NovelToon NovelToon
Rumah Tanpa Cahaya (Pelukis Buta Itu Ibu Tiriku)

Rumah Tanpa Cahaya (Pelukis Buta Itu Ibu Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.

"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.

Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.

Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertangkap

"Pak Kio..." seru Bibi Sita dan Mbak Lani saat mendengar suara seseorang di luar kamar.

"Keluar kalian berdua," seru Papa Kio dengan penuh penekanan.

"Tidak, Pak. Saya di sini saja," seru Mbak Lani dari balik kamar.

"Tadi katanya kamu mau keluar. Ayo keluar, Lani."

Kali ini suara Bibi Sita yang mengajak Mbak Lani untuk keluar dari kamar. Padahal tadi Mbak Lani kekeh ingin keluar dari kamar. Namun sekarang malah menolak untuk keluar kamar setelah mendengar suara Papa Kio. Dari suaranya, Mbak Lani tampak ketakutan. Mbak Lani merasa bahwa kedatangan Papa Kio ini adalah ancaman untuknya. Berarti kemungkinan besar Papa Kio sudah mengetahui kejadian di rumah ini.

"Bibi Sita, jangan macam-macam ya. Jangan pernah buka pintunya," teriak Mbak Lani saat Bibi Sita ingin membuka pintu kamar.

"Kita diskusikan dan obrolkan secara kekeluargaan, Mbak Lani. Siapapun yang mengetahui keluarganya dalam bahaya juga pasti akan mencari pelakunya," ucap Papa Kio mencoba membujuk dengan santai agar Mbak Lani mau keluar kamar. Jangan sampai penangkapan ini malah berujung ada orang yang terluka lagi. Papa Kio juga sudah memberi kode pada polisi agar tidak bergerak terlebih dahulu.

"Nggak mungkin. Pasti Pak Bian marah besar pada saya dan akan melaporkan semuanya ke polisi," seru Mbak Lani yang seperti sudah tahu kalau akan dilaporkan polisi.

"Bian tidak ada di rumah ini," ucap Papa Kio berusaha sabar. Padahal dia tengah menahan emosinya.

Ceklek...

Pak...

Bukan Mbak Lani yang keluar dari kamar itu, melainkan Bibi Sita. Wanita paruh baya itu memanfaatkan kelemahan Mbak Lani yang sedang menimbang keputusannya. Bibi Sita langsung membuka pintu dan keluar kemudian berdiri di belakang Papa Kio. Tampaknya Bibi Sita juga takut kalau tiba-tiba Mbak Lani berbuat nekat kepadanya. Polisi yang tadi bersembunyi pun segera merangsek masuk kamar sambil mengacungkan pistol. Mbak Lani yang masih terkejut dengan Bibi Sita keluar kamar pun tak bisa melarikan diri. Bahkan saat ini, Mbak Lani langsung ditangkap oleh polisi. Mbak Lani berusaha memberontak tapi tidak bisa karena kedua tangannya digenggam erat.

"Kurang ajar kamu, Bi. Seharusnya Bibi itu melindungi Lani. Aku adukan nanti sama Ibuku biar Bibi dimarahi karena malah menjebloskan ke penjara," teriak Mbak Lani tak terima dengan Bibi Sita yang berada di pihak keluarga Bian.

"Kamu itu yang kurang ajar. Udah dikasih pekerjaan bagus malah tidak tahu diri," seru Bibi Sita dengan berani.

"Adukan saja sana Ibumu. Aku nggak takut," lanjutnya.

Sialan...

Lepas, Pak.

Jalan atau saya seret,

Mbak Lani terus mengumpati Bibi Sita yang berpihak pada keluarga Bian. Dia tak terima bisa ditangkap seperti ini. Mbak Lani dibawa polisi untuk diamankan. Papa Kio juga akan menyusul bersama pengacara untuk mengurus masalah ini. Apalagi Bian sedang fokus pada istrinya yang terluka. Bibi Sita masih berada di belakang Papa Kio dengan tatapan takut.

"Pak, saya nggak dimasukkan penjara juga kan?" tanya Bibi Sita tiba-tiba saat masih ada dua polisi di sana.

"Jika Bibi tidak bersalah, takkan masuk penjara." ucap Papa Kio menenangkan wanita paruh baya itu.

"Tapi kami minta tolong untuk memberikan keterangan di kantor polisi sebagai saksi. Berikan keterangan yang jujur, maka Ibu akan aman." ucap polisi menambahkan.

Baik, Pak. Saya akan berkata jujur,

Tenang saja, Bi. Saya dan pengacara akan temani juga bela Bibi yang tidak bersalah,

Terimakasih, Pak Kio.

***

Sedangkan di sisi lain, Bian telah sampai di depan sebuah rumah sakit. Dia berlari cepat menuju ruang operasi sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Mang Jono. Aluna harus segera dilakukan operasi karena lukanya lumayan dalam dan lebar. Lebih tepatnya harus segera dijahit untuk lukanya karena darahnya terus keluar. Di depan pintu ruang operasi ada Reyhan yang sedang dipeluk oleh Bibi Tari. Mang Jono duduk di samping Reyhan sambil menepuk bahu anak majikannya itu.

"Reyhan..." panggil Bian sambil berjalan cepat.

"Papa..." seru Reyhan dengan mata sembab karena habis menangis.

