#ruang ajaib
Cinta antara dunia tidak terpisahkan.
Ketika Xiao Kim tersedot melalui mesin cucinya ke era Dinasti kuno, ia bertemu dengan Jenderal Xian yang terluka, 'Dewa Perang' yang kejam.
Dengan berbekal sebotol antibiotik dan cermin yang menunjukkan masa depan, yang tidak sengaja dia bawa ditangannya saat itu, gadis laundry ini menjadi mata rahasia sang jenderal.
Namun, intrik di istana jauh lebih mematikan daripada medan perang. Mampukah seorang gadis dari masa depan melawan ambisi permaisuri dan bangsawan untuk mengamankan kekasihnya dan seluruh kekaisaran, sebelum Mesin Cuci Ajaib itu menariknya kembali untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Awal bencana kekeringan lagi.
Saat Xiao Kim menyentuh Sutra Kavaleri Bong Hua, ia merasakan kelembapan dingin dan lengket di udara. Tiba-tiba, lumbung-lumbung gandum di sayap timur laut Istana ambruk dengan suara keras—tanah bergetar! Ia mengira itu gempa kecil, kehancuran alamiah, tetapi ketika meraih cermin saku ajaibnya, yang terlihat hanyalah visual buram kekeringan brutal. Kim menyadari: Yong, meskipun dipenjara, telah mengambil semua air di lorong dan mengatur makar kotor di gudang suplai. Xian akan menyerang Bong Hua, tetapi Dinasti akan tewas oleh kelemahan logistik. Tidak ada waktu lagi untuk cucian bersih—Kim harus mengambil suplemen dari Ruang Ajaibnya dan menyelamatkan nyawa Xian di medan tempur.
“Lumbung ambruk!” bisik Kim, bergerak cepat meninggalkan Gudang Peninggalan Sutra Kekaisaran. Udara terasa kering dan panas yang tidak normal untuk musim semi; keringat bercucuran bukan karena panas Istana, melainkan kejanggalan musim itu sendiri. Di hadapan Paviliun Cuci, seluruh pelayan berada dalam kepanikan—air bersih menghilang, kloset berhenti mengalir, dan air telah menjadi aset yang mutlak hilang.
Cho, pelayan setia Selir Yen, berlutut dengan wajah penuh panik. “Nona Kim! Kekeringan! Ini bukan gempa, ini kemarahan naga! Seluruh sumur Istana kering total dalam hitungan hari. Kami sudah gagal—Bibi Wu akan kembali!”
“Tenang, Cho! Jangan buat kekacauan lagi,” kata Kim, mencoba menenangkannya. Ia tahu kekeringan itu bukan kemarahan naga, melainkan taktik Yong untuk menghancurkan garis suplai Kekaisaran—konflik alam dan politik yang Xian tidak duga.
Kim meraih Jemala komunikasinya, menyambungkannya dengan yang Xian tinggalkan di Dr. Lee. Sinyal yang masuk adalah rekaman dari Letnan He, yang melaporkan masalah brutal di perbatasan timur: kekeringan fatal, wabah disentri dan penyakit perut di antara prajurit, dan Sungai Kuning yang menjadi genangan lumpur. Raja Bong Hua mengancam, dan Yong telah mempersiapkan semuanya.
Kim terperanjat—kekeringan, wabah, dan serangan militer Bong Hua akan tiba bersamaan. Yong menggunakan taktik terberat: menyerang melalui kelemahan alamiah sebelum kekuatan militer. Cho bertanya ke mana Xian berada, dan Kim menjawab bahwa dia telah melangkah maju ke Sungai Kuning yang kering untuk melindungi gandum.
Tanpa membuang waktu, Kim memutuskan untuk menjadi pengurus logistik air bersih. Ia bergerak ke sudut Paviliun Cuci, melihat Tas Mesin Ajaibnya, dan mengambil keputusan final: ia wajib menemani Xian. “Cho, kami memiliki air dan persediaan kebersihan. Engkau wajib menjadi pahlawan. Saya berikan bubuk deterjen konsentrat dari duniaku—jangan biarkan Istana runtuh karena kelemahan sanitasi!”
Kim menyelinap ke Ruang Ajaib, di mana bau klorin dan deterjen menenangkan sarafnya. Ia memilah suplemen dan obat-obatan yang diperlukan: seratus bungkus Oralit (Bubuk Rehidrasi Oral), lima liter larutan yodium, antibiotik spektrum luas, dan yang terpenting—benih gandum super-cepat yang matang dalam empat puluh lima hari, bukan sembilan puluh. “Kekeringan akan dikalahkan oleh pertanian mutlak. Yong tidak akan memenangi perang logistik!” seru Kim sambil menyeringai, menyadari ia membawa benih terkuat Abad ke-21 yang Xian tidak duga.
Ia mengemas semuanya di Tas Mesin Ajaibnya yang berbau deterjen—beban terberatnya, tetapi aset terakhir Dinasti. Xian tidak boleh sendirian di hadapan kekejian Yong yang licik, yang akan menyergapnya memanfaatkan logistik air kotor. Ini adalah pertarungan baru yang dihadapi Kim dengan tegas.
