Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Darah Pertama di Kuil Tua
Hujan gerimis membilas atap genteng Kuil Tujuh Bintang yang runtuh separuh di pinggiran barat Kota Yunjiang. Tetesan air jatuh menyusup lewat celah kayu lapuk, menimpa nyala perapian kecil yang berdesis pelan di tengah ruangan.
Di sekeliling api, empat pria berpakaian serba hitam duduk melingkar. Topeng besi berukir gambar tengkorak tergeletak di atas meja kayu di samping cawan-cawan tuak yang telah kosong.
Di tengah meja itu, tiga pundi-pundi kulit berisikan puluhan batu Qi tingkat menengah berkilat di bawah remang cahaya lilin.
"Keluarga Jian benar-benar royal," kata salah seorang pria berkumis tipis seraya melemparkan sebongkah batu Qi ke udara lalu menangkapnya kembali. "Hanya untuk pekerjaan satu malam, kita masing-masing mendapat bagian yang cukup untuk hidup mewah di Kota Hitam selama dua tahun."
Pria di seberangnya terkekeh tipis, menyapu sisa tuak di dagunya dengan punggung tangan. "Yang paling memuaskan adalah melihat wajah si jenius Ma Huang itu saat dadanya ditikam putri Jian. Dia pikir dia menjadi pria paling beruntung di dunia, ternyata malah menyerahkan leher keluarganya ke papan pembantaian."
Tawa renyah pecah di antara mereka. Senjata-senjata tajam—pedang tipis beracun dan tombak pendek—bersandar kaku pada pilar kayu di belakang tempat duduk mereka.
Mereka tidak menyadari bahaya yang mengintai di balik pilar.
Sebuah bayangan jangkung berdiri tanpa suara di balik kegelapan sudut kuil. Ma Huang mengepalkan tangan kanannya di balik jubah hitam kusam. Kuku-kukunya menekan dalam-dalam ke telapak tangannya sendiri, menahan gejolak amarah yang mendidih di dalam dadanya.
Suara tawa para pembunuh itu bagaikan jarum-jarum panas yang menusuk gendang telinganya.
Ma Huang menggeser telapak kakinya perlahan di atas lantai tanah yang basah. Tidak ada suara gesekan pakaian, tidak ada desah napas yang terlepas. Tubuhnya yang telah dibentuk ulang oleh racun menyerap kelembapan udara malam, menyatu sempurna dengan bau busuk kayu lapuk di sekitarnya.
Ia menggenggam gagang Pedang Tulang Hitam. Bilah tulang yang dingin itu bergetar halus, merespons aliran Qi beracun yang mulai memancar tipis dari meridian lengan kanannya.
"Siapa di sana?!"
Pria berkumis tipis mendadak menoleh kaku ke arah sudut ruangan. Naluri membunuhnya sebagai anggota Kelompok An Ying menangkap perubahan tekanan udara yang teramat tipis.
Sebelum pria itu sempat meraih topeng besinya di atas meja, bayangan hitam meluncur deras bagai kilat di tengah kegelapan.
Sret!
Bilah Pedang Tulang Hitam menebas lurus. Udara berderit kencang saat garis cahaya hitam memotong leher pria berkumis tipis itu sebelum ia sempat berdiri.
Darah segar menyembur deras, menghantam dinding kuil yang kusam. Namun, sebelum cairan merah itu menyentuh tanah, racun hitam yang melapisi bilah pedang Ma Huang langsung menjalar, mengubah darah segar tersebut menjadi gumpalan kental berwarna kehitaman yang berbau busuk.
Pria itu roboh kaku tanpa sempat mengerang sekecil pun.
"Musuh!" teriak pembunuh kedua histeris.
Dua pembunuh tersisa menyambar senjata mereka dari pilar kayu. Pria bertubuh kekar mencabut tombak pendeknya, sementara pria jangkung di sampingnya meloloskan pedang tipis beracun dari sarungnya.
Napas pria bertubuh kekar memburu kaku saat matanya menangkap sosok yang berdiri di atas jasad rekannya.
Pemuda di hadapan mereka mengenakan jubah hitam lusuh dengan wajah setengah tertutup kain kusam. Namun, sepasang mata di balik kain itu memancarkan kilatan merah darah yang teramat dingin, tanpa ada sedikit pun kehangatan manusia di dalamnya.
"Kau... kau masih hidup?!" pekik pria jangkung itu dengan nada suara gemetar kaku.
Meskipun wajah Ma Huang tertutup sebagian, pola bekas luka hitam di sekitar leher dan aura membunuh yang sangat familier itu tidak bisa membohongi mereka. Itu adalah pemuda yang seharusnya telah membusuk di bawah reruntuhan Kediaman Ma tiga hari lalu.
Ma Huang tidak membuang waktu untuk menjawab.
Ia memajukan kaki kirinya setengah langkah, merendahkan posisi tubuhnya, lalu menerjang maju. Langkah kakinya menyapu tanah basah tanpa bersuara, menciptakan angin dingin yang memadamkan nyala api perapian dalam sekejap.
Kuil tua itu mendadak tenggelam dalam kegelapan pekat.
Kring!
Denting benturan logam melengking nyaring membelah malam. Pria bertubuh kekar mencoba menahan tebasan Ma Huang menggunakan gagang tombak besinya.
Namun, Pedang Tulang Hitam bukan senjata biasa. Qi hitam beracun yang mengalir di sepanjang bilahnya melelehkan lapisan besi tombak itu seperti lilin panas.
