Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan di kuil leluhur
Pagi di Klan Xiao tidak pernah secerah pagi ini.
Genderang kulit naga dipukul, lonceng giok berdentang, dan ribuan lentera roh diterbangkan ke langit. Hari ini adalah Upacara Kebangkitan Abad, upacara yang hanya terjadi setiap seratus tahun. Semua murid dari cabang utama dan cabang luar dipanggil kembali. Para tetua mengenakan jubah upacara keemasan mereka, dan di tengah lapangan utama, panggung batu marmer putih telah disiapkan.
Di atas panggung itu, nama-nama akan dipanggil. Yang berbakat akan naik menjadi murid inti. Yang gagal akan diturunkan, atau dibuang.
Dan ada satu nama yang selalu menjadi hiburan penutup.
Xiao Chen.
Di gubuk reotnya di tepi Jurang Iblis, Xiao Chen terbangun bukan karena lonceng, tapi karena bau nasi basi yang dilempar ke depannya.
Dua murid luar berdiri sambil menutup hidung.
"Hei sampah, masih hidup? Luar biasa. Kami pikir kau sudah dimakan nyamuk jurang," kata yang lebih pendek sambil tertawa. Dia menendang mangkuk kayu yang isinya nasi kemarin yang sudah berlendir. "Makan. Hari ini hari besarmu. Tetua Agung memanggil semua orang, termasuk penjaga lubang sampah sepertimu. Jangan sampai kau tidak datang, nanti tidak seru."
Xiao Chen tidak melihat mangkuk itu. Dia melihat sepatu murid itu. Sepatu sutra baru, hadiah upacara.
Dia berdiri perlahan. Lututnya berbunyi karena sudah duduk bersandar di batu dingin selama 1000 tahun. Jubah hitamnya yang compang-camping berkibar, mengeluarkan bau darah iblis yang sudah sangat pekat hingga dua murid itu mundur dua langkah.
"Kau... kau bau bangkai!" bentak murid itu, tapi suaranya gemetar tanpa alasan yang jelas. Ada sesuatu di mata Xiao Chen pagi ini yang berbeda. Tidak lelah seperti biasanya. Tenang. Terlalu tenang, seperti permukaan danau yang dalam.
Xiao Chen berjalan melewati mereka tanpa berkata apa-apa. Dia tidak menuju lapangan upacara. Dia berjalan ke sungai kecil di belakang gubuknya, mencuci muka dan tangannya yang penuh darah hitam kering semalam. Air sungai langsung menjadi hitam saat menyentuh tangannya.
Setelah seribu tahun, dia lupa kapan terakhir kali dia melihat pantulan wajahnya dengan jelas. Wajahnya masih muda, tapi matanya sudah terlalu tua. Di dahinya ada bekas luka tipis berbentuk retakan, hasil dari adu kepala dengan Raja Iblis tiga ratus tahun yang lalu.
Dia mengikat rambutnya yang berantakan dengan sobekan kain jubahnya sendiri, dan mulai berjalan menuju jantung Klan Xiao. Setiap langkah yang dia ambil meninggalkan jejak kaki yang sedikit hangus di tanah karena sisa energi iblis di tubuhnya.
Semakin dekat dia ke lapangan utama, semakin keras tawa dan musik yang terdengar. Dan semakin banyak orang yang melihatnya, lalu diam sejenak, lalu berbisik dan tertawa lebih keras.
"Itu dia! Si Penjaga Jurang!"
"Ha! Jubahnya masih sama seperti 100 tahun lalu! Apakah klan tidak memberinya jubah baru karena takut dia mengotorinya?"
"Pemurnian Qi tingkat tiga, hahaha! Anakku yang umur 8 tahun sudah tingkat lima!"
Xiao Chen tidak menunduk seperti biasanya. Dulu, dia menunduk karena malu. Hari ini dia tidak menunduk karena dia sedang menghafal wajah-wajah itu. Satu per satu.
Di tengah lapangan, di kursi tertinggi, duduk Tetua Agung Xiao Tianlong. Pria tua berjanggut putih dengan ranah Nascent Soul puncak, orang terkuat di klan. Di sebelahnya duduk para tetua lainnya. Dan di barisan murid inti paling depan, berdiri seorang pemuda tampan berjubah biru dengan pedang tergantung di punggungnya - Xiao Feng, jenius nomor satu klan, Golden Core di usia 90 tahun. Di sebelah Xiao Feng berdiri seorang gadis cantik berbaju merah muda, Liu Yue.
