NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: BANGAU YANG MENGHADAP KE BARAT

Ruyin terbangun dengan bunyi lonceng angin di telinganya, padahal tidak ada lonceng di halaman barat. Ia berbaring beberapa saat, memandangi kelambu yang bergoyang pelan, sampai bunyi itu menipis dan menjadi suara burung gereja di atap.

Jamuan kemarin masih tinggal di kepalanya dalam potongan-potongan kecil: lonceng perunggu di sudut atap, belasan bangau yang menghadap ke arah yang sama, lingkaran teratai pada badan pot porselen. Dan kalimat Lu Wanqing yang diucapkan tanpa beban. "Kau pernah datang ke sini bersama ibumu."

Ia mengingatkan dirinya bahwa itu bisa saja hal sepele. Ia baru tujuh atau delapan tahun saat itu, dan anak sekecil itu lupa kunjungan ke rumah orang seperti ia lupa hujan bulan lalu. Ibunya mungkin hanya tidak merasa perlu menyebutnya. Seorang perempuan yang sibuk menyusun daftar nama untuk jamuan tidak akan mengingat setiap sore yang pernah dihabiskan putrinya di taman orang.

Itu penjelasan yang wajar. Ruyin memutuskan untuk memegangnya dulu, sambil menunggu apakah ia bisa dipertahankan.

———

Pelayan datang membawa air cuci muka dan jubah rumah berwarna kelabu. Ruyin membiarkan dirinya dilayani tanpa berkata apa-apa. Rambutnya disisir pelan, dan di cermin tembaga ia melihat dirinya sendiri: wajah tenang, mata yang sedikit bengkak karena kurang tidur, seorang gadis sembilan belas tahun yang tampak seperti pulang dengan baik-baik saja.

Sarapan hari ini kembali di aula samping. Tuan Shen sudah berangkat ke istana sebelum fajar, dan Yucheng, kata pelayan, sedang di ruang baca bersama pengurus rumah. Hanya Nyonya Lin yang duduk di meja bundar, sedang memilih daun teh dari tiga kaleng kecil di hadapannya.

"Kemarilah. Cium yang ini."

Ruyin duduk dan mencondongkan tubuh. Daun kering itu berbau seperti kayu basah dan sedikit madu.

"Yang ini enak, Ibu."

"Kiriman dari Selatan, dari kenalan ayahmu di Jingzhou. Kupikir kau mungkin rindu." Nyonya Lin menuang air panas ke cawan dan menunggu uapnya reda. "Kau tidak pernah bisa minum teh yang masih panas."

"Ibu masih ingat."

"Seorang ibu ingat hal-hal kecil."

Ruyin menerima cawan itu, meniupnya perlahan, lalu bertanya dengan nada yang sama seperti ketika ia memuji daun teh tadi.

"Ibu, kemarin Nyonya Wanqing bilang aku pernah ke Kediaman Lu waktu kecil. Duduk di dekat lonceng angin sepanjang sore. Kita pernah ke sana?"

"Pernah." Jawaban itu datang sebelum Ruyin selesai menutup kalimatnya. Nyonya Lin meletakkan sendok kayu di tepi kaleng. "Sekali, atau dua kali. Waktu itu Nyonya Lu baru melahirkan cucunya, kami datang memberi selamat. Kau masih sangat kecil. Wajar kalau tidak ingat."

"Sangat kecil. Seberapa kecil?"

"Entahlah. Enam, tujuh tahun." Nyonya Lin tersenyum dan mengambil kaleng kedua. "Sudah lama sekali, Ruyin. Kenapa kau tanyakan?"

"Hanya penasaran. Rasanya aneh kalau orang lain mengingat sesuatu tentangku yang tidak kuingat."

"Itu biasa. Anak-anak mudah lupa."

Ruyin mengangguk dan menyesap tehnya. Ia memperhatikan bahwa ibunya menyebut dua angka, enam dan tujuh, tetapi Wanqing mengatakan bahwa ia sendiri baru dua tahun menikah ke keluarga itu ketika Ruyin berangkat ke Selatan. Wanqing bicara tentang musim semi, tentang Ruyin yang sudah cukup besar untuk menggambar bangau dengan ranting. Ibunya menaruh kunjungan itu di masa yang jauh, di tahun-tahun sebelum Wanqing menjadi bagian dari rumah itu.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya bertanya tentang rasa teh yang ketiga, dan Nyonya Lin menjawabnya dengan lega yang terlalu jelas untuk disembunyikan.

———

Siang itu Ruyin duduk di serambi halaman barat dengan sebuah kitab sajak, sungguh-sungguh membacanya. Angin musim gugur membawa daun ginkgo dari halaman tengah, dan seorang pelayan kecil menyapu mereka dengan sapu lidi, berhenti setiap kali melihat Ruyin membalik halaman, takut mengganggu. Ruyin tersenyum padanya dan mengambil sehelai daun yang jatuh di pangkuannya. Daun itu kuning terang dan masih lembap.

Yucheng muncul sebentar di ujung serambi, membawa sepiring kue kacang. Ia tidak duduk.

"Ayah pulang malam ini, jadi Ibu menyuruhku memastikan kau makan siang. Kau makan siang?"

"Sudah."

"Bohong. Aku lihat piringmu di dapur tadi."

"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?"

"Supaya kau merasa diawasi." Ia meletakkan piring di sebelahnya dan mengacak rambut Ruyin sekali, lalu cepat-cepat merapikannya lagi, sedikit canggung. "Makan. Jamuan kemarin pasti menguras tenagamu."

"Kakak yang lebih lelah. Kakak tidur sepanjang jalan pulang."

