"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
Vandra terdiam. Wajahnya terasa panas meskipun tidak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa melihatnya. "Aku cuma..."
Ratih terkekeh. "Kenapa? Rindu?"
"Bu."
"Atau jangan-jangan..." Ratih sengaja berhenti sejenak. "...kamu mulai menyesal sudah mengajaknya bercerai?"
Vandra langsung membantah. "Enggak."
Ratih tertawa karena mendengar jawaban yang terlalu cepat itu. "Baiklah."
Vandra mengusap tengkuknya. "Ibu jangan macam-macam."
"Ibu gak macam-macam." Ratih tersenyum sambil memandang keluar jendela. "Yang jelas, Via sekarang baik-baik saja."
Vandra diam.
"Dia juga sibuk."
"Sibuk apa?"
Ratih sengaja menjawab singkat. "Macam-macam."
Vandra mengernyit. "Macam-macam?"
"Iya." Ratih tidak menjelaskan lebih jauh.
Ia tidak mengatakan tentang usaha fashion yang sedang dibangun Levia. Tidak mengatakan bahwa menantunya semakin dekat dengannya. Tidak mengatakan bahwa Levia sekarang aktif mengikuti kegiatan Persit. Biarlah Vandra menemukan semuanya sendiri ketika pulang nanti.
"Sudah, Van. Kamu istirahat. Di sana pasti sudah malam."
"Iya, Bu."
Vandra hendak mengakhiri panggilan.
Namun sebelum itu, Ratih berkata, "Van."
"Hm?"
"Kadang-kadang seseorang baru terasa penting setelah kita terbiasa hidup tanpa kehadirannya."
Vandra terdiam.
Ratih tersenyum tipis. "Sudah. Ibu gak mau ceramah."
Panggilan berakhir.
Vandra masih menatap layar ponselnya. Kata-kata ibunya terus terngiang. Via sekarang baik-baik saja. Dia juga sibuk. Entah kenapa, dua kalimat sederhana itu justru membuat pikirannya semakin penuh.
Ia kembali berbaring. Namun kali ini, yang membuatnya sulit tidur bukan lagi tugas di Lebanon. Melainkan satu wanita di Indonesia yang ternyata sudah mulai menjalani hidup tanpa dirinya.
***
Rumah Bram Gultom, sore menjelang petang. Ruangan kosong di belakang rumah yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan kini sudah berubah menjadi ruang latihan sederhana.
Samsak tergantung di salah satu sudut. Beberapa dumbbell dan peralatan olahraga Levia tersusun rapi di sisi ruangan.
Gultom masuk mengenakan kaus dan celana olahraga. Ia melihat Levia sudah berada di tengah ruangan. "Siap?"
Levia mengangguk. "Siap."
Gultom berdiri beberapa langkah di depannya. "Kalau begitu, Ayah ajari dari dasar."
Levia menurut.
Gultom mulai menunjukkan posisi kaki dan cara menjaga keseimbangan. "Kaki jangan terlalu rapat. Berat badan harus seimbang."
Levia mengikuti.
"Lalu tangan." Gultom mengangkat kedua tangannya. "Jaga bagian wajah. Jangan membuka pertahanan."
Levia kembali mengikuti gerakannya.
Gultom mengangguk puas. "Bagus."
Kemudian ia memperagakan satu gerakan sederhana. "Kalau lawan menyerang dari depan, kamu bisa menghindar seperti ini."
Levia memerhatikan dengan saksama..Begitu Gultom selesai, ia meminta Levia mencobanya.
Levia menarik napas, kemudian tubuhnya bergerak. Satu langkah ke samping, putaran kecil pada pinggang, tangan naik melindungi wajah. Lalu tubuhnya kembali ke posisi semula dengan gerakan yang begitu cepat dan seimbang.
Gultom membeku.
Levia sendiri tidak menyadari perubahan ekspresi ayahnya. "Begini?"
Gultom berkedip. "Iya..." Suaranya terdengar lebih pelan.
