NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:157.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Roda pesawat yang menapak kuat di atas landasan Bandara Internasional Dubai menyebarkan getaran halus hingga ke kabin. Suara pengumuman selamat datang berdengung lembut dalam bahasa Arab dan Inggris, memanggil kembali kesadaran Naya yang sempat hanyut dalam lamunan panjang sepanjang penerbangan.

Di balik jendela oval, panorama kota metropolis yang dikepung padang pasir emas membentang di bawah langit biru yang begitu bersih. Jauh berbeda dari kabut tebal dan rimbunnya lereng pinus Pacet yang selama ini memenjarakan napasnya.

Saat jemarinya melepaskan sabuk pengaman, sebuah lengkungan senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang murni, terbebas dari kepalsuan atau keputusasaan. Untuk pertama kalinya setelah sebulan memusnahkan jejaknya dari Mojokerto, Naya merasakan kebebasan yang sesungguhnya.

Langkah kakinya ringan menyusuri selasar kedatangan yang megah. Balutan pashmina nuansa krem hangat dan trench coat longgar warna sage green membuat penampilannya tampak begitu menawan namun memancarkan kelas tersendiri. Tatapan matanya yang tenang dan cerdas menyapu sekeliling, tak ada lagi sisa-sisa tatapan layu dari seorang istri yang terabaikan.

Di area penjemputan utama, seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja kasual berdiri di samping seorang wanita berhijab pastel yang melambaikan tangan dengan ramah. Pria itu mengangkat papan kecil bertuliskan nama lengkap Naya.

"Naya, ya?" sapa wanita itu hangat begitu Naya mendekat. Matanya membinar penuh keramahan. "Saya Sarah, dan ini Danang. Kita sempat teleponan kemarin sebelum kamu berangkat."

Danang tersenyum ramah seraya menundukkan kepala singkat sebagai tanda hormat. "Selamat datang di Dubai, Naya. Arsyaka mewanti-wanti saya buat memastikan kamu sampai di tempat tinggalmu dengan aman tanpa kurang satu apa pun."

Naya menyambut uluran tangan Sarah dan membalas sapaan Danang dengan anggukan anggun. "Terima kasih banyak, Mas Danang, Mbak Sarah. Maaf ya, jadi menyita waktu kalian sore ini."

"Sama sekali tidak merepotkan," sahut Sarah cepat seraya merangkul lengan Naya pelan, seolah menyalurkan kehangatan sesama wanita Indonesia di negeri orang. "Yuk, langsung ke mobil saja. Perjalanan ke apartemenmu tidak terlalu jauh, sekitar dua puluh menit kalau jalanan sedang lancar."

Mobil sedan perak milik Danang membelah jalanan mulus kota Dubai. Gedung-gedung pencakar langit menjulang bagai benteng masa depan, beradu dengan pemandangan pesisir yang dipendari cahaya matahari sore. Di dalam kabin mobil yang sejuk, suasana cepat mencair. Perbincangan mengalir rileks, diisi ketawa kecil dan cerita-cerita ringan tentang adaptasi awal di Uni Emirat Arab.

"Arsyaka cuma cerita kamu mau lanjut studi di sini," ujar Danang dari balik kemudi, sesekali melirik spion tengah. "Rencananya ambil spesialis apa, Naya?"

"Psikologi Klinis S2," jawab Naya tegas tanpa keraguan. Suaranya terdengar renyah dan sarat keyakinan. "Fokusnya pada penanganan trauma berat dan gangguan kecemasan. Sudah lama impian ini saya tunda, dan baru sekarang dapat kesempatan buat merealisasikannya."

Sarah menoleh dari kursi penumpang depan, menatap Naya dengan binar kagum. "Luar biasa. Jurusan itu tergolong ketat di sini, apalagi di universitas riset. Tapi saya yakin kamu pasti bisa melaluinya."

"Terima kasih, Mbak," bisik Naya lembut. Ada desir kebahagiaan yang merayapi dadanya. Menyebutkan cita-citanya kembali secara terbuka rasanya seperti membangkitkan jiwa yang dulu sempat mati suri di ndalem barat.

