Arabella Elisa Jodie, gadis tomboy dengan segudang keahlian, pandai beladiri dan menyukai kebebasan. Memiliki beberapa sahabat pria yang sudah akrab dengannya sejak bertahun lamanya.
Bagaimana bila tiba-tiba Ara harus terpaksa menjadi seorang istri?
Istri dari tuan muda tampan yang sejak kecil sudah memiliki kehidupan berkelas.
"Apa dia wanita?" (Dilano Danuarta)
"Dia terlalu mulus untuk ukuran seorang pria matang." (Ara)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Akhir
"Jangan bercanda Lano, kalian baru saja saling mengenal." Dilan tak percaya kalau putranya ternyata setuju dengan pilihan Ara.
"Lano akan berusaha untuk menerima Gisela jika kalian tidak keberatan. Bukankah Daddy ingin segera memiliki pewaris?"
Ara menjadi serba salah. Percakapan Lano dan Dilan terdengar sedikit ada ketegangan.
"Apa kamu yakin dengan pilihan kamu, Kak?" Sofia menatap dalam mata putranya.
Lano menoleh Gisela sebentar. Memastikan pilihannya tidak salah. Tadi dia juga sudah memperhatikan Gisela, dan menurutnya Selebgram itu lumayan cocok menjadi istrinya.
Meskipun entah bisa atau tidak nantinya dia mencintai gadis itu, untuk sekarang Lano hanya tidak ingin kedua orangtuanya khawatir. Khawatir dengan penilaian orang tentang dirinya.
"Kesannya cukup baik di pertemuan pertama."
"Apa kamu suka tuan Lano, Gisela?" Ara ragu-ragu bertanya.
"Tidak munafik, dia sangat sempurna. Mungkin semua gadis akan berpikiran sama jika bertemu dengan Tuan Lano untuk pertama kalinya." Gisela menjawab dengan jujur tak ada kebohongan di matanya.
Dilan dan Sofia saling menggenggam tangan. Sepertinya mereka akan gagal menjadikan Arabella menantunya.
Seharusnya mereka senang karena Ara sudah berhasil membuat Lano ingin menikah.
Namun entah mengapa Dilan dan Sofia terasa tidak ikhlas menyerahkan putranya pada gadis selain Arabella.
Boy menatap Dilan. Menganggukkan kepala supaya Dilan menyetujui saja hubungan Gisela dan Lano untuk sekarang.
"Baiklah, Daddy akan memberikan kamu dan Gisela waktu untuk saling mengenal lebih dulu." Dilan menuruti perintah Boy.
"Karena keputusan sudah diambil, kalian bisa melanjutkan acara bersantai kalian, Lano mau ke kamar dulu." Pria itu bergegas meninggalkan halaman belakang rumah besar setelah dirasa cukup untuk dirinya menemui calon istri pilihan Arabella.
"Maaf, Gisel. Begitulah sikap anak Tante. Apa kamu tetap masih suka dengan putra Tante yang dingin itu?" Sofia melirik Gisel. Berharap gadis itu tidak menyukai sikap putranya.
"Dia akan menjadi hangat jika sudah waktunya, Tan. Justru itu yang membuat dia berbeda dari laki-laki biasanya." Gisela samasekali tidak berubah. Sejak awal melihat Lano secara dekat, gadis itu sudah jatuh hati dengan pria kaya raya itu.
Perkenalan pun berakhir dengan sebuah keberhasilan bagi Ara, tapi kekalahan bagi Dilan.
.
.
.
.
Dilan dan Boy sedang berada di ruang kerja. Membahas masalah kali ini dengan serius.
"Putrimu memang benar-benar tidak menyukai Lano, Boy." Dilan duduk sambil bersandar di kursi meja kerjanya.
"Maafkan putri saya, Tuan." Boy tak enak hati.
"Apa saya tolak saja Gisela itu? Bilang saja saya tidak suka?"
"Tidak ada yang salah dengan gadis itu, Tuan? Lano akan semakin curiga bila Anda menolak tanpa alasan."
Dilan memikirkan perkataan Boy. Benar, Dilan tak seharusnya mempermainkan hati putranya. Tidak ada pilihan lain, Dilan harus merelakan impiannya untuk berbesan dengan asistennya.
"Kamu benar Boy. Sepertinya saya harus mengubur impian kita. Lano sudah setuju menikah, apa boleh buat. Kita harus mempersiapkan hari bahagia itu secepatnya, sebelum Lano berubah pikiran."
***
~Satu bulan kemudian....
Arabella menghempaskan tubuhnya ke sofa di dalam basecamp yang sudah lama tidak ia kunjungi. Rasa rindunya akan tempat itu seketika terbayarkan saat sepiring nasi goreng kesukaannya tersaji di atas meja, lengkap dengan telor ceplok dan segelas kopi susu manis buatan Bara Pamungkas. Si anak orang kaya yang memilih menjadi pria biasa-biasa saja agar bebas kemanapun.
"Doa dulu!" Bara memukul lengan Ara yang hendak menyuapi nasi ke mulutnya tanpa berdoa lebih dulu.
"Aku sudah berdoa dalam hati, Bara." Ia menatap tajam Bara.
"Maaf kalau begitu." Bara tersenyum.
"Menyebalkan!" ketusnya.
"Bagi, Jod." Galih tiba-tiba datang dan langsung menyambar sendok berisi nasi yang sedang dipegang Arabella. Hitungan detik nasi yang belum masuk ke mulutnya berpindah ke mulut Galih.
"GALIH." Aura berapi-api menguasai gadis itu.
"Dikit, Jod." Galih memelas.
