NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Suasana halaman mendadak hening mendengar permintaan berani tersebut.
Budi, Rina, dan Dimas yang berada di sekitar sana langsung mendekat untuk melihat apa yang terjadi.
"Meminta sertifikat tanahku?"
"Otakmu sudah geser atau kau sedang bermimpi di siang bolong?" Rahman tertawa meremehkan.
"Paman, paman itu sudah tua dan penyakitan."
"Paman tidak punya istri dan anak, sebentar lagi paman juga pasti akan mati."
"Daripada aset ini jatuh ke tangan negara, lebih baik serahkan padaku sebagai satu-satunya ahli waris yang sah," jelas Hendra tanpa rasa malu.
Maya yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Anda benar-benar tidak punya hati nurani ya!" teriak Maya tidak tahan.
Hendra langsung menoleh dan menunjuk wajah Maya.
"Diam kau anak kos murahan, ini urusan keluarga!"
"Hentikan tanganmu menunjuk penyewaku!"
Rahman melangkah maju dan menepis tangan Hendra dengan keras.
Plak!
Ting!
[Sistem mendeteksi ancaman perampasan aset dari pihak luar.]
[Misi Utama: Usir Hendra dan lindungi hak milik tanah kontrakan.]
[Syarat Khusus: Jangan menyerahkan dokumen apa pun dan buat Hendra mundur karena ketakutan.]
[Hadiah: Tambahan umur 10 hari dan Peningkatan Sistem Keamanan Kos.]
[Kegagalan: Pengurangan umur 10 hari dan aset tanah berpindah tangan secara magis.]
Rahman menelan ludah membaca ancaman kegagalan dari sistem.
Berpindah tangan secara magis?
Itu artinya sistem akan benar-benar merampas usahanya jika ia kalah gertak dari keponakannya sendiri.
"Dengar baik-baik anak dari pencuri!"
"Tanah ini aku beli dari hasil keringatku sendiri setelah ayahmu menipu dan memeras semua hartaku di masa lalu!"
Rahman membalas tatapan Hendra dengan kemarahan yang sudah terpendam selama puluhan tahun.
"Ayahku bukan pencuri!"
"Dia cuma meminjam uang paman untuk bisnis, wajar kalau ada rugi!" bantah Hendra ngotot.
"Meminjam katamu?"
"Dia menggadaikan rumah kakekmu tanpa izin dan membiarkan aku hidup menggelandang di jalanan."
"Sekarang kau datang dengan wajah tembok menagih hak waris?"
"Satu senti pun tanah ini tidak akan pernah jatuh ke tangan keturunan pengkhianat sepertimu!" suara Rahman menggelegar ke seluruh penjuru halaman.
Hendra yang merasa dipermalukan di depan banyak orang mulai kehilangan kesabarannya.
"Paman jangan sombong!"
"Kalau paman tidak mau menyerahkannya baik-baik, saya akan sewa pengacara handal."
"Saya akan gugat paman ke pengadilan dengan alasan paman sudah pikun dan tidak mampu mengurus aset!" ancam Hendra licik.
Mendengar ancaman hukum itu, beberapa penyewa mulai merasa cemas.
Namun Budi tiba-tiba melangkah maju dan berdiri tepat di samping Rahman.
"Mau bawa ke pengadilan?"
"Silakan saja, saya bersedia jadi saksi kalau Pak Rahman ini masih sangat sehat dan waras otaknya!" ucap Budi lantang.
Rina juga ikut mendekat sambil menggandeng Dimas kecil.
"Benar, Pak Rahman tidak pikun sama sekali."
"Bapak kos kami ini sangat pintar dan bijaksana mengurus kontrakan," tambah Rina membela.
"Kami semua akan patungan bayar pengacara untuk melawan Anda kalau perlu!" seru Maya ikut bergabung di barisan pertahanan.
Hendra melongo melihat kekompakan para anak kos itu.
"Kalian ini orang-orang miskin mau sok jadi pahlawan ya?"
"Paman pasti sudah mencuci otak kalian semua!" tuduh Hendra kesal.
Rahman tertegun melihat penyewanya berjejer di depannya seperti perisai hidup.
Ia yang selalu merasa sendirian kini dibela mati-matian oleh orang-orang yang selama ini ia tagih uang sewanya.
Hatinya terasa sangat hangat, sebuah perasaan yang jauh lebih berharga dari uang jutaan di brankasnya.
