Berawal dari ditemukannya seorang bayi oleh pasangan suami istri, Farhansyah Nataniel dan Inayah Givani di sebuah taman. Bayi tersebut mereka rawat dan diberi nama Reyhan Fier Nataniel hingga tumbuh dewasa.
Tiga tahun kemudian, Inayah mengandung dan melahirkan seorang putri yang diberi nama Gita Syafitri. Reyhan dan Gita tumbuh bersama dengan saling menyayangi satu sama lain.
Suatu ketika, Reyhan dan Gita dewasa menikah, dari sini segala cerita masa lalu mulai terkuak.
Bagaimana cerita keseluruhannya? Ikuti terus perjalanan cinta Reyhan dan Gita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Udden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Gita
Keesokan harinya, di kediaman Nataniel kembali ramai, Rey dan Gita tak mau mengambil risiko terlalu lama, bahaya akan selalu mengincar mereka kapan saja dan di mana saja, sehingga mereka memutuskan untuk kembali berkumpul di rumah sang papa. Kini Rey dan Gita tengah bersiap-siap pergi ke kampus seperti biasanya.
"Pah, Mah, Rey sama Gita pamit," ucap Rey yang tengah turun dari tangga sedikit berteriak.
"Kakak apaan sih! Pagi-pagi udah teriak-teriak aja, berisik tahu! Toh ya kita bakal salam dulu sama mama dan papa." Gita heran melihat tingkah sang suami.
"Hehe, iya ya, yaudah yuk kita jumpain mama dan papa mertua," tambah Rey yang membuat Gita semakin gemes ngeliat suaminya yang semakin hari malah menjadi polos-polos keparat.
"Tau ah, capek ngomong sama kakak, sana jauh-jauh!" Gita mengusir Ret.
"Yah, jangan gitu dong! Kan cuma becanda, sebagai ucapan maaf, sini aku cium bibirnya," canda Rey yang emang sengaja bikin Gita malu.
"Kakakkkkkkkkkk!!" pekik Gita, sontak Rey langsung berlari, btw teriakan Gita juga sampai membuat sang mama dan papa jadi terkejut, sebab suara dari Gita sangat melengking.
Setelah melewati perdebatan yang melibatkan berbagai candaan yang mungkin membuat pasutri kakak adik itu semakin dekat, mungkin jika di tawarkan berbagai macam wanita yang parasnya sangat cantik, Rey pasti akan tetap tak mau menukar Gita dengan siapapun, karena dia sudah sangat nyaman dengan Gita, pikir Reyhan.
Kini, mereka telah sampai di parkiran kampus, tetapi sebelum turun dari mobil, Rey memberi nasihat kepada sang istri untuk waspada terhadap siapapun, karena musuh bisa berada di mana saja.
"Git, inget pesan kakak, jangan terlalu deket sama Maya! Mereka itu berbahaya, bisa saja mereka merencanakan hal yang di luar logika kita!" suruh Rey sedikit khawatir.
"Iyaa, Kak! Kakak juga hati-hati sama kak Anggi dan kak Devan!" jawab Gita ikut khawatir. "Yaudah, aku masuk dulu," sambung Gita.
"Kok kamu enggak cium tangan sih?" ucap Rey ketus.
"Hehe lupa, yaudah aku pergi dulu," ucap Gita yang ingin membuka pintu mobil tetapi Rey malah menarik Gita ke pelukannya.
Sialan! Niat hati ngerjain Gita, kok malah gue yang deg-degan, gumam Rey dalam hati.
"Eh, emmmm, cium dulu baru boleh keluar!" suruh Rey tak tau malu, sontak membuat Gita menjadi salah tingkah dan pipinya merona.
"Apa-apaan sih? Duh, jantung gue kok nggak bisa di ajak kompromi, gimana kalau kakak denger, grogi lagi," kata Gita dalam hati.
"Kakak apaan sih! Masih pagi juga udah gila aja," ucap Gita agak sedikit malu.
"Yah, masak cium aja kagak boleh, yaudah deh sana keluar!" Rey ngambek mode on.
"Kok ngambek sih? Yaudah sini aku cium --muach." Kecup Gita di pipi Rey.
"Kok di pipi sih, uda ah sana! Kamunya nggak peka," protes Rey yang masih dalam mode ngambek.
"Terserah!" sambungnya.
Duh, kok suami gue sekarang jadi manja gini sih, dan kata terserah itu kan gak cocok di ucapin pihak laki-laki. Pikir Gita, tetapi berakhir pasrah dan mencium bibir Rey agak lama.
