NovelToon NovelToon
Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Jarum Perak dan Hawa Pembunuh yang Terpendam

​Musim gugur berganti menjadi awal musim dingin. Tiga bulan telah berlalu sejak malam berdarah di Klinik Tabib Li, dan rutinitas di Kota Daun Gugur kembali berjalan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

​Bagi Li Yun, tiga bulan ini adalah ujian kesabaran yang luar biasa. Sutra Pernapasan Kayu Mati benar-benar memenuhi namanya. Meskipun ia bermeditasi setiap malam tanpa henti, menyerap energi spiritual langit dan bumi yang tipis di udara kota fana, hasil yang didapatkannya sangat menyedihkan. Di Dantian-nya, hanya terbentuk sebuah pusaran Qi sebesar butiran beras. Ia bahkan belum bisa dikatakan menembus tingkat pertama Pengumpulan Qi secara utuh. Jika seorang tetua sekte melihat kecepatan ini, mereka akan langsung mengusirnya karena dianggap sebagai sampah yang tak bisa diajari.

​Namun, Li Yun tidak kecewa. Butiran Qi sekecil beras itu telah membawa perubahan fundamental pada tubuh fananya.

​Penglihatannya menembus kegelapan malam layaknya kucing liar. Pendengarannya mampu menangkap detak jantung pasien dari jarak tiga langkah. Namun, yang paling berharga bagi seorang tabib adalah perubahan pada kepekaan indera perabanya.

​Pagi itu, Li Yun tengah menyortir tumpukan Akar Roh Api, ramuan penolak dingin kualitas rendah. Dengan hanya menyentuhkan ujung jarinya, sedikit—sangat sedikit—Qi dialirkan. Ia kini bisa merasakan aliran racun alami yang tersembunyi di dalam serat akar tersebut. Dengan pisau bedah kecilnya, ia memotong bagian beracun itu dengan presisi mutlak.

​Ketika ia menyeduh obat untuk warga kota, ia sesekali menyalurkan sehelai tipis Qi ke dalam jarum peraknya sebelum menusukkannya ke titik akupunktur pasien. Hasilnya luar biasa; penyakit demam berdarah yang biasanya butuh dua minggu untuk sembuh, kini mereda dalam tiga hari.

​Reputasinya sebagai "Tabib Tangan Dingin" mulai menyebar. Menyadari bahaya ketenaran, Li Yun segera mengerem dirinya. Ia mulai dengan sengaja menolak menyembuhkan beberapa penyakit mematikan atau memperlama proses penyembuhan pasien tertentu, memastikan namanya tetap berada di batas "tabib lokal yang lumayan pintar", bukan "tabib dewa yang mencurigakan". Keselamatan selalu berada di atas kesombongan.

​Namun, sebaik apa pun ia menyembunyikan diri, masalah di dunia fana sering kali datang tanpa diundang.

​Siang itu, pintu klinik ditendang terbuka. Hembusan angin dingin bercampur salju masuk, membuat beberapa pasien tua yang sedang mengantre terbatuk-batuk.

​Seorang pria bertubuh kekar dengan jubah bulu serigala melangkah masuk. Ia adalah Ma Hu, putra sulung dari Keluarga Bela Diri Ma, penguasa dunia bawah di Kota Daun Gugur. Meskipun bukan seorang kultivator, Ma Hu mempraktikkan bela diri luar tingkat tinggi. Otot-ototnya sekeras besi, dan konon ia bisa menghancurkan batu gilingan dengan satu pukulan.

​"Tabib Li!" suara berat Ma Hu menggema, tidak mempedulikan tatapan ketakutan para pasien. Ia melempar sebuah kantong koin tembaga yang jumlahnya sangat sedikit ke atas meja. "Kudengar kau baru saja menerima pasokan Teratai Darah Merah. Berikan semuanya padaku. Latihanku sedang mencapai titik kritis malam ini."

​Li Yun, yang sedang menumbuk obat, mengangkat wajahnya dengan tenang. "Tuan Muda Ma, Teratai Darah Merah itu sudah dipesan oleh Balai Pengobatan Kota untuk mengobati wabah batuk darah di distrik utara. Lagipula, koin ini bahkan tidak cukup untuk membeli satu kelopaknya."

​Wajah Ma Hu menggelap. Merasa otoritasnya ditantang di depan rakyat jelata, ia melangkah maju dan mencengkeram kerah baju Paman Zhou, seorang kakek renta yang sedang menunggu giliran berobat. Dengan satu tangan, Ma Hu mengangkat kakek itu dari tanah, membuat sang kakek tercekik dan meronta lemah.

​"Aku tidak sedang bernegosiasi, Tabib Li," ancam Ma Hu, senyum kejam tersungging di bibirnya. "Serahkan teratai itu, atau kakek tua ini akan pulang dengan leher patah. Jika kau macam-macam, aku akan meratakan klinik jelekmu ini."

​Di balik meja, mata Li Yun sedingin dasar danau es.

​Otaknya bekerja dengan kecepatan kilat. Dengan butiran Qi di Dantian-nya, tubuh Li Yun kini jauh lebih reaktif daripada manusia fana mana pun. Ia bisa saja melesat ke depan, menyalurkan Qi ke ujung jarinya, dan menusuk titik meridian kematian di jantung Ma Hu. Pria kekar ini akan mati mendadak akibat serangan jantung dalam hitungan detik.

