NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:75
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Reyhan

Reyhan hanya tertawa pelan, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arah Rania.

“Yakin?”

“Aku gak perlu meyakinkan kamu apa-apa.”

Nada Rania tenang. Lebih tegas daripada yang ia harapkan dari dirinya sendiri.

Reyhan mengangkat alis, tertawa miring.

“Oh? Percaya diri sekali. Padahal, kalau Mama sampai curiga sedikit saja…”

Ia mendekat setengah langkah.

“…kamu paling duluan kena efeknya.”

Rania menahan napas, tapi ia tetap tegak, tidak mau terlihat goyah.

“Aku kerja di sini. Itu faktanya. Dan kamu…”

Ia menatap balik Reyhan.

“…gak punya hak untuk ngatur aku.”

Sorot mata Reyhan berubah. Ada rasa tidak suka yang muncul.

Namun sebelum ia sempat menjawab—

“Mas Reyhan!”

Suara panik seorang karyawan memotong udara tegang itu.

Reyhan menoleh tajam.

Seorang staf laki-laki berlari kecil ke arah mereka, wajahnya jelas cemas.

“Ada apa?” tanya Reyhan ketus.

“Pak Radit manggil, Mas. Katanya urgent. Ibu… eh… Mama Pak Radit juga ada di ruangan. Mereka nunggu Mas Reyhan sekarang.”

Wajah Reyhan mengeras.

Ia menghela napas panjang, frustrasi.

“Tunggu di sini,” katanya pada karyawan itu.

Lalu ia kembali menatap Rania.

Tatapan itu dingin.

“Percakapan kita belum selesai.”

Reyhan melirik Rania dari atas ke bawah.

“Kamu pikir aku gak ngerti apa yang sedang kamu lakukan? Kamu kira kamu aman karena Radit ada di pihakmu?”

Rania tetap diam. Ia tidak boleh terpancing.

Reyhan mendengus sinis.

“Kita lihat sampai kapan kamu bisa bertahan.”

Ia hampir melangkah pergi—namun berhenti satu detik di samping Rania, dan berbisik tepat di telinganya:

“Jangan buat aku bongkar apa pun dulu… Rania.”

Tubuh Rania refleks menegang.

Reyhan melangkah pergi sambil membetulkan kerah jasnya, wajah dingin, berjalan mengikuti staf yang memanggilnya. Tapi beberapa meter menjauh, ia masih sempat menoleh sekali lagi.

Tatapan yang jelas-jelas menyimpan ancaman.

Begitu Reyhan menghilang di balik tikungan lorong, Rania akhirnya bisa menarik napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

Tangannya dingin.

Perutnya mengerut.

Dan ketakutannya tadi kini muncul lagi, lebih besar.

Namun ia mengingat kalimat Radit:

“Aku gak akan biarin apa pun terjadi.”

Rania meremas jemari sendiri keras-keras, lalu menatap kosong ke arah lift.

Hari itu… baru dimulai.

Rania frutasi. Semua ini terjadi karena Radit sudah curiga dari semalam.

FLASHBACK — Pagi Tadi

Pagi itu, Rania sudah berdandan rapi. Dress simpel warna krem yang dipilih Radit semalam tergantung di pintu lemari. Ia baru saja meraih ponsel, berniat memberi tahu Radit bahwa ia sudah siap dijemput.

Drrt… drrt…

Ponselnya bergetar.

Nama yang muncul membuat darahnya langsung turun ke kaki.

Reyhan.

Rania mematung. Nafasnya naik turun.

Dengan tangan gemetar, ia menjawab.

“H-hello?”

Suara di ujung sana dingin, tenang… tapi berbahaya.

“Kamu siap?”

Rania menelan ludah. “Siap… apa? Aku gak punya janji sama kamu”

Hening satu detik.

Lalu kalimat berikutnya membuat Rania membeku.

“Keluar rumah.”

Rania menahan napas. “Reyhan, aku—”

“Keluar.” suaranya berat. “Sekarang.”

Rania membuka pintu rumah kecilnya dengan hati-hati. Aira masih tidur di kamar. Ia melangkah keluar, dan di pinggir jalan…

…Reyhan berdiri bersandar pada mobil hitamnya.