Levia menunggu instruksi berikutnya. Gultom kemudian memperagakan gerakan lain. Kali ini lebih rumit. Namun Levia kembali mengikutinya dengan cukup mudah.
Gultom terdiam beberapa detik. "Via."
"Hm?"
"Kamu yakin cuma belajar dari YouTube?"
Levia langsung tertawa kecil. "Ya... kira-kira."
"Kira-kira?"
Levia mengusap tengkuknya. "Kadang aku juga lihat beberapa video lain."
Gultom menyipitkan mata. "Berapa banyak?"
Levia berpikir sebentar. "Entahlah."
"Seminggu?"
Levia menggeleng.
"Sebulan?"
Levia kembali menggeleng.
Gultom semakin curiga. "Terus?"
Levia akhirnya tersenyum canggung. "Pokoknya cukup sering."
Gultom menatap putrinya beberapa detik. Ia tidak tahu kenapa, tetapi gerakan Levia tadi sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang baru belajar dari video.
Ada keseimbangan, ada refleks. Dan yang paling aneh, beberapa gerakan tadi seolah keluar secara otomatis dari tubuhnya. Seakan-akan tubuh itu sudah mengenalnya sejak lama. Namun Gultom tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil.
"Kalau begitu, ternyata Ayah punya murid yang lumayan berbakat."
Levia tertawa. "Berarti aku hebat?"
"Jangan besar kepala."
"Yah!"
Gultom terkekeh.."Kalau memang mau belajar, nanti Ayah ajari pelan-pelan."
Levia mengangguk penuh semangat. "Siap!"
"Dan jangan cuma belajar dari internet."
"Kenapa?"
"Karena internet gak bisa memukul balik kalau kamu salah gerakan."
Levia langsung tertawa. "Baiklah. Berarti aku belajar langsung dari Ayah."
Gultom tersenyum. "Begitu lebih baik."
Mereka kembali mengambil posisi. Kali ini Gultom tidak lagi memandang Levia seperti anak perempuan yang perlu diajari dari awal. Ada rasa penasaran yang perlahan muncul dalam benaknya.
Selama enam bulan terakhir, ia memang melihat banyak perubahan pada putrinya. Cara berbicara, berpikir, menjaga diri, maupun cara memperlakukan orang lain.
Dan sekarang... kemampuan bela diri.
Gultom tidak tahu dari mana semua perubahan itu berasal. Namun untuk saat ini, ia memilih tidak bertanya. Selama putrinya sehat, bahagia, dan mulai menikmati hidupnya sendiri, itu sudah lebih dari cukup.
"Siap, Via?"
Levia memasang posisi. "Siap, Yah."
Gultom tersenyum. "Kalau begitu, kita mulai lagi."
Dari luar ruangan, tanpa mereka sadari, Ninis yang baru saja melewati halaman sempat berhenti. Tatapannya tertuju ke dalam. Ia melihat Gultom dan Levia berlatih bersama. Ayah dan anak itu tertawa. Levia bahkan terlihat begitu bersemangat.
Ninis mengepalkan tangannya. Enam bulan lalu, ia masih mengira perubahan Levia hanya sementara. Namun sekarang...
Levia memiliki perusahaan. Memiliki tubuh yang semakin sehat. Memiliki kemampuan baru. Dan yang paling membuat Ninis tidak nyaman, hubungannya dengan Gultom justru semakin dekat.
Ninis memerhatikan mereka beberapa detik sebelum akhirnya berjalan pergi. Raut wajahnya mengeras.
Levia yang dulu ia kenal sudah benar-benar menghilang. Dan semakin lama perubahan itu berlangsung, semakin kecil pula ruang yang tersisa bagi Ninis di rumah tersebut.
...✨“Ketika seseorang mulai mengenal dirinya, mengejar impiannya, dan menghargai hidupnya, ia tidak lagi membutuhkan pengakuan dari mereka yang dulu mengabaikannya.”...
...“Jarak tidak selalu memisahkan. Terkadang, jarak justru memberi kesempatan bagi seseorang untuk menyadari arti kehadiran yang dulu ia anggap biasa.”✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