Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Sisa-sisa badai malam itu masih meninggalkan embun yang menempel pada kaca jendela raksasa di ruang duduk utama Mansion Hendrick. Di dalam ruangan berlantai marmer hitam yang dingin itu, Amanda berdiri mematung membelakangi perapian yang menyala. Ia mengenakan gaun tidur panjang berbahan satin gelap yang membalut tubuh rampingnya, dipadukan dengan jubah beludru yang menyapu lantai.
Udara di ruangan itu terasa berat, kaku, dan mencekam.
Pintu ganda mahoni menjeblak terbuka. Udara malam yang membawa aroma hujan seketika menyusup masuk, namun bukan hanya itu yang menginvasi indra penciuman Amanda. Ada aroma pekat mesiu, asap, dan jejak samar anyir darah yang mengiringi langkah tegap pria yang baru saja memasuki ruangan.
Aldebaran Hendrick melangkah masuk dengan sisa-sisa kebrutalan yang belum sepenuhnya menguap dari tubuhnya. Kemeja taktisnya sedikit kotor, lengannya digulung asal, dan rambutnya berantakan oleh angin malam. Namun, di mata Amanda, monster itu entah bagaimana terlihat begitu memukau dalam sisi gelapnya.
Di belakang Aldebaran, Dante menyeret seorang wanita tua yang meronta lemah.
"Bawa dia masuk," perintah Aldebaran datar, suaranya memecah keheningan absolut di ruangan itu.
Dante melepaskan cengkeramannya. Tubuh renta itu langsung jatuh berdebum, berlutut di atas lantai marmer yang dingin.
Amanda menahan napas. Matanya menatap nanar sosok di bawah sana. Itu ibunya. Sofie Millen. Wanita yang selalu tampil angkuh dengan setelan rapi dan rambut sasak sempurna itu kini tampak begitu menyedihkan. Pakaiannya kotor, wajahnya pucat pasi bagai mayat hidup, dan matanya memancarkan kengerian mutlak setelah menyaksikan pembantaian puluhan nyawa di depan matanya sendiri.
Saat Sofie mendongak dan matanya menangkap sosok Amanda, sepercik harapan yang putus asa langsung menyala di manik tuanya.
"A-Amanda..." Suara Sofie keluar berupa parauan yang menyedihkan. Ia merangkak maju dengan tangan bergetar, berusaha menggapai ujung gaun putrinya. "Amanda, Nak... tolong Ibu. Pria-pria itu... mereka iblis! Mereka membunuh semua orang! Bawa Ibu pergi dari sini, Nak. Tolong Ibu..."
Langkah Sofie terhenti seketika saat ujung sepatu bot Aldebaran menghalangi jalannya. Sang Raja Iblis menatap wanita tua itu dengan kilat mata merendahkan, layaknya menatap lalat yang siap ia injak.
Namun, bukan Aldebaran yang membuat hati Sofie mencelos, melainkan tatapan Amanda.
Tidak ada air mata di wajah cantik itu. Tidak ada isak tangis rindu atau kepanikan layaknya seorang anak yang baru saja melihat ibunya diculik. Amanda berdiri di sana dengan postur setegak ratu, memandang ibunya dengan sepasang mata yang sedingin dan sekosong gletser di kutub utara.
"Bukankah putrimu sudah mati lima tahun yang lalu, Nyonya Millen?"
Suara Amanda mengalun pelan, namun setiap silabelnya setajam silet yang menyayat udara.
Sofie membeku. Mulutnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Kalimat kejam yang pernah ia lontarkan sendiri di depan pintu rumahnya kini berbalik menghantam wajahnya.
