.
"Iya, Bram. Kau memilih kami di atas nyawamu sendiri," jawab Nadia.
Bramantyo meraih wajah Nadia dengan kedua tangannya. Meskipun memorinya belum kembali, hatinya merasakan sakit yang sama dengan cerita itu. "Kalau begitu, ajari aku untuk menjadi pria yang layak untuk pengorbanan itu, Nadia. Bantu aku mengingat bukan untuk menjadi monster lagi, tapi untuk menjadi ayah yang diinginkan Arka."
Tepat saat mereka berpelukan, Arka masuk ke kamar. Ia membawa sebuah berita besar dari sekolahnya. "Bunda! Ayah! Lihat! Arka menang lomba lari! Arka ingin Ayah lihat pialanya!"
Bramantyo melihat kaki Arka yang kuat, lalu melihat kakinya sendiri yang lumpuh. Sebuah tekad muncul di matanya. Sesuatu di dalam otaknya seolah terpicu oleh emosi yang sangat kuat.
membuat saya ingin terus membacanya