Kim keluar dari Ruang Ajaib, dan Cho berlutut, telah memeluk seluruh harapannya. Kim menyerahkan satu sachet Oralit sebagai sampel. “Jika perlu pertolongan mutlak, larutkan di air bersih. Saya harus pergi sekarang—Xian memanggil saya untuk tugas terberat di Sungai Kuning yang kering!” Cho memeluknya dengan isak tangis penuh harapan.
Kim mengambil keputusan moral yang sulit: meninggalkan keamanan Istana untuk melayani kemanusiaan. Ia berjalan keluar dari sayap Istana, menyelinap di antara penjagaan yang terpecah menuju lorong gelap. “Aku sudah mengambil tanggunganku. Xian, kita berdua akan kembali ke Abad ke-21 dengan hati utuh, tanpa sisa kekalahan!” bisiknya, melompati tumpukan kotoran kering dan lumpur sambil udara semakin panas dan kotor—kekeringan mutlak sudah menyerang Ibukota Naga Langit.
Kim mengambil peta lipat kecil yang dicetak dari Ruang Ajaib untuk melacak rute kuda Xian. Perjalanan membutuhkan tiga hari, tetapi ia hanya memiliki lompatan dimensional terakhir di sisa energinya. Ia sampai di gerbang luar Istana, tempat kavaleri Xian sudah berlari. Kim mencampur lumpur kering dengan deterjen, membuat bola kotoran lengket sebagai sinyal, dan mengaktifkan perangkat M19—dengungnya terasa aneh di bawah matahari pagi.
Ia melompat ke Ruang Ajaib, memasukkan semua barang bawaan: tas logistik, Oralit, benih, dan cermin ajaib. Ia menyalin koordinat topografi Sungai Kuning yang kering dari peta Abad ke-21, memastikan mendarat dekat sinyal Jemala komunikasi terakhir Xian. “Lompatan ruang penuh!” jeritnya, mendorong tubuhnya ke lorong biru yang memisahkan waktu dan ruang.
Beberapa menit kemudian, Kim mendarat keras di hutan yang kering dan penuh debu. Hutan itu terlalu sepi, dengan bau amis air kotor yang menyengat. Ia sudah berada di dekat perbatasan, jauh dari Ibukota. Kim batuk keras, tenggorokannya kering total, dan memeriksa cermin saku ajaibnya—sinyal Jemala sensor Xian berjarak sepuluh meter dari posisinya. Ia sudah tiba di markas Dewa Perang, di tengah pepohonan kerdil yang meranggas.
Kim berlari keluar dari jerami kotor, dan di depannya terlihat kamp militer kumuh yang dipenuhi jeritan sakit. Bau muntah, darah kering, dan busuk memenuhi udara—para prajurit terguling-guling di lumpur kering, memohon air. Ini adalah kekalahan total.
Lalu ia melihat Xian: berdiri dengan zirah lengkap, memimpin sepasukan prajurit yang lemah. Jenderal itu terlihat lelah tetapi tegas, mencoba memberikan komando meskipun tidak ada yang bergerak. Saat mata Xian menangkap keberadaan Kim, ia berteriak: “Xian! Berikan air bersih sekarang juga! Kekeringan itu brutal! Kami memiliki Oralit! Anda wajib menerimaku!”
Kim berlari ke arahnya, tetapi seorang penjaga terdekat—Letnan Chung, yang pernah ditantang Xian sebelumnya—sudah bergerak. Chung melihat gadis asing kotor membawa kantong mencurigakan dan menyerangnya dengan pedang kecil. “MATA-MATA KOTOR! Anda sudah membunuh komandan! Anda datang untuk menghabisinya lagi dengan racun! Mati sekarang!”
Kim tersentak—tidak ada pertarungan logistik, hanya perlawanan fisik. Ia hanya bisa memeluk Tas Mesin Ajaibnya yang besar dan berat. Xian tidak sempat bereaksi, terlalu lelah untuk bergerak. “Xian! Sembuhkan semua. Kami wajib lenyap!” jerit Kim, memejamkan mata saat Chung di ambang menyerangnya. Ia mengambil Jemala saku ajaibnya untuk merekam semua adegan.
Tiba-tiba, Xian ambruk di atas tanah—darah segar membanjiri lututnya. Chung menoleh, dan Kim melarikan diri, tetapi tidak tahu bahwa Chung telah menyerangnya lagi. Dengan sisa energinya, ia menyentuh Jemala sensor dan lenyap, berlari menuju tumpukan kain cucian kotor. Ia melihat Xian kembali sadar tetapi terhuyung-huyung—wajahnya pucat bukan karena racun, melainkan karena disentri yang brutal. Xian tewas di ambang maut. Kim menjerit dan bertindak cepat, melarikan diri dari penjagaan kotor untuk mencapai tempat tidur darurat Xian yang diamankan Chung.
Ia melompat, melempar tubuhnya ke arah sana. Chung memandangnya dengan tubuh kaku, melihat Gadis Laundry itu penuh ketegasan brutal—ia yang pernah menyelamatkan sayap dari musuh kini menghadapi ancaman dari diri sendiri. Ini adalah pertempuran baru yang baru saja dimulai.