WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIMPI BURUK.
Di Mension mewah milik seorang lelaki paru baya
Tokkk tokkk
"Masuk" ucap pria itu
"Maaf tuan ada yang ingin saya katakan" ujar asisten pria itu
"Ada apa" jawabnya
"Dugaan sementara yang kita peroleh bahwa seluruh anak buah kita yang diberitakan mati karena kecelakaan, itu tidak benar tuan, hasil dari penyelidikan yang kita dapat selama ini bahwa mereka semua mati karena terbunuh dengan orang yang sama" ujar Asisten itu
"Kenapa kalian bisa menyimpulkan seperti itu" tanyanya
"Dari jam kecelakaan itu terjadi dan juga jam ditemukannya mayat mereka semua terlihat sama persis, serta adanya bekas sayatan dan cambukan di tubuh mereka, dan ada beberapa anak buah kita yang tidak ada kabar sampai saat ini" jawan Asisten itu
"Cari tahu siapa pelakunya, dia sudah berani mengusik orang yang salah" ujar pria itu dingin
Di Mension Alluna…..
Alluna sudah tertidur sejak tadi karena kelelahan
Entah kenapa tiba-tiba tidur Alluna tidak tenang, badannya dipenuhi keringat, mulutnya terus meracau memanggil ayah dan bundanya
Ayahhh
Bundaaa
Tidakkk aku mohon
Jangan tembak
Aku mohon
"AYAHHH BUNDAAAA" teriak Alluna yang terbangun dari tidurnya, nafasnya memburu, keringatnya berjatuhan
"Mimpi itu lagi" ucap Alluna lirih
Alluna memutuskan untuk keluar kamar dan menuju kolam renang, dia ingin menjernihkan pikirannya
Alluna duduk di pinggir kolam, membiarkan kedua kakinya terkena air kolam yang dingin, dia juga menyalakan rokoknya, pikirannya sangat kacau, mimpi pembantaian itu muncul lagi
Alexander yang baru saja pulang dari kantor karena ada sedikit masalah membuatnya harus menyelesaikan dahulu, padahal jam sudah menunjukkan jam 3 pagi. Ia melihat Alluna sendirian dan mendekatinya
Alexander ikut duduk di samping Alluna setelah ia membuka sepatunya
"Papa sudah bilang berhentilah merokok itu tidak baik untuk kesehatanmu" ujar Alexander, mengambil rokok dari tangan Alluna dan melemparnya ke dalam kolam
Alluna menatap papanya tajam, papanya hanya merusak suasana hatinya saat ini
"Berhenti menatap Papa seperti itu, Papa bukan orang lain yang akan takut dengan tatapanmu" ujar Alexander membuat Alluna membuang mukanya, malas melihat kelakuan papanya
"Kenapa Papa baru pulang, apa ada masalah?" tanya Luna
"Hmm ada salah satu karyawan yang berhasil membawa lari uang kantor" jawab Alexander
"Sepertinya dia telah lelah dengan hidupnya, bawakan dia untukku, Pa" ujar Luna tersenyum miring, dia benci seorang pengkhianat, apalagi dia mencuri miliknya
"Tunggu kabar Papa" jawab Alexander, dibalas anggukan Alluna
"Kenapa belum tidur? Mimpi buruk lagi, hm?" tanya Alexander
"Hmm entah kenapa mimpi itu mulai muncul lagi" ujar Alluna menatap lurus ke depan
"Besok Papa akan mengantarmu ke doktermu lagi dan menanyakan hal itu, soal sekolahmu biar Papa yang urus" ucap papanya tegas
"Pah, aku tidak mau, aku capek" ujar Alluna datar
"Jangan membantah Papa, Luna" ucap dingin Alexander
Alluna tahu kalau hal yang menyangkut kesehatan mentalnya, Papa akan selalu bersikap protektif dan tidak bisa dibantah
"Hmm" jawab Luna
"Istirahatlah nak, ini sudah terlalu larut, tenangkan dirimu sebelum tidur, hm?" ucap Alexander mengelus lembut pucuk kepala Alluna
"Aku ke kamar, Pah" ucap Alluna yang hanya dibalas anggukan oleh Alexander
Alexander memandang langit malam yang dipenuhi bintang
"Kak Albert, aku berjanji akan selalu menjaga putra-putrimu sebisaku, tenanglah di sana, aku merindukanmu" ujar Alexander lirih
Pukul 06:00
Alluna yang masih tertidur pulas harus terganggu dengan cahaya matahari yang masuk lewat jendela dan menyinari wajahnya
"Emmm..." Alluna terbangun
"Maaf Nona Muda, Tuan menyuruh saya membangunkan Anda untuk bersiap bertemu Dokter Sarah" ujar Bibi
"Hm, aku akan bersiap" jawab Alluna
Setelah siap, Alluna menuju meja makan. Di sana sudah ada Papa, Mama, dan juga Rey
"Pagi, Ma, Pa" ucap Alluna
"Pagi sayang, makanlah dulu, setelah itu baru berangkat bersama Papa" ucap Mama
"Kak Luna gak sekolah?" tanya Rey
"Hm" jawab Luna