"Amanda... j-jangan begitu, Sayang," isak Sofie, air mata penyesalan palsu yang didorong oleh ketakutan mulai menetes membasahi pipi keriputnya. "Ibu tahu Ibu salah. Ibu emosi waktu itu. Tapi kau darah dagingku. Ibu yang melahirkanmu. Kau tidak mungkin membiarkan mereka menyakiti Ibumu sendiri, kan? Ingat Lily... neneknya sangat ingin—"
"Jangan pernah berani menyebut nama putriku dengan mulut kotormu," potong Amanda cepat. Nadanya tidak tinggi, namun penekanan di setiap katanya memancarkan otoritas mutlak yang bahkan membuat Dante di sudut ruangan tanpa sadar menahan napas.
Amanda melangkah maju, menunduk menatap wanita yang pernah ia anggap sebagai pusat dunianya itu. Hatinya, yang selama bertahun-tahun selalu mendamba pelukan seorang ibu, kini telah benar-benar mati rasa. Ruang pemaafan itu telah dikunci rapat, dan kuncinya telah ia buang ke dasar samudra.
"Di mana kau saat aku hancur, Bu?" bisik Amanda pilu, namun matanya tetap kering. "Di mana kau saat Felix membuangku? Di mana kau saat perutku membesar sendirian, saat aku harus bekerja paruh waktu dengan kaki bengkak demi membeli susu untuk Lily? Di mana kau saat dunia menghinaku dan aku menangis mengemis di depan pintumu di tengah hujan lebat?"
Sofie hanya bisa menunduk, bahunya bergetar hebat diiringi isak tangis yang memalukan.
"Kau menutup pintu itu," lanjut Amanda, suaranya kini berubah menjadi bisikan sedingin es. "Kau membuangku seperti sampah. Kau mengabaikanku saat aku paling membutuhkanmu. Dan sekarang, saat kematian menatap tepat di depan matamu, kau tiba-tiba mengingat bahwa kau memiliki seorang putri? Terlambat. Aku sudah tidak memiliki ruang di hatiku untuk mengampunimu."
Aldebaran, yang sedari tadi berdiri diam mengamati, perlahan menyeringai. Sebuah senyum gelap yang penuh dengan rasa bangga dan kepemilikan yang gila. Pria itu melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang punggung Amanda. Lengan kokohnya yang masih menyisakan aroma malam berdarah itu melingkar posesif di pinggang ramping Amanda, menarik tubuh wanita itu hingga bersandar pada dada bidangnya.
"Kau dengar Ratu-ku, Nyonya Tua?" bisik Aldebaran kejam, mengusap pelan perut rata Amanda dari luar gaunnya, memberikan dukungan absolut tanpa suara. Sang mafia menundukkan kepalanya, meletakkan dagunya di bahu Amanda. "Satu kata darimu, Sayang, dan Dante akan memastikan jantung wanita ini berhenti berdetak detik ini juga. Apa yang ingin kau lakukan padanya?"
Sofie menjerit tertahan, menangkupkan kedua tangan memohon ampun pada putrinya.
Amanda memejamkan mata sejenak, meresapi kehangatan dan perlindungan mutlak yang diberikan oleh monster di belakangnya ini. Sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri.
Saat matanya kembali terbuka, tidak ada keraguan di sana.
"Tidak, Aldebaran. Membunuhnya terlalu mudah. Kematian adalah sebuah kedamaian," ucap Amanda tenang. Ia menoleh sedikit, menatap langsung ke dalam manik kelam Aldebaran. "Aku ingin kau membawanya pergi."
Aldebaran mengangkat sebelah alisnya. "Pergi?"
"Ya. Bawa dia pergi sangat jauh dari kota ini. Jauh dari kehidupanku, dan jauh dari Lily," perintah Amanda dengan nada final. Ia kembali menatap ibunya yang kini menatapnya tak percaya. "Pastikan dia hidup. Berikan dia tempat tinggal terasing di mana dia tidak mengenal siapa pun. Jangan biarkan dia memiliki akses untuk kembali, dan jangan biarkan dia menyentuh sepeser pun uang dari klan ini."
Amanda berlutut agar wajahnya sejajar dengan Sofie, menatap lurus ke dalam mata ibunya untuk yang terakhir kali.
