Cerita terinspirasi kisah nyata!
Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.
Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.
Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Sarapan Bareng
Galih mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mengalir membasahi pelipis, menetes pelan menyusuri lehernya. Rasa takut yang mulanya sempat menyelimuti perlahan berganti menjadi keberanian nekat. Pemuda yang sudah biasa menghadapi bentakan dan kekerasan ayahnya ini menolak untuk terus terkungkung dalam kepanikan.
Ia memiringkan tubuh, mengambil posisi siap melompat jika sosok di balik pintu mendadak membongkar sekat kayu yang rapuh itu. Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Galih memberanikan diri membuka suara.
"Siapa di luar?!" seru Galih dengan nada suara dibuat setegas mungkin, membelah kesunyian malam yang mencekam. "Cepat jawab! Siapa kamu?!"
Hening. Pertanyaan Galih bergema pelan menabrak dinding-dinding papan kayu yang melengkung. Tidak ada sahutan, tidak ada ketukan, dan tidak ada lagi suara helaan napas berat seperti sebelumnya.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
TAP! TAP! TAP! TAP!
Mendadak, bayangan dua pasang kaki di celah bawah pintu itu berputar cepat. Terdengar derap langkah kaki tergesa-gesa yang berlari kencang membelah lorong, menjauh dari kamar Galih menuju ke arah luar halaman kosan. Suara gesekan sandal jepit dan langkah berat itu terdengar begitu panik, hingga akhirnya berangsur-angsur menghilang ditelan keheningan malam.
Galih tak membuang waktu. Ia bangkit beranjak dari kasurnya, melangkah perlahan menuju jendela kayu kecil berjeruji besi yang menatap langsung ke arah halaman samping kosan. Dengan hati-hati, ia menggeser sedikit selot jendela, mencoba mengintip ke luar melalui celah sempit.
Di bawah naungan rindangnya pohon mangga besar yang remang-remang disiram cahaya bulan, Galih sempat menangkap sesosok bayangan manusia berpostur agak tegap berlari menerobos kegelapan gang luar. Sosok itu mengenakan pakaian gelap, berjalan cepat tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Galih menghela napas panjang, menyandarkan dahi dinginnya pada jeruji jendela yang kasar. Jantungnya masih berdegup kencang bagai derap genderang.
'Bukan hantu... Itu jelas manusia,' batin Galih yakin. Namun pertanyaan besar masih menggantung di benaknya. Siapa sosok misterius itu? Apakah perbuatan Adit yang berniat menakut-nakutinya? Atau pelaku yang sama dengan orang yang mengintipnya di kamar mandi tadi?
Dengan sejuta kecemasan yang berkecamuk, Galih kembali melangkah ke kasur lantainya. Ia menggenggam erat sepotong kayu kecil bekas sekat yang ditemukannya di sudut kamar, bersiap untuk segala kemungkinan. Sambil berdoa dalam hati agar diberi keselamatan, Galih akhirnya ketiduran karena kelelahan fisik dan mental yang teramat sangat.
...***...
Sinar matahari pagi yang hangat menyeruak masuk menembus celah jendela, mengusir sisa-sisa kegelapan dan atmosfer mencekam yang menyelimuti kamar sempit itu. Galih terbangun dengan tubuh yang terasa agak pegal, namun rasa syukurnya membuncah karena ia melewati malam tanpa gangguan susulan.
Saat Galih baru saja mengusap matanya dan hendak membetulkan letak bantal kusamnya, sebuah suara ketukan ritmis mendadak terdengar dari arah pintu depan.
Tok... Tok... Tok...
Galih seketika tersentak kaget. Trauma kejadian semalam membuat tubuhnya refleks bersiap. Ia menyambar kayu kecil di dekatnya, melangkah pelan mendekati pintu, lalu menempelkan telinganya pada papan kayu yang berdebu.
"Galih...? Kamu udah bangun belum?"
Suara lembut nan halus yang sangat familiar terdengar dari luar. Galih mengembuskan napas lega yang luar biasa. Ia mengenali suara itu. Cepat-cepat ia menyimpan pangkatan kayunya di balik pintu, lalu menggeser slot dan memutar gagang kunci.