"Dasar kulkas berjalan, Pah, tau gak Kak Luna tuh banyak yang naksir tapi semuanya dicuekin" adu Rey ke papanya membuat Alluna menatap Rey tajam
"Tapi Mama suka sama teman kamu yang waktu itu ke sini, loh, Mama lupa lagi namanya..." ucap Mama antusias
"Lunaaa..." panggil Alexander, dan Luna paham kalau Papa ingin penjelasan
"Langit Sekala Bumi, salah satu anak pengusaha terkaya nomor 3 setelah ALBE COMPANY. Dia pernah mengantarku pulang waktu mobilku mogok, dan Mama mengajak makan siang" ujar Alluna, berbohong sedikit soal mobil yang mogok, padahal Langit yang ngotot ingin mengantarnya
"Pacar kamu?" tanya Alexander, rasa posesifnya mulai keluar
"Bukan" jawab Luna singkat
"Tapi dia suka Kak Luna, Pah, bahkan dia cemburu banget sama Alfin karena Kak Luna perhatiin Alfin mulu" ujar Rey tertawa, sengaja memanasi Papa karena dia tahu Papa selalu posesif ke Alluna
"Apaaa?" kaget Alexander mendengar seseorang menyukai anaknya
"Udahlah Pah, lagian Papa juga pernah muda, jangan terlalu berlebihan" ancam istrinya sambil melotot
"Iya, ayo Luna, kita berangkat" ujar Alexander
"Ma, Luna pamit" ucap Luna menyalami mamanya
"Hati-hati ya nak"
"Dan kamu bocah nakal, tunggu saja!" sambung Luna sambil memukul belakang kepala Rey lalu berlari keluar rumah
"Akhhh sialan Kak Lucknut!!!" teriak Rey
Di Rumah Sakit
Ckit...
Alexander dan Alluna tiba di rumah sakit milik Alluna dan menuju ruangan dokter pribadi Alluna
*Tentang kenapa Alluna bisa memiliki perusahaan terbesar dan menjadi pengusaha terkaya nomor satu, akan dijelaskan nanti ya guys*
"Selamat pagi Nona Muda" sapa Dokter Sarah
"Papa akan menunggumu di luar, jangan bikin Dokter Sarah mengomel lagi ya" ujar papanya, dibalas anggukan Alluna
"Berhentilah bersikap formal denganku" ujar Alluna ke Dokter Sarah yang memang sudah lama menangani Alluna sejak trauma itu muncul
"Hahaha baiklah adik manis, sekarang ceritakan apa yang kamu alami" ujar Sarah membuat Alluna menatapnya tajam karena kata "adik manis"
"Berhentilah menatapku seakan kau ingin memakanku, ceritakanlah dengan cepat" ujar Sarah yang jengah dengan sikap kaku Alluna
"Mimpi itu muncul lagi" ujar Alluna datar
"Sejak kapan? Dan kenapa kamu berhenti meminum obat yang kuberikan?" tanya Sarah
"Aku lelah meminumnya" jawab Alluna
"Dan kau lebih memilih meminum obat penenang dan obat tidur berlebihan, hm?" tebak Sarah yang ternyata tepat sasaran
"Hmm" jawab Alluna
"Berhentilah mengonsumsi itu, apalagi kau selalu memakannya dengan dosis berlebihan yang membahayakan dirimu. Cukup konsumsi obat yang kuberikan dan rajinlah datang kontrol ke sini, anak nakal" jawab Sarah kesal, sudah tahu sifat keras kepala Alluna
"Dan satu hal lagi: cobalah berdamai dengan masa lalumu. Biarkan hal-hal baru masuk ke hidupmu — pertemanan, persahabatan, bermainlah dan nikmati masa sekolahmu. Cobalah menerima itu, Alluna, agar kamu bisa keluar dari rasa sakitmu" sambung Sarah
"Kau tahu, aku juga ingin hidup normal, menerima kehidupanku sekarang, menerima keberadaan orang lain di hidupku. Tapi tubuh dan pikiranku menolak semua itu — rasa sakit, dendam, amarah, dan mimpi buruk itu menguasai diriku. Setiap kali aku tersenyum, rasa sakit mereka seakan terus mengalir di kepalaku seperti radio rusak yang tak mau berhenti..." ujar Alluna lirih
"Cobalah pelan-pelan. Jangan memaksakan dirimu. Mulailah dengan hal kecil — menyapa, mengobrol dengan orang lain. Setelah kau merasa nyaman, barulah terima kehadiran mereka di hidupmu. Lakukan perlahan dan jangan terburu-buru, paham?"
"Hm, aku tidak berjanji" jawab Alluna
Sarah hanya mengangguk, dia tahu tidak bisa memaksa Alluna — sudah terlalu sering mencoba namun hasilnya selalu sama
Sarah menuliskan resep obat dan menyuruh Alluna mengambilnya lalu boleh pulang
"Ambil obatmu, dan ingat: berhenti konsumsi obat penenang dan obat tidur berlebihan" peringat Sarah tegas
"Hmm, aku pamit" ucap Alluna
Setelah selesai, Alluna pulang ke rumah untuk mengurus beberapa berkas kerja sama antar perusahaannya. Dia memanfaatkan waktu libur dengan produktif, sementara Alexander langsung ke kantor setelah mengantar Alluna pulang.