NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sindiran Pedas di Meja Makan

Malam harinya, aroma tumis kangkung dan tempe goreng buatan Eda menyeruak dari arah dapur. Usai menunaikan salat Magrib dan menenangkan pikirannya, Eda sengaja memasak menu bersahaja menggunakan bahan-bahan segar yang ia beli di warung Mbok Sumi sore tadi. Ia menata dua piring nasi, mangkuk sayur, serta lauk pauk di atas meja kayu ruang tengah.

Langkah kaki Doni yang diseret terdengar dari balik pintu kamar sebelah. Pria itu melangkah keluar dengan kaos oblong lusuh dan celana pendek, disusul Rini yang menggendong anak bungsunya. Merekam aroma masakan hangat, Doni langsung duduk di kursi kayu tanpa membuang waktu.

Ibu Ratna dan Agus yang sejak tadi duduk di ruang depan pun ikut melangkah mendekati meja makan. Wajah mereka masih dilipat ketus, tetapi perut yang lapar tak bisa membohongi gengsi mereka.

Eda duduk di salah satu ujung meja, mulai menyendokkan nasi untuk piringnya sendiri. Suasana di meja makan terasa sangat kaku, hanya terdengar denting sendok dan piring yang bersentuhan.

Doni menyendok tumis kangkung ke piringnya yang menggunung, lalu melirik Eda dari sudut mata. Ia berdehem keras sebelum melemparkan sindiran bernada sinis.

"Enak ya jadi guru PPPK," cetus Doni sambil mengunyah dengan kasar. "Makan kenyang, gaji utuh tiap bulan, tapi lihat saudaranya sendiri kebingungan cari sesuap nasi gara-gara mobilnya disita penagih utang. Benar-benar adik yang berbakti."

Rini yang duduk di sebelah Doni menyambut kalimat itu dengan kekeh sengit. "Iya, Mas. Dulu waktu Mbak Eda belum punya status, siapa yang sering bantu urusan rumah? Sekarang begitu sudah di atas angin, jangankan kasih pinjaman satu juta, lihat Mama lemas di sofa saja cuma ditawari obat Puskesmas. Sendok makan ini rasanya jadi makin pahit."

Agus hanya diam mendengus pelan, seolah menyetujui setiap bait sindiran yang dilontarkan iparnya. Sementara Ibu Ratna sengaja mendesah keras-keras sambil mengunyah pelan.

Eda menghentikan sendoknya sebelum sempat masuk ke dalam mulut. Ia meletakkan sendok dan garpunya dengan pelan di atas piring, lalu menatap Doni dan Rini secara bergantian. Wajah Eda sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar atau marah. Matanya memancarkan kejujuran yang dingin.

"Mas Doni, Mbak Rini," panggil Eda dengan intonasi suara yang amat jernih, memotong keheningan meja makan. "Siapa yang bantuan rumah tangganya Mas Doni maksud? Uang DP mobil sewaan yang ditarik yesterday itu, siapa yang talangi dua tahun lalu pakai kartu kredit atas namaku?"

Doni seketika tersedak, piring di depannya berdentang kasar saat tangannya gemetar. "Ed! Kamu..."

"Dua puluh empat juta rupiah," lanjut Eda tanpa ragu, menyebutkan angka yang selama ini sengaja ia kubur rapat. "Itu utang pokok Mas Doni yang cicilannya dipotong dari gajiku tiap bulan selama dua tahun. Ditambah uang ganti ban tiga juta rupiah enam bulan lalu, uang bayar sekolah anak kalian yang sering nunggak, dan uang belanja harian yang tidak pernah kalian kontribusikan sepeser pun."

Wajah Rini berubah dari merah padam menjadi pucat pasi. Ia membelalakkan mata, tak mengira Eda akan membeberkan angka-angka keramat itu di depan semua orang secara gamblang.

"Kamu jangan asal omong ya, Ed!" sergah Doni dengan wajah memerah menahan malu. "Itu kan urusan saudara! Masa sama kakak sendiri hitung-hitungan sampai sejelas itu?!"

"Aku tidak hitung-hitungan, Mas Doni," tembak Eda lurus, tatapannya beralih menatap Agus yang mendadak salah tingkah di kursinya. "Aku cuma mengingatkan fakta. Selama belasan tahun ini, yang menopang hidup kalian semua di rumah ini adalah gajiku. Dan saat ini, gajiku sudah habis tak bersisa untuk membayar semua kecerobohan itu. Jadi kalau makanan di meja ini terasa pahit bagi Mbak Rini dan Mas Doni, itu bukan karena aku pelit... tapi karena rasa malu kalian sendiri yang belum lunas."

*Brak!*

Agus menghentakkan telapak tangannya ke atas meja makan hingga mangkuk tumis kangkung bergetar. "Eda! Cukup! Kamu benar-benar sudah tidak punya sopan santun di depan meja makan!"

Eda menatap suaminya dengan senyum masam yang tipis. "Sopan santun itu dibangun atas dasar saling menghargai, Agus. Kalau aku disindir dan dipojokkan terus-menerus di rumahku sendiri, jangan salahkan kalau aku bicara pakai angka dan kenyataan."

Ibu Ratna tertegun, mulutnya terkunci rapat. Doni tertunduk dalam sambil memegang sendoknya dengan erat, tak mampu lagi membalas satu kata pun. Pembelaan diri mereka yang dangkal hancur berkeping-keping di hadapan rincian utang yang nyata.

Eda meraih gelas air putihnya, meminumnya hingga kandas, lalu berdiri merapikan piringnya sendiri. Ia melangkah menuju dapur untuk mencuci piringnya, meninggalkan meja makan yang kini membisu total diliputi rasa malu yang mencekam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!