NovelToon NovelToon
CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: iska w

Seorang presdir tampan pemilik gedung raksasa yang bernama Samuel, rela membesarkan seorang anak yang imut, lucu dan menggemaskan yang bernama Kenzo itu sendirian, dia memang anak yang nakal dan bandel namun sebenarnya dia anak jenius, puluhan baby sister sudah mengundurkan diri karena tidak sanggup melayani bocah yang sering dipanggil Yoyo itu.

Sehingga suatu hari ada anak magang yang bernama Rinjani, karena kesalahannya dia terpaksa menjadi baby sister demi kelangsungan magangnya di perusahaan itu.

Hingga seiring berjalannya waktu tumbuh benih-benih cinta diantara mereka.

Akankah Kenzo setuju?

Akankah mereka bisa bahagia selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Tak Bisa Jauh Darimu

...Happy Reading...

Jatuh cinta adalah sebuah proses alami yang begitu indah tetapi cukup rumit. Jika kamu perhatikan, orang yang sedang jatuh cinta bisa bertingkah aneh dan konyol, bahkan terkadang bisa melakukan hal-hal yang di luar akal sehat kita.

Kalau makna cinta dalam psikologis, mungkin Samuel termasuk dari golongan orang Pragma, sosok seperti dia merupakan pecinta yang tidak berbelit-belit dan tidak suka akan bumbu romansa. Bagi mereka cinta adalah hal kaku, menyulitkan, mengikat dan tentu saja komitmen.

Sehingga orang pragma jelas tidak akan mengumbar rasa cinta yang berlebihan atau romantisme dengan menggunakan mawar dan sejenisnya, mereka akan lebih menggunakan tindakan sebagai bukti nyata.

Dan benar saja, malam itu Rinjani benar-benar menyuapi Samuel makan bahkan diatas tempat tidur, Jani bukan seperti baby sister dan tuannya, lebih ke pasangan yang lagi anget-angetnya.

" Pak.. makan ayam bakar itu enakan pake tangan lho?"

" Bapak nggak mau disuapin pake tangan aja nih?" Jani sengaja menawarkan menyuapi pakai tangan agar dia merasa jijik dan memilih makan sendiri saja, dalam menghadapi orang seperti Samuel memang perlu berbagai trik pikirnya.

" Okey!"

" Kamu sudah cuci tangankan tadi?" Samuel mengiyakan saja tanpa protes sama sekali, dia masih asyik dengan laptop dipangkuannya.

" HAH..?" Jani merasa terkejut, kenapa Samuel tidak menolaknya, padahal biasanya dia kan menjunjung tinggi ke elegan an dalam hal apapun.

" Bapak tidak keberatan?"

" Pake tangan saya ini lho pak?" Padahal dia berharap agar bisa terbebas dari pekerjaan suap menyuapi, ternyata malah senjata makan tuan, dia sendiri yang kelimpungan, dulu pacarnya saja tidak pernah disuapin, ini yang bukan apa-apanya minta disuapin malah tambah pake tangan lagi? apa nggak sweet banget tuh?

" Its okey."

" Kamu bilang kan tadi lebih enak?"

" Saya mau mencobanya!"

" Yang penting tangan kamu sudah bersih!" Samuel dengan wajah datarnya memandang Jani yang terlihat menyesal karena telah menawarkan jasanya tadi.

Siaaalll... bukan begini maksud gw bang Jaliiiii..! mana gw juga laper, masak cuma ngelihatin doang?

Akhirnya dia dengan terpaksa menyuapinya menggunakan tangan.

" Hmm.."

" Benar juga, memang terasa lebih enak!" Samuel terlihat sangat menikmati makanannya.

" Enak buat bapak, derita buat gw!" Umpatnya perlahan.

" Apa?"

" Kamu ngomong apa?"

" Kenapa kamu suka sekali bicara bisik-bisik sendiri."

" Kamu waras kan? tidak pernah ada riwayat gangguan kejiwaan kan?" Samuel tersenyum miring melihatnya.

" Enak saja!"

" Saya sehat jasmani dan rohani ya pak!"

" Belum lama juga saya buat surat sehat, plus ditambah surat bebas narko ba."

" Puas bapak?" Umpat Jani, mulut presdirnya itu memang sangat pedas bahkan melebihi bon cabe level sepuluh.

" Puas banget!" Samuel tersenyum melihat wajah kusut Jani.

" Kamu makanlah juga!"

" Pasti dari tadi juga belum makan kan?" Samuel ingat mereka sama-sama tertidur tadi.

" Yes... benarkah!"

" Bapak baik banget deh, hehe.."

" Kalau begitu bapak lanjut makan sendiri ya?"

" Aku makan dibawah saja!" Jani langsung semangat dan segera meletakkan piring itu dimeja samping tempat tidur Samuel.

