Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Menyusun Rencana
Di rumah sakit, Salsabila senang karena Arkana sudah pergi dan ia bisa mulai menjalankan rencananya. Setelah Adnan memberitahunya bahwa dua hari lagi anaknya boleh pulang, ia mulai memutar otak memikirkan cara kabur dari mafia itu. Pria itu bukan contoh yang baik untuk anaknya. Arkana tak tahu bahwa ia sudah membongkar jati dirinya. Salsabila tak percaya dongeng bahwa si pengusaha membayar penjahat seperti Sang Iblis hanya untuk melacaknya. Ia tahu rahasia pria itu, dan ia akan melakukan apa pun untuk menjauhkannya dari kehidupan anaknya yang cantik.
Yang pertama harus ia lakukan adalah menelepon ayahnya. Ayahnya akan jadi tiket keluar dari situasi mengerikan ini. Ia tak tertarik pada Arkana, baik sebagai pria maupun sebagai teman. Ia menyimpan kebencian mendalam padanya karena telah menimbulkan begitu banyak luka dalam hidupnya. Andai pria itu tak memerkosanya, ayahnya takkan pergi merantau, sahabatnya masih ada di sisinya, dan siapa tahu ia mungkin sudah berakhir dengan Devan. Tapi begitulah hidup, dan bila lagi-lagi ia harus melepaskan semua kesempatan itu, ia akan melakukannya asal bisa selalu memiliki anaknya. Anak itu satu-satunya hal indah yang ia dapat dari seluruh kejadian itu.
"Adnan, sini mendekat. Aku ingin bicara soal sesuatu yang ingin kulakukan," ujar Salsabila.
"Kau aneh sekali. Katakan apa yang berputar di kepalamu itu," sahut dr. Adnan.
"Aku ingin kabur ke luar negeri bersama anakku. Kau tahu Arkana bertekad membuat Alika tinggal bersamanya. Tentu, dia juga berniat membawaku, tapi aku tak mau dekat-dekat dengannya."
"Aku tidak mengerti. Dia ayah anak itu. Selama ini dia tak pernah ada dalam hidup Alika. Sekarang dia ingin menebus waktu yang hilang. Kalian berdua pantas mendapatkannya."
"Dia bukan contoh yang baik untuk anakku, dan aku membencinya."
"Aku tak paham kenapa dia bukan contoh yang baik. Dia salah satu pengusaha paling dihormati di seluruh negeri. Perusahaannya nomor satu. Reputasinya tak bercela."
"Sekarang aku tak bisa cerita. Aku hanya butuh bantuanmu."
"Apa dia memukulmu? Apa dia mengancammu?"
"Tentu saja tidak, bukan begitu. Ini soal lain. Kau mau membantuku atau tidak?"
"Baiklah, katakan apa rencanamu."
Salsabila memanfaatkan waktu selagi Alika masih tidur untuk bicara dengan Adnan. Ia memaparkan seluruh rencananya. Adnan menyetujui syarat-syaratnya dan berjanji membantu semampunya. Malam itu berlalu tenang dan Alika berangsur membaik. Keesokan paginya, Arkana menerobos masuk ke kamar, membangunkan keduanya.
"Selamat pagi, cantikku yang manis. Bagaimana perasaanmu?" sapa Arkana.
"Halo, Om, selamat pagi. Om ini dokterku, ya?" tanya Alika.
Sebelum Arkana sempat menjawab, Salsabila sudah mendahuluinya.
"Dia Om, jadi kau harus menghormatinya."
"Hei, kita harus bicara. Aku tak suka yang kaulakukan," ujar Arkana.
"Kau menerobos masuk kamar, membangunkan kami, dan masih juga mau datang menuntut..."
"Cantik, aku dua-duanya. Aku doktermu dan aku Om-mu. Aku harus selalu ada di sisimu untuk menjagamu."
Alika menatap keduanya. Mereka bertengkar di depannya, dan meski masih kecil, ia tidak bodoh. Om itu sangat tampan dan menatap mamanya terus-menerus.
"Aku suka sekali sama Om," ucap Alika.
"Dan Om lebih suka lagi sama kamu. Om bawakan hadiah. Kamu mau lihat sekarang atau nanti?"
"Sekarang, iya, iya, iya! Kasih tahu apa itu."
Alika terpesona pada Arkana. Kata orang, darah selalu memanggil, dan mereka telah menjalin ikatan yang kuat. Di matanya terpancar kebahagiaan, sebab Arkana membawakan banyak hadiah, dan apa yang ia lakukan pada kamar rumah sakitnya sungguh indah.
Arkana mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya ada kalung halus dengan liontin hati yang cantik.
"Ini, buka."
Saat Alika membuka kotak kecil itu, wajahnya kehilangan kata. Ia tak tahu harus berkata atau berbuat apa. Ia anak berusia 3 tahun, hampir 4 tahun, dan bila ada yang memberinya hadiah, ia membayangkan mainan atau permen. Tak pernah terpikir olehnya bahwa itu perhiasan.
"Kamu tidak suka?"
"Kupikir ini permen atau mainan."
"Om sudah tahu kamu akan bilang begitu, makanya Om bawakan satu hadiah lagi. Tapi pertama, Om mau pakaikan kalung ini dulu. Setiap kali kamu merindukan Om, tekan kuat-kuat kalung ini dan buatlah permohonan."
Salsabila berdiri agak jauh dari keduanya sambil mengamati interaksi mereka. Arkana berusaha menjadi ayah yang baik, dan ia berhasil. Salsabila sendiri tak tahu kenapa ia berbohong pada anaknya bahwa Arkana itu Om-nya. Tapi kalau ia bilang bahwa Arkana ayahnya, rencananya akan berantakan, dan ia tak mau itu terjadi.
"Terima kasih, Om baik sekali," ucap Alika.
Arkana merasa hatinya meleleh oleh ucapan putrinya. Anak itu begitu menggemaskan dan lugas saat bicara. Ia mengeluarkan hadiah kedua, sebuah boneka Barbie duyung, dan anak itu langsung jatuh cinta pada boneka barunya.
"Kau tak seharusnya begitu memanjakan anak itu," tegur Salsabila.
"Dia pantas mendapat itu dan lebih banyak lagi. Sekarang pergilah ke kamar mandi, kita punya urusan yang belum selesai."
Salsabila menelan ludah. Ia tahu betul apa yang dimaksud Arkana. Pria itu akan menegurnya karena berbohong pada anaknya, menyebut Arkana Om-nya dan bukan ayahnya.
Kalau ia ingin rencananya berhasil, ia harus lebih ramah pada pria itu.