"Ada apa sih ribut-ribut?" Baim tak kalah usil. Baru datang dia langsung menyeruput kopi susu Ara di atas meja.
"BAIM." Dia menoleh Baim juga.
"Jangan pelit, Jodi. Sama suami harus berbagi." Baim mengerlingkan mata.
"Kalian memang benar-benar menyebalkan. Habiskan! Aku tidak sudi lagi makan bekas kalian." Ara berbaring di sofa.
"Cie ... yang sudah bisa ngambek kan." Baim melempar bantal sofa ke arah ara, tapi secepat kilat Bara menangkis bantal itu agar tidak mengenai sasaran Baim.
"Dia baru mau beristirahat, Baim. Jangan diganggu!" kata Bara serius.
"Istirahat? Oh iya, sudah sebulan lebih tidak kesini, alasannya sibuk kerja. Kerja apa, Jod?" Galih merasa penasaran kenapa sahabatnya itu menjadi sibuk.
"Ini urusan orang dewasa, kalian tidak usah ikut campur." Ara masih merapatkan kedua matanya. Mencari kenyamanan supaya bisa beristirahat dengan benar.
"Istri kamu kenapa, Bar?" Kepo Baim.
"Baru menyelesaikan tugas berat. Selama sebulan lebih jarang tidur demi membuat semua orang bahagia." Bara sedikit tau permasalahan Arabella.
"Pasti tentang si tuan muda itu lagi?" Galih sudah menduga.
"Dia sudah cari pengganti, jadi sekarang dia sudah aman," serius Bara menceritakan.
"Jodie batal, jadi istri sultan?" Baim sedikit kecewa.
"Kalian bicara apa?" Alex datang dengan membawa kantong besar berisi makanan dan minuman siap saji.
Meletaknya di atas meja.
"Ini ... baru sahabat, datang bawa buah tangan, bukan kayak kalian datang-datang cuma bawa biji!" Ara langsung merubah posisinya menjadi duduk. Gadis itu melengkungkan bibirnya dengan sempurna ke arah Alex. (biji mata ges)
"Sudah selesai, sibuknya?" tanya Alex pada Ara.
"Aku kerja, Din." Santai Ara menjawab.
"Sudah aku bilang jangan panggil nama itu, Jodi!" Alex mengambil kembali makanan yang ia bawa.
"Iya iya, maaf A-L-E-X." Ara sampai mengeja nama sang sahabat dengan sempurna.
"Minggu ini kalian semua harus datang!"
"Datang kemana?" tanya Alex.
"Datang ke pernikahan tuan Lano, nanti aku akan kirim alamat lengkap. Pakai baju mahal jangan buat aku malu?!" Ara menatap keempat sahabat baiknya satu persatu.
"Siap, Tuan Putri Arabella," sahut keempat pria itu bersamaan.
"Baguslah, nanti malam kita hangout. Aku traktir sepuasnya," ajak Ara.
"Wuih ... gaji pertama nampaknya." Baim menyenggol lengan Ara.
"Banyak sepertinya?" Galih menggerak naik turun alisnya.
"Pasti 'lah, traktir orang sekampung juga cukup." Menyombongkan diri.
"Traktir apa dulu?" Alex menimpali.
"Cilok, hahahahah."
Beban Ara selama satu bulan lebih akhirnya berkurang. Tak dipungkiri, bahwa ia selalu rindu saat bercanda dengan para sahabatnya. Masa muda yang mungkin akan terlewatkan begitu saja seiring waktu.
.
.
.
.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ara sibuk kesana kemari demi membantu kelancaran acara yang sangat istimewa bagi keluarga Danuarta dan tentunya juga bagi keluarganya sendiri.
Ketiga anak kembar Dilan juga pulang ke negaranya demi menghadiri acara pernikahan sang kakak tercinta.
Syahira, Syakila dan Syakira tampak sangat cantik dengan kebaya berwarna senada. Warna lavender menjadi pilihan kedua keluarga di hari bahagia tersebut.
Ara menghampiri adik kembar Dilano. "Kalian cantik sekali," puji Ara pada tiga gadis teman masa kecilnya. Meskipun jarang bertemu ketika sudah dewasa, tapi mereka tentu saja saling mengenal.
"Kamu juga cantik, Ara." Hira membalas pujian Ara.
"Sayang batal jadi kakak ipar kita," Kira terlihat kecewa.
"Jangan begitu, aku memang belum siap menjadi istri. Lagipula kami terlihat sangat tidak cocok." Ara merendahkan diri.
"Padahal kita sudah berharap banyak kalau Kak Lano akan menikah dengan putri tunggal paman Boy." Kini giliran si cantik Hira yang masih kecewa atas keputusan Lano yang begitu cepat memutuskan untuk menikah dengan Gisela Anastasia.
"Gisela wanita yang baik dan cantik, aku yakin kakak kalian akan bahagia memiliki istri seperti Gisela." Ara menenangkan ketiga gadis kembar yang memiliki wajah mirip tersebut. Hanya gaya rambut yang membedakan ketiganya.
"Apa kamu samasekali tidak memiliki perasaan apapun pada kak Lano, Ara?" Hira begitu penasaran. Setaunya, Ara yang sudah membuat kakak laki-lakinya siap menikah. Berarti gadis itu memang tidak ada rasa apapun pada sang kakak.
Ara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa kalian tau seperti apa rasanya jatuh cinta? Pernah pacaran?" balik bertanya.
"Daddy akan mencoret nama kita dari kartu keluarga kalau kita pacaran." Ketiga anak kembar itu berpelukan. Saling menguatkan.
***