Ia memakai kacamata hitam, tangan di saku, tubuhnya santai, tapi aura ancamannya mencengkeram tenggorokan Rania.

Rania mendekat perlahan. “Apa yang kamu lakuin di sini?”

Reyhan melepas kacamata itu. Matanya menatap Rania lama—sehingga Rania merasa telanjang di tempat.

“Aku lihat semuanya semalam.”

“Semalam…?” Rania bingung.

Reyhan mendekat setengah langkah. “Kamu kira aku nggak tahu kamu pulang sama Radit?”

Darah Rania langsung mendingin.

“Aku mengikuti mobilnya.”

Kalimat itu saja sudah seperti pisau yang menembus dadanya.

Rania mundur satu langkah. “Kamu ngikutin aku?”

Reyhan mendengus. “Kamu yang bikin aku lakukan itu.”

Rania mencoba membalas, tapi lidahnya membatu. Reyhan melanjutkan, suaranya rendah dan menusuk:

“Dan sekarang... Aku sudah lihat rumahmu, Ran.”

Jantung Rania mencelos.

“Dan aku tau…” Reyhan berhenti, menatap intens.

“…anak kita.”

Rania memejamkan mata kuat-kuat.

Aira.

Gadis kecilnya.

Anak yang selama ini berusaha ia sembunyikan mati-matian dari Reyhan.

Reyhan menyeringai getir. “Tiga tahun, Ran. Tiga tahun kamu sembunyiin dia dari aku.”

“Karena kamu yang pergi,” Rania berbisik nyaris tanpa suara.

“Tapi tetep aja, kamu nggak punya hak buat menjauhkan dia dari aku.”

Nada itu bercampur menjadi ancaman yang tidak terselubung.

Rania menggeleng pelan. “Kamu nggak pernah peduli… waktu itu kamu bahkan—”

“Aku nggak mau bahas masa lalu,” potong Reyhan cepat.

“Aku mau bahas kamu. Sama Radit.”

Rania terdiam.

Reyhan mendekat lagi, sangat dekat sampai Rania hampir mundur ke tembok.

“Kalian udah terlalu dekat.”

“Reyhan, aku—”

“Aku nggak suka.”

Nada itu rendah, dingin.

“Dan aku nggak akan diem aja.”

Rania merasa seluruh tubuhnya lemas.

“Jaga jarak sama dia.”

Kata Reyhan menatap lurus, tanpa berkedip.

“Kalau kamu masih deket-deket Radit… aku bongkar semuanya.”

Rania membeku.

“Reyhan… jangan. Jangan libatkan Aira.” Suara Rania pecah.

“Aku nggak akan nyentuh Aira.” Reyhan memotong cepat.

“Tapi kamu?” ia mendekat lagi.

“Kalau kamu bikin aku kesal… kamu tahu aku bisa apa.”

Rania benar-benar gemetar sekarang.

Reyhan melirik jam tangan.

“Kamu batal dijemput Radit. Kamu bilang kamu… ada urusan.”

Senyum dingin itu muncul.

“Dan jangan bikin aku dateng lagi ke depan rumahmu.”

Reyhan masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan sebelum pergi ia menurunkan kaca jendela.

Tatapannya menusuk, mengintimidasi.

“Inget, Ran.”

“Kalau kamu nggak jaga jarak… tangan aku duluan yang bergerak.”

Mobil itu melaju pergi.

Rania berdiri di sana, kaku, napas pendek, keringat dingin merembes. Ia meraih ponsel dengan tangan gemetar dan mengetik pesan untuk Radit—

"Maaf, Dit. Aku ada urusan mendadak. Jadi, kamu duluan aja yang ke kantor"

Ia tidak bisa berkata jujur.

Bahkan pada Radit.

Karena Reyhan terlalu berbahaya untuk dipancing.

Flashbak off.

Sementara itu di ruangan Radit.

Suasana ruang kerja itu terasa terlalu rapi dan sunyi.

Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali ketukan pena Mama di atas meja, kebiasaan lamanya saat berpikir.

Radit duduk sedikit menegang, mencoba terlihat profesional meski jelas ia gelisah.

