Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi Berdarah
"Masuk!" Suara dingin terdengar dari balik pintu, membuat langkah kaki Adit, sedikit gemetar saat ingin masuk ke dalam ruang kerja Danu.
"Duduk!" ucap Danu membuat Adit cepat-cepat menuruti perintahnya.
Kedatangannya kesini karena Danu memintanya untuk menemuinya di Perusahaan Wilson. Adit sendiri merasa bingung kenapa tiba-tiba saja Danu memanggilnya kesini. Dan itupun hanya ia sendiri, tidak seperti hari-hari biasa ia dipanggil bersama yang lain.
Di depannya terdapat 2 cangkir teh, dan satu teko kecil. Kening Adit sedikit berkerut melihat Danu memberinya kode jari, untuk meminum teh tersebut. Meski ia ingin menanyakan alasannya, lebih baik ia memilih diam dan segera menuruti perintah Danu. Adit mengambil secangkir teh, lalu meminumnya secara perlahan.
Setelah cangkir itu kosong, Adit meletakan kembali ke tempat semula. "Maaf, Tuan. Ada urusan apa Tuan memanggil saya?"
"Bagaimana dengan kondisi Glide Cakes sekarang ini?" tanya balik Danu menatap dingin.
Adit sedikit menelan ludah susah payah. "Baik, Tuan. Penjualan setiap bulan meningkat hingga 50%," balasnya dengan nada gugup. Hawa sunyi menyebar di setiap sudut ruangan. Dan membuatnya merasa tidak nyaman bertatap muka dengan Danu.
"Jujur saja saya ingin meratakan Glide Cakes sekarang juga," ucap Danu membuat Adit merasa terkejut.
"Kenapa Tuan ingin menutup Glide Cakes?" Adit merasa bingung, bukannya hasil penjualan Glide Cakes makin pesat setiap bulan.
"Karena saya sudah tidak membutuhkan bisnis itu lagi," balas Danu dengan nada santai, sambil mengetuk jari telunjuknya di atas meja.
Glide Cakes merupakan bagian dari Perusahaan Athena. Meski demikian Danu lah yang menjadi pemilik properti tersebut. Dulu bisnis itu dirintis sendiri oleh Bianca, semasa awal mereka menikah. Namun karena merasa tidak sesuai dengan keahliannya, Glide Cakes berpindah ke tangan Danu.
Adit yang memiliki posisi sebagai salah satu orang kepercayaan Danu, ditugaskan untuk mengurus bisnis tersebut sampai sekarang. Dan mendengar jika Danu ingin meratakan Glide Cakes, yang sudah ia tekuni selama ini. Membuat Adit merasa keberatan dengan keputusan tersebut.
"Apa ada alasan lain, Tuan?" Adit bertanya sekali lagi, meski ia tau peraturan menjadi anak buah Danu, salah satunya dilarang untuk terus bertanya, dan segera melaksanakan perintah.
Sorot mata dingin Danu menatap intens ke arah Adit. "Sepertinya kau keberatan dengan keputusan saya."
"Ah! Bukan begitu, Tuan." Adit buru-buru mengelak. "Saya hanya ingin-"
"Bagaimana kalau Glide Cakes kau ambil alih sepenuhnya," Danu menyela Adit yang ingin memberinya alasan.
Sementara Adit dibuat terkejut mendengar ucapan Danu. "Maksud, Tuan?" tanyanya menatap bingung.
"Ambil Glide Cakes milik saya. Dan kau tidak perlu lagi mengirimkan hasil penjualan."
Adit merasa seperti mendapat jackpot hari ini. Ia tidak menyangka jika Glide Cakes akan menjadi miliknya. Namun masih ada hal yang membuatnya sedikit merasa aneh, dengan keputusan Danu.
"Kenapa kau terdiam?" tanya Danu yang melihat Adit duduk termenung, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa saya sudah melakukan kesalahan fatal, Tuan?" Adit meremas gelisah kedua tangannya. Keringat dingin mulai muncul di dahinya, berharap apa yang sedang ia pikirkan saat ini hanya dugaan semata.
Danu dibuat tersenyum mendengar pertanyaan Adit. Ia mengambil secangkir teh yang masih tersisa. "Saya memang tidak pernah salah telah memilihmu menjadi salah satu anak buah kepercayaan saya,"
"Kau tau benar, kebiasaan saya sebelum menyingkirkan seorang pengkhianat, adalah dengan membuat orang itu terlena dengan kemewahan, yang tiba-tiba saja saya berikan kepadanya," Danu mulai menuang secangkir teh tersebut, ke dalam pot tanaman kecil, yang berada di sisi kanan meja kerjanya.
Adit mengernyitkan dahi merasa aneh, mengapa Danu membuang teh tersebut. Hingga akhirnya ia tersadar jika ...