" Hei... hei... hei..."

" Siapa yang menyuruhmu makan dibawah?" Samuel menjentikkan jarinya dan menyuruh Rinjani untuk kembali ditempat.

" HAH?"

" Jadi..?" Baru saja dia ingin memuji presdirnya, namun ternyata dia salah, Bos Arogantnya memang tidak akan sebaik itu pikirnya.

" Makan saja itu?"

" Kamu pikir aku pekerja bangunan?"

" Makanan sebanyak itu bisa habis sendiri?"

" Kembali duduk ditempat semula!"

" Dan makanlah dengan santai!" Samuel kembali memusatkan pandangannya ke layar laptop, baru pulang setengah hari saja pekerjaannya langsung menumpuk.

" Ckk..."

" Sudah aku duga!"

" Bapak nggak akan sebaik itu denganku!"

" Masak iya makan sepiring berdua?"

" Memangnya kita pacaran apa!" Umpat Jani kembali dengan wajah mrengut namun sambil menggigit ayam bakar yang sudah dia cocol ke sambel kecap itu.

" Memang kalau makan sepiring berdua wajib harus pacaran apa!" Samuel tersenyum miring menanggapinya.

" Ya biasanya kan gitu!" Jani gantian menyuapi Samuel kembali, setelah memasukkan makanan ke mulutnya sendiri.

" Hmm..."

" Jadi kamu maunya gimana?" Tanya Samuel sambil mengunyah makanannya.

" Atau anggap saja kita pacaran saat kamu menyuapiku!"

" Bereskan?" Samuel selalu membuat semua menjadi mudah dan tidak ribet.

" Hah?"

" Mana ada model kayak gitu!"

" Bapak mah suka ngelawak nggak jelas!" Rinjani tidak membawa ke perasaan omongan presdirnya itu karena dia sudah hafal dengan benar sikap dan gelagatnya dari kemarin.

" Kenapa?"

" Kamu menolak?" Samuel melirik kearah Jani sebentar.

" Tentu saja aku menolak!"

" Yang benar saja?"

" Bapak kalau bercanda suka kebangetan, haha.." Jani merasa Samuel begitu lucu.

" Apa karna kamu sudah tau kalau aku punya trauma berat?" Wajah Samuel terlihat serius dan tidak main-main sepertinya.

" HAH?"

" Emm... bukan.. bukan begitu maksud saya pak!" Jani kembali dibuat terkejut oleh sikap Samuel.

" Aku sudah kenyang!"

" Kamu lanjutkan saja makan dibawah!"

" Aku mau tidur!" Samuel langsung melempar laptopnya ke atas meja, bahkan menimbulkan suara keras yang sontak membuat Jani terlonjak.

" Ta.. tapi.. tapi pak---"

" Keluarlah!"

" Katanya kamu belom mandi tadi!"

" Aku ingin istirahat!" Samuel langsung membaringkan tubuhnya dan membelakangi tubuh Jani.

" Ma..maafkan saya pak!" Jani merasa bersalah, dia tidak menduga jika omongannya mungkin menyinggung perasaanya.

" Kalau begitu saya permisi!" Jani keluar dengan membawa piring makanannya.

Saat hampir tengah malam Jani bahkan tidak bisa tidur, dia hanya membolak balikkan tubuhnya kekanan dan ke kiri, dia benar-benar penasaran, sebenarnya Samuel itu trauma kenapa, atau menderita penyakit apa?

" Astaga.."

" Dia sudah minum obat apa belom tadi ya?"

" Kalau dia tidak meminumnya dan kambuh seperti tadi lagi gimana dong?"

" Haissh.."

" Sebenarnya aku ini baby sister Yoyo apa bapaknya sih!" Jani menggaruk-garuk kepalanya sendiri, sudah kepala puyeng ditambah capek, nggak enak hati, dan juga merasa bersalah, sungguh situasi yang tidak mengenakkan sekali.

" Coba aku cek sebentar deh!" Rinjani langsung pergi kekamar Samuel untuk memeriksanya.

Saat sampai dikamar Samuel ternyata lampunya sudah mati, tapi perasaan Jani tidak enak sebelum memastikan Samuel meminum obatnya, akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk dan melihat obat yang dia ambilkan tadi sudah diminum atau belom.

" Sedang apa kamu?" Suara Samuel benar-benar membuat jantung Jani hampir melompat keluar.

" Astaga!"

" Bapak belom tidur?" Jani memegang da da nya sendiri sambil melihat kearah Samuel yang terlihat samar-samar.

" Sa.. saya cu.. cuma mau----" Ucapan Jani terputus ketika tubuhnya tertarik kekasur dan ambruk diatas tubuh Samuel.

" Temani aku!"

