Menjadi kaya sejak lahir, tak lantas membuat hidup seorang Langit Biru begitu sempurna. Nyatanya di usia yang ketiga puluh lima tahun, pria itu sudah harus merasakan menjadi orangtua tunggal bagi putrinya.
Apapun akan Langit lakukan demi kebahagiaan juga keselamatan sang putri. Termasuk di dalamnya ketika Langit harus memaksa seorang gadis ambisius juga keras kepala agar mau menjadi istrinya. Siapa lagi jika bukan Bulan Purnama. Wanita yang memang memiliki ambisi demi kemajuan bisnisnya.
Sebuah kisah kehebatan seorang Ayah tunggal yang mencintai putrinya dengan cara yang luar biasa.
Juga bagaimana seorang wanita tangguh dan mandiri yang harus terpaksa hidup bersama seorang duda dengan putrinya.
Ikuti kisah selengkapnya hanya di story Bulan di Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh Belas
Bulan harus memanfaatkan dengan baik momen kedatangannya ke Jakarta kali ini karena sekretarisnya hanya memberikan dia waktu dua hari. Pekerjaan di hotel sangat banyak dan Bulan harus membereskan semuanya. Jadi, tidak bisa dia berlama-lama ada di Jakarta. Asalkan tujuannya sudah terlaksana, maka Bulan harus segera kembali.
Pun demikian dengan siang ini. Bahkan gadis itu baru saja tiba dan hanya menyimpan barang-barang miliknya di hotel setelahnya dia gegas keluar. Dengan menaiki sebuah taksi, Bulan ingin mengisi perutnya yang terasa lapar. Hari ini rencananya hanya satu yaitu mencari alamat perusahaan Mars Property berada, agar esok dia bisa segera mendatangi tanpa kesusahan. Juga janji temu dengan Langit Biru yang sekarang ini dia lakukan melalui sambungan telepon pada kantor tersebut. Mengatakan pada resepsionis dan meminta jadwal kosong CEO perusahaan tersebut bahwasannya esok pagi Bulan akan berkunjung dan bertemu dengan sang pemimpin perusahaan. Beruntungnya bagi Bulan, setelah menunggu beberapa saat karena karyawan di bagian resepsionis harus mencocokkan jadwal dengan sekretaris Langit Biru. Dan sebuah jawaban yang diterima oleh Bulan membuat gadis itu lega. Besok di jam sepuluh pagi dia bisa datang menemui Langit. Jadi, agar esok hari tidak terlambat, hari ini Bulan ingin survei lokasi untuk memperkirakan jam berapa dia harus meninggalkan hotel agar jam sepuluh bisa sampai di tempat yang dia tuju.
Namun, sebelum dia meluncur mencari lokasi Mars Property, gadis itu meminta pada driver taksi yang dinaiki agar mengantarkannya ke sebuah mall terdekat. Bulan ingin makan siang. Tak apa meskipun sendirian karena Jupiter tak bisa menemani. Pemuda itu sudah mengirimkan pesan padanya jika ada kunjungan proyek hari ini sehingga tidak bisa menjemput juga menemui di siang sampai sore hari. Barulah nanti malam Bulan akan mengadakan janji makan malam berdua dengan Jupiter. Tak apa. Bulan sangat menghargai waktu juga kesibukan Jupiter karena kedatangannya pun terkesan mendadak.
Mobil berhenti di depan lobi. Bulan membayar sejumlah uang sebagai biaya transportasi yang harus dia keluarkan dalam perjalanannya dari hotel menuju tempat ini.
"Terima kasih, Pak," ucapnya ketika membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.
Gadis cantik yang sangat menikmati harinya siang ini, meskipun jadwalnya terkesan padat, tapi Bulan harus pandai me-manage waktunya dengan baik. Menolehkan kepala ke kiri dan kanan. Tujuannya adalah makan. Bulan sebisa mungkin menahan diri untuk tidak pergi shopping. Bukannya tidak punya uang, hanya saja jika dia lupa diri maka semua jadwal dan rencana yang telah tersusun rapi bisa berantakan nanti.
Mata Bulan berbinar kala mendapati sebuah restoran Jepang yang menggugah seleranya. Bulan bisa makan apa saja asalkan perutnya kenyang.
Melangkah dengan pasti ke arah resto tersebut yang di jam makan siang seperti ini tampak ramai oleh para pekerja juga pengunjung yang memang berniat istirahat juga makan siang tentunya.
Namun, betapa Bulan dibuat terkejut ketika sebuah lengan yang melingkari pinggangnya dari samping. Bahkan gadis itu sampai terlonjak kaget dengan jantung berpacu cepat.
"Kak Bulan!" Nyaringnya suara Cahaya yang tengah bersuara, menatap berseri pada Bulan. Meski usia Cahaya masih sepuluh tahun, tapi gadis kecil itu memiliki tinggi mencapai pundak Bulan.
