Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Rencana Edward (2)
Bab 28
Edward mengusap wajahnya, baru saja mengakhiri pembicaraan dengan Andin. Aya sudah tiba di rumah orangtuanya semalam dan Andin serta suaminya menyusul hari ini. Yang menjadi perhatian Edward, informasi dari Andin kalau Aya dikurung oleh romo dan kondisinya sedang lemah.
Tidak boleh gegabah dan jangan sampai salah langkah. Kalau dia emosi dan datang dengan tangan kosong mengabaikan rencana sebelumnya, tidak mungkin bisa menolong Cahaya. Kembali membuka layar ponsel menghubungi seseorang.
“Halo, bang, gimana kasus Cahaya,” ucap Edward. “Kapan penjahat itu dijemput?”
Cukup lama berbicara lewat telepon dengan pengacaranya. Masih lanjut menghubungi seseorang.
“Pagi, pak Iwan. Saya fix berangkat lusa. Pastikan orang-orang ini berangkat besok.”
Edward beranjak menuju walk in closet. Membuka koper mengisi pakaian dan perlengkapannya. Sesuai rencana ia akan berangkat lusa. Meski pikirannya penuh dengan urusan Aya, bahkan tubuhnya seolah tidak semangat. Ia tetap menjalankan tugas profesinya dengan fokus dan tanggung jawab.
Hampir tengah hari ia selesai urusan di poli lalu lanjut visit pasien rawat inap. Mampir ke café untuk makan siang.
Geng pria terkutuk
Anji nggak pake ng : Vampir, di mana lo?
Rendi oye : Di poli kali
Anji nggak pake ng : Nggak ada
Rama P. : Tempat di mana ada memori sama Cahaya emot
Asoka Harsa : Cafe emot
Anji nggak pake ng : Otw ke sana
Anji nggak pake ng : foto (edward sedang menikmati makan siangnya)
Bener juga, emang dahsyat feeling si Rama, apa udah pengalaman dia. Sungkem sama suhu emot
“Woi, gue telponin juga. Ngapain ngumpet di sini.”
Edward merogoh pnselnya, mendapati beberapa panggilan dan pesan. Salah satunya dari Anji.
“Disilent, baru beres di poli.”
“Gue takut lo putus asa terus bunuh diri.”
“Ngarang,” ucap Edward masih fokus dengan ponsel membuka pesan dari Andin
Andin
Dok, Aya sedang kurang sehat, saya belum bisa bertemu kamarnya digembok
Foto
Cuma Romo yang bisa masuk
“Astaga,” pekik Edward.
“Kenapa? Jangan bilang lo terlambat, sekarang Cahaya udah jadi istri orang. Nyesal ‘kan, harusnya kemarin itu lo per4wanin dulu. Sekarang lo tinggal tanggung jawab.”
“Ngaco. Aya dikurung ayahnya, Andin aja nggak bisa ketemu."
“Hari gini, masih musim kayak begitu. Katanya dia keluarga pebisnis, masa pikirannya kolot sih.”
“Entahlah.” Edward mengedikan bahu, ia pun tidak mengenal Wira Janitra.
"Kok lo, nyantai aja sih. Nggak panik, nggak khawatir. Lo cinta sama CAhaya nggak sih?"
"Kalau aku panik, harus gimana? Disini yang dibutuhkan rencana bukan kepanikan nggak jelas. Cinta harus pakai logika bukan asal menggil4 kayak kamu ke Bela."
"Ck, gue lagi yang kena."
***
Wira berdecak mendapati nampan sarapan masih utuh, hanya susu kotak dengan sedotan menanc4p bukti kalau isinya sudah diminum. Satu bungkus snack yang dimakan separuhnya saja.
Mbok Yem membawa nampan berisi makan siang dan mengambil nampan sarapan. Aya duduk di atas karpet bersandar pada ranjang. Tampak lelah. Sepertinya berusaha membongkar jendela untuk kabur.
“Ndoro Ayu, ini dimakan dulu. Belum sarapan toh,” seru Mbok yem sudah duduk di samping Aya.
