Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Bella sayang ... aku harus pulang. Istriku sudah terus menghubungiku. Aku tak mau dia curiga."
"Ah, kamu nggak asyik, Babe. Katanya mau menghabiskan semalam lagi bersamaku," ujar Bella sembari memainkan jemarinya yang lentik di dada bidang lelaki yang ada di sampingnya.
"Lain kali ya. Aku janji ... setelah aku terpilih menjadi kepala provinsi, aku akan mengajakmu liburan ke luar negeri. Kita habiskan waktu bersama tanpa gangguan siapa pun. Termasuk dari istriku."
Bella memberengut, "Tapi aku masih kangen, Babe. Masih pengen dimanjain sama kamu."
"Haha ..." Lelaki paruh baya itu tergelak. "Kalau gitu, sebelum aku pulang ... gimana kalau kita main satu kali lagi, mau?"
Bella mengangguk setuju. "Tapi aku mau pakai gaya pangku."
"Siap, Sayang."
Selimut disingkirkan, tubuh polos mereka pun terpampang.
Lelaki paruh baya itu mengangkat Bella bak koala, dan membenamkan pusakanya ke dalam inti tubuh gadis belia itu.
Seketika, suasana apartemen itu kembali memanas. Suara-suara syahdu saling bersahutan kencang. Diiringi bunyi peraduan yang membuat tubuh melayang.
_______
"Sepertinya ... aku harus sering-sering curhat sama Freya. Dia tuh masih muda ... tapi pemikirannya dewasa sekali. Aku jadi sedikit tenang, dan terbantu dengan saran yang ia berikan." Lastri bermonolog di kamarnya sambil tak lepas memandangi layar ponsel yang menampilkan nomor suaminya. "Jika Zainal pulang malam ini, aku harus menjalankan rencana pertamaku ... memeriksa ponselnya. Mudah-mudahan kata sandi layar ponselnya masih sama." Harap-harap cemas Lastri menunggu kepulangan suaminya.
Ia lalu beranjak cepat ketika mendengar deru mesin mobil yang berhenti di halaman rumahnya.
Kakinya melangkah cepat menuju pintu depan. Saat pintu ia buka ... nampak lah sang suami baru keluar dari mobil. Tubuhnya yang gagah kelihatan segar, wajahnya berbinar, seolah bukan habis bekerja.
Lastri sedikit mengerutkan kening. Ekspresi sumringah seperti itu kini sering suaminya tunjukan saat pulang dari kota, berbeda dengan beberapa tahun ke belakang. Yang jika pulang kerja, wajah suaminya selalu terlihat lelah, kuyu dan tak bertenaga.
Makin kuat lah prasangka buruk di hati Lastri.
"Sayang, kenapa malah bengong di situ? Nih bawain tasku!" Kalimat perintah dari Zainal itu berhasil membuyarkan lamunan Lastri.
Wanita bergaun tidur satin warna gold itu buru-buru menepis semua prasangka buruknya, dan bergegas menghampiri suaminya. "Sini, Mas." Ia mengambil tas kerja suaminya. "Kamu ke mana aja sih, aku khawatir banget sama kamu?" keluh Lastri sambil mengikuti langkah suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
"Aku kerja. Pekerjaanku banyak banget."
"Tapi kenapa nomormu nggak aktif. Aku kan jadi cemas berlebihan."
Zainal menghentikan langkah, dan menoleh pada Lastri. "Hp sengaja aku matikan, karena aku ingin berkonsentrasi penuh pada pekerjaanku. Sebentar lagi masa jabatanku selesai, Lastri. Dan aku tidak mau membuat kesalahan secuil pun. Aku harus menjaga reputasiku agar terlihat sangat baik, demi kelancaranku di pencalonan kepala provinsi nanti. Supaya aku bisa meraih banyak suara, dan memenangkan pemilihan. Jadi tolong ... mengertilah. Jangan berpikir yang macam-macam. Aku kerja banting tulang hingga rela tak pulang ... itu semua kulakukan demi kamu dan kedua anak kita."
Kalimat tanya yang dilontarkan Lastri dibalas jawaban yang sangat panjang oleh Zainal. Membuat wanita berumur empat puluh tujuh tahun itu menundukkan kepala.
"Mulai sekarang ... buang semua prasangka burukmu itu." Zainal berkata lagi.