Bagaimana Bulan dibuat ternganga tak menyangka bisa bertemu dengan keponakan Jupiter yang sangat cantik dan menggemaskan ini. "Aya!"
Tak kalah senang, Bulan pun membalas pelukan Cahaya. Hingga keduanya saling berpelukan erat seolah saling melepas kerinduan.
"Kenapa Kak Bulan bisa ada di sini? Nggak bilang-bilang lagi."
"Maaf, Aya. Kakak juga baru saja sampai."
"Benarkah?"
Kepala Bulan mengangguk-angguk. Lalu dia berpikir jika Cahaya dengan siapa berada di tempat ini. Tidak mungkin Jupiter karena pemuda itu sedang berkepetingan.
"Aya dengan siapa ke sini?"
Gadis kecil itu mengurai pelukan Bulan lalu memutar tubuh dan menunjuk dengan jarinya. "Dengan Papa dan Mama."
Mata Bulan membulat lebar tatkala netranya menangkap sosok Langit Biru yang berdiri tak jauh dengannya. Tidak sendiri melainkan bersama seorang wanita yang sangat cantik tengah bergelayut manja pada lengan kekar pria itu.
Tentu saja Bulan tidak enak hati jika harus mengganggu keluarga kecil Cahaya yang ingin menikmati momen kebersamaan dengan makan siang bertiga.
Bulan hanya mengulas sedikit senyuman. Lalu kembali mengalihkan tatapan pada Cahaya. "Aya. Eum ... senang bertemu denganmu di sini. Tapi maaf kakak harus segera pergi karena ada janji dengan seseorang." Bohong Bulan agar dia bisa pergi dari hadapan mereka.
"Yah, aku pikir kak Bulan sedang ingin makan siang. Jika begitu kan kita bisa makan bersama."
"Maaf Aya. Tapi kakak sedang ada kepentingan dengan klien. Lain kali saja. Ya, sudah kakak harus pergi sekarang. Sampai bertemu kembali, Aya."
Bulan mengusap rambut Cahaya, lalu setelahnya segera pergi meninggalkan gadis kecil itu. Namun, sebelumnya sempat menoleh hanya sekilas pada Langit. Setelahnya Bulan benar-benar pergi meninggalkan mereka.
Bulan yang tidak ingin dipertemukan lagi dengan Cahaya dalam situasi yang tidak tepat begini, memilih meninggalkan mall tersebut dan mencari makan di tempat lain. Keinginan menikmati makanan khas jepang harus dia abaikan demi menghindar dari Cahaya serta Langit.
Andai tidak ada mamanya Cahaya, mungin Bulan bisa melakukan negoisasi dengan pria itu. Sayangnya karena Langit sedang bersama anak dan istrinya. Tidak etis jika Bulan membicarakan soalan pekerjaan dalam pertemuan yang tidak disengaja siang ini.
Biarlah besok saja dia menjalankan misi sesuai rencana. Semoga saja tidak mengalami kesulitan dan Langit setuju menjual lahan itu.
Sementara itu, setelah kepergian Bulan yang masih mencuri perhatian Langit, karena kedua netra pria itu masih mengikuti ke mana gadis yang berkali-kali dia temui, sampai menghilang dari pandangan. Tidak menyangka sama sekali jika ada Bulan di kota ini.
"Papa ... sayang sekali Kak Bulan sedang banyak acara. Jika tidak ... mungkin kita bisa mengajak makan siang bersama."
Ucapan yang Cahaya lontarkan tentu saja tidak disukai oleh Vivian. Sejak tadi wanita itu bertanya-tanya. Siapa gerangan gadis yang terlihat sangat dekat dengan putrinya itu.
"Aya ... lain kali mungkin kita bisa bertemu lagi dengannya." Langit berusaha menghibur Cahaya. Melepas tangan Vivian yang sejak tadi terus saja melingkari lengannya. Padahal Langit keberatan tapi wanita itu seolah tidak peduli.
Langit merengkuh tubuh kecil putrinya dan membawa masuk ke dalam resto khas jepang. Vivian mengekor di belakang mereka.
"Mas, tunggu!" Bibir Vivian mengerucut merasa diabaikan oleh Langit.
Langit hanya menoleh sekilas tanpa mau menjawab panggilan Vivian.
"Wanita tadi siapa?" Pertanyaan penuh selidik yang Vivian berikan, hanya dijawab singkat oleh Langit.
"Bukan urusanmu."
penasaran sm kehidupan rumah tangga bulan langit...
terimaksih kak, lanjut terus donk....🙏🙏
petaba dimana thor?😁✌️
terima kasih ya Thor🙏
Kirain g d lanjut...