Danang mengangguk setuju. "O ya, ngomong-ngomong soal psikologi klinis, saya punya teman dekat dari bidang kesehatan. Dia dokter spesialis kesehatan jiwa—psikiater—yang juga mengajar di rumah sakit pendidikan kampusmu. Kalau kamu mau, nanti kapan-kapan bisa saya kenalkan. Orang Indonesia juga, kok. Beliau salah satu konsultan paling disegani di sini."

Mata Naya berbinar antusias. Sebagai seseorang yang mendasarkan hidupnya pada penalaran ilmiah dan pengembangan diri, tawaran itu bagai pintu kesempatan yang terbuka lebar.

"Wah, mau sekali, Mas! Pasti banyak ilmu dan pengalaman yang bisa saya pelajari dari beliau," sahut Naya penuh semangat.

"Beres. Nanti kalau jadwal kuliahmu sudah mulai stabil, kita atur waktu buat makan siang bertiga," pangkas Danang ramah.

Perjalanan berakhir di sebuah kompleks apartemen modern bertingkat sedang yang kawasannya tenang dan tertata asri. Lokasinya memang dirancang strategis, hanya berjarak beberapa ratus meter dari kompleks universitas riset utama.

Danang dengan sigap menurunkan dua koper besar milik Naya dari bagasi dan membawakannya hingga ke depan unit apartemen di lantai empat. Pintu berbahan kayu mahoni tebal itu terbuka, memperlihatkan interior hunian minimalis yang sudah tertata rapi. Jendela kaca besar di ujung ruangan menyajikan pemandangan taman kota yang rindang.

Naya menghela napas lega saat melangkah masuk. Ruangan ini terasa lapang, bersih, dan yang paling penting: sepenuhnya milik jalannya yang baru.

"Terima kasih banyak ya, Mas Danang, Mbak Sarah," tutur Naya seraya memutar tubuh memandang pasangan suami istri tersebut. "Ayo masuk dulu, kita makan malam bersama di luar atau saya pesan makanan ke sini. Saya betul-betul ingin berterima kasih."

Sarah tersenyum manis seraya menggeleng halus. "Aduh, tidak usah, Naya. Simpan tenagamu buat istirahat. Kamu pasti lelah sekali setelah penerbangan belasan jam. Lagipula Mas Danang malam ini ada rapat dengan klien kantor."

"Betul, Naya," timpal Danang seraya menyerahkan kunci unit apartemen. "Lain kali saja kalau kamu sudah tidak jetlag. Kami pamit dulu ya. Kalau ada butuh apa-apa, telepon saja kapan pun."

"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih banyak," balas Naya dengan tulus.

Setelah menghantar Danang dan Sarah hingga ke depan lift, Naya kembali ke dalam unitnya. Ia menutup pintu kayu itu rapat-rapat, memutar kunci double-lock, lalu menyandarkan bahunya pada daun pintu.

Keheningan melingkupi ruangan. Tapi bukan keheningan mencekam yang dulu menyiksanya di Pesantren Al-Anwar. Ini adalah keheningan yang menyembuhkan. Naya berjalan menuju jendela besar, menatap pijar lampu-lampu kota Dubai yang mulai menyala satu per satu menyambut malam. Jemarinya meraba dinding dada, merasakan debar jantungnya yang kini berdetak tenang tanpa beban.

Selamat tinggal masa lalu, bisiknya dalam hati. Hari ini, Adskhania Nayara Malik kembali menjadi pemilik penuh atas hidupnya sendiri.

**

Ruang utama Kantor Urusan Agama Kecamatan Pacet. Tidak ada dekorasi bunga segar, tidak ada alunan shalawat bernada pesta, dan tidak ada barisan kerabat yang mengumbar senyum. Hanya ada selembar berkas bermeterai yang terbentang di atas meja kayu lapis, sebuah saksi bisu dari pengesahan yang tergesa.

Penghulu KUA meneliti lembar demi lembar dokumen administrasi untuk kesekian kalinya. Di sampingnya, Kyai Ahmad duduk bersedekah tangan, mengenakan sarung tenun gelap dan jas hitam yang tersimpul kaku. Wajah pengasuh Pesantren Al-Anwar itu bagai guratan batu karang—dingin, tak tersentuh emosi, dan menyimpulkan ketegasan yang mutlak. Dua orang pengurus senior pondok duduk melingkar di sudut ruangan sebagai saksi resmi.