Saat daun pintu terdorong terbuka, sosok Indri sudah berdiri anggun di ambang pintu.
Pemandangan pagi ini benar-benar berbeda dari sosok wanita yang menangis histeris dan hampir kehilangan nyawanya semalam. Indri mengenakan daster kain berwarna biru muda yang sederhana namun rapi. Rambut hitam panjangnya diikat ke belakang, memperlihatkan wajah cantiknya yang tampak jauh lebih segar meski sisa-sisa kelelahan dan memar tipis di lehernya masih terekspos samar.
Di kedua tangannya, Indri membawa sebuah nampan kayu kecil. Di atasnya terdapat sepiring pisang goreng hangat yang masih mengepulkan uap gurih, serta satu teko alumunium berisi teh manis hangat lengkap dengan dua buah gelas kaca.
Melihat kehadiran Indri, Galih tersenyum canggung seraya menggaruk tengkuk kepalanya. "Eh, Mbak Indri... Pagi, Mbak. Ada apa ya?"
Indri mengukir senyuman manis, senyuman tulus yang terpancar langsung dari matanya tanpa ada lagi guratan keputusasaan. "Pagi, Galih. Boleh aku masuk sebentar? Aku bawa sarapan buat kita."
"Oh, boleh, Mbak... Boleh, silakan masuk," sahut Galih seraya melangkah mundur membiarkan Indri melangkah ke dalam ruangan dua kali tiga meter tersebut. Seperti biasa, Galih tetap membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar untuk menghindari fitnah.
Indri meletakkan nampan kayu itu di atas lantai papan bersih dekat kasur Galih. Ia lalu duduk bersila dengan anggun di atas kain sarung, menata gelas dan meletakkan teko teh hangat tersebut.
"Ini aku tadi bangun subuh-subuh buat menggoreng pisang sama buat teh hangat di dapur," tutur Indri dengan nada suara renyah dan penuh kehangatan. Ia menyodorkan sepiring pisang goreng yang tepungnya renyah ke hadapan Galih. "Dimakan ya, Galih. Anggap aja ini ucapan terima kasih kecil dari aku... Karena kamu udah menyelamatkan nyawaku semalam."
Galih menatap piring pisang goreng hangat itu dengan mata berbinar. Perutnya yang belum terisi sejak kemarin malam seketika merespons dengan bunyi keroncongan pelan, membuat wajah Galih merona merah karena malu.
Indri terkekeh pelan melihat kepolosan pemuda di depannya. "Udah, nggak usah malu-malu. Ayo dimakan! Masih hangat lho."
Galih akhirnya mengambil satu buah pisang goreng dan menggigitnya. Rasa manis pisang dipadu dengan gurih renyahnya tepung seketika memanjakan lidahnya. Ia lalu meneguk teh manis hangat buatan Indri yang begitu pas rasanya.
"Enak banget, Mbak Indri. Makasih banyak ya," ucap Galih tulus dari lubuk hatinya. "Mbak nggak perlu repot-repot begini sebenarnya. Yang penting Mbak Indri udah sehat dan lebih tenang aja aku udah seneng banget."
Indri memandangi Galih dengan tatapan yang dipenuhi rasa haru dan kagum. "Nggak repot sama sekali, Galih. Kalau nggak ada kamu semalam... Aku mungkin udah nggak bernapas lagi sekarang. Kata-kata kamu semalam benar-benar membuka mataku. Aku sadar, aku nggak boleh bodoh dan menyerah begitu aja."
Indri menghela napas panjang, menyapu sisa uap teh hangat di wajahnya. "Aku udah mantap, Galih. Aku bakal jalani kehamilan ini dengan tegar. Aku bakal cari pekerjaan yang halal apa saja buat menopang hidupku dan anak dalam kandunganku nanti. Aku mau berubah."
Mendengar penuturan tegas dan mantap dari Indri, rasa lega yang amat sangat membuncah di dalam dada Galih. Ia merasa usahanya menahan pukulan dan merangkul wanita ini semalam sama sekali tidak sia-sia. Sebuah nyawa telah terselamatkan, dan sebuah jiwa yang hancur kini menemukan harapan barunya untuk bangkit kembali di tanah perantauan.