NovelToon NovelToon
Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:44.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”

Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.

Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.

Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.

​Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

Keesokan paginya, Nakula sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya. Tas ransel lusuh dengan warna yang mulai pudar tampak tergantung di bahunya yang kecil.

Ia berjalan pelan dan hati-hati menuju ruang makan utama.

Di sana, Ratna, Wina dan Damar sudah lebih dulu duduk menikmati sarapan mewah yang tersaji di atas meja. Aroma harum roti panggang, omelet mentega, sup krim kental dan susu hangat menguar memenuhi ruangan.

Nakula menelan ludah dengan susah payah. Perutnya terasa sangat lapar karena ia belum menyentuh makanan apa pun sejak semalam. Seorang pelayan yang melihat kedatangannya buru-buru mengambil piring bersih, berniat menyajikan sepiring sarapan layak untuk bocah itu.

Namun...

"Berhenti di situ," suara dingin Wina membuat langkah pelayan tersebut langsung terhenti

"Jangan ambil makanan baru untuknya," lanjut Wina tajam.

Pelayan itu tampak kebingungan dan serba salah. "Tapi, Nyonya, tuan muda Nakula belum makan sejak semalam."

"Aku bilang jangan, ya jangan!" bentak Wina tak suka. Ia menunjuk sebuah mangkuk kecil di sudut meja. "Berikan saja sisa semalam itu."

Pelayan menatap mangkuk tersebut dengan ragu dan iba. Di dalam mangkuk plastik usang itu hanya ada nasi sisa kemarin malam dengan lauk kering yang sudah dingin membeku, bahkan kuahnya mulai mengental seperti jeli. Sayangnya, tak ada satu pun pelayan yang berani membantah perintah Wina di rumah ini. Pelayan itu akhirnya meletakkan mangkuk makanan dingin tersebut di hadapan Nakula.

Damar langsung menyeringai mengejek. "Nah, makanan basi begitu baru cocok buat anak pembawa sial sepertimu."

Ratna ikut menimpali sambil menyeruput tehnya.

"Syukuri saja masih diberi makan, tidak usah banyak menuntut."

Nakula hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Tangannya yang kecil mengepal erat di bawah meja. Perutnya berkeroncongan hebat karena kelaparan. Kalau ia tidak memakan makanan dingin itu, ia terpaksa harus menahan lapar hingga siang hari di sekolah.

Sebab selama ini, tak pernah ada uang saku yang diberikan kepadanya. Tak ada bekal makanan sehat. Bahkan sebotol air putih pun tak pernah disiapkan untuknya. Setiap hari ia selalu berangkat ke sekolah dengan perut kosong melompong.

Perlahan, Nakula meraih sendok plastik kecil.

"Jangan dimakan, Nakula!"

Suara lantang seorang wanita memenuhi ruang makan.

Semua kepala langsung menoleh dengan wajah terkejut. Arunika berdiri di ambang pintu dengan sorot matanya bagaikan bilah pisau yang siap mencincang siapa saja. Lalu mendekat dan menggebrak meja makan.

Brak!

Arunika menyambar mangkuk menjijikkan itu dan membantingnya kembali ke atas meja hingga isinya terciprat.

"Siapa yang berani menyiapkan makanan seperti ini untuk putraku?!" tanya Arunika sinis.

Suasana ruang makan mendadak sunyi. Para pelayan saling berpandangan dengan tubuh gemetar ketakutan. Tak satu pun berani membuka suara.

"Aku bertanya sekali lagi pada kalian, siapa yang menyiapkan ini?" bentaknya.

Semua pelayan kompak menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipis mereka.

"Bagus. Kalau kalian semua bungkam, berarti kalian ingin kupecat detik ini juga dari rumah ini?" ancam Arunika.

"Berani sekali kau!"

Ratna memukul meja makan dengan telapak tangannya hingga gelas-gelas kristal bergetar. Wanita tua itu berdiri dengan mata melotot.

"Siapa kau lancang sekali berani mengancam pelayan di rumah ini, hah?! Bahkan Arjuna yang membayar gaji mereka, bukan kau!"

Arunika menoleh perlahan. Tatapannya sama sekali tidak gentar, justru semakin menajam dan menghujam manik mata sang ibu mertua.

"Kalau memang suamiku yang menggaji mereka, kenapa Ibu Mertua juga merasa paling berhak memerintah mereka dengan keji?"

Ratna tertegun, lidahnya kelu seketika. "Kau!"

"Kalau alasannya karena Ibu Martua tinggal di rumah ini, perlu diingat, aku juga istri sah yang tinggal di sini," ucap Arunika tanpa memberi celah. "Dan kalau alasannya karena status, aku adalah Nyonya besar di rumah ini. Jadi, jangan coba pilih-pilih aturan hanya karena yang menjalankannya bukan orang yang Ibu Martua sukai."

Wajah Ratna memerah padam menahan amarah yang hampir meledak. Sementara para pelayan hanya bisa saling melirik takjub, seumur hidup mereka, baru kali ini ada orang yang berani membalas ucapan Ratna telak tanpa ampun.

