Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Reuni Garing
Milka mengusap wajah dan merapikan rambutnya sekilas sebelum mendahului Theo masuk ke dalam SUV mewah berwarna hitam itu.
"Selamat pagi, Bu Polisi," sapa Bonar ramah dari kursi depan.
Milka membalas dengan anggukan kecil. Saat hendak duduk, pandangannya tertuju pada sebuah jas dokter berwarna putih yang tergeletak rapi di jok belakang. Ia mengangkat jas itu sambil mengernyit.
"Ini punya siapa?"
Bonar dan Naga saling melirik karena mereka sama-sama mengenakan seragam putih.
Belum sempat menjawab, seseorang dari luar mobil menarik jas tersebut dari tangan Milka.
Theo.
Dengan santai ia mengenakan jas putih itu hingga identitasnya sebagai dokter tampak begitu jelas.
Milka mengangkat sebelah alis. "Oh ... ternyata punya Kak Theo?"
Theo hanya membuka pintu belakang. "Geser dikit."
Milka bergeser tanpa banyak bertanya. Theo duduk di sampingnya, lalu menutup pintu. Tatapannya lurus ke depan.
"Ayo jalan."
"Baik, Boss."
Mobil pun melaju meninggalkan trotoar tempat Milka menangis beberapa menit yang lalu. Suasana di dalam mobil dipenuhi keheningan. Milka mengeluarkan bedak, lipstik, dan cermin kecil dari dalam tasnya. Dengan hati-hati ia mulai memperbaiki riasan yang telah berantakan karena air mata.
Theo melirik sekilas.
"Masih kelihatan?" Milka mendesah pelan. "Hancur?"
"Sedikit."
"Huff ..." Ia kembali menepuk-nepuk bedak di bawah matanya.
Theo memalingkan wajah ke arah jendela. "Siapa yang membuatmu menangis?"
Milka masih sibuk dengan cermin kecilnya. "Kenapa nanya-nanya?"
"Aku penasaran."
"Kenapa?"
Theo tersenyum tipis. "Karena menurutku..." Ia berhenti beberapa saat. "...orang itu pasti sangat hebat."
Milka menoleh. "Hah?"
"Jarang ada orang yang bisa membuat seorang Milka Tera Wijaya menangis."
Kalimat itu membuat Milka terdiam. Sudut bibirnya bergerak tipis, karena kesal.
"Entahlah ..." Suaranya terdengar lirih. "Aku juga tidak tahu kenapa hari ini aku bisa menjadi lemah."
Theo mengamati wajah Milka beberapa saat. "Kalau suatu hari kamu butuh seseorang untuk mendengar ..."
Ia kembali menghentikan kalimatnya. "... Kamu bisa menghubungi nomor yang sama."
Milka tersenyum hambar. "Terima kasih. Tapi ini urusan rumah tanggaku. Aku akan menyelesaikannya sendiri."
Theo terpaku mencoba menebak makna yang diucapkan gadis yang ada di sebelahnya.
"Rumah tangga?" Bonar refleks menoleh dari kursi depan. "Ibu sudah menikah?"
Milka mengangguk pelan. "Iya, sudah."
Bonar langsung melirik kaca spion. Tatapan hangat Theo tadi, tiba-tiba berubah menjadi datar. Tak ada satu pun emosi yang tampak di wajahnya. Seolah ia tau siapa yang menjadi suami Milka.
Namun jemarinya perlahan mengepal di atas paha. "Aku baru tahu." Suara Theo tetap tenang. "Selamat."
Milka tertawa getir. Tawa yang terdengar jauh lebih menyedihkan daripada tangisan. "Lucu ya."
"Apanya?" Theo melirik di sudut matanya.
"Sebenarnya, aku merasa menyesal, kenapa harus buru-buru menikah. Aku pikir, hubungan kami sangat dekat karena telah saling mengenal dalam waktu yang panjang. Namun, aku salah. Ternyata aku masih belum mengenalnya."
Theo menoleh. "Jadi ...?"
Milka mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. "Entah lah ... aku masih bingung ..." Ia menarik napas panjang. "Aku bingung harus apa. Aku takut mengecewakan Papa dan Mama."
Air mata kembali menggenang. Namun kali ini ia buru-buru mengusapnya menggunakan punggung tangan.
Theo melihat semuanya tanpa berkata apa-apa. Semakin banyak ia diam ... Semakin besar amarah yang tumbuh di dalam dadanya.
Tak lama kemudian mobil berhenti di depan kantor kepolisian. Theo membuka pintu dan turun terlebih dahulu, lalu menyilakan Milka untuk turun.
Sebelum masuk gerbang kantor, ia menoleh kepada Theo. "Terima kasih sudah mengantarku."
Theo hanya mengangguk.
Milka tersenyum tipis. "Jujur ... Aku nggak nyangka Kak Theo benar-benar jadi seorang dokter."
Theo menaikkan sebelah alis. "Kenapa?"
"Soalnya ..." Milka terkekeh pelan. "Dulu Kak Theo kan galak banget."
"Aku kira bakal jadi tentara."
Bonar dan Naga spontan menahan tawa. Karena mereka tau persis, bagaimana karakter pria itu. Bahkan, melebihi komandan lapangan para tentara.
Theo sendiri hanya mengembuskan napas pelan. "Lalu?"
"Ternyata malah jadi dokter." Milka mengangguk kecil. "Cocok. Sungguh. Banyak orang yang akan selamat di tangan Kakak."
Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali ... Jantung Theo berdetak begitu keras.
Deg...
Deg...
Deg...
Ia menatap Milka beberapa detik. "Kamu juga."
"Apa?"
"Negara beruntung punya polisi sepertimu."
Milka tersenyum. Senyum kecil yang tetap terlihat indah meski matanya masih sembap.
"Terima kasih." Ia melambaikan tangan lalu berjalan memasuki gerbang kepolisian.
Theo tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. Ia terus menatap sampai sosok Milka benar-benar menghilang, baru ia naik kembali ke dalam mobil.
Keheningan memenuhi isi mobil. Tak ada yang berani membuka suara. Beberapa detik kemudian ...
"Bonar."
"Siap, Boss."
"Cari tahu semua informasi tentang suaminya."
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