​Namun, Li Yun menahan niat membunuh itu. Membunuh putra tertua Keluarga Ma secara misterius pasti akan memicu penyelidikan dari Penguasa Kota. Jika Penguasa Kota memanggil seorang kultivator tingkat rendah dari luar kota untuk menyelidiki, sisa energi spiritual di mayat Ma Hu akan terbaca dengan jelas. Identitasnya akan terbongkar. Demi menghukum satu semut yang sombong, ia bisa mengundang kedatangan naga kelaparan. Itu adalah pertukaran yang sangat bodoh.

​Li Yun segera mengubah raut wajahnya menjadi sedikit panik, menampilkan ketakutan seorang tabib fana.

​"T-Tunggu, Tuan Muda Ma! Lepaskan dia, aku akan mengambilkannya untukmu!" Li Yun bergegas keluar dari balik meja, membawa sebuah kotak kayu kecil berisi Teratai Darah Merah.

​Melihat Li Yun tunduk, Ma Hu mendengus sombong dan melempar Paman Zhou ke lantai. Ia mengulurkan tangannya dengan kasar untuk merampas kotak kayu itu.

​Tepat pada detik Ma Hu menarik kotak tersebut, kaki Li Yun dengan sengaja tersandung kaki meja. Tubuhnya oleng ke depan, dan dalam gerakan "jatuh" yang terlihat sangat canggung, tangan kanan Li Yun yang memegang sebuah jarum perak pengobatan terayun tak terkendali, menggores leher Ma Hu tepat di bawah telinganya.

​"Ah!" Ma Hu mengaduh pelan, merasa seperti digigit semut. Ia mendorong Li Yun hingga terjatuh ke lantai kayu. "Tabib ceroboh! Jaga matamu!"

​Namun, saat Ma Hu berbalik untuk pergi, langkahnya tiba-tiba goyah. Wajahnya memucat pasi. Lengan kanannya yang memegang kotak kayu tiba-tiba kehilangan tenaga, bergetar hebat, dan napasnya menjadi sangat sesak seolah ada batu besar yang menekan paru-parunya. Kotak kayu itu jatuh ke lantai.

​"A-Apa yang kau lakukan padaku?!" raung Ma Hu, menatap Li Yun dengan panik.

​Li Yun buru-buru bangkit, wajahnya dipenuhi ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Tuan Muda Ma! Bukankah kau bilang latihan bela dirimu sedang di titik kritis? Garis meridian Yang di lehermu... ia membengkak parah! Gerakan kasarmu barusan memicu Penyimpangan Qi internal!"

​Sebagai seorang praktisi bela diri luar, Ma Hu tahu bahaya Penyimpangan Qi. Rasa kebas yang menggerogoti lengan dan dadanya terasa sangat nyata. Ia tidak tahu bahwa goresan "tak sengaja" Li Yun tadi bukanlah kecelakaan. Li Yun telah menggunakan jarum peraknya, dilapisi dengan sehelai Qi spiritual sehalus rambut, untuk memblokir titik akupunktur Renying milik Ma Hu secara presisi. Tidak ada kerusakan fatal, dan tidak ada sisa spiritual yang ditinggalkan. Hanya penyumbatan darah sesaat yang meniru gejala persis dari cedera latihan bela diri fana.

​"Ini sangat berbahaya, Tuan Muda!" seru Li Yun, mengambil kotak Teratai Darah Merah dari lantai. "Teratai ini bersifat panas. Jika kau meminumnya dalam kondisi meridian tersumbat seperti ini, pembuluh darah di otakmu akan meledak malam ini juga! Kau harus beristirahat total tanpa melatih bela diri selama sebulan penuh agar aliran darahmu normal kembali."

​Mendengar vonis medis yang mengerikan itu, ditambah dengan rasa sakit yang masih berdenyut di dadanya, kesombongan Ma Hu runtuh sepenuhnya. Ketakutan akan menjadi cacat seumur hidup menguasai pikirannya.

​"B-Benarkah?!" Ma Hu memegangi dadanya, napasnya tersengal. Ia menatap Teratai Darah di tangan Li Yun seolah itu adalah racun. "T-Tahan teratai itu! Aku... aku akan kembali bulan depan!"

​Tanpa mempedulikan gengsinya lagi, Ma Hu berbalik dan lari terburu-buru keluar dari klinik, nyaris menabrak pintu.

​Klinik kembali hening. Pasien-pasien memandang Li Yun dengan rasa kagum, menganggap sang tabib baru saja menyelamatkan Ma Hu dari bencana bela diri.

​Li Yun membantu Paman Zhou berdiri, membersihkan pakaiannya, dan tersenyum hangat. "Maaf membuat Anda terkejut, Paman. Mari kita periksa batuk Anda."

​Saat ia berbalik merapikan jarum peraknya, senyum di wajah Li Yun menghilang, digantikan oleh ketenangan yang mematikan.

1
Armoire
1 vote meluncur lah /Drool//Drool/
ARay
mantap Thor 😎
ARay
bagus ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!