Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan dengan Sekte Pedang Awan! Langkah Pertama Menuju Dunia Luas
Halaman Penginapan Kota Awan Agung — Pagi Hari
Pagi menyelimuti Kota Awan Agung dengan sapuan cahaya keemasan yang hangat.
Di halaman penginapan tempat rombongan singgah, para murid Sekte Pedang Awan tampak sibuk berkumpul. Gerobak-gerobak perdagangan berjajar rapi di depan gerbang, sementara para pengawal memeriksa peti-peti barang terakhir yang akan dibawa pulang ke wilayah Qinghe.
Misi pengawalan dan perdagangan mereka telah resmi tuntas.
Selama beberapa hari terakhir, rombongan sukses mendistribusikan bahan spiritual, bertransaksi dengan balai perdagangan lokal, serta membeli pasokan logistik penting untuk sekte. Usai pemeriksaan akhir, tugas mereka hanyalah menyerahkan dokumen transaksi lengkap kepada Tetua Xu Jian sebelum kembali ke markas.
Namun, Lu Mingseng memiliki jalur masa depan yang berbeda.
Ia berdiri agak menyendiri dari kerumunan, mengenakan jubah hitam sederhana dengan topeng separuh wajah yang melekat tegas menutupi bekas lukanya. Di balik ketenangannya, ia telah membulatkan tekad mutlak.
Ia hendak mengundurkan diri dan meninggalkan Sekte Pedang Awan.
Bukan karena ia menaruh benci pada seluruh penghuni sekte. Han Qingshan dulu memberinya suaka saat ia terbuang tanpa arah; Ma Zhen mengajirinya disiplin bertempur; dan beberapa rekan lain memperlakukannya wajar.
Namun Mingseng sadar betul, ia tak bisa selamanya bernaung di balik sayap sekte kecil.
Dunia di luar sana terlampau luas untuk dijelajahi. Tabir misteri di balik warisan spiritualnya terlalu dalam untuk dipecahkan jika ia terus terkurung di satu tempat. Terlebih, kekuatan aslinya yang telah menembus Pembukaan Meridian Tahap Awal membutuhkan ruang uji coba tanpa pengawasan ketat para tetua.
"Jadi, kau benar-benar memilih pergi setelah misi ini usai?" suara Tetua Xu Jian tiba-tiba terdengar di belakangnya.
Mingseng berbalik dan membungkuk hormat. "Ya, Tetua."
Xu Jian mengamati pemuda bertopeng itu lekat-lekat. "Kau baru saja masuk sekte. Biasanya murid baru akan mengeruk sumber daya sebanyak mungkin sebelum berpikir keluar."
"Saya memang butuh sumber daya, Tetua," jawab Mingseng tenang. "Tapi saya tidak ingin membuang waktu bertahun-tahun hanya untuk menunggu kesempatan."
Xu Jian mengangguk pelan, memahami sorot mata penuh ketetapan hati di balik topeng hitam itu. "Ingat, di luar wilayah Qinghe, nama Sekte Pedang Awan takkan bisa melindungimu. Ada klan raksasa dan sekte iblis yang menganggap nyawa manusia tak lebih berharga dari sebutir batu spiritual."
"Saya akan mengingatnya."
"Bagus. Uruslah administrasi pengunduran dirimu secara resmi dengan bersih. Jangan pergi meninggalkan noda atau masalah hukum dengan sekte."
***
Menjelang siang, seluruh dokumen logistik rombongan diserahkan kepada pengurus cabang Sekte Pedang Awan di kota.
Xu Jian mengumpulkan para murid dan mengumumkan jadwal kepulangan esok pagi. Ketika tiba giliran Mingseng melangkah ke depan, ia berkata dengan suara tegas, "Tetua, saya ingin mengajukan permohonan untuk tidak ikut kembali ke wilayah Qinghe."
Suasana sekitar mendadak hening. Zhao Feng—murid senior yang tak menyukainya—langsung menyahut sinis, "Hah? Jangan bilang kau mau membelot dari sekte, Mingseng?"
Mingseng mengabaikan Zhao Feng sepenuhnya, sementara Xu Jian mengangguk singkat. "Ikuti aku ke ruang administrasi cabang."
Di dalam ruang arsip batu giok lantai utara, seorang pengurus tua memeriksa lembaran data Mingseng.
"Lu Mingseng, status murid kandidat luar. Apakah kau mengajukan keluar secara sukarela?"
"Benar, Senior."
"Apakah ada sengketa atau membawa kabur pusaka sekte?"
"Tidak ada."
Pengurus tua itu mengetukkan stempel spiritual pada dokumen di atas meja. Syuuung... Gulungan kertas itu memancarkan cahaya redup, menandakan ikatan administratif Mingseng dengan Sekte Pedang Awan resmi putus tanpa sisa.
