NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:35.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam pertama di rumah Mayor Abimanyu

Kejutan kecil yang disiapkan Kaning untuk Latifah ternyata berhasil membuat hati perempuan itu menghangat. Di atas meja kecil ruang keluarga, Kaning menunjukkan sebuah gambar buatan tangannya. Gambar itu memperlihatkan tiga orang bergandengan tangan di depan sebuah rumah.

Ada seorang pria berseragam, seorang perempuan berjilbab, dan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka.

“Ini Papah, ini Bunda, terus ini Kaning!” seru Kaning bangga sambil menunjuk satu per satu gambar tersebut.

Latifah tersenyum haru. “Masyaallah, cantik sekali gambarnya. Bunda boleh menyimpannya?”

“Boleh! Tapi Bunda harus janji tinggal sama Kaning terus, ya?”

Latifah mengusap lembut kepala anak itu.

“Bunda akan berusaha selalu ada untuk Kaning, Sayang.”

Namun, setelah seharian beraktivitas, kelopak mata Kaning mulai terasa berat. Anak itu menguap berkali-kali sebelum akhirnya bersandar di pangkuan Latifah.

“Bunda… Kaning ngantuk.”

“Kalau begitu, ayo tidur.”

Kaning akhirnya tertidur pulas setelah diantar ke kamarnya. Sementara itu, Bima masih berada di teras rumah, berbicara melalui telepon dengan sesama anggota TNI mengenai urusan pekerjaan yang harus diselesaikannya keesokan hari.

Di dalam rumah, Bu Almira mengajak Latifah menuju kamar Bima yang kini telah ditata rapi. Seprai bersih sudah terpasang, meja kecil di sisi ranjang tertata, dan beberapa barang pribadi Bima telah dirapikan.

Untuk pertama kalinya, Latifah melangkahkan kaki ke kamar suaminya.

“Baiklah, Latifah. Kamu istirahat, ya, Nak. Pasti sangat lelah. Ibu juga mau istirahat. Sebentar lagi Bima juga ke sini,” ujar Bu Almira lembut.

Latifah mengangguk kecil.

“Iya, Bu. Terima kasih banyak.”

Setelah Bu Almira pergi, Latifah berdiri diam beberapa saat.

Kamar itu terasa begitu asing baginya.

Dan malam ini, ia harus berbagi ruang dengan seorang pria yang kini telah sah menjadi suaminya.

Perasaan gugup perlahan menguasai pikirannya. Bukan karena Bima pernah bersikap kasar kepadanya, melainkan karena semuanya masih begitu baru. Pernikahan yang sebelumnya hanya menjadi pembicaraan keluarga, kini benar-benar menjadi kenyataan.

Latifah duduk di sisi ranjang, meremas jemarinya sendiri.

"Ya Allah… tenangkan hatiku. Bagaimana aku harus bersikap malam ini?"

Belum sempat pikirannya menemukan jawaban, terdengar ketukan dari arah pintu.

Tok. Tok. Tok.

“Bu Latifah, boleh saya masuk?”

Latifah langsung menegakkan tubuhnya.

"Aduh, bagaimana ini? Pak Bima sudah di depan pintu kamar!"

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.

“Masuk saja, Pak Bima. Pintunya tidak dikunci.”

Pintu terbuka perlahan.

Bima masuk dengan langkah tenang, meskipun sebenarnya ia sendiri menyimpan kegugupan yang tak jauh berbeda. Setelah seharian menjadi pusat perhatian keluarga, kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa ada seseorang yang akan berbagi kehidupan dengannya.

Pandangan Bima jatuh kepada Latifah yang duduk di sisi ranjang.

Ia pun mendekat, lalu duduk dengan jarak yang sopan di samping istrinya.

“Bu Latifah belum ganti baju tidur? Apa tidak gerah memakai pakaian itu?”

Latifah langsung salah tingkah.

“Kalau begitu, s… saya ganti pakaian dulu, Pak Bima.”

Tanpa menunggu jawaban, ia segera beranjak menuju kamar mandi di dalam kamar.

Pintu kamar mandi buru-buru ditutupnya.

Latifah menyandarkan punggungnya pada pintu sambil mengusap dada.

“Ya ampun… kenapa aku gugup sekali?” bisiknya.

Di luar, Bima yang masih duduk di sisi ranjang hanya bisa tersenyum tipis.

“Kenapa Bu Latifah terlihat gugup sekali?” gumamnya.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka.

Latifah muncul mengenakan piyama tidur berwarna merah muda. Rambut hitamnya yang panjang dijepit sederhana agar tidak mengganggu, sementara hijabnya telah dilepas.

Untuk pertama kalinya, ia memperlihatkan rambutnya di hadapan seorang pria selain keluarga dekatnya, pria yang kini telah menjadi suaminya.

Bima yang baru saja mengangkat wajahnya sempat terdiam.

Tatapannya tertahan sesaat, lalu ia segera menyadari dirinya sedang menatap terlalu lama.

“Bu Latifah…” ucapnya spontan.

Latifah mengerutkan keningnya, malu sekaligus bingung.

“Iya, Pak Bima?”

Bima berdeham kecil.

“Anda… terlihat berbeda sekali.”

“Berbeda bagaimana, Pak Bima?” tanya Latifah polos.

Bima sempat kehilangan kata-kata.

“Maksud saya… biasanya Anda selalu memakai hijab. Jadi, saya sedikit terkejut.”

Latifah menunduk, pipinya mulai merona.

“Oh…”

Bima menyadari istrinya kembali salah tingkah. Ia pun segera mengalihkan pembicaraan.

“Maaf, Bu Latifah. Saya mau mandi dulu. Badan saya terasa lengket setelah perjalanan.”