"Aku tidur dengan penuh tanggung jawab." Ia tersenyum, menepuk bahunya, lalu pergi ke arah ruang baca dengan langkah yang kembali ringan.

Ruyin memandang punggungnya sampai hilang di tikungan, lalu mengambil sepotong kue kacang. Rasanya manis dan sedikit hangus di pinggir, persis seperti yang ia sukai.

———

Menjelang sore, Bibi Qin datang membawa lipatan pakaian dari tukang jahit. Ruyin menyuruhnya duduk, hal yang jarang dilakukan, dan pelayan tua itu duduk di ujung bangku dengan punggung tegak seperti seseorang yang tidak percaya diri berada terlalu nyaman.

"Bibi, kemarin ada yang bilang waktu kecil aku suka menggambar bangau. Belasan, katanya, dalam satu sore."

Tangan Bibi Qin yang sedang merapikan lipatan kain berhenti sebentar, lalu bergerak lagi. "Nona memang suka bangau."

"Benar?"

"Dulu di mana-mana ada bangau. Di kertas, di dinding, di punggung buku. Nyonya pernah menyuruh orang mengecat ulang pagar halaman timur karena Nona menggambar bangau dengan arang di sana." Bibi Qin tersenyum tipis. Itu senyum pertama yang Ruyin lihat darinya yang tidak terasa dipersiapkan. "Tapi bukan bangau saja, Nona."

"Apa lagi?"

"Di dekat setiap bangau, Nona selalu menambahkan satu garis kecil. Seperti jalan. Atau mungkin sungai. Selalu dari sisi kiri kertas menuju kanan, dan bangaunya selalu menghadap ke barat." Bibi Qin melipat kain terakhir. "Kalau ditanya, Nona hanya bilang bangau itu sedang menunggu seseorang."

Ruyin menahan napas sebentar. Dalam ingatannya, bangau-bangaunya tidak pernah menghadap ke mana pun. Ia sama sekali tidak ingat ada garis, jalan, atau sungai.

"Aku tidak ingat itu."

"Anak kecil banyak melakukan hal yang tidak diingatnya kelak." Bibi Qin berdiri dan merapikan roknya. "Maaf, Nona. Saya bicara terlalu banyak."

"Tidak. Aku senang kau bercerita."

Pelayan itu membungkuk dan keluar, dan Ruyin duduk lama dengan kitab sajak terbuka di pangkuan, tidak lagi membaca.

———

Malam itu, setelah lampu di halaman barat dipadamkan, Ruyin masih memikirkan bangau yang menghadap ke barat dan garis kecil di sampingnya. Ia mencoba menertawakan dirinya sendiri. Seorang gadis sembilan belas tahun, duduk tengah malam di kamarnya, memikirkan gambar yang mungkin tidak pernah ada.

Tetapi ia tetap bangkit dan menyalakan satu lilin.

Ia tidak mencari sesuatu yang besar. Ia hanya membuka kembali barang-barang yang sudah ada di kamar itu sejak hari pertama: kitab pelajaran anak di rak, buku sajak yang halamannya sudah menguning, tumpukan kertas latihan yang dulu hanya ia lewati sekilas. Ia membuka tiap kitab dan mengibaskan halamannya pelan-pelan, seperti mencari daun kering yang terselip.

Hampir semuanya kosong. Latihan huruf, salinan sajak, coretan hitungan. Di antara halaman kitab hitungan sutra, ia menemukan sehelai kertas tipis yang terlipat dua, dan ia hampir melewatkannya begitu saja.

Gambar itu sederhana. Goresannya goyah, buatan tangan anak kecil yang belum yakin pada kuasnya. Seekor bangau berdiri dengan satu kaki, lehernya terlalu panjang, sayapnya sedikit retak di ujung. Di sampingnya ada satu garis tipis yang ditarik dari tepi kiri kertas hingga ke dekat bangau itu, lalu terus ke kanan, melewatinya.

Bangau itu menghadap ke ujung garis.

Ruyin mengangkat lilin lebih dekat. Barat tidak bisa ia pastikan dari selembar kertas. Namun kiri ke kanan, itu ada, persis seperti yang dikatakan Bibi Qin sore tadi. Ia membalik kertas itu dan memeriksa sisi belakangnya. Kosong, tanpa tanggal dan tanpa nama. Ia melipat sudut-sudut lain dalam tumpukan kertas latihan, membukanya satu per satu. Ada bangau lain di salah satunya, kecil di sudut halaman, tanpa garis, menghadap ke arah yang berlawanan. Sisanya hanya huruf.

Satu gambar saja yang cocok. Itu tidak membuktikan apa-apa.

Namun ujung jari yang tadi menyentuh garis itu terasa hangat, entah karena lilin atau bukan. Ada rasa aneh yang sekaligus akrab, seperti melihat tulisan tangannya sendiri di tempat yang tidak ia ingat pernah ia tulis.

Ia meletakkan kertas itu di meja dan memadamkan lilin. 'Bibi Qin mungkin benar,' pikirnya. Hanya itu. Tidak lebih.

Dalam gelap, ia menghitung ulang apa yang ia punya. Bibi Qin mengingat garis dan arah yang tidak ia ingat. Lu Wanqing mengingat seekor bangau di tanah, di bawah lonceng angin. Paman Gu mengingat kelinci. Yucheng mengenal simpulnya. Nyonya Lin menyebut enam tahun, tujuh tahun, dan memilih kata dengan hati-hati. Masing-masing memegang sepotong masa kecilnya, dan tidak ada dua potongan yang benar-benar pas.

Entah karena waktu telah mengikisnya, entah karena ada hal lain, Ruyin belum bisa tahu. Ia hanya tahu bahwa ia tidak lagi bisa menganggap ingatannya sendiri sebagai satu-satunya yang berlubang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!