NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:202
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bingungnya Rania

Rania mengernyit. “Maksud kamu?”

“Radit kenapa tiba tiba begini?”

Rania menggeleng perlahan. “Aku gak tau. Aku juga baru datang.”

Itu bukan jawaban yang Reyhan cari. Tapi cukup untuk memastikan bahwa kekacauan ini bukan datang dari Rania.

Reyhan menepuk ringan bahu Rania. “Tenang. Kerja aja sana. Jangan khawatir.”

Rania mengangguk, meski jelas kebingungan masih menggantung di wajahnya.

Reyhan berbalik, melangkah cepat menuju koridor dalam. Wajah santainya menghilang begitu pintu ruang direksi sudah di depan mata.

Ia mengetuk sekali, lalu masuk.

Radit berdiri membelakangi pintu, menatap jendela besar yang menghadap kota.

“Kamu sibuk?” tanya Reyhan, menutup pintu di belakangnya.

“Kalau cuma mau nanya soal promosi, jawabannya ada di ruang meeting.” jawabnya datar.

Reyhan melangkah mendekat. “Aku ke sini bukan sebagai staf.”

“Justru itu masalahnya,” potong Radit dingin. "Kamu sering lupa posisi.”

Reyhan menyandarkan diri ke meja, menyilangkan tangan. “Semua foto Rania diturunin hari ini. Kampanye diganti mendadak. Tim promosi panik. Dan kamu bilang… wajahnya sudah tidak cocok dengan tiba-tiba?”

Radit berjalan kembali ke meja kerjanya, “Ini Keputusan bisnis.”

“Secepat itu?”

“Perusahaan butuh arah baru.”

Reyhan tersenyum setengah. “Atau kamu butuh jarak?”

Radit berhenti. Tangannya mencengkeram tepi meja.

“Apa kamu lagi nyari alasan pribadi di balik semua ini?” lanjut Reyhan, “Karena kalau iya, caramu terlalu kasar. Bahkan buat Rania."

Radit mendongak tajam, “Aku bilang ini urusan perusahaan.”

“Dan aku gak salah kalo bilang, kamu keterlaluan kalau ada yang nyentuh sisi personalmu.”

Hening lama.

Rahang Radit mengeras. “Keluar,” katanya pendek.

“Rad—”

“Keluar,” ulang Radit, kali ini suaranya naik satu oktaf, “Aku gak butuh analisa kamu. Dan aku gak mau kamu ikut campur urusan ini.”

Reyhan menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu ia mengangguk kecil.

“Oke,” katanya ringan. “Kalau itu pilihan kamu.”

Ia berjalan ke pintu, berhenti sesaat sebelum membukanya.

“Tapi satu hal,” Reyhan menoleh setengah. “Kalau kamu nyakitin orang lain cuma buat nutupin kekecewaanmu sendiri… jangan kaget kalau suatu hari semuanya meledak di wajahmu.”

Pintu tertutup.

Radit berdiri kaku di tengah ruangan.

Di luar, Reyhan menghembuskan napas pelan. Bingung, marah, namun juga merasa lega.

Sementara Radit berdiri mematung beberapa detik, telapak tangannya bertumpu di meja. Bayangan pagi itu kembali menghantam tanpa ampun.

Dada Radit naik turun.

“Brengsek…” gumamnya lirih.

Tanpa duduk, ia meraih ponsel kantor.

“Masuk sekarang,” perintahnya singkat.

Tak sampai semenit, salah satu staf tim promosi berdiri di ambang pintu.

“Pak?”

Radit menoleh dengan tatapan dingin. “Tambahkan tugas untuk Rania. Revisi penuh materi presentasi klien, final konsep visual dan copy. Deadline sebelum jam makan siang.”

Staf itu terdiam. “Pak… itu biasanya dikerjakan tim kecil, minimal dua hari.”

“Dia bisa,” potong Radit. “Pastikan dia tahu ini prioritas.”

Nada suaranya tidak memberi ruang tawar-menawar.

“I-iya, Pak.”

Pintu menutup kembali.

Radit akhirnya duduk, menyandarkan punggung ke kursi. Napasnya masih berat dengan rahang yang mengeras. Ia tahu perintah itu tidak adil.

Dan justru karena itu, ia membiarkannya.

---

Di luar ruangan, kabar itu menyebar sangat cepat.

Rania menerima berkas tambahan dengan wajah pucat. Tangannya gemetar tipis saat membuka folder demi folder yang bertumpuk.

Sebelum jam makan siang. Sendirian.

Beberapa rekan kerja meliriknya dengan ragu, ada yang ingin membantu tapi tak berani, karena arahan datang langsung dari Radit.

Rania menarik napas panjang.

“Oke,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku bisa.”

Ia menunduk, menata ulang meja kerjanya yang kini kosong dari foto-foto promosi.

Apa semua ini karena aku minta jaga jarak sama daia ya? Atau karena aku bikin dia tersinggung?

Rania memilih percaya pada versi itu.

Jam terus bergerak.

Tugas satu belum rampung, tugas lain sudah menunggu. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Ia menolak bantuan kopi, menolak ajakan istirahat. Setiap detik terasa seperti dikejar sesuatu yang tak terlihat.

Di depan layar ruangannya, Radit memperhatikan.

