NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:522
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 - INSTING YANG TERBANGUN

Gerimis tipis bercampur kabut bikin suasana pabrik baja tua itu makin mirip kuburan. Kael membuka pintu penumpang, menarik tubuh Riko yang pingsan dengan tangan kirinya. Pria jangkung itu mengertakkan gigi menahan sakit luar biasa di bahu kanannya.

"Biar aku bantu," bisik Valeria cepat. Wanita itu langsung menyelipkan bahunya di bawah lengan kanan Riko, membantu Kael memapah pria malang itu.

Mereka bergegas menuju sebuah kontainer berkarat yang pintunya setengah terbuka, nggak jauh dari mobil rongsokan mereka. Udara di dalam kontainer itu bau apek dan lembap, tapi cukup gelap buat menyembunyikan Riko. Kael membaringkan Riko perlahan di sudut, lalu melepas jaket kulitnya sendiri untuk menyelimuti tubuh anak buahnya yang mulai kedinginan.

"Dia bakal aman di sini untuk sementara," gumam Kael pelan.

Belum sempat Valeria membalas, telinga tajam Kael menangkap suara deru mesin dari kejauhan. Cahaya lampu sorot kuning menembus kabut, menyapu area pabrik. Tiga buah mobil SUV hitam melaju pelan melewati gerbang depan yang hancur, lalu menyebar dan berhenti tak jauh dari bangkai Range Rover mereka.

Kael menarik lengan Valeria, menyembunyikan wanita itu di balik tumpukan drum besi kosong di luar kontainer.

"Mereka datang," desis Valeria mencengkeram erat gagang kedua pistol Glock-nya.

Sekitar belasan pria bersenjata laras panjang turun dari ketiga mobil itu. Mereka menyalakan senter taktis, cahayanya membelah kegelapan seperti pedang laser. Terdengar suara kokangan senjata beruntun.

"Cari mereka! Mobilnya masih panas, mereka pasti belum jauh! Bos besar bilang siapa pun yang bisa bawa kepala Valeria bakal dapat sepuluh miliar!" teriak seorang pria berwajah codet yang sepertinya komandan regu.

Valeria mendengus sinis. "Sepuluh miliar? Murah banget kepalaku dihargai sama si tua bangka Haris."

"Val, dengarkan saya," bisik Kael menatap lurus ke mata Valeria. Wajah pria itu sangat dekat, napas hangatnya berbaur dengan udara dingin malam. "Peluru di pistol Anda terbatas. Jangan menembak kecuali Anda benar-benar terdesak. Kalau Anda menembak, posisi Anda akan langsung ketahuan."

"Lalu kamu mau ngapain? Ngajak mereka ngobrol sambil ngopi?" sindir Valeria pelan.

"Saya yang akan mengurangi jumlah mereka," jawab Kael datar. Pria itu mencabut pisau tempur hitam legam dari pinggangnya. "Tetap di sini, Val. Jangan keluar dari bayangan."

Tanpa menunggu persetujuan Valeria, Kael melesat pergi. Gerakannya nyaris tanpa suara, membaur sempurna dengan gelapnya malam seolah dia adalah bagian dari kabut itu sendiri.

Valeria menahan napas, matanya terus mengawasi dari balik celah drum besi. Jantungnya berdebar kencang. Pasukan Viper mulai menyebar, menyisir setiap sudut pabrik tua itu.

Dua orang anak buah Viper berjalan mengendap-endap mendekati area mesin penggilingan baja yang gelap gulita. Senter mereka menyapu tumpukan besi tua.

Tiba-tiba, dari atas palang baja di atas mereka, sesosok bayangan besar meluncur turun tanpa suara.

Kael mendarat tepat di belakang pria pertama. Dengan tangan kirinya yang sehat, Kael membekap mulut pria itu, sementara tangan kanannya yang memegang pisau menusuk tepat di celah tulang belakang bagian leher bawah. Pria itu mati seketika tanpa sempat mengeluarkan suara, saraf motoriknya putus total.

Pria kedua menyadari ada gerakan di belakangnya. Dia berbalik panik sambil mengangkat senapan serbunya. "Siapa di sa—!"