"Huekk!" Adit berusaha sekuat mungkin mengeluarkan teh yang sudah ia minum tadi, dan berpikir jika teh tersebut mengandung racun.
"Kau butuh ini, Adit?" tanya Danu sambil memperlihatkan sebotol penawar racun di tangannya.
Adit berlutut memohon ampunan. "Tuan, maafkan kesalahan saya. Saya belum ingin mati, Tuan. Saya mohon ampuni saya," ucapnya sambil ketakutan.
Hingga tiba-tiba saja ia merasakan sesak di dada."Argh!" Adit meringis menahan rasa sakit yang luar biasa. Napasnya mulai tersengal hingga ia kesulitan untuk berbicara."Tu-Tuan, tolong... berikan saya penawar racun itu..." ucapnya terbata-bata menahan rasa sakit.
"Saya akan memberikan penawar ini jika kau mau memberi saya informasi, tentang gadis bernama Luna," balas Danu memberi sebuah syarat, sambil terus memainkan penawar racun di tangan kanannya.
Luna? batin Adit yang harusnya bisa menduga, jika ini ada hubungannya dengan gadis itu.
"Kenapa Tuan ingin tau tentang dia?" tanya Adit yang masih meringis kesakitan.
"Cepat katakan semua informasi tentang gadis itu, atau saya hancurkan penawar racun ini," ancam Danu.
Adit merasa bingung harus memilih keputusan apa. Tidak mungkin baginya memberikan informasi tentang siapa Luna. Tapi jika ia tidak menuruti perintah Danu, bisa dipastikan nyawanya berakhir disini.
"Cepat katakan!" desak Danu.
Tubuh Adit yang semakin bereaksi akibat racun yang ia minum, membuatnya tidak mempunyai pilihan lain. "Dia dulu pegawai saya selama 5 tahun, Tuan."
"Lanjutkan!"
"Saya hanya sebatas mengenalnya, karena dulu dia pernah singgah di Glide Cakes karena merasa lapar. Argh!" Adit semakin tidak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Dia cerita kepada saya kalau dia sedang dikejar beberapa orang, yang memaksanya untuk mendonorkan sel tulang sumsumnya."
"Lalu siapa nama kedua orang tuanya?" tanya Danu.
"Saya tidak tau, Tuan. Luna hanya seorang anak panti asuhan, yang diadopsi saat berusia 13 tahun," balas Adit yang benar-benar tidak kuat lagi menahan rasa sakit.
"Panti asuhan?" Danu sedikit berpikir sejenak, "Panti asuhan mana?"
"Panti Asuhan Pelita, Tuan. Argh! Tuan tolong berikan saya penawar racun itu!" Adit memohon belas kasihan Danu.
"Baik, ini terima!" Danu melempar pelan botol tersebut ke arah sampingnya.
Dengan susah payah Adit merangkak mencoba meraih botol tersebut. Namun saat ia hampir berhasil menyentuh botol itu, kaki Danu terlebih dahulu menginjak, dan membuat botol penawar racun tersebut pecah berantakan.
"Cukup sampai disini kita bertemu, Adit." Ucap Danu berlalu pergi meninggalkan Adit yang masih menatap tidak percaya, jika ini hari terakhirnya hidup di dunia.
"Maafkan Bapak, Luna." Adit merasa menyesal karena telah tertipu permainan Danu.
Jika saja ia tau, kalau ia tidak memberikan informasi sedikitpun tentang Luna. Mungkin ia akan bersedia mati, tanpa menanggung rasa bersalah.Dan sekarang ia merasa khawatir dengan keadaan Luna saat ini, karena Danu sudah mulai mengincarnya.
Adit berpikir mungkin karena Luna terlalu dekat, atau bahkan sudah menjalin hubungan dengan Rendra. Hingga membuat Danu tidak suka dengan kedekatan mereka.
"Argh!" mulutnya mulai mengeluarkan busa, hingga membuat kedua matanya terbelalak lebar. Sampai akhirnya ia menutup mata, dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di sisi lain, Danu merasa merasa puas mendapat sedikit informasi tentang Luna. Ia sama sekali tidak merasa bersalah, karena sudah membunuh salah satu orang kepercayaannya. Bagi Danu, jika orang tersebut sudah tidak berguna lagi untuknya. Lalu kenapa tidak ia singkirkan saja, daripada mengusik urusan pribadinya.Ia juga mengerti, jika Adit tidak segera dibunuh.
Bisa dipastikan jika ia akan melindungi Luna, dengan cara apapun yang dia bisa lakukan. Sekarang tugas Danu hanya ingin mengambil informasi lebih dalam lagi, tentang siapa sebenarnya gadis yang berani mendekati anaknya.
“Panti Asuhan Pelita? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya,” gumam Danu berjalan masuk ke dalam mobil pribadinya.