Lastri agak tersentak, tidak menyangka suaminya tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"Maafkan aku, Mas. Aku hanya takut kalau kamu seperti pejabat-pejabat yang diberitakan di televisi. Yang diam-diam punya wanita simpanan, bahkan ada yang menikah secara diam-diam."
Zainal membulatkan mata, melotot tajam pada Lastri. "Ngaco kamu! Aku bukan lelaki seperti itu! Otakmu sudah terkontaminasi berita-berita tidak benar. Aku tegaskan kepadamu, bahwa aku tidak akan melakukan itu. Bagiku ... kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Ibu dari kedua anakku yang hebat dan berprestasi. Jadi ... stop menyamakan aku dengan para pejabat yang bobrok di luar sana, ngerti?"
Lastri mengangguk cepat. "Ngerti, Mas. Aku minta maaf ..."
Zainal mengangguk. "Ya sudah. Sana ke dapur. Buatkan aku kopi. Dan bawa ke ruang kerjaku."
"Baik, Mas." Nyali Lastri yang tadi menggebu-gebu untuk memeriksa ponsel suaminya langsung menciut. Ia mengenyahkan keinginan itu jauh-jauh.
"Aku harus lebih hati-hati," ucap Zainal membatin sambil memandangi punggung istrinya yang perlahan menjauh.
Zainal melangkah naik ke lantai dua. Masuk ke ruang kerjanya. Duduk di balik meja kebesarannya. Memainkan pulpen dengan cara diketuk-ketuk ke permukaan meja.
"Mas!" Suara Lastri terdengar bersama ketukan.
"Masuk saja!" serunya lantang.
Pintu kayu jati itu terbuka perlahan ... dan munculah Lastri membawa nampan berisi segelas kopi. "Ini Mas kopinya," katanya.
"Makasih." Zainal mengangguk. "Oh ya, Las ... Freya sudah pindah ke rumah sunyi kan?"
Lastri mengangguk cepat. "Sudah, Mas. Tadi siang mereka diantar ke sana oleh Lingga."
"Bagus." Zainal meraih gelas, dan meneguknya sedikit.
"Mas ..." Lastri mengalungkan kedua tangannya ke pundak Zainal dari belakang, lalu menumpukkan dagunya di bahu suaminya. "Aku ... rindu. Sudah lama kamu tak menyentuhku," bisiknya sensual di telinga Zainal.
Zainal berdehem. Menyingkirkan dengan lembut kedua tangan istrinya dari bahunya. "Aku capek, Las. Tolong mengertilah. Aku juga malam ini harus menemui Freya. Ada hal penting yang harus segera aku bicarakan dengan dia."
Bagai ditusuk belati, hati Lastri langsung terasa nyeri.
Penolakan itu berhasil meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang istri.
Tanpa banyak bicara lagi, Lastri langsung melangkah keluar dari ruang kerja sang suami.
"Akh, dia pasti marah," keluh Zainal, mendadak kepalanya terasa pening. "Penyakit wanita tua ternyata jauh lebih menyebalkan dari gadis belia. Hadeuh!" Ia menepuk jidatnya sendiri. "Masa bodoh lah. Aku tak peduli. Mending aku pergi menemui Freya untuk membicarakan tentang dana kampanye. Semoga gadis itu mau membantuku." Zainal bangkit dari kursi, menarik jaket yang tersampir di sofa. Mengambil kunci mobil dan berlalu pergi.
Sementara itu di kamarnya, Lastri menyusupkan wajahnya di balik bantal.
Air matanya berjatuhan, dadanya seperti ditekan oleh beban yang sangat berat. "Apakah sekarang aku sudah tak menarik lagi bagimu, Mas?" racaunya di sela tangisan. "Sudah hampir enam bulan kau tak menyentuhku. Bahkan mencium bibirku saja tak pernah kau lakukan lagi. Kau menyuruhku percaya padamu ... bahwa kau tak punya simpanan, tapi sikapmu saat ini ... justru membuatku semakin curiga. Dari yang biasanya selalu minta jatah seminggu tiga kali, kini tak pernah lagi." Dada Lastri kian sesak, napasnya pun tersengal-sengal karena tumpang tindih dengan air mata.
"Aku bersumpah, Mas. Jika kau ketahuan berselingkuh ... aku tidak akan pernah memaafkanmu. Akan kubunuh wanita itu. Akan kucabik-cabik tubuhnya tepat di depan wajahmu!"