"Tante Aluna berdarah, Pa." lanjutnya mengadu pada Bian yang langsung duduk di samping Reyhan. Bibi Tari pun segera melepaskan pelukannya dari Reyhan dan berpindah tempat.

"Tidak apa-apa. Tante Aluna pasti akan sembuh habis ini," ucap Bian menenangkan Reyhan. Padahal pikirannya pun sedari tadi masih berisik dan takut terjadi sesuatu pada Aluna.

"Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit? Biar sekalian diperiksa sama Dokter," tanyanya sambil melihat Reyhan dari atas ke bawah setelah melepaskan pelukannya.

"Reyhan baik-baik aja, Pa. Tante Aluna yang terluka karena melindungi Reyhan. Punggungnya ditusuk pisau sama Mbak Lani," adu Reyhan dengan rengekannya.

Bian hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lega. Dia sudah tahu siapa yang membuat istrinya terluka. Tadi saat dihubungi oleh Mang Jono tentang penjahitan luka, Bian meminta untuk menyetujuinya. Pasalnya jika menunggu dirinya datang, khawatir terlalu lama dilakukan tindakan. Bibi Tari terus merapalkan do'a untuk Aluna yang sudah dianggapnya anak itu. Namun di sisi lain, Bibi Sita merasa lega karena sekarang banyak orang yang mendampingi Aluna. Tidak seperti dulu ketika Aluna sakit, hanya dirinya yang mendampinginya.

Ceklek...

"Lukanya sudah kami jahit dan semua aman. Tinggal nanti proses tunggu lukanya kering," ucap seorang Dokter yang melakukan tindakan pada Aluna saat Bian langsung berdiri di hadapannya.

"Terimakasih, Dok."

"Satu lagi, Dok. Saya minta tolong cek mata istri. Pasien buta. Saya ingin Dokter rumah sakit ini melakukan pemeriksaan pada matanya. Saya ingin tahu apakah matanya masih ada kemungkinan bisa melihat atau tidak," ucap Bian dengan tegasnya.

"Baik, Pak. Biar nanti oleh perawat dicatat dulu untuk permintaannya agar dirujuk ke Dokter spesialis mata," ucap Dokter itu yang kemudian pamit pergi.

"Tante Aluna bisa melihat lagi, Pa?" tanya Reyhan dengan tatapan penasarannya.

Do'akan saja,

Bian belum bisa memastikan hal itu. Pasalnya Dokter belum melakukan pemeriksaan pada mata Aluna. Dia hanya ingin anaknya mendo'akan agar harapan Aluna untuk bisa melihat itu masih ada. Bibi Tari sampai menangis lirih saat mendengar permintaan Bian. Setelah dinyatakan buta, keluarga Aluna sama sekali tidak ada usaha untuk memeriksakan kondisi mata anak majikannya itu. Untuk kemungkinan bisa melihat pun, tidak ada yang tahu karena Ayah Riko tak pernah mau membawa Aluna agar diperiksa ulang.

"Kamu berada di keluarga yang tepat, Aluna. Walaupun pernikahanmu dadakan dan tanpa cinta, faktanya keluarga Pak Bian itu sangat baik. Memperlakukanmu seperti manusia," gumam Bibi Tari sambil menghela nafasnya pelan agar suara tangisannya tak terdengar.

Ayo kita ke ruang rawat inap,

Mang Jono, antar Bibi Tari pulang dan bawa perlengkapan Aluna ke sini ya.

Baik, Pak.

1
Nisa Via
pinter nich lobak idenya 😂
Novita Sari
semakin hari semakin gemes lopa.
Ita Xiaomi
Ambigu 🤣🤣🤣
Nisa Via
😂😂😂😂😂ada aja keseruan bocil 2 ini sehingga suasana tegang pun berubah komedi
Novita Sari
lw ada lopa semangat bacanya.ada aza jawaban lopa lanjut thor...
Sani Srimulyani
cari gara2 mulu nih si salsa.....
Novita Sari
jangan jangan salsa yg nabrak.. lanjut thor..
Sani Srimulyani
jangan2 itu salsa lagi .....
Sani Srimulyani
inget ya kata lova: perempuan itu selalu benar dan laki2 itu selalu salah....🤭
Novita Sari
lova top pokoknya
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Nisa Via
giliran sendiri nya dikasih tau fakta...malah bilang nya SABAL GITU AJA NGEGAS HAHHAHAHAH LOBAK EMNG PANDAI DEBAT 😂😂
E F
😄😄😄😄🙏😍💪
Ita Xiaomi
Reyhan dan Lova tetap sayang Ibu Aluna ya.
E F
lg gpp bgtt thor🤭😄💪😍
Sani Srimulyani
udah mending pindah sekola aja. biar tau rasa tuh si Dayat.
Sani Srimulyani
kamu emang ga cocok temenan sama mereka Reyhan. bener kata loba mereka itu bisa bawa pengaruh buruk buat kamu.
Novita Sari
Alhamdulillah lova n rayhan udah membela aluna..
Novita Sari
ayo lova mana suaranya jawab pak dayat biar kena mental anak kecil......😄😄😄
Sani Srimulyani
sombong banget nih orang, ga pantes dia dijadiin guru. bukannya ngasih motivasi ke anak malah jatuhin mental anak 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!