Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Masa Lalu
Agil menoleh ke arah Laila. Ia ingin sekali memeluk istrinya, menangis bersamanya, dan mengatakan bahwa ia tahu semua penderitaannya. Namun, ia tahu di kamar ini mungkin ada penyadap suara. Baskoro tidak akan membiarkan privasi mereka benar-benar utuh.
"Tidurlah, Laila. Aku hanya ingin belajar menjadi pria yang lebih kuat untukmu," Agil berbaring dan memunggungi istrinya.
Di kegelapan kamar, Laila menangis tanpa suara. Ia merasa Agil sedang menjauh darinya, masuk ke dalam kegelapan yang sama dengan Baskoro. Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan: Baskoro yang jahat secara terang-terangan, atau Agil yang mulai belajar menjadi licik demi balas dendam.
Di saat yang sama, di ruang kerjanya, Baskoro menatap monitor yang terhubung ke kamera tersembunyi di kamar Agil. Ia tersenyum puas melihat anaknya memunggungi istrinya.
"Bagus, Agil. Teruslah menjadi dingin. Dengan begitu, Laila akan semakin merasa sendirian... dan saat kau di London, hanya akulah yang akan dia miliki," gumam Baskoro sambil menyesap wisku-nya.
Permainan baru saja dimulai, dan Baskoro merasa ia masih memegang semua kartu as di tangannya. Ia tidak tahu bahwa Agil baru saja mendapatkan alamat seorang pria kejahatannya, kunci pertama yang akan mulai membuka kotak pandora kejahatannya.
****
Gerimis tipis mulai membasahi aspal jalanan di pinggiran Jakarta Timur ketika Agil memarkirkan mobil sewaannya di depan sebuah bengkel motor tua yang tampak terbengkalai. Aroma oli bekas dan besi berkarat menyengat hidungnya. Tempat ini jauh dari kemewahan Menteng, sangat kontras dengan dunia yang selama ini ia tinggali.
Agil meraba secarik kertas di sakunya. Alamat yang diberikan Pak Broto membawanya ke sini. Dengan langkah ragu, ia masuk ke dalam bengkel yang remang-remang itu. Di sudut ruangan, seorang pria dengan rambut gondrong yang diikat dan tangan yang penuh noda oli sedang sibuk membongkar mesin motor gede.
"Cari siapa?" suara pria itu berat dan serak, tanpa menoleh sedikit pun.
"Saya mencari Gito," jawab Agil tegas.
Pria itu menghentikan pekerjaannya. Ia bangkit berdiri, menyeka tangannya dengan kain lap kumal, lalu menatap Agil dari ujung kaki hingga ujung kepala. Matanya tajam, seperti mata elang yang telah melihat terlalu banyak kekejaman.
"Kau punya tampang anak orang kaya Menteng. Salah alamat kalau mau servis motor di sini," ujar Gito dingin.
"Saya diutus oleh Broto. Nama saya Agil... anak Baskoro," Agil sengaja menekankan nama ayahnya.
Mendengar nama Baskoro, rahang Gito mengeras. Ia melemparkan kain lapnya ke atas meja kerja dengan kasar. "Anak Baskoro? Berani sekali kau datang ke sini. Kau tahu apa yang ayahmu lakukan padaku sepuluh tahun lalu? Dia membuatku menjadi buronan atas kejahatan yang tidak pernah kulakukan, sementara dia mengeruk keuntungan dari proyek pelabuhan itu."
"Saya tahu," potong Agil. "Itulah sebabnya saya di sini. Saya bukan datang sebagai anak yang berbakti. Saya datang sebagai orang yang ingin melihat iblis itu hancur."
Gito terdiam sejenak. Ia menyalakan sebatang rokok, mengembuskan asapnya ke udara. "Hancur? Kau mau menghancurkan ayahmu sendiri? Itu terdengar seperti dongeng atau pengkhianatan yang sangat mahal harganya."
"Dia bukan lagi ayah bagi saya sejak dia menyentuh istri saya," suara Agil bergetar oleh amarah yang tertahan.
Gito menatap Agil lebih dalam. Ia melihat kilat dendam yang sama yang ia rasakan selama satu dekade terakhir. Ia lalu memberikan kode agar Agil mengikutinya ke sebuah ruangan kecil di belakang bengkel yang penuh dengan monitor komputer dan perangkat komunikasi kabel.
"Duduklah. Broto tidak akan mengirimmu ke sini kalau kau tidak serius," ucap Gito sambil duduk di kursi putar yang sudah tua. "Apa yang kau punya?"