“Iya, silakan, Pak.”

Bima memasuki kamar mandi dan menutup pintunya.

Di depan cermin, ia mengembuskan napas panjang.

“Kenapa tadi aku malah memperhatikan Bu Latifah seperti itu, tapi dia begitu manis?” gumamnya.

Ia menatap bayangannya sendiri, lalu menggeleng pelan.

“Tenang, Bima. Dia istrimu, tapi kalian masih perlu waktu untuk saling mengenal. Jangan terburu-buru.”

Sementara itu, Latifah duduk di tepi ranjang. Ia berusaha mengusir kecanggungannya dengan merapikan ujung lengan piyamanya.

Namun, tiba-tiba ponsel yang diletakkan di atas nakas bergetar.

Sebuah panggilan masuk muncul di layar.

Ustaz Firman.

Latifah seketika membeku.

Nama yang selama bertahun-tahun pernah menempati sudut terdalam hatinya itu muncul tepat pada malam ketika ia sedang berusaha memulai hidup baru.

Jantungnya berdegup kencang.

“Ustaz Firman…?”

Tangannya terasa dingin. Ia mundur beberapa langkah tanpa sadar, matanya terpaku pada layar ponsel yang terus menyala.

Mengapa harus malam ini?

Mengapa setelah semua usahanya melepaskan masa lalu, nama itu kembali hadir?

Latifah semakin panik. Tumitnya menyenggol ujung karpet, membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.

“Ah!”

Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka.

Bima yang baru selesai mandi, mengenakan pakaian rumah sederhana, mendengar seruan istrinya.

Refleks, ia segera melangkah cepat.

“Bu Latifah!”

Tangannya berhasil meraih tubuh Latifah sebelum perempuan itu benar-benar terjatuh. Dalam sekejap, Latifah berada dalam pelukannya.

Bima menopang tubuh istrinya dengan erat, memastikan perempuan itu tidak terluka.

“Bu Latifah, hati-hati! Anda tidak apa-apa?”

Latifah terdiam.

Wajahnya begitu dekat dengan dada Bima. Napasnya masih tersengal, sementara ponsel di atas nakas terus bergetar.

Bima menunduk, menatap wajah istrinya yang tampak pucat.

“Ada apa? Kenapa Anda sampai mundur seperti itu?”

Latifah tidak langsung menjawab.

Panggilan di ponsel itu akhirnya terputus.

Namun, sebelum suasana kembali tenang, layar ponsel menyala lagi.

Nama Ustaz Firman kembali muncul.

Kali ini, Bima sempat melihatnya.

Tatapannya berpindah dari ponsel menuju wajah Latifah.

Latifah menelan ludah. Ia masih berada dalam pelukan suaminya, tak tahu bagaimana harus menjelaskan kegugupan yang mendadak menyerangnya.

“Bu Latifah…” suara Bima terdengar lebih pelan. “Siapa yang menelepon Anda?”

Latifah menundukkan wajahnya.

“Pak Bima, saya…”

Kalimatnya terhenti.

Bima tidak mendesaknya. Ia hanya perlahan membantu Latifah berdiri tegak, tetapi tangannya masih bersiaga di bahu sang istri.

“Tenangkan diri dulu,” katanya lembut. “Anda hampir jatuh. Kita bicarakan kalau Anda sudah siap.”

Latifah menggigit bibirnya.

Di tengah keheningan kamar itu, ia mulai menyadari bahwa masa lalu yang berusaha ia tinggalkan ternyata belum sepenuhnya berhenti mengetuk pintu hatinya.

Dan malam pertama mereka sebagai suami istri, yang semula hanya dipenuhi kecanggungan, kini berubah menjadi awal dari pertanyaan-pertanyaan yang belum berani ia jawab.

Bersambung…

1
Dua Putri
biasa 4 bab kk ini 2
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar ya kak, insyaallah setelah Bab 40 aku kebut lagi 🤗
total 1 replies
Atik Kiswati
nyesek bgt.....
Oma Gavin
lebih baik melangkah dgn pasti dgn orang yg mau belajar hidup bersama dari pada nunggu seseorang yg belum pasti datang untuk mengajak hidup bersama
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Setuju Oma 🤗
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Nar Sih
maaf ustad firman kamu terlambatt🙏
Nar Sih
pelan ,,tpi pasti bima sdh mulai jatuh cinta dgn latifah dan semoga istri mu sgra mbls perasaan mu ya bima☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak🤭
total 1 replies
Sastri Dalila
🤭🤭🤭
Teh Euis Tea
huhhh baru senyam senyum doang nih mereka ber2 blm ehem ehem msh malu2 jd blm bisa ngintip 🤣🤭
Teh Euis Tea
cieeee udah mulai saling goda mas mayor sm Bu Ifah, ngintip achhh 🤭🤭🤭🤭🤭
Nar Sih
oalah ya ngk apa ,,klau ciuman kan udh sah dan halal
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoooll
total 1 replies
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ☺️☺️dan bnr tebakan mu kapten ryan👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Atik Kiswati
sampe kpn mrk ber2 canggung + kaku kyk gt.....panggilannya aja msh pak / bu.....
Ani: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Oke lah tak tunggu
total 4 replies
vania larasati
lanjut kak
Sastri Dalila
🤗🤗
susi ana
kok masih panggil pak sama Bu.....
Perempuan
Anda? Formal aaaamat🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih kaku kak, belum terbiasa, harap di maklum
total 1 replies
Perempuan
koq masih gitu panggilannya🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍👍
vania larasati
lanjut kak
Dua Putri
baguss. kapan mereka🤭🤭🤭😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kapan apa kak? 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!