Arunika kembali mengalihkan pandangannya pada para pelayan. "Mulai hari ini, detik ini juga! Selama aku bernapas di rumah ini, tidak boleh ada satu pun orang yang menyajikan makanan sisa atau basi untuk anakku. Siapa pun yang berani melanggar, akan berurusan langsung denganku. Paham?!"

"Paham, Nyonya!" jawab para pelayan serentak dengan gemetar.

Tak lama kemudian, seorang pelayan senior buru-buru berlari ke arah dapur, menyiapkan sepiring sarapan hangat yang baru dan bergizi.

Melihat situasi itu, Damar mendecak kesal penuh amarah anak manja.

"Huh! Dasar sok jadi ibu pahlawan kesiangan!" Ia berdiri kasar dari kursinya. "Aku mau berangkat sekolah!"

Damar menyambar tas sekolah mahalnya, lalu berteriak, "Pak Surya!"

Seorang sopir pribadi bergegas masuk. "Siap, Tuan Muda Damar."

"Ayo antar aku sekarang."

"Baik, Tuan Muda."

Arunika langsung mengangkat satu tangannya, menghentikan langkah mereka berdua. "Tunggu dulu!"

Damar menoleh dengan tatapan ketus. "Apa lagi sih, perempuan gendut?!"

Arunika menunjuk ke arah Nakula dengan dagunya. "Kalau Damar diantar mobil mewah bersama sopir pribadi, lalu bagaimana dengan Nakula?"

Pak Surya sang sopir tampak salah tingkah, menunduk kikuk. "Ehm... Tuan muda Nakula biasanya berangkat naik ojek pangkalan, Nyonya."

"Ojek?" Suara Arunika meninggi seketika. Matanya membelalak sempurna, membendung amarah yang mendidih. "Anak kandung seorang Jenderal bintang dua berangkat sekolah sendirian naik ojek online?"

Pak Surya semakin menunduk takut. "Itu sudah menjadi aturan dan perintah dari nyonya Wina sejak dulu."

Arunika menoleh perlahan ke arah Wina. Senyum sinis terukir di bibirnya, namun sorot matanya menyimpan badai es.

"Jadi, putramu setiap hari diantar jemput pakai mobil mewah dengan fasilitas lengkap. Sedangkan putra suamiku, yang notabene adalah ahli waris sah keluarga besar Wiratama harus merana pergi sendiri naik ojek dengan perut kosong?" tanya Arunika pada Wina.

Tidak ada yang berani menjawab.

Arunika berjalan mendekat, lalu menggenggam jemari kecil Nakula yang terasa dingin. Ia menatap nyalang ke arah Wina dan Ratna tanpa rasa takut sedikit pun.

"Lepas seragam sekolahmu kalau memang harus, Nakula. Tapi mulai hari ini..." Arunika menatap tajam para anggota keluarga yang terpaku di hadapannya, "...putraku tidak akan pernah lagi diperlakukan layaknya anak buangan di rumah ayahnya sendiri!"

Wajah Wina dan Ratna berubah pucat pasi. Wanita yang selama ini mereka remehkan sebagai menantu gendut dan lemah ternyata adalah singa betina paling berbahaya yang siap merobek siapa saja yang menyakiti anaknya.

1
Muft Smoker
duuuh gx expect ma ekspresi ny trio gx tau diri ,,
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget
nining cahyaningrum
/Drool//Drool/
Ita rahmawati
denger GK tuh kalian
Ita rahmawati
iya iya percaya,,hanya karena kasian aja kan 🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😫😫😅😅😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣🤣giod
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😅😅😅😀😀😌😌😫😫😫😫
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bunda SalVa
dari kasihan lama2 jadi bucin ya Jun 🤭🤭
Sri Rahayu
hahaha. bu Ratna....senjata makan tuan.... bukan Arunika yg hrs makan didapur...tp Ratna Wina dan Damar 🤩🤩🤩🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Bunda SalVa
empuk banget kayak donat ya Nakula 😄😄
dyah EkaPratiwi
🤣🤣🤣🤣 arunika😍
Endang Sulistiyowati
senjata makan tuan, rasain tuh. Arunika di lawan
Mundri Astuti
ampun dah si arunika jangan keluarin bar"nya klo di kamar arun😂😂😂
Maria Lina
bagus juna jgn ngalah lgi ok..lanju lgi thor ya ya
dyah EkaPratiwi
gengsinya gede amat jendral
Mundri Astuti
😂😂😂
Sri Rahayu
walah Jendral ga usah malu2 gengsi ngakuin mulai tertarik dgn Arunika... pura2 hanya merasa kasihan 🤪🤪🤪🤩🤩🤩... lanjut Thorf😘😘😘
Endang Sulistiyowati
Rasa kasian yang di tumbuhi bunga2 cinta 🤭
Maria Lina
dsr sunderu li arjuna tar jatuh cintro lo wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!