Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Dian duduk di lantai, menemani Naya dan Jelita bermain bersama, sementara sus setia mengawasi di sisi mereka. Sinta sedang pergi bersama suaminya menghadiri sebuah acara, meninggalkan Dian sejenak dengan pikirannya sendiri.
Kondisi Dian jauh lebih baik sekarang. Ia tahu dirinya harus menyiapkan hati—menumpuk kesabaran sedikit demi sedikit. Setelah semua ini, ia berniat menceritakan keadaan rumah tangganya kepada sang ibu. Untuk saat ini, hanya ibunya dan Sinta yang benar-benar selalu ada di sisinya.
Tanpa ia sadari, sejak tadi Naya memanggil-manggil namanya. Suara kecil itu tak sampai ke telinganya, tenggelam oleh pikiran yang berkelindan. Baru ketika sus Jelita menyentuh lengannya dengan lembut, Dian tersentak dan kembali sadar—menyadari betapa jauh lamunannya telah membawanya pergi.
“Bu, tidak apa-apa?” tanya sus dengan nada khawatir. “Dari tadi saya lihat ibu melamun saja.”
Dian tersentak kecil, lalu menoleh. “Eh… enggak, sus,” jawabnya singkat. Senyum tipis ia paksakan terbit di wajahnya, meski hatinya sendiri belum menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan.
Sinta mengabari Dian bahwa orang suruhannya kini sudah memantau setiap gerak Andi. Dengan hati-hati, Sinta menyarankan agar Dian segera pulang saja ke Pinang. Ia tak ingin situasi menjadi kacau jika Andi tiba-tiba bertemu Dian sebelum semuanya jelas.
“Biar aku yang urus semuanya, Ian,” pesan Sinta tegas namun lembut. “Kamu nggak perlu turun tangan langsung. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
Dian membaca pesan itu dalam diam. Ada sedikit lega di dadanya, meski rasa sesak belum sepenuhnya pergi. Ia tahu Sinta melakukan ini demi melindunginya—agar ia tak perlu melihat langsung kenyataan pahit yang bisa meruntuhkan hatinya seketika.
Dian menghembuskan napas pelan. Sinta benar, batinnya lirih. Untuk sekarang, lebih baik aku pulang dulu.
Malam itu, setelah Naya terlelap, Dian merapikan pakaian-pakaiannya. Sempat terlintas keinginannya untuk tinggal lebih lama di rumah Sinta agar bisa memantau keadaan secara langsung, namun ia sadar Sinta jauh lebih memahami situasi dan tahu langkah apa yang paling aman untuk dilakukan.
Siang itu, Dian dan Naya diantar Pak Muin, sopir Sinta.
Pak Muin turun lebih dulu, mengeluarkan tas Dian dari bagasi mobil.
“Ibu hati-hati ya, semoga selamat sampai tujuan,” ujar Pak Muin tulus.
“Iya, Pak. Bapak juga hati-hati di jalan,” jawab Dian sambil tersenyum tipis.
Mobil Sinta perlahan melaju, meninggalkan Dian dan Naya di pelataran pelabuhan. Naya sudah berada dalam gendongannya, sementara Dian menenteng satu tas menuju loket tiket. Keputusannya sudah bulat—ia akan pulang ke rumah ibunya di Bintan terlebih dahulu.
Dian memesan tiket speedboat menuju Bintan.
“Bismillah,” bisiknya pelan di dalam hati, menguatkan diri untuk langkah yang akan ia tempuh.
Sore itu, Dian dan Naya akhirnya tiba di Bintan, tepatnya di Tanjung Uban. Dari pelabuhan, mereka dijemput oleh Pak Long—paman dari pihak ibunya. Dian sudah lebih dulu mengabari sang ibu, sehingga setibanya di rumah, aroma masakan kesukaannya langsung menyambut.
Langkah Dian terasa ringan. Di rumah ini, hatinya benar-benar tenang. Tak ada tekanan, tak ada tuntutan—hanya kehangatan yang memeluknya utuh.
“Walaupun aku sudah menjadi seorang ibu, aku tetap membutuhkan ibuku,” batinnya lirih, penuh rasa syukur.
Ibu Eni keluar dari kamar setelah berhasil menidurkan cucunya. Baru beberapa langkah melangkah, tiba-tiba Dian memeluknya erat. Tangis yang sejak tadi tertahan akhirnya pecah di pelukan sang ibu.