"Biarkan dia hidup panjang umur, Aldebaran," bisik Amanda tepat di depan wajah Sofie. "Biarkan dia menghabiskan sisa napasnya di usia tuanya sendirian... mengingat apa yang telah dia buang, dan menyadari kebahagiaan luar biasa yang tak akan pernah bisa ia sentuh lagi seumur hidupnya. Biarkan penyesalan menjadi teman tidurnya setiap malam, sampai dia membusuk."
Sofie mematung. Hukuman itu jauh lebih mengerikan, jauh lebih menyiksa daripada sebutir peluru di kepala. Mengetahui bahwa putrinya kini adalah Ratu dari kerajaan tak terbatas, dan cucunya adalah pewaris takhta, namun ia tidak akan pernah bisa mencicipi keagungan itu karena kebodohannya sendiri. Rasa sesal yang teramat dahsyat seketika menghantam dada wanita tua itu hingga napasnya tersengal.
"Amanda... tidak... kumohon... jangan buang Ibu...!" raung Sofie histeris saat Dante melangkah maju, mencengkeram kasar kedua lengannya dan menariknya paksa untuk berdiri.
"Bawa dia pergi. Buat dia menghilang dari pandanganku malam ini juga," titah Aldebaran pada Dante.
Dante mengangguk kaku. Tanpa mempedulikan raungan dan tangisan memilukan Sofie yang menggema ke seluruh penjuru lorong, tangan kanan Aldebaran itu menyeret wanita tua tersebut keluar dari ruangan, hingga akhirnya suara pintu utama mansion tertutup rapat. Memutuskan ikatan darah itu untuk selamanya.
Keheningan kembali turun, menyelimuti ruangan yang kini terasa jauh lebih melegakan.
Amanda menghela napas panjang yang sedikit bergetar, seolah beban seberat tonase batu baru saja terangkat dari pundaknya. Lututnya terasa lemas. Namun, sebelum tubuhnya sempat goyah, lengan Aldebaran mempererat pelukannya.
Sang Raja Iblis memutar tubuh Amanda dengan lembut namun posesif, memaksanya menghadap dada bidangnya. Tangan besar Aldebaran terangkat, menangkup wajah pucat wanitanya, ibu jarinya membelai tulang pipi Amanda dengan kelembutan yang sangat kontradiktif dengan sifat pembunuhnya.
"Kau menakjubkan, Moya Tsaritza (Ratuku)," gumam Aldebaran dengan suara parau yang sarat akan obsesi gila. Mata kelamnya berkilat memuja, menelusuri setiap inci wajah Amanda seolah wanita itu adalah karya seni paling mematikan yang pernah diciptakan Tuhan. "Sikap dinginmu tadi... caramu menjatuhkan hukuman tanpa mengotori tanganmu sendiri... kau benar-benar terlahir untuk duduk di singgasana bersamaku."
Amanda mendongak. Untuk pertama kalinya, ia tidak memberontak. Ia tidak mencoba mendorong dada pria itu menjauh. Rasa lelah, ditambah kesadaran bahwa monster gila di hadapannya inilah satu-satunya pria yang benar-benar pasang badan untuk melindunginya, membuat dinding pertahanan terakhir Amanda retak.
"Kau gila," bisik Amanda pelan, walau matanya tak bisa lepas dari pesona mematikan sang mafia.
Aldebaran terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dasar dadanya. "Mungkin. Dan kau akan menikahi pria gila ini minggu depan, Sayang. Tanpa penolakan, tanpa pelarian."
Kali ini, Aldebaran menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lambat, menuntut, dan luar biasa posesif. Amanda memejamkan mata, membiarkan dirinya ditarik jatuh semakin dalam ke dalam pesona gelap Aldebaran Hendrick. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah lagi mengenal kata damai, namun setidaknya... ia tidak akan pernah berjuang sendirian lagi.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