Reyhan baru saja tiba.

Sementara Mama memperhatikan dua putranya bergantian.

“Jadi,” ucap Mama akhirnya, “proposal Singapura sudah dikirim?”

“Sudah, Ma,” jawab Radit cepat. “Tinggal menunggu konfirmasi final.”

“Hm. Bagus.”

Mama mengangguk kecil, lalu matanya menajam ke arah Reyhan. “Kamu kenapa kelihatan kurang tidur?”

Reyhan tersenyum tipis. “Kerja lembur, Ma.”

“Oh, syukurlah. Kupikir kamu sibuk urusin perempuan.”

Nada Mama datar, tapi menusuk. Reyhan hanya tertawa kecil—sedikit pahit.

Radit pura-pura sibuk membuka laptopnya.

Lalu tanpa aba-aba—

Reyhan membuka percakapan yang tidak seharusnya.

“Ngomong-ngomong, Ma…”

Ia melirik Radit.

“Kapan Mama mau ketemu lagi sama calon menantu yang Radit bangga-banggakan itu?”

Radit langsung menutup laptop dengan pelan tapi tegas.

“Reyhan,” desisnya, “jangan mulai.”

“Aku cuma nanya.” Reyhan mengangkat alis. “Pacar sukses yang katanya bernama Soraya, kan? Masa aku belum diajak kenalan?”

Mama melirik Radit, jelas tertarik.

“Oh iya,” katanya tenang, “Kamu udah pernah dengar tentang itu?”

Radit memijat pelipis, mencoba menimpali

“Ma, itu—”

“Aku mau ketemu calon kakak iparku Ma,” potong Reyhan ringan, tapi tatapannya tajam seperti menguji Radit.

“Radit katanya pacaran sama wanita hebat. Sukses. Cantik. Bahkan Papa bilang dia cocok banget sama Radit.”

Mama tersenyum kecil.

“Bagus, kalau begitu. Mama ingin Reyhan segera kenal. Jadi gimana, Radit?”

Reyhan menyandarkan tubuh, memberi tekanan tambahan.

“Mama aja yang jadwalkan. Minggu depan mungkin? Biar keluarga resmi ketemu. Biar jelas juga… siapa yang akhirnya lebih dulu melangkah.”

Radit terdiam. Rahangnya mengeras.

Mama mendengus kecil, menoleh ke Reyhan.

“Apa maksudmu ‘lebih dulu melangkah’?”

Reyhan tersenyum samar.

“Ya… kalau Radit sudah mau nikah, aku bisa mundur, Ma. Aku kan selalu kalah dari dia.”

Nada itu terdengar gurauan, tapi Mama menangkap sesuatu yang lebih dalam.

“Reyhan…” Radit memperingatkan.

Tapi Reyhan justru menatap Mamanya dengan lebih santai.

“Aku cuma ingin ikut bahagia, Ma. Masa Radit yang mau nikah, aku ganggu? Enggak lah.”

Mama menatap kedua anaknya satu per satu, sebelum akhirnya berdecak pelan.

“Kalian dua ini selalu ribut seperti masih kecil saja.”

Lalu—tanpa diduga—Mama menambahkan:

“Baiklah. Mama jadwalkan pertemuan keluarga.”

Ia menatap Radit langsung.

“Tapi Mama ingin tahu dulu… apakah Soraya bisa datang?",

Kalimat itu membuat Radit kaku.

Reyhan tersenyum puas.

Namun sebelum Radit sempat mengubah arah pembicaraan, Mama tiba-tiba memicingkan mata.

“Sebentar…”

Ia mencoba mengingat sesuatu.

"Soraya itu… wajahnya familiar, ya?”

Radit langsung panik kecil.

“Ma, gak usah—”

“Tunggu,” Mama mengangkat tangan, merenung.

“Wajahnya… Mama merasa pernah lihat dia lagi. Cantik. Hidungnya mancung…”

Ia membuat gerakan di depan wajah, seolah memvisualisasikan.

Reyhan ikut memandang penuh minat, menunggu.

Suasana menegang.

Kemudian—

Mama menggeleng cepat.

“Ah, sudahlah. Mungkin cuma perasaan Mama aja.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!