" Aku takut!" Samuel menarik tubuh Jani dan memeluknya.

" Pak..?" Jani ingin menolak namun pelukan Samuel sangat erat.

" Malam ini saja!" Terdengar suara parau keluar dari mulut Samuel.

" Bapak sudah minum obat belum tadi?" Jani takut kalau ini efek dari traumanya tadi.

" Aku tidak butuh obat!"

" Aku hanya butuh kamu menemaniku!" Bayangan masa lalunya kembali melintas saat Jani keluar tadi, bahkan tadi dia sempat menggigil kembali, namun dia masih sadar, jadi dia sengaja mematikan lampu, tapi ternyata Jani masuk kedalam, dan memang dialah yang Samuel butuhkan untuk saat ini.

Waaah... pasti kumat lagi ini, pasti dia tidak meminum obatnya, bisa kena marah nanti aku sama dokter Marvin, aku harus bisa membujuknya untuk minum obat ini.

" Pak.. minum obatnya dulu okey?" Jani sudah seperti membujuk anak kecil untuk minum obat.

" Nggak perlu!" Samuel menggelengkan kepalanya dan menggeratkan pelukannya.

" Aku janji tidak akan pergi."

" Aku akan menemani bapak malam ini."

" Tapi minum obatnya dulu okey?" Jani mencoba melerai pelukan Samuel dan duduk untuk mengambilkan obatnya tadi.

" Ayok bangun dulu." Jani menghidupkan kembali lampunya, terlihat wajah Samuel memang kembali pucat.

" Diminum dulu obatnya ya?" Perlakuan lembut Jani benar-benar bisa membuat hati Samuel merasa tenang, dia pun terlihat patuh dan menurut untuk meminum obatnya.

" Sekarang bapak tidur lagi ya?" Jani membantu Samuel untuk kembali berbaring.

" Peluk aku!"

" Hah?" Jani benar-benar dibuat bingung dan juga serba salah oleh Samuel hari ini.

" Cepat peluk aku!"

" Baiklah!"

Apa-apaan ini, dia modus apa keenakan gw peluk ya? argh... untung dia Tampan dan memikat, jadi gw nggak rugi-rugi amat, hihi..

Akhirnya Jani membaringkan tubuhnya yang lelah hati dan lelah pikiran, sikap Samuel benar-benar membuatnya jungkir balik, bingung harus seperti apa, ingin tanya tapi kepada siapa? padahal cuma Yoyo yang mau bicara jujur kepadanya.

Kepribadian manusia memang berbeda-beda, ada yang senang banyak bicara, ada juga yang lebih nyaman diam tanpa kata. 

..." Segala yang ada di depan mata, takkan pernah sanggup menandingi ia yang sudah ada di dalam hati."...

..."Setiap mata yang tertutup belum tentu dia tertidur, dan setiap mata yang terbuka belum tentu dia selalu melihat."...

Yok... jempolmu semangatku kakak 🥰

1
m Zaki mubalihg
banyak kata2 mutiaranya
Yant08
Luar biasa
Juragan Jengqol
ibunya ga ikut.... wah nyepelein ini namanya
Juragan Jengqol
sudah jam malam ini... 🤭🤣
Juragan Jengqol
lo juga ga berkelas jan. udah tau si bos punya trauma dan cemburuan, tapi ga bisa jaga mulut...
Juragan Jengqol
ya ga gitu juga jarkonah.... minum jus mah bisa kapan2 lah. lihat sikon lebih penting
Juragan Jengqol
Sayyidina Ali KW
Juragan Jengqol
sayyidina Ali KW
sri harjuni
bagus bnget
Nurjannah Rajja
O o oohhhhh udah ketemu benangnya tinggal jarumnya hehehe
Mas Al: Mbwak
total 1 replies
Nurjannah Rajja
Ada 2 cara thor hihihi
@Al**
Bagus ceritanya
Rustan Sarny Apul Sinaga
eh kok the end thor...?
kaget aku tuh....he he he
Rustan Sarny Apul Sinaga
wes angel iki thor...
Suyatno Galih
kusut2 pada, penyesalan Samuel sm emaknya skrng krn ketergantungan nya sm rinjani, saat tragedi musibah dl pada ngupet kemana harta Mulu yg di agung kan
Suyatno Galih
sokorin lue Sam terlalu lebay jd ketahuan kan sm ibu Jani kan, mbuat masalah teros
Suyatno Galih
debat tak faedah
Suyatno Galih
modus si Sam, memang ada ya trauma ato depresi kumat obatnya di kekepin yg anget2 sm yg empuk2 gitu. akal akalan si sam itu mah
Suyatno Galih
Jani mulai nakal ya kamu, makkkk anak gadismu mulai nakal nihhhhh
Suyatno Galih
satu kata buat Samuel "LEBAY"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!