Bahu Dian bergetar hebat. Semua yang ia pendam—lelah, sakit hati, kecewa, dan rasa takut—tumpah begitu saja. Ia tak lagi mampu menahan apa pun. Di hadapan ibunya, Dian kembali menjadi anak kecil yang rapuh, mencari tempat paling aman untuk bersandar.
Bu Eni mengelus punggung Dian dengan lembut, menenangkan isaknya yang masih tersisa. Dengan suara pelan namun penuh keteguhan, ia berkata,
“Ceritakanlah, Nak. Biar dadamu lega. Ibu di sini, siap mendengarkan.”
Perlahan Dian mengangkat wajahnya. Dengan suara terputus-putus, ia mulai menceritakan semuanya—tentang sikap ibu mertuanya yang tak pernah benar-benar menerimanya, tentang kata-kata yang merendahkan, perlakuan dingin yang harus ia telan setiap hari. Lalu cerita itu berlanjut pada Andi, suaminya, yang kian berubah. Tentang perhatian yang hilang, tentang nafkah yang tak menentu, hingga akhirnya pengkhianatan itu terungkap: perselingkuhan yang selama ini ia rasakan lewat insting, kini terbukti nyata.
Dian juga menceritakan bagaimana ia mengetahui siapa wanita itu, bagaimana hatinya hancur saat menyadari suaminya telah tidur dengan perempuan lain, sementara dirinya hanya bisa menahan luka demi Naya. Setiap kata yang keluar membuat air matanya kembali jatuh, namun ada sedikit kelegaan karena akhirnya semua beban itu ia keluarkan.
Bu Eni mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tenang, namun matanya berkaca-kaca menahan amarah dan sedih yang bercampur. Tangannya tak pernah berhenti mengusap kepala Dian, seolah berkata tanpa kata: kamu tidak sendiri, Nak.
Bu Eni menarik napas panjang, lalu memegang kedua tangan Dian dengan lembut namun mantap. Tatapannya penuh kasih, tidak menghakimi.
“Nak,” ucapnya pelan, “rasa takutmu itu wajar. Setiap ibu pasti ingin anaknya tumbuh dengan sosok ayah. Tapi ibu ingin kamu ingat satu hal.”
Bu Eni berhenti sejenak, memastikan Dian mendengarkan.
“Yang dibutuhkan Naya bukan hanya seorang ayah secara status, tapi rumah yang aman, hati yang tenang, dan ibu yang kuat. Kalau kamu terus bertahan dalam luka, dalam pengkhianatan, apa itu yang ingin kamu wariskan pada Naya?”
Air mata Dian kembali jatuh. Ia menunduk, dadanya sesak.
“Ibu bukan menyuruhmu cerai,” lanjut Bu Eni bijak, “tapi ibu ingin kamu memilih dengan sadar, bukan karena takut. Takut ditinggal, takut omongan orang, atau takut anakmu kurang. Karena anak akan lebih terluka melihat ibunya terus menangis daripada tumbuh tanpa ayah yang bertanggung jawab.”
Bu Eni mengusap pipi Dian.
“Apapun keputusanmu—bertahan atau pergi—ibu ada di belakangmu. Tapi pastikan keputusan itu membuatmu dan Naya lebih dihargai, bukan semakin hancur.”
Dian terisak, lalu memeluk ibunya erat-erat. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa tidak sendirian.
Dian mengangguk pelan. Dadanya terasa lebih ringan, meski perih itu masih ada, menetap seperti luka yang belum benar-benar sembuh.
Ia menyeka air mata, lalu bersandar di bahu ibunya.
“Aku lega, Bu… tapi sakitnya masih ada,” lirih Dian jujur.
Bu Eni mengelus punggungnya dengan sabar. “Lega dan perih itu bisa datang bersamaan, Nak. Artinya hatimu sedang jujur pada diri sendiri. Jangan kamu paksa untuk kuat hari ini. Menangis juga bagian dari sembuh.”
Dian memejamkan mata. Untuk sesaat, ia membiarkan dirinya rapuh—tanpa topeng, tanpa berpura-pura baik-baik saja. Di rumah ibunya, ia tidak perlu menjadi istri yang tegar atau ibu yang selalu tersenyum. Ia hanya boleh menjadi Dian, seorang perempuan yang terluka, tapi sedang belajar berdiri kembali.
Di dalam hatinya, Dian tahu… jalan ke depan tidak akan mudah. Namun setidaknya kini, ia melangkah dengan lebih sadar, ditemani doa seorang ibu dan cinta untuk Naya.