Liu Yue adalah mantan tunangan Xiao Chen. Dijodohkan sejak bayi karena ayah mereka bersahabat. Ketika Xiao Chen dinyatakan sampah 1000 tahun lalu, dia adalah orang pertama yang menginjak-injak cincin pertunangan mereka di depan umum.
Upacara dimulai. Satu per satu murid dipanggil untuk menguji batu bakat. Sorak sorai terdengar untuk yang berbakat, cemoohan untuk yang gagal.
Sampai akhirnya, Tetua Agung berdiri. Dia mengangkat tangannya, dan seluruh lapangan terdiam. Dia tersenyum, senyum seorang pemimpin yang bijaksana, tapi mata tuanya menatap ke arah Xiao Chen yang berdiri sendirian di paling belakang, jauh dari kerumunan.
"Anak-anakku," suaranya menggema dengan bantuan qi, "Klan Xiao kita telah berdiri 5000 tahun karena kita selalu maju. Kita tidak memelihara yang tidak berguna. Kita memanfaatkan setiap jengkal tanah klan untuk kemakmuran."
Semua mata kini tertuju pada Xiao Chen.
"Jurang Iblis," lanjut Tetua Agung, "Selama 5000 tahun kita percaya itu adalah tempat berbahaya. Tapi selama 1000 tahun terakhir, penjaga kita yang rajin, Xiao Chen, telah membuktikan bahwa di sana... tidak ada apa-apa." Dia tertawa kecil, dan seluruh klan tertawa bersamanya. "Tidak ada satu pun iblis yang terlihat. Tidak ada satu pun laporan serangan. Ternyata itu hanya cerita untuk menakut-nakuti anak kecil dari pendiri klan."
Xiao Chen mengepalkan tangannya di dalam jubah. Tidak ada iblis? Dia membunuh ribuan setiap malam.
"Karena itu," Tetua Agung suaranya menjadi serius, "Dewan Tetua telah memutuskan. Mulai hari ini, Jurang Iblis akan ditutup dan diubah menjadi Tambang Batu Spiritual. Ini akan meningkatkan pendapatan klan sebesar 30 persen!"
Sorak sorai membahana. Tambang baru berarti lebih banyak sumber daya untuk mereka.
"Tapi," Tetua Agung melanjutkan, dan senyumnya kini terlihat kejam, "Untuk menutup tempat yang sudah terkontaminasi energi yin selama 5000 tahun, kita butuh tumbal. Darah keturunan langsung Klan Xiao yang murni untuk menyucikannya. Dan siapa yang lebih murni dan lebih... tidak berguna... selain dia yang sudah menjaga lubang itu selama 1000 tahun?"
Keheningan sesaat, lalu tawa meledak lebih keras dari sebelumnya.
"Benar! Jadikan dia tumbal!"
"Akhirnya sampah itu berguna!"
Xiao Feng melangkah maju, pedangnya masih di sarung, tapi auranya yang Golden Core menekan ke arah Xiao Chen. "Xiao Chen, ini adalah kehormatan terbesarmu. Darahmu akhirnya bisa berguna untuk klan. Jangan melawan, agar prosesnya tidak menyakitkan."
Liu Yue juga maju, wajahnya penuh rasa kasihan yang palsu. "Kakak Chen, maafkan aku. Ini sudah takdir. Setelah ini, aku akan membakar dupa untukmu setiap tahun, agar di kehidupan selanjutnya kau tidak menjadi sampah lagi."
Itulah puncaknya. Kalimat itu.
Xiao Chen yang selama 1000 tahun diam, yang membiarkan mereka meludahi makanannya, yang membiarkan mereka menginjak-injak namanya, akhirnya mengangkat kepalanya dan tertawa.
Tawanya pelan pada awalnya, lalu semakin keras, semakin keras, sampai membuat genderang berhenti dan lonceng giok retak.
Semua orang terdiam. Tawa itu tidak terdengar seperti tawa manusia. Tawa itu terdengar seperti... sesuatu yang baru keluar dari neraka.
"Kehormatan?" Xiao Chen akhirnya bicara, suaranya tidak lagi serak. Suaranya jernih, dingin, dan setiap katanya seperti paku es yang ditancapkan ke telinga mereka. "Kalian bilang di jurang itu tidak ada iblis?"
Dia melangkah maju satu langkah. Satu langkah itu saja membuat rumput di bawah kakinya menghitam dan mati.