"Saya tidak punya bukti fisik saat ini. Papa terlalu rapi. Dia menghapus rekaman di vila Puncak dan mengancam mertua saya dengan utang serta kasus hukum. Tapi saya akan ke London lusa. Saya butuh seseorang untuk mengawasi Laila dan gerak-gerik Papa selama saya tidak ada."
Gito tersenyum sinis. "Mengawasi Baskoro itu seperti mengawasi hiu di tengah laut. Sekali salah langkah, kau akan tertelan. Aku butuh biaya untuk peralatan dan orang-orangku."
Agil mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tasnya. Di dalamnya terdapat uang tunai dalam jumlah besar—sebagian dari bonus yang diberikan Baskoro untuk keberhasilan kontrak Australia. "Ini uang muka. Saya akan mengirimkan lebih banyak lagi dari London lewat akun yang tidak terdeteksi. Saya ingin laporan harian. Apa pun yang dilakukan Papa pada Laila, ke mana pun mereka pergi, saya harus tahu."
Gito menerima amplop itu, namun matanya tetap tertuju pada Agil. "Kenapa kau harus ke London? Jika kau ingin melindunginya, tetaplah di sini."
"Jika saya di sini, saya akan terus di bawah kendalinya. Di London, saya akan membangun kekuatan finansial saya sendiri. Saya akan mencari celah di investasi luar negerinya. Saya butuh jarak untuk bisa menyerang jantungnya," jawab Agil penuh perhitungan.
Gito mengangguk perlahan. "Baiklah. Aku terima tawaranmu. Tapi ingat satu hal, Agil. Baskoro punya mata di mana-mana. Istrimu... dia adalah sandera yang paling berharga baginya. Jangan harap dia akan melepaskannya begitu saja hanya karena kau sukses di London."
Malam harinya, Agil kembali ke mansion. Ia menemukan Laila sedang mengemas barang-barangnya ke dalam koper kecil.
"Laila? Apa yang kamu lakukan?" tanya Agil heran.
"Aku... aku akan tidur di kamar tamu mulai malam ini, Mas," jawab Laila tanpa menatap mata Agil. "Papa bilang, karena kamu mau berangkat, aku harus mulai membiasakan diri untuk tidak terlalu bergantung padamu. Dia bilang... kamar utama ini akan direnovasi."
Agil merasakan dadanya sesak. Renovasi? Itu hanyalah taktik lain dari Baskoro untuk memisahkan mereka lebih jauh bahkan sebelum ia berangkat.
"Tidak, Laila. Kamu tetap di sini bersamaku sampai lusa pagi," Agil memegang tangan Laila.
"Jangan lawan dia lagi, Mas. Aku mohon," Laila mulai menangis. "Tadi sore... Papa masuk ke kamarku saat aku mandi. Dia hanya berdiri di sana, menatapku... dia tidak melakukan apa-apa, tapi tatapannya... aku merasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup."
Agil memeluk Laila erat. Kemarahannya hampir meledak, namun ia teringat pesan Gito: Baskoro punya mata di mana-mana. Ia harus tetap tenang.
"Sabar, Sayang. Hanya tiga bulan. Aku berjanji, setelah tiga bulan, kita akan pergi dari rumah ini selamanya. Kita akan mulai hidup baru di mana pun kamu mau," bisik Agil, mencoba memberikan harapan yang ia sendiri pun belum tahu bagaimana mewujudkannya.
Di saat yang sama, di lantai bawah, Baskoro sedang berdiri di depan lukisan besar di lobi, memegang segelas anggur. Rina berjalan menghampirinya.
"Kau benar-benar akan mengirim anakmu sejauh itu hanya untuk memuaskan nafsumu pada istrinya?" tanya Rina dingin.
Baskoro menoleh, tersenyum mengejek. "Kau bicara seolah kau tidak pernah menikmati kemewahan yang kuberikan dari hasil 'nafsu' bisnisku, Rina. Agil akan mendapatkan masa depan. Laila akan mendapatkan perlindungan. Dan aku... aku hanya mengambil bunga dari investasi yang kutanam."
"Kau gila, Baskoro. Suatu hari nanti, Agil akan menyadari semuanya."
"Dia sudah menyadarinya, Rina. Dia hanya terlalu pengecut untuk mengakukannya sekarang. Dia pikir dia bisa melawanku dari London. Dia tidak tahu bahwa di sana, dia juga akan berada dalam pengawasanku setiap detik."
Baskoro meneguk habis anggurnya. Permainan ini semakin menarik baginya. Ia tidak hanya menginginkan tubuh Laila, ia juga ingin menghancurkan mental Agil sepenuhnya, membentuk anaknya menjadi duplikat yang lebih keras dan tanpa belas kasihan.