Mingseng tidak membawa teknik terlarang, tidak merampas aset sekte, dan menerima sisa poin kontribusinya secara sah.
Ketika ia melangkah keluar dari ruangan itu, tidak ada upacara perpisahan meriah. Ia hanyalah seorang pemuda bertopeng yang meninggalkan sebuah sekte kecil di pinggiran peradaban. Namun bagi Mingseng, langkah kecil ini adalah awal dari kebebasan sejatinya.
Dulu, ia diusir paksa oleh Keluarga Lu dengan tubuh penuh luka di bawah guyuran hujan.
Kini, ia melangkah pergi atas kehendak dan pilihan tangannya sendiri.
**
Sore harinya, saat Mingseng melangkah melintasi alun-alun kota untuk mengemasi sisa perbekalannya, sebuah suara angkuh menghentikan langkahnya.
"Jadi, kau benar-benar sudah mendepak dirimu dari sekte kecil itu, ya?"
Mingseng menoleh.
Fang Zhenyu—pemuda angkuh dari Keluarga Fang yang kemarin kalah bersaing di rumah lelang—berdiri menyilang tangan diiringi dua pengawal ber-aura Fondasi Spiritual.
Fang Zhenyu tersenyum meremehkan. "Aku sudah menyuruh orang menyelidikimu. Ternyata kau cuma mantan murid buangan dari sekte murahan."
Mingseng menatapnya datar di balik celah topeng. "Kau menghabiskan waktu hanya untuk mencari tahu statusku?"
Wajah Fang Zhenyu menegang jengkel. "Jangan sombong! Aku belum lupa bagaimana kau mempermalukanku di depan umum."
"Kalau begitu, cobalah belajar untuk melupakannya."
Pengawal di belakang Fang Zhenyu melangkah maju, namun Fang Zhenyu mengangkat tangan menahannya. Ia menatap Mingseng penuh ancaman. "Dengar, anak bertopeng. Kota Awan Agung punya aturan rimba. Orang asing tanpa backing klan besar sebaiknya tahu diri dan sujud di hadapanku!"
Mingseng terdiam sejenak, menghela napas pendek, lalu membalas dengan nada dingin tanpa gentar: "Aku tidak pernah mencari masalah denganmu, Fang Zhenyu. Tapi jika kau terus-menerus mengganggu jalanku, jangan berharap aku akan bersikap ramah."
Tekanan aura dingin yang terpancar tiba-tiba dari tubuh Mingseng membuat Fang Zhenyu seketika membeku. Pemuda bangsawan itu tertegun, merasakan hawa kematian samar yang mencengkeram tenggorokannya.
"K-kita lihat saja nanti!" tukas Fang Zhenyu salah tingkah, lalu bergegas pergi bersama pengawalnya untuk menutupi rasa malunya.
***
Malam tiba dengan cepat. Di kamar penginapan barunya yang tersembunyi, Mingseng duduk bermeditasi merapikan barang bawaannya.
Namun tepat saat ia memejamkan mata, lempengan tablet hitam di dalam ruang kesadarannya tiba-tiba memancarkan pendar cahaya merah pekat.
Simbol misterius—lingkaran yang terbelah garis tegak dengan tiga titik kecil—muncul kembali.
Kali ini, simbol itu tidak sekadar berkelebat lalu padam. Pendar tersebut memanjang membentuk garis tipis lurus yang menunjuk tajam ke satu arah mata angin: Utara.
Mingseng membuka matanya, lalu membentangkan peta geografis besar di atas meja kayu.
Garis petunjuk dari tablet itu melintasi jalur pegunungan terjal di sebelah utara Kota Awan Agung, melewati zona liar yang jarang dijamah manusia, hingga berhenti pada sebuah lokasi bernama: Reruntuhan Gerbang Sunyi.
Nama itu tertulis kecil di sudut utara peta, disertai tanda peringatan bahaya kuno.
Di dalam batinnya, ketiga guru kuno terdiam dalam kebingungan mengamati reaksi tablet tersebut. Tak satupun dari mereka yang mengenali lokasi Reruntuhan Gerbang Sunyi.
Mingseng mengepalkan tangannya perlahan. Ia tahu rute ke utara itu penuh dengan marabahaya mematikan. Namun di sanalah petunjuk terkuat dari takdir warisannya bermula.
"Biar kuperiksa seberapa besar rahasia yang kaukubur di sana," gumam Mingseng tegas pada tablet hitam di hadapannya.
Ia melipat petanya, mengenakan kembali jubah serta topeng hitamnya, siap menyongsong lembaran babak baru kehidupan di dunia luas.
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