Kael nggak memberinya kesempatan. Pria jangkung itu menendang laras senapan ke atas, lalu melangkah maju merusak titik keseimbangan lawan. Kael memukul tenggorokan pria itu dengan sikunya. Terdengar bunyi tulang rawan yang remuk. Pria kedua itu jatuh ke tanah sambil memegangi lehernya, tersedak darahnya sendiri, sebelum akhirnya diam tak bergerak.

Valeria yang melihat kejadian itu dari jarak dua puluh meter merinding. Kecepatan Kael bener-bener gila.

Namun, bunyi senapan yang sempat terbentur tiang besi tadi rupanya memancing perhatian anggota Viper yang lain.

"Ada suara di dekat mesin giling! Ke sana!" teriak pria bercodet.

Empat orang pria bersenjata berlari mendekati lokasi Kael. Mereka menyalakan senter ke arah Kael yang baru saja mencabut pisaunya dari mayat pria pertama.

"Itu dia! Tembak!"

Rentetan tembakan memecah keheningan pabrik. Kael berguling cepat ke balik roda gigi raksasa, menghindari hujan peluru yang memercikkan bunga api di sekitarnya.

"Maju! Kepung dia!" komando salah satu dari mereka.

Keempat pria itu menyebar, mengurung posisi Kael. Bahu kanan Kael berdenyut hebat. Pendarahannya makin parah karena gerakan ekstrem tadi. Tenaga di tangan kanannya mulai melemah, pisau tempurnya bahkan terasa berat untuk digenggam.

Satu orang pria berhasil memutar dan menendang pisau dari tangan Kael, membuat senjata itu terpental jauh. Pria itu menyeringai, mengangkat senapannya untuk membidik dada Kael dari jarak dekat.

Tapi di sinilah insting murni sang bayangan benar-benar terbangun.

Dalam kondisi terdesak dan tanpa senjata, Kael nggak mundur. Pria itu justru menerjang maju menembus jarak tembak. Sebelum jari si musuh sempat menarik pelatuk, Kael menangkap laras panas senapan itu dengan tangan kanannya yang terluka, mengabaikan rasa sakit dan panas yang membakar telapak tangannya.

Kael menarik senapan itu ke bawah, lalu menggunakan lengan kirinya untuk menghantam rahang pria itu dengan teknik siku ala *Muay Thai*. Bunyi retakan keras terdengar. Pria itu terpelanting dengan rahang hancur.

Tiga pria lainnya menyergap bersamaan.

Kael bergerak seolah dia punya mata di belakang kepalanya. Dia menunduk menghindari sabetan popor senapan dari kiri, menangkap kaki pria yang mencoba menendangnya dari kanan, lalu memutarnya dengan keras hingga tulang lutut pria itu patah terbalik.

"AAARGH!" jerit pria itu jatuh bergulingan.

Pria ketiga mencoba menembak, tapi Kael menggunakan tubuh pria yang rahangnya hancur tadi sebagai tameng hidup. Peluru-peluru itu bersarang di punggung temannya sendiri.

Memanfaatkan kepanikan si penembak, Kael melompat ke depan. Tangannya melesat layaknya ular berbisa, mencengkeram leher pria itu, lalu dengan satu putaran pinggul dan hentakan brutal yang meminjam momentum lawan, Kael mematahkan leher pria itu. *KRAK!* Kepala pria itu terkulai dengan sudut yang tidak wajar.

Tersisa satu orang lagi. Pria bercodet yang merupakan komandan regu.

Pria itu berdiri gemetar melihat empat anak buahnya dibantai hanya dalam waktu kurang dari setengah menit oleh seorang pria tangan kosong yang sedang terluka parah.

"M-monster..." bisik pria bercodet itu ngeri. Dia menjatuhkan senapannya yang kehabisan peluru, lalu merogoh pistol dari sarungnya dengan panik.

Kael tidak berlari. Dia berjalan pelan mendekati pria bercodet itu. Wajah Kael dipenuhi percikan darah musuh. Tatapan matanya kosong, sangat dingin, persis seperti tatapan predator di puncak rantai makanan yang lagi menatap kelinci cacat.

Pria bercodet itu menembakkan pistolnya membabi buta. Kael memiringkan kepalanya, membiarkan satu peluru menggores pelipis kirinya, sementara peluru lain meleset. Saat pistol itu berbunyi *klik* karena pelurunya habis, Kael sudah berdiri tepat di depan wajahnya.

