NovelToon NovelToon
Dewi Perang Tidak Pernah Takut

Dewi Perang Tidak Pernah Takut

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aida

Iris Quinn hanyalah sekretaris culun yang mudah diinjak-injak. Di rumah ia dijadikan keset oleh keluarganya, di kantor ia jadi samsak perundungan. Bahkan sang CEO, Ethan Cole, memilihnya hanya karena yakin gadis itu tidak akan punya nyali untuk menggodanya.

Tapi mereka tidak tahu, Iris yang asli sudah mati.

Tubuh ringkih itu kini dikuasai oleh jiwa Valerie Crowe, jenderal perang wanita kejam yang tewas diterkam harimau di medan tempur. Bagi Valerie, menghadapi drama kantor dan keluarga picik bukanlah masalah besar. Ini hanyalah medan perang baru yang sangat mudah ditaklukkan.

Dengan kecerdasan otak Iris dan insting membunuh seorang jenderal, Valerie mulai mematahkan satu per satu harga diri orang yang pernah menindasnya. Saat Ethan Cole menyadari sekretaris penurutnya berubah menjadi wanita berdarah dingin yang bisa melumpuhkan lawan dengan tangan kosong, sang CEO justru mulai terobsesi.

Mereka pikir Iris bisa terus ditindas? Selamat datang di neraka. Permainan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Dari Ethan

Hari Senin datang lagi. Valerie sangat semangat karena ini waktunya ia bekerja dan itu artinya ia akan mengenakan pakaian yang baru.

Hari ini dia memilih satu set celana dan blazer berwarna hitam. Ia mengenakan tanktop putih sebagai dalaman nya. Di depan cermin ia masih bimbang akankah mempertahankan rambut kepang tersebut atau mengubahnya.

Setelah berpikir sebentar, akhirnya ia membiarkan rambutnya tetap dikepang namun kali ini ia mengepang nya menjadi satu. Lalu diujung rambutnya ia beri pita sebagai pemanis.

Sesampainya di kantor, ia melihat Chloe dan Jessica yang sedang mengobrol di depan pintu. Kedua orang tersebut terpana melihat penampilan Iris yang beda dari biasanya.

Kemarin, Chloe merasa Iris sangat berani walaupun masih berkepang dua. Dan kali ini, entah mengapa Iris terlihat lebih berani lagi.

"Selamat pagi, Iris. Apa angin di Queens menerbangkan sebelah kepangmu ?" tanya Chloe dengan senyum yang menyebalkan. Sebenarnya dalam hatinya merasa takut pada Iris. Jangan sampai ia dihajar lagi.

Tapi rasa sakit hatinya kemarin karena disuruh mencarikan apartemen serta menyuruhnya membayar tagihan kuku Iris di salon belum sembuh. Malah semakin membara saja apalagi kini Iris nampak berbeda.

Iris hanya tersenyum kecil. Matanya memindai Chloe dari atas sampai bawah seakan sedang menilai penampilannya. Sikap tersebut membuat Chloe merasa terintimidasi.

"Apa ini cara barumu menggoda Tuan Ethan ?" tanya Jessica lalu menutup mulutnya.

"Ku akui kau semakin cantik. Tapi ketahuilah, Tuan Ethan tidak suka wanita seperti mu" lanjut Jessica.

Chloe tidak mengalihkan pandangannya pada Iris yang masih diam. Lengannya menyenggol lengan Jessica. Memberi kode sahabatnya itu agar diam. Tapi Jessica bukannya mengerti malah semakin menjadi.

"Kau tau, sekretaris sebelumnya pernah hampir di dorong Tuan Ethan dari jendela ruangannya. Yang sebelumnya lagi pernah dimasukkan ke dalam kamar yang berisi anjing galak karena sengaja menjebak Tuan Ethan"

"Dan kau ? hukuman apa yang pernah kau terima?" tanya Iris. Ia melipat kedua tangannya di depan dada setelah membetulkan letak kacamatanya.

"Aku ? Tentu saja aku tidak pernah dihukum. Aku wanita baik yang taat peraturan. Kau kan sudah diberi tahu. Aku dan Chloe termasuk karyawan lama yang tidak pernah menggoda Tuan Ethan " jawab Jessica sebal.

"Diam lah jangan banyak bicara. Aku merasa merinding melihat tatapan mata Iris" bisik Chloe.

"Apa maksudmu ? Dia Iris yang sama dengan kemarin. Dia itu.." belum sempat Jessica menyelesaikan kata-katanya, Chloe sudah menyeretnya pergi.

"Nona Quinn, dimana kopi ku" suara besar Ethan muncul di belakangnya.