"Kau lihat sendiri kan, Hendra?"
"Keluargaku yang sebenarnya ada di sini, di tanah ini."
"Mereka bukan darah dagingku, tapi mereka jauh lebih peduli daripadamu yang hanya datang saat mencium bau uang," ucap Rahman dengan senyum penuh kemenangan.
Rahman menggunakan Aura Tuan Tanahnya secara maksimal.
Ia memajukan tubuhnya dan menatap Hendra dengan pandangan membunuh.
"Sekarang bawa mobil kreditanmu ini keluar dari halamanku."
"Atau aku akan suruh Budi dan teman-teman pabriknya untuk menghancurkan mobilmu ini menjadi rongsokan!" ancam Rahman dingin.
Budi langsung menyilangkan lengannya dan meretakkan buku-buku jarinya.
Kretekk.
"Tinggal sebut nama saja Pak, sepuluh menit lagi teman-teman pabrik saya kumpul di sini," Budi ikut menakut-nakuti.
Nyali Hendra langsung menciut melihat ancaman fisik itu.
Ia memang hanya berani menggertak orang tua, tapi berhadapan dengan sekumpulan pekerja kasar jelas bukan tandingannya.
"Cih, dasar kalian semua orang gila!"
"Urusan kita belum selesai, Paman!"
"Akan saya pastikan paman menyesal nanti!" teriak Hendra sambil berjalan mundur ke arah mobilnya.
Brak!
Hendra menutup pintu mobilnya dengan kasar dan langsung menyalakan mesin.
Brummm!
Mobil sedan itu melaju kencang keluar dari gerbang, meninggalkan kepulan asap dan debu di udara.
Begitu mobil itu hilang dari pandangan, suasana kembali hening sejenak.
Hanya terdengar suara napas Rahman yang sedikit terengah-engah menahan emosi.
Ting!
[Misi Utama Selesai.]
[Pengguna berhasil mempertahankan aset dan mengusir ancaman keluarga parasit.]
[Sistem mencatat kekompakan luar biasa antara pengguna dan para penyewa.]
[Hadiah: Tambahan umur 10 hari telah didistribusikan.]
[Hadiah: Sistem Keamanan Kos Tingkat 1 CCTV otomatis dan Alarm Anti Maling akan terpasang malam ini secara gaib.]
Rahman menghela napas lega membaca notifikasi keberhasilan itu.
Asetnya aman, dan umurnya kini bertambah cukup banyak.
Ia menoleh ke arah Budi, Maya, dan Rina yang masih berdiri di sekitarnya.
Pria tua itu berdeham pelan untuk menutupi rasa canggungnya.
"Ekhem, siapa yang menyuruh kalian ikut campur urusan keluargaku tadi?"
"Aku bisa mengusirnya sendiri tanpa bantuan kalian," ucap Rahman kembali pada mode tsunderenya.
Maya langsung tertawa pelan mendengarnya.
"Iya deh Bos Rahman yang paling hebat dan kuat."
"Kami tadi cuma kebetulan lagi pengen marah-marah saja kok."
"Terima kasih ya kalian semua."
Suara Rahman tiba-tiba melembut, sangat pelan hingga hampir terdengar seperti bisikan.
Budi dan Rina saling pandang sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama, Pak."
"Kita kan keluarga di kosan ini," jawab Budi tulus.
"Sudah, sudah, jangan drama bersedih di halamanku."
"Maya, cepat ambil sapumu lagi, masih ada daun mangga yang jatuh itu."
"Kalau kerjamu santai-santai, pembebasan biaya sewamu kubatalkan!" ancam Rahman mengalihkan perhatian.
"Siap laksanakan, Bos!" Maya langsung berlari mengambil sapunya dengan riang.
Rahman kembali berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang jauh lebih ringan.
Beban masa lalu yang selama ini menghantuinya perlahan mulai memudar.
Ia sadar bahwa Tuhan telah mengirimkan sistem gila ini bukan untuk menyiksanya, melainkan untuk mengembalikan hatinya yang telah lama mati.
Malam harinya, tanpa sepengetahuan siapa pun, dua buah kamera CCTV kecil terpasang dengan sendirinya di sudut atap kontrakan.
Sistem perlahan mulai meningkatkan kualitas fasilitas properti Rahman sesuai dengan hadiah yang dijanjikan.
Dan Rahman Affandi, sang tuan tanah kikir, kini bisa tidur lebih nyenyak dari sebelumnya.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...