"Bagaimana, Kyai? Seluruh berkas milik Gus Reyhan dan Mbak Zahrani sudah sah secara hukum negara," ujar penghulu seraya memutar letak buku nikah berwarna hijau dan cokelat ke arah kedua mempelai.

Reyhan meraih pulpen hitam yang disodorkan. Jemarinya yang biasanya begitu kokoh saat memegang kitab, kini tampak sedikit ragu. Saat goresan tanda tangannya terukir di atas kertas bergaris itu, tak ada pendar kebanggaan di matanya. Yang terasa hanyalah kebebalan batin—sebuah penuntasan atas rentetan kesalahan yang harus ia bayar di depan hukum dan agama.

Di sisinya, Rani menunduk rapat. Jemari tangannya yang berada di atas pangkuan meremas kain gamisnya sendiri. Namun, di balik kerudung lebarnya yang menutupi sebagian raut wajah, sepasang matanya memancarkan binar kebahagiaan yang teramat pekat. Bibirnya mengatup, menahan senyum puas yang membuncah. Perjuangan panjangnya—menjadi bayang-bayang di balik pernikahan siri, menahan pandangan miring orang-orang, hingga memanfaatkan kerapuhan emosional sang Gus—akhirnya membuahkan hasil. Ia kini sah secara hukum negara, menyandang nama besar sebagai istri seorang putra pengasuh Al-Anwar.

Akad ulang yang berlangsung kurang dari lima belas menit itu ditutup dengan doa singkat yang dipimpin oleh Kyai Ahmad. Suara Kyai berat dan datar, melantunkan ayat-ayat suci tanpa ada getaran keharuan yang biasa mengiringi pernikahan santri-santrinya.

***

1
phi_dvas🌼
💪👍👍
enungdedy
ahh harusnya tuh gk usah direstui tuh si rani sm reyhan...mlh sruh nikah resmi
kan jdi gemes klo.gini😄
bibuk Hannan & Afnan
maaf 🙏 nih thor jangan wali, alangkah baiknya penyematan ulama saja jangan wali.

maaf 🙏 jangan tersinggung
enungdedy
harusnya kyai jngan maksain reyhan utk nikahi resmi si rani..biarin aja lah
biar mereka berdua sma2 menyesal
bibuk Hannan & Afnan
bukan pendekatan lg prof tp pengalaman pribadi Naya sendiri 🤭🤭
bibuk Hannan & Afnan
oy Rani kamu sebatang kara juga udah dewasa bukan bocah woy elah serasa dunia mau kiamat aja gak punya sandaran, bisa cari kerja sambil nerusin kuliah biar bermartabat drpd jd yg kedua siri pula, sudah tau Gus Reyhan kala itu statusnya sudah menikah mau mau aja dasar pelakor,
bibuk Hannan & Afnan
ekspektasi mu ketinggian Rani,
Naya cerdas berpendidikan dr latar belakang keluarga yg beradab pula, lah kamu sudah orang biasa dgn merebut suami orang berharap dihormati, mimpi, sanksi sosial cap pelakor itu selamanya meski sudah bertaubat tp cap pelakor itu tdk akan hilang,
bibuk Hannan & Afnan
Al Fatih, duh nama belakangnya sama dgn mantan euy 🤭
bibuk Hannan & Afnan
bersedekah tangan?
maksudnya bersedekap tangan kali ya thor, masa bersedekah 🤭🤭
cecla9
biar cepet mereka bersatu
cecla9
jangan klamaan ah
Shinta Syawal
mana bab selanjutnya
enungdedy
heleh...gak jelas nih si reyhan
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
enungdedy
trus hub rani sm reyhan gmn tuh?msih sah suami istti belum?krn rani pergi tnpa ada kata talak dri reyhan
enungdedy
knp gk dilepasin aja sih rani klo emg gak cinta gus
Anonim
Baper aku
enungdedy
kpn gak ditalak aja si rani klo emg reyhan mau mempertahannkan naya
enungdedy
dri kmrin maju mundur mau baca novel.ini..gk taunya bagus bgt🤭
Mundri Astuti
klo ibarat kata...si Rayhan jiwa" playboy, nah klo zeyad laki" sejati
Agnezz
btw knapa judul2 bab dihilangkan? padahal memudahkan untuk ingin membaca bagian tertentu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!