“Malas mbok.”
Wira berdiri menatap kesal pada putrinya itu.
“Apa harus dipaksa agar kamu mau makan?”
“Apa aku, mbak Andin dan Ibu harus pergi jauh, baru Romo paham arti kesepian.”
“Jangan menggurui. Sekarang boleh kamu marah dan menolak didikan ku, nanti kamu akan paham.”
“Aya.”
“Mbak Andin.”
Aya berdiri, Andin memasuki kamar, tapi ditahan untuk mendekat oleh Wira. “Siapa mengizinkanmu masuk kemari. Keluar!”
“Romo, jangan begini. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Aya harus minum vitamin dan obatnya.”
“Keluar!” titah Wira. “Mbok Yem,” panggil Wira dan wanita paruh baya itu seolah mengerti, membawa nampan sarapan dan meninggalkan kamar.
“Aku perlu bicara dengan Aya.”
“Romo bilang keluar! Kalau ingin diterima di rumah ini, segera keluar.”
Andin menghela nafas, menatap Aya yang masih terpaku di tempatnya lalu berbalik meninggalkan kamar.
“Jangan sok jagoan, sebaiknya kamu makan.”
Di kediaman itu mulai ramai mempersiapkan pernikahan atas perintah Wira. Diah dan Andin, begitu pula Dani menunggu Wira untuk bicara. Kamar Aya kembali dikunci.
“Mas,” panggil Diah. “Kita perlu bicara.”
Bertempat di ruang keluarga, Andin membahas rencana pernikahan Aya dengan Adit.
"Bukan ranah kamu, urus saja pernikahanmu dengan pria itu." Wira menunjuk Dani.
"Setidaknya Mas Dani memperlakukanku dengan baik, hidup kami baik-baik saja. Tapi Adit, apa Romo tidak cari tahu seperti apa pria itu?"
"Jangan menggurui aku. Siapa tidak kenal dengan keluarga Waskita," seru Wira tanpa menatap Andin. Pandangannya ke depan dan sorot mata angkuh.
"Adit pernah menjebak Aya, dia kasih obat per4ngsang. Kalau bukan karena dokter Edward datang, Aya mungkin sudah ... dinodai oleh Adit."
"Ya Tuhan, benar begitu nduk?" tanya Diah.
"Aku ada buktinya." Andin mengeluarkan ponsel menayangkan video rekaman cctv pada Romo, dilihat dengan lirikan matanya.
"Bukannya pria itu yang menjebak Cahaya?"
"Aya dan Edward sudah memproses ini ke ranah hukum," jelas Dani. "Bukti dan saksi cukup kuat, tinggal menunggu keluarnya surat penangkapan. Sebaiknya Romo pertimbangkan lagi, sebelum semuanya terlambat."
Wira berdiri. "Kalian memutarbalikan fakta, agar aku percaya."
"Romo ini orang hebat, apa tidak bisa mencari tahu siapa Adit. Aku yakin dia bukan pria baik. Bagaimana hidupnya selama ini, siapa saja temannya dan gaya hidupnya. Jangan menyesal dikemudian hari," tutur Andin. "Apa jadinya kalau Aya menikah dengan Adit lalu besoknya ditangkap polisi."
"Lalu, pria yang kamu sebut menolong Aya. Dia yang pantas untuk Cahaya. begitu maksudmu?"
"Itu beda urusan Romo," seru Andin lagi. "Hubungan Edward dan Aya, biar mereka sendiri yang jelaskan."
"Mas, aku nggak setuju dengan pernikahan ini. Adit tidak boleh menikah dengan Cahaya."
Wira berdecak lalu beranjak pergi.
"Mas," panggil Diah mengekor pria itu. "Aku ibunya Cahaya, aku berhak menolak pernikahan ini."
Andin dan Dani saling tatap. Wira dan Diah sudah menjauh meski masih terdengar perbincangan mereka.
"Mas ...."
"Hubungi Edward, tanya sejauh mana kasusnya sudah bergulir!”
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣
strategi ......kagak kongser cinta tak ada logikanya agles mo nji.......🤭