Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Perang Di Bawah Pohon Keramat
Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Langit Langgur gelap gulita, bulan dan bintang tertutup kabut kuning tebal yang berbau solar. Dari arah jalan utama, cahaya lampu sorot sepuluh truk besar menyorot lurus ke halaman belakang rumah Ara, tepat ke arah pohon mangga raksasa yang daunnya sudah menguning.
Suara gergaji mesin sudah dinyalakan. Suara itu sangat keras, memecah kesunyian malam Langgur. Warga yang tidur lelap langsung terbangun semua.
Ara berlari keluar rumah dengan jaket hitam Revan di badannya dan senter di tangannya. Mama Ino mengikutinya dari belakang dengan wajah panik.
Di halaman belakang, Dion berdiri di atas truk paling depan dengan pengeras suara, memakai helm proyek kuning dan jaket tambang. Di sampingnya, Bapak Simon diikat dengan tali tambang besar, mulutnya dilakban, matanya memar seperti habis dipukul. Di belakang Dion ada sekitar dua puluh orang laki-laki berbadan besar, semuanya membawa gergaji mesin, kapak, dan linggis. Beberapa ada yang membawa senapan angin.
"Halo warga Langgur yang terhormat! Maaf ganggu tidur kalian! Karena kemarin siang pohon sialan ini menelan satu beko saya senilai dua miliar, malam ini saya akan tebang pohon ini dan akan keruk emas di bawahnya! Siapa yang menghalangi akan saya anggap menghalangi proyek nasional dan akan saya laporkan sebagai pengganggu! Bapak Kepala Desa kalian ini sudah setuju jual tanahnya, jadi ini sah!" teriak Dion dengan suara sombong lewat pengeras suara.
Warga Langgur yang sudah berkumpul di halaman belakang rumah Ara berjumlah hampir lima puluh orang, tapi mereka hanya membawa obor bambu dan parang kebun, tidak sebanding dengan gergaji mesin dan senapan angin.
Pak RT Unus maju dengan tongkat kayunya yang bergetar karena marah dan takut. "Dion! Lepaskan Bapak Simon! Jangan tebang pohon keramat kami! Itu penjaga tanah kami! Kalau kamu tebang, Langgur akan tenggelam!"
Dion tertawa keras. "Pohon keramat? Hahaha! Ini cuma pohon mangga besar! Tidak ada keramat-keramat! Gergaji!"
Dua orang anak buahnya yang besar langsung menyalakan gergaji mesin dan berjalan mendekati batang pohon mangga raksasa yang besarnya sudah hampir sebesar rumah. Mata gergaji yang berputar mengeluarkan percikan api ketika menyentuh kulit batang pohon yang keras.
Saat mata gergaji itu menyentuh batang pohon, kejadian aneh terjadi lagi.
Bukannya terpotong, batang pohon itu mengeluarkan darah merah segar yang menyembur deras, seperti semburan air mancur dulu di resort. Darah itu menyembur ke wajah dua orang yang menggergaji, membuat mereka berteriak ketakutan dan jatuh terjungkal. Gergaji mesin mereka jatuh dan mati total.
Darah dari batang pohon itu terus mengalir deras ke tanah, dan dari dalam darah itu terdengar suara jeritan ratusan orang, seperti suara pasar yang ramai tapi isinya jeritan kesakitan.
Dion yang melihat itu wajahnya pucat, tapi dia masih sombong. "Siram bensin! Bakar saja pohonnya!"
Salah satu anak buahnya mengambil jerigen bensin dan menyiramkan ke akar-akar pohon. Dia menyalakan korek api dan melempar ke akar yang basah bensin.
Api langsung menyala besar, melalap akar-akar merah yang ada di permukaan tanah.
Pohon mangga raksasa itu bergetar sangat keras, daun-daun kuningnya rontok semua dalam sekejap. Dari dalam batang pohon yang berdarah, terdengar jeritan yang sangat keras, jeritan perempuan tua.
Ara langsung ingat, itu suara nenek moyang yang kemarin muncul bersama Revan.
"Jangan bakar! Kalian bunuh nenek kami!" teriak Ara sambil berlari ingin memadamkan api dengan ember air, tapi api itu terlalu besar.
Saat api semakin besar dan hampir membakar seluruh batang bawah pohon, tanah di sekitar pohon itu terbelah dengan sangat besar, bukan retakan kecil lagi, tapi lubang besar menganga selebar tiga meter.
Dari dalam lubang besar itu, keluar tangan-tangan pucat yang sangat banyak, ratusan tangan, yang langsung menarik kaki orang-orang yang membawa gergaji dan bensin ke dalam lubang. Orang-orang itu berteriak minta tolong, tapi tangan-tangan pucat itu menarik mereka masuk ke dalam tanah dengan cepat.
Dion melihat anak buahnya ditarik masuk ke dalam tanah satu per satu, dia langsung panik dan lari ke mobil hitamnya ingin kabur, tapi sebelum dia sampai ke mobilnya, dari atas pohon mangga raksasa yang terbakar itu, Revan melompat turun.