Crrrak!
Gagang tombak terbelah dua. Bilah pedang Ma Huang meluncur mulus memotong dada pria bertubuh kekar itu dari bahu kanan hingga pinggang kiri.
Pria itu menjerit histeris saat racun pekat merayap cepat dari luka robeknya, membakar saluran napas dan melumpuhkan saraf ototnya dalam hitungan detik. Tubuh besarnya ambruk menghantam lantai batu dengan kondisi mengenaskan.
Satu pembunuh tersisa, pria jangkung yang memegang pedang tipis, mundur panik hingga punggungnya menabrak pilar utama kuil.
Bahunya menegang kaku, tangannya gemetar hebat saat mencoba mengarahkan ujung pedangnya ke dada Ma Huang.
"Jangan mendekat! Jika kau membunuhku, Kapten An Sha tidak akan pernah membiarkanmu hidup!" jerit pria itu dengan napas tersengal-sengal.
Ma Huang melangkah maju perlahan. Setiap injakan kakinya di atas tanah basah meninggalkan jejak cairan hitam yang melubangi batu marmer tua.
"Di mana lokasi markas utama An Ying di wilayah ini?" suara Ma Huang terdengar sangat dalam dan serak, menyerupai gesekan batu kasar yang meremukkan tulang.
Pria jangkung itu meludah ke samping, mencoba mempertahankan harga dirinya. "Aku lebih baik mati daripada membocorkan rahasia organisasi kepada bangkai hidup sepertimu!"
Jemarinya meremas jimat kertas hitam di balik lengan bajunya, bersiap melemparkan jimat ledakan beracun ke wajah Ma Huang dari jarak dekat.
Namun, sebelum jemarinya sempat menekan jimat tersebut, Ma Huang bergerak lebih cepat.
Sret!
Pedang Tulang Hitam menyambar lurus, memotong lengan kanan pria itu tepat di bagian siku. Lengan baju beserta potongan tangan yang menggenggam jimat jatuh tersungkur ke tanah sebelum sempat diaktifkan.
"Arghhh!" pria jangkung itu meliuk kesakitan, memegangi pangkal armadanya yang kini mengucurkan darah hitam kental.
Ma Huang maju satu langkah, mengangkat kaki kanannya, lalu menginjak dada pria itu hingga menghantam lantai batu. Suara retakan tulang rusuk bergema nyaring di dalam ruangan yang sunyi.
Tekanan kaki Ma Huang begitu berat, terkunci rapat di atas dada lawan tanpa memberikan ruang untuk bernapas.
"Aku tidak suka mengulang pertanyaan," kata Ma Huang dingin. Ujung Pedang Tulang Hitam bergeser pelan, menekan kulit leher pria jangkung itu hingga setetes darah beracun menyerap masuk.
Sensasi terbakar dari racun itu membuat pria jangkung itu menjerit ketakutan. Rasa sakit akibat membusuknya jaringan kulit secara perlahan jauh lebih mengerikan daripada tebasan pedang langsung.
"Di... Lembah Angin Hitam!" jerit pria itu dengan mata melotot lebar. "Markas cabang ada di kedalaman Lembah Angin Hitam! Tetua Ketiga Keluarga Jian... Jian Gang... ada di sana malam ini untuk menyerahkan sisa pembayaran!"
Rahang Ma Huang mengatup rapat. Garis otot di lehernya menegang mendengar nama Jian Gang.
Jian Gang adalah tetua garis keras Keluarga Jian yang memimpin pasukan cadangan saat pembantaian malam pernikahan itu terjadi. Dialah orang yang memerintahkan pembakaran perpustakaan rahasia dan gudang pusaka Keluarga Ma.
"Terima kasih atas informasinya," bisik Ma Huang tanpa ekspresi.
Jleb!
Ma Huang menancapkan Pedang Tulang Hitam tepat di antara kedua mata pria itu, menghentikan napas dan derita racunnya dalam seketika.
Suasana kuil kembali hening. Hanya suara tebasan hujan gerimis di luar yang terdengar mengisi ruangan.
Ma Huang mencabut pedangnya, menyapu sisa-sisa darah kental di bilahnya menggunakan kain jubah salah satu mayat. Ia mengambil tiga pundi-pundi batu Qi dari atas meja, menyimpannya di dalam lipatan jubahnya untuk bahan pemulihan energi selama perjalanan.
Sebelum melangkah keluar dari kuil tua itu, Ma Huang mencelupkan ibu jarinya ke dalam genangan darah hitam pekat milik para pembunuh.
Ia berjalan menuju pilar utama kuil yang masih berdiri tegap, lalu mengukir sebuah karakter Kuno menggunakan darah beracun itu.
Sebuah karakter tunggal yang bermakna Bencana.
Cairan darah beracun itu meresap dalam-dalam ke dalam serat kayu pilar, memancarkan bau amis dan hitam yang tidak akan hilang disapu air hujan selama berhari-hari.
Ma Huang berbalik dan melangkah keluar menembus kegelapan malam. Jubah hitamnya melambai kaku diterpa angin dingin yang berembus kencang dari arah lembah.
Lembah Angin Hitam berada sepuluh mil di utara. Tempat di mana Tetua Jian Gang sedang merayakan kemenangan semunya.
Langkah kaki Ma Huang menembus lumpur basah tanpa meninggalkan jejak yang jelas, membawanya semakin dalam ke dalam kegelapan malam Kota Yunjiang yang kian mencekam.