"Nah, gitu dong, kan akunya jadi tambah semangat belajarnya, udah dapet service dari istri. Makasih istriku," ucap Rey tak tau diri, bisa-bisanya Rey menjadi L2P, sontak membuat Gita tertawa.
"Haha, kok sekarang kakak jadi manja gini sih?" tanya Gita di sela tawanya.
"Biarin, udah punya istri juga, sini cium lagi!" ucaopRey semakin vulgar, tetapi sebelum terjebak, Gita duluan keluar dari mobil dan berlari ke kelas.
"Hah, kok gue jadi deg-degan ya deket sama Gita, apa ini yang namanya cinta? Kok guue nggak ngerasain ini pas sama Anggi," tanya Rey pada dirinya sendiri.
*******
"May lihat, itu Gita, ayo buruan selagi nggak ada Rey!" seru Devan.
"Oke, kakak tunggu dan lihat ya!" jawab Maya sambil berjalan mendekat ke arah Gita.
"Hai, Git?" sapa Maya.
"Oh hai, May, ada apa ya?" tanya Gita.
"Oh, gue entar malem hbd loh, dateng ya! Kita party bareng temen-temen yang lain, ajak kak Rey jugak boleh!" pinta Maya dengan segudang seringai liciknya.
"Cih! Pandai sekali rubah betina ini," ucap Gita dalam hati.
"Wah, beneran? Di mana acaranya?" tanya Gita pura-pura tidak tau rencana dari Maya.
"Acaranya di aula hotel bokap gue, hotel RNR," jawab Maya.
Sepertinya Gita sudah berhasil gue bodohin, pikir Maya.
"Oh iya, gue sama suami gue pasti dateng kok, yaudah ya, gue masuk dulu, kelas entar lagi mulai," pamit Gita.
"Lihat aja, bukan cuman kalian yang bisa bodohin kami, aku pun bisa bodohin kalian!" kata Gita berfikir dengan seringai yang menunjukkan kebahagiaan.
Disisi lain, Maya dan Devan merasa senang karena mereka pikir Gita telah masuk kedalam rencana mereka, tetapi tanpa disangka, Gita juga merencanakan sesuatu yang mungkin akan membuat kakak adik jahat itu sangat terkejut.
"Hallo, Kak?" sapa Gita pada sambungan telpon.
"Iya, ada apa Git?" tanya Rey menjawab telpon sang istri.
"Kak, entar malem kita diundang datang ke birthday partynya Maya." Gita memberitahukan perihal undangan Maya.
"Hah, kamu terima?" tanya Rey terkejut.
"Iya, tapi kakak tenang aja, nanti aku kasih tau rencanaku di mobil dan kita harus melibatkan papa."
****
"Kita lihat saja, siapa yang lebih cerdik, beraninya mau coba-coba bermain sama keluarga Nataniel, kalian sendiri yang akan tanggung akibatnya." Gita tersenyum smirk sinis terlihat mengerikan.
*********
ANGGI POV ON
Aku terus berjalan mencari keberadaan Devan yang akhir-akhir ini telah lama lost kontak, aku bingung harus apa lagi, sudah beberapa hari aku menahan rasa sakit yang ku derita, akhir-akhir ini kepalaku sakit dan perutku juga sering mual-mual saat pagi hari.
Saat aku ingat-ingat kembali jadwal mensku, ternyata sudah telat, hal ini semakin membuat aku cemas, aku pun ke apotek membeli alat test pack, dan betapa kagetnya aku saat melihat kenyataan ini, a-aku hamil, a-aku hamil anak Devan di luar nikah.
Aku bingung harus apa, aku pun langsung mencari Devan dan meminta pertanggung jawabannya, saat ini aku telah berhasil menemuinya.
"Dev, hiks a-aku hamil anak kamu," ucapku menangis.
"A-apa, kamu hamil?" tanya-nya yang terlihat kaget, aku heran, bukanya sudah sepatutnya ya aku hamil, diakan sudah sering kali meniduriku.
"Iya, aku hamil anak kamu," ucapku sekali lagi.
"Enggak! Nggak mungkin dasar bodoh, kan gue udah nyuruh elo minum pil kb, nggak mungkin dong kamu hamil," ucapnya tak percaya.
Akupun terus meyakinkannya, tentang perihal kehamilanku, setelah cukup lama, akhirnya dia percaya, tetapi di ujungnya, betapa sakitnya hatiku bahwa dia tak mau bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat kepadaku. Bahkan, dia menyuruhku untuk melakukan aborsi, tentu aku menolaknya, mau bagaimana pun janin ini tanggung jawabku. Aku berlari meninggalkannya karena tak sanggup lagi mendengar kata-kata yang menyakitkan darinya.
ANGGI POV END.