"Kalian semua... pernahkah kalian sekali saja, satu malam saja, datang ke jurang itu setelah matahari tenggelam? Pernahkah kalian mendengar jeritan mereka? Pernahkah kalian mencium bau darah mereka?"
Dia melangkah lagi. Tekanan tak terlihat mulai menyebar. Murid-murid Pemurnian Qi di barisan depan tiba-tiba merasa sesak napas.
"Aku menjaga kalian selama 1000 tahun! 365.000 malam! Setiap malam aku robek tubuhku untuk menambal segel yang kalian anggap dongeng! Setiap malam aku membunuh ribuan iblis yang kalian bilang tidak ada, agar anak-anak kalian bisa tidur nyenyak dan bermimpi menjadi jenius!"
Tetua Agung mengerutkan kening. Tekanan ini... tidak mungkin dari Pemurnian Qi tingkat tiga. Dia memberi isyarat kepada Xiao Feng.
Xiao Feng mengerti. Dia mencabut pedangnya, pedang tingkat bumi yang berkilauan. "Omong kosong! Kau gila karena terlalu lama sendirian! Mati saja dengan tenang!"
Xiao Feng melompat, pedangnya mengarah ke jantung Xiao Chen. Jurus Pedang Hujan Bintang, jurus andalan klan yang bisa memotong air terjun.
Semua orang menahan napas, menunggu darah sampah itu tumpah.
Xiao Chen tidak menghindar. Dia hanya mengangkat dua jarinya.
_TING!_
Pedang tingkat bumi yang bisa memotong baja itu berhenti, terjepit di antara dua jari Xiao Chen yang terlihat kurus. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Hanya suara logam yang bergetar ketakutan.
Mata Xiao Feng membelalak. "Ti-tidak mungkin!"
Xiao Chen menatapnya. Mata merah keemasannya yang selama ini dia sembunyikan di bawah jurang, kini menyala terang di bawah sinar matahari. Semua orang yang melihat mata itu mundur selangkah karena ketakutan primal.
"Pedang yang bagus," bisik Xiao Chen, "Sayang, pemiliknya sampah."
_KRAK!_
Dengan dua jari, dia mematahkan pedang tingkat bumi itu menjadi dua.
Sebelum Xiao Feng bisa bereaksi, Xiao Chen sudah mengepalkan tinju dan menghantam perut Xiao Feng. Bukan pukulan qi, hanya pukulan fisik murni. Tapi pukulan itu membuat Xiao Feng, seorang Golden Core, terbang 50 meter ke belakang, menabrak panggung marmer hingga hancur, muntah darah, dan pingsan.
Seluruh lapangan hening seperti kuburan.
Xiao Chen memandang Tetua Agung. Tetua Agung yang Nascent Soul puncak itu, untuk pertama kalinya dalam 200 tahun, merasakan keringat dingin di punggungnya.
"Kau... kau menyembunyikan kultivasimu!" teriak Tetua Agung.
Xiao Chen tersenyum, senyum yang lebih menakutkan dari tangis iblis. "Menyembunyikan? Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun. Kalian saja yang buta. Kalian hanya melihat apa yang ingin kalian lihat. Kalian melihat sampah, maka aku adalah sampah."
Dia berbalik. Dia tidak lagi peduli dengan tumbal, tambang, atau klan. Dia berjalan menuju gerbang klan, meninggalkan jejak kaki hangus.
"Xiao Chen! Berhenti! Kau berani mengkhianati klan!" teriak Tetua Agung sambil melepaskan tekanan Nascent Soul-nya yang penuh.
Tekanan itu menghantam punggung Xiao Chen... dan hilang seperti angin menabrak gunung.
Xiao Chen berhenti di gerbang. Tanpa menoleh, dia berkata kalimat terakhirnya sebagai anggota Klan Xiao:
"Mulai hari ini, Klan Xiao dan aku tidak ada hubungan lagi. Jurang Iblis bukan lagi urusanku. Jaga sendiri tambang kalian. Dan ketika malam tiba dan kalian mendengar auman dari bawah... jangan panggil namaku. Karena aku tidak akan datang."
Dia melangkah keluar dari gerbang. Di belakangnya, segel di Jurang Iblis yang sudah tidak diberi darah selama 24 jam, mulai retak dengan suara yang sangat keras.
_KRETAKKK!_
Dari retakan itu, asap hitam pekat membubung ke langit, membentuk wajah iblis raksasa yang tertawa.
Hari itu, Klan Xiao akhirnya percaya bahwa iblis itu nyata. Tapi sudah terlambat.