"Ah iya. Akan kubiarkan, Bos" jawab Iris lalu pergi. Ethan menatap Iris tanpa berkedip hingga Kevin menyentuh bahunya.

"Apa Iris nampak cantik hari ini, Tuan ?" goda Kevin.

"Apa kau sudah tidak sayang pekerjaan mu ?" tanya balik Ethan. Ia lalu menggelengkan kepalanya pelan dan pergi ke ruangan nya.

Valerie membuat kopi seperti kemarin. Lagi-lagi ia mendapatkan tatapan aneh dari karyawan lain. Tapi tidak ada yang bertanya atau menyapanya.

"Iris, kau sebenarnya manusia apa hantu ? Kenapa tidak ada yang menyapa mu sama sekali " gumamnya.

Ia melangkah kearah ruangan Ethan. Meletakkan tasnya di meja depan lalu mengetuk pintu.

Setelah mendengar sahutan dari dalam, Valerie membuka pintu. Di dalam ruangannya, Ethan tengah fokus membaca laporan.

"Silahkan, Bos" kata Valerie.

Ethan tidak menjawab. Ia mengambil cangkir itu dan meminum nya sedikit. Sangat pas di lidah nya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang terasa begitu manis di lidah nya.

"Setelah ini ikut aku" kata Ethan tanpa melihat kearah Iris.

"Kemana, Bos ? Setahuku, anda tidak memiliki jadwal keluar hari ini" sahut Iris.

"Apa aku harus melapor padamu jika ingin pergi ?" tanya Ethan yang kali ini menatap Iris. Keduanya saling bertatapan.

Untuk sesaat, Iris nampak tertegun. Di balik kacamata tebalnya, ia mengedipkan matanya beberapa kali.

'Tatapannya tajam. Seperti Alexander '

"Baik. Aku mengerti " ucap Iris. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya lalu melangkah keluar.

"Iris, ambil paperbag itu. Itu untukmu" suara Ethan menghentikan langkah Iris. Matanya langsung tertuju pada paperbag dengan logo tas terkenal.

Tanpa bicara lagi, Iris mendekati paperbag tersebut dan membukanya. Sebuah tas hitam berukuran sedang dengan tali panjang berada di dalamnya.

Iris mengambil tas itu. Saat membukanya, ada sebuah ponsel yang sudah menyala.

"Bos, ini..." tanya Iris seraya mengangkat kedua benda itu.

"Apa telingamu bermasalah ?" sahut Ethan.

"Oh jadi benar ini untukku ?" tanyanya lagi dengan senyum tipisnya.

"Tapi..."

"Aku tidak menerima penolakan. Kau sekretaris Ethan Cole. Apa pendapat orang jika melihat barang-barang mu yang jelek itu" kata Ethan.

Iris mengambil nafasnya pelan dan menghembuskan nya. Wajahnya yang tersenyum berusaha ia sembunyikan.

"Tapi ini tidak dipotong dari gajiku kan ?" tanyanya.

Wajah Ethan berubah masam saat mendengar pertanyaan itu. Ia kira, tadinya Iris ingin menolaknya. Rupanya wanita itu malah menanyakan hal lain.

"Tidak" jawab Ethan singkat.

"Baiklah terima kasih, Bos. Kebaikan mu tidak akan ku tolak" katanya lagi lalu segera keluar membawa barang-barang.

Di depan mejanya, Valerie memeriksa tas barunya. Ia meraba setiap inci barang tersebut dan membandingkannya dengan milik Iris di apartemen.

"Apa ini dari kulit buaya asli ? Kenapa baunya tidak enak ?"

"Kira-kira dimana mereka menangkap buaya itu ?"

Di Aurelia, ia juga memiliki tas yang terbuat dari kulit binatang. Namun bentuknya tidak seindah yang kini ia pegang.

Di dalam ruangannya, Ethan tengah fokus menatap laptop yang menampilkan gambar Iris sedang heboh dengan tas barunya. Tanpa sadar, bibirnya membentuk senyum yang jarang ia perlihatkan.

"Dasar wanita" gumam Ethan.

...

Happy Reading 🥰

1
Noey Aprilia
Hhhmmm.....
abs pnya apartmen baru,abs tu blnju baju yg bgus...trs k salon,kl prlu ptong rmbut biar buang sial.....
kl kluarganya mnta uang,jgn d ksih...lbh baik pke buat dri sndri aja...ok jendral....
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir lg....crtanya seru,sm ky crtamu yg lain....😁😁😁...
ska bgt kl cwek tngguh ky gni,ga menye2 trs kl ada yg ngusik lngsng d bls....d tnggu up'ny y....smngttt....😘😘😘
Noey Aprilia: sama2...😁😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!