Ada rasa puas yang pahit saat melihat bahu Rania menegang, dan jemari yang tak berhenti. Sekaligus ada sesuatu yang lain. Seperti sesak yang menyengat.

“Kenapa kamu gak jujur aja…” gumam Radit, nyaris tak terdengar.

Ia memalingkan wajah beberapa saat

Jika Rania menyembunyikan sesuatu, maka ia yang akan menentukan caranya menghadapi.

Sementara di ruangan Rania.

Ia masih menunduk di balik layar komputernya ketika Raya mendekat, membawa map tebal dengan wajah ragu.

“Ran,” bisik Raya pelan, “aku bantu ya. Ini kebanyakan buat satu orang.”

Rania mengangkat kepala, hendak tersenyum, namun suara itu memotong udara.

“Tidak ada yang membantu pekerjaan orang lain.”

Suaranya datar dan tegas. Menggema di ujung ruangan.

Semua kepala menoleh.

Raya refleks berhenti. Wajahnya memucat. Tangannya yang tadi hampir meletakkan map langsung ditarik kembali.

“M-maaf,” gumamnya, lalu mundur pelan. Tak berani menatap siapa pun.

Rania menelan ludah dan kembali menatap layar. Sementara di sudut ruangan lain, Reyhan berdiri mematung.

Ia jelas mendengar perintah itu.

Alisnya berkerut. Ada kebingungan yang singkat, lalu sesuatu yang lain menyelinap masuk ke benaknya.

Sebuah kelegaan.

Karena cara yang ia pakai berhasil membuat Radit mengambil tindakan.

Bagus.

Itu artinya jalannya akan lebih lapang.

Reyhan lantas menyandarkan punggung ke dinding, matanya mengikuti Rania yang terus bekerja tanpa mengeluh.

Perempuan itu terlihat rapuh dari kejauhan, tapi tetap bertahan. Dan entah kenapa, pemandangan itu menimbulkan rasa yang ganjil di dadanya.

Ini… keterlaluan, pikirnya.

Ia mengeluarkan ponsel, cepat menekan nama Radit.

Tidak tersambung.

Ia mencoba lagi. Lalu lagi.

Ditolak.

Reyhan mendengus pelan. Ia melangkah menuju ruang Radit, tapi langkahnya terhenti saat sekretaris mengangkat tangan.

“Maaf, Pak Reyhan. Ruangan Pak Radit tidak menerima tamu.”

“Sekarang?” Reyhan menatap tajam.

“Iya. Instruksi langsung.”

Reyhan menahan kesal, lalu melirik pintu kaca yang tertutup, sunyi, seperti benteng.

Tak tau jika di dalam sana, Radit tengah duduk kaku di kursinya, dengan bayangan pagi yang kembali menghantam pikirannya tanpa ampun.

Reyhan yang masih berdiri di sana, akhirnya berpikir kritis. Niat awalnya hanya ingin menjauhkan Rania dari Radit. Tapi melihat Radit menghukum Rania sejauh ini… ada sesuatu yang terasa salah.

Reyhan bertanya-tanya...

Kenapa Radit menghukum Rania sejauh ini…

Apa yang sebenarnya terjadi?

Reyhan akhirnya bergerak ketika teringat sosok Rania yang masih duduk di depan layar. Ia memilih untuk berbalik badan, dan melangkah masuk ke ruangan Rania tanpa ragu.

“Ran,” ucapnya pelan. “Kamu gak bisa ngerjain ini sendirian.”

Rania menoleh cepat. “Reyhan, jangan—”

“Aku cuma bantu sedikit. Cek ulang data. Itu aja,” katanya, “Kalau semua ini telat, nanti kamu yang disalahin kamu.”

Rania menggeleng, “Aku gak mau kamu ikut campur. Ini urusanku.”

Reyhan hendak membalas, tapi langkahnya terhenti.

Di sudut ruangan pengawasan, Radit berdiri di depan layar CCTV. Pandangannya tajam saat melihat Reyhan berdiri terlalu dekat dengan Rania, mencondongkan tubuh, menunjuk layar yang sama.

Amarah itu naik seperti api yang disiram bensin.

Tangannya mengepal. Kata-kata kasar hampir lolos dari bibirnya. Namun Radit menahannya.

Sebagai gantinya, ia menekan tombol interkom.

“Perhatian untuk seluruh staf,” suaranya terdengar formal, “Mulai sekarang, setiap orang tetap di ruangannya masing-masing. Tidak ada yang berkeliaran atau masuk ke ruang kerja staf lain tanpa izin. Fokus pada tugas.”

Hening seketika.

Reyhan menegang. Kalimat itu terlalu tepat sasaran untuk disebut kebetulan.

Beberapa pasang mata melirik ke arahnya, lalu cepat-cepat berpaling.

“Pergi,” kata Rania tegas. “Tolong. Jangan bikin keadaan makin rumit.”

Tatapan mereka bertemu. Ada kekesalan di mata Rania, bukan hanya pada Radit, tapi juga pada Reyhan. Kekesalan yang ia tahan rapat-rapat agar tidak tumpah di tempat kerja.

Reyhan mengangguk pelan. “Kalau kamu butuh—”

“Aku gak butuh,” potong Rania cepat. “Aku bisa.”

Reyhan mundur satu langkah. Dua. Lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.

Di ruangannya, Radit mematikan interkom.

Setidaknya ia berhasil membuat Reyhan tersingkir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!