Kali ini Revan berbeda. Tubuhnya setengah terbakar api, jaket hitamnya tidak ada karena dipakai Ara, tapi kaos putihnya berlumuran darah dari batang pohon. Matanya merah menyala sangat terang, lebih terang dari sebelumnya, dan di tangannya dia memegang tombak adat Kei yang panjang dan berkarat, tombak yang sama dengan yang dipakai nenek moyang.
Revan mendarat tepat di depan Dion dan menodongkan tombak itu ke leher Dion.
"Kamu bakar rumahku," kata Revan dengan suara yang sangat dalam, bukan suara anak tujuh belas tahun lagi, tapi suara ratusan arwah yang bicara bersamaan.
Dion jatuh berlutut ketakutan, celana panjang hitamnya basah karena mengompol. "Ampun... ampun... jangan bunuh saya... saya cuma mau emasnya..."
Revan menatap Bapak Simon yang masih diikat di atas truk. Dengan satu hentakan tombak ke tanah, tali yang mengikat Bapak Simon putus sendiri.
Bapak Simon langsung lari memeluk kaki Pak RT Unus sambil menangis keras.
Revan kembali menatap Dion. "Emas itu bukan milikmu. Emas itu darah tanah ini. Kalau kamu ambil, tanah ini mati, warga Langgur mati kehausan. Kamu mau warga mati kehausan lagi seperti bayi Bu Ani?"
Dion menggeleng cepat sambil menangis. "Tidak... tidak... saya tidak jadi ambil... saya pulang..."
Tapi sudah terlambat. Akar-akar merah yang tadi terbakar, sekarang tumbuh kembali dengan sangat cepat dari dalam lubang besar, melilit tubuh Dion dari kaki sampai leher, mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas.
Dion berteriak minta ampun, suaranya melengking keras di seluruh Langgur.
Revan mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, siap untuk menghunjamkannya ke jantung Dion.
Ara yang melihat itu, meski dia sangat benci Dion, dia tidak tega melihat orang dibunuh di depan matanya lagi. Dia berlari dan memeluk kaki Revan yang setengah terbakar itu, meski kakinya terasa dingin dan panas bersamaan.
"Van, jangan! Jangan bunuh dia! Kalau kamu bunuh dia, kamu sama saja seperti mereka! Kamu jadi pembunuh! Jangan, Van! Kamu sudah janji mau tenang!" teriak Ara sambil menangis, air matanya mengenai kaki Revan yang berdarah.
Revan yang tadinya mata merah menyala marah, perlahan meredup melihat Ara memeluk kakinya. Tombak di tangannya bergetar.
Di belakang Ara, semua warga Langgur juga berteriak, "Jangan bunuh! Jangan bunuh! Usir saja!"
Revan menatap Ara lama, lalu menatap Dion yang masih dililit akar dan menangis ketakutan.
Akhirnya, Revan menurunkan tombaknya dan menghentakkan tombak itu ke tanah dengan keras.
Semua akar yang melilit Dion langsung melepasnya dan membanting Dion keras ke tanah. Dion terbatuk dan muntah darah, tapi masih hidup.
Tanah yang terbelah besar tadi menutup kembali dengan sendirinya. Api yang membakar pohon mangga raksasa padam sendiri, seperti ditiup angin tak terlihat. Pohon mangga raksasa itu masih berdiri, tapi batangnya hangus hitam dan mengeluarkan darah yang masih menetes pelan, seperti pohon yang terluka parah.
Revan jongkok di depan Ara, wajahnya kembali sedih, tidak marah lagi. Luka bakarnya hilang perlahan.
"Maaf, Ra. Aku hampir jadi monster lagi," bisik Revan pelan, hanya Ara yang dengar.
Ara menggeleng dan memeluk Revan, kali ini pelukannya bisa terasa sedikit hangat, tidak tembus lagi seperti kemarin.
"Tidak apa-apa, Van. Kamu jaga kami. Terima kasih."
Revan tersenyum, lalu tubuhnya perlahan menjadi asap putih lagi dan masuk kembali ke dalam batang pohon mangga raksasa yang terluka itu, bersama semua tangan-tangan pucat yang keluar dari tanah tadi.
Pagi hampir datang. Kabut kuning menghilang. Sepuluh truk besar masih terparkir di jalan, tapi semua sopirnya sudah lari, hanya tinggal Dion yang tergeletak pingsan di tanah dengan baju robek dan penuh lumpur.
Pak RT Unus dan warga mengikat Dion dengan tali yang sama yang tadi dipakai untuk mengikat Bapak Simon.
Bapak Simon yang sudah bebas, bersujud di depan pohon mangga raksasa yang terluka dan berdarah, berjanji akan merawat pohon itu sampai sembuh.
Ara berdiri di bawah pohon itu, jaket hitam Revan berlumuran darah pohon, menatap matahari pagi yang mulai terbit dari arah laut.
Perang malam itu mereka menang lagi, tapi pohon keramat mereka terluka parah. Dan Ara tahu, luka itu tidak akan sembuh dalam semalam. Langgur butuh waktu untuk sembuh, dan dia harus menjaga pohon itu sampai Revan benar-benar bisa tenang dan pergi dengan damai, tanpa harus kembali lagi karena dipanggil oleh keserakahan manusia.
Di dalam darah yang menetes dari batang pohon, Ara melihat kilauan emas kecil yang berkedip, seperti jantung yang berdetak pelan.