"Siapa... siapa lo sebenarnya?!" jerit pria bercodet itu mundur selangkah, kakinya tersandung pipa besi dan jatuh telentang di tanah becek.

"Hanya seorang pelayan," bisik Kael datar.

Kael mengangkat kaki kanannya, lalu menginjak lutut pria itu dengan kekuatan penuh. Terdengar bunyi tulang yang hancur berkeping-keping, disusul jeritan melengking yang menggema di seluruh pabrik tua itu.

"Diam," perintah Kael dingin.

Satu tendangan keras dari ujung sepatu Kael menghantam pelipis pria bercodet itu, langsung membuatnya pingsan dan membungkam jeritannya seketika.

Dari balik tumpukan drum besi, Valeria mematung. Napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdebar begitu gila sampai rasanya mau meledak.

Dia baru saja menyaksikan pertunjukan mematikan yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya. Selama sepuluh tahun, Valeria pikir dialah yang mengendalikan klan dengan kekejaman dan strategi. Dia pikir Kael hanyalah instrumen, senjata tumpul yang bisa dia arahkan.

Tapi malam ini, melihat Kael meremukkan tulang dan mencabut nyawa orang dengan efisiensi mesin pemotong daging, Valeria sadar bahwa Kael menahan 90 persen kekuatannya selama ini. Teknik bela diri yang dipakai Kael barusan—kombinasi *Krav Maga*, *Systema* Rusia, dan insting pembunuh murni—bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dari pelatih jalanan. Itu adalah hasil tempaan dari neraka terdalam.

Kael berdiri di tengah lautan mayat. Hujan gerimis membasahi wajah dan kemejanya yang robek serta berlumuran darah. Napasnya memburu kasar. Perlahan, pria itu menoleh ke arah tempat persembunyian Valeria.

Mata Kael masih dipenuhi kabut pembunuh yang gelap, tapi saat dia melihat Valeria mengintip dari balik drum, kabut itu perlahan memudar. Wajah kaku dan kejam itu kembali melembut, berubah menjadi wajah seorang pengawal yang cemas.

Kael berjalan gontai mendekati Valeria. Bahu kanannya kini benar-benar tidak bisa diangkat, terkulai lemas di sisi tubuhnya.

"Area ini sudah bersih, Val," lapor Kael pelan saat tiba di depan Valeria. Suaranya serak dan kelelahan. "Sisa pasukan mereka di luar gerbang pasti akan masuk mendengar suara tembakan tadi. Kita harus pergi."

Valeria berdiri dari jongkoknya. Dia menatap Kael dari ujung kaki sampai ujung kepala. Pria ini berlumuran darah, wajahnya tergores peluru, dan bahunya terluka parah. Tapi entah kenapa, di mata Valeria, Kael malam ini terlihat sangat... mempesona. Ada daya tarik gelap yang sangat kuat dari seorang pria mematikan yang rela menundukkan kepalanya hanya untuk satu wanita.

Tanpa ragu, Valeria melangkah maju. Wanita itu menyimpan senjatanya, lalu mengulurkan tangannya, menyentuh luka goresan di pelipis Kael dengan lembut.

"Kerja bagus, monsterku," bisik Valeria, senyum kebanggaan terukir di bibirnya.

Kael tersentak pelan merasakan sentuhan hangat itu. Dia menutup matanya sesaat, menikmati usapan ibu jari Valeria di pipinya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya seolah menguap begitu saja.

"Mari kita jemput Riko dan keluar dari sini, Kael. Masih banyak tikus yang harus kita bunuh sebelum matahari terbit," putus Valeria menarik tangannya, kembali memasang wajah dingin sang Ratu Mafia.

"Selalu siap di belakang Anda, Val," jawab Kael patuh, mengikuti langkah Valeria menembus kegelapan malam.

Rahasia kekuatan Kael perlahan mulai terbuka, namun bukannya membuat Valeria takut, insting mematikan sang bayangan itu justru memantik sebuah hasrat gila yang baru di dalam hati sang ratu.

1
Putra kembar
sangat menegangkan, ceritanya bagus 🤙🏻
Putra kembar
ceritanya bagus, bikin greget dan menegangkan 😍👍
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!