Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan di Bawah Rindangnya Pohon Kampus
"Aku keluar duluan, ya," ucap Kirana dengan nada suara yang tenang dan santun, seolah-olah ia baru saja mengobrol dengan seorang teman biasa dan bukan seseorang yang tengah berusaha menjatuhkannya.
Tanpa menunggu balasan dari Arsyila yang masih tertegun kaku menahan amarah, Kirana menenteng tas selempang hitamnya dan melangkah dengan anggun melewati kerumunan mahasiswa yang terdiam. Punggungnya tegap, langkah kakinya teratur, memancarkan aura martabat yang membuat siapa pun yang melihatnya enggan untuk meremehkan.
Di belakangnya, Arsyila mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya hampir menancap di telapak tangan. Wajah cantiknya memerah padam, dikuasai rasa malu yang teramat sangat karena skenario mempermalukan yang ia buat justru berbalik mempermalukan dirinya sendiri di hadapan seluruh isi kelas.
"Sialan...!" geram Arsyila dengan suara tertahan penuh kebencian. "Dia pikir dia siapa, berani merendahkanku seperti itu?!"
Salah satu teman pengikut Arsyila mendekat dengan hati-hati. "Udah, Syila, biarin aja. Nanti kita balas di tugas kelompok minggu depan. Pasti ada celah."
Mendengar kata tugas kelompok, seringai jahat kembali terukir di bibir Arsyila. Kemarahannya perlahan mereda, digantikan oleh rencana licik yang baru saja melintas di kepalanya. "Benar... tugas kelompok. Kita lihat seberapa hebat dia bertahan saat aku memastikan tidak ada satu kelompok pun di fakultas ini yang sudi menerimanya!"
Sementara itu, Kirana telah berjalan jauh meninggalkan ruang kuliah. Sesampainya di koridor terbuka yang dikelilingi taman hijau kampus, Kirana menghembuskan napas panjang. Jantungnya sebenarnya berdegup sedikit kencang setelah adu argumen tadi, namun rasa leganya jauh lebih besar. Ia telah membuktikan bahwa ia tidak bisa diinjak-injak begitu saja hanya karena latar belakangnya.
Kirana melangkah menuju kantin luar untuk menikmati udara segar sekaligus mempersiapkan diri menghadapi mata kuliah siang nanti. Hari pertama kuliah ini memang penuh warna dan tantangan, namun Kirana siap menghadapi apa pun demi masa depannya—dan demi membuktikan kepercayaannya pada Rian.
Suasana taman fakultas yang rindang dengan deretan pohon mahoni besar menawarkan ketenangan yang sangat dibutuhkan Kirana setelah ketegangan di ruang kuliah tadi. Ia memilih sebuah bangku kayu putih di bawah naungan teduh, meletakkan tas selempangnya di samping, lalu mengeluarkan buku catatan kecil untuk merangkum kembali materi anatomi yang baru saja dipelajarinya.
Baru saja beberapa menit ia membaca ulang catatannya, getaran halus terasa dari dalam tas selempangnya.
Kirana segera membuka ritsleting tas dan mendapati layar ponsel pintarnya menyala terang, menampilkan sebuah nama kontak yang membuat sudut bibirnya otomatis terangkat membentuk senyuman manis.
Mas Rian.
Tanpa membuang waktu, Kirana langsung menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Halo, Mas..." sapa Kirana dengan suara lembut yang terdengar riang.
Di ujung sambungan sana, suara bariton Rian langsung menyapa indra pendengarannya, terdengar tenang namun sarat akan perhatian. "Halo, Kirana. Bagaimana hari pertama kuliahmu? Apakah semuanya berjalan lancar di kampus?"
Mendengar suara suaminya yang menenangkan, beban sisa ketegangan akibat insiden dengan Arsyila di kelas tadi seolah menguap begitu saja. Kirana menarik napas pelan, lalu menjawab dengan jujur.
"Semuanya lancar, Mas. Materinya sangat menarik, dan dosen pengampunya juga sangat jelas dalam menjelaskan," jawab Kirana, sengaja tidak langsung menceritakan tentang ulah Arsyila agar tidak membuat suaminya khawatir di tengah kesibukan persiapannya menghadapi pertemuan ahli waris minggu depan.
Di seberang sana, Rian mendengus pelan, terdengar lega. "Baguslah kalau begitu. Jangan terlalu memforsir dirimu, ya. Kalau lelah, istirahatlah dan nikmati makan siangmu."
"Iya, Mas. Ini aku sedang duduk di taman kampus sambil membaca catatan," balas Kirana, matanya menatap dedaunan hijau yang bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi.
"Baiklah. Nanti sore sopir akan menjemputmu seperti biasa," kata Rian sebelum mengakhiri percakapan. "Semangat untuk kuliah siang nanti, istriku."
"Terima kasih, Mas Rian," ucap Kirana tulus.
Sambungan telepon pun terputus. Kirana menutup ponselnya dengan hati yang terasa jauh lebih ringan. Ia tahu, di balik segala ancaman dan intrik yang disebar oleh Arsyila di sekitarnya, ia memiliki tempat perlindungan dan dukungan paling kokoh pada diri Rian.