Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Taring Serigala
Kabut hitam beracun menguar tipis dari bilah belati di tangan Mo Yuan. Ia tidak lagi menyandar pada tiang kedai yang hancur. Langkah pertamanya ke depan terasa pelan, namun udara di sekitar Jalan Utama Kota Daun Gugur mendadak menjadi seberat timah.
Jian Ling'er menahan napas. Ia mencoba mencambuk lagi, namun tangannya gemetar.
Bukan hanya karena tatapan mata abu-abu Mo Yuan yang menyerupai predator purba, melainkan karena fluktuasi Qi yang tiba-tiba meledak dari tubuh remaja berbaju hitam itu.
Tekanan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Mo Yuan akhirnya dilepaskan. Udara fana berderak. Aura yang memancar bukanlah Kondensasi Qi Tingkat Puncak seperti yang ia perlihatkan sebelumnya. Itu adalah aura yang kental, berdenyut selaras dengan ritme alam, dan dipenuhi oleh niat membunuh kuat.
Tahap Pembangunan Fondasi (Foundation Establishment) Tahap Menengah!
"Kau... kau memalsukan ranahmu?!" Jian Ling'er menjerit tertahan, wajahnya pucat pasi.
Bagi kultivator dari Alam Abadi, menyembunyikan kultivasi hingga tidak bisa dilacak oleh Niat Jiwa musuh membutuhkan artefak tingkat tinggi atau teknik bayangan yang luar biasa langka. Namun, orang ini melakukannya dengan begitu sempurna!
Mo Yuan menyeringai, memutar belatinya dengan santai.
"Jangan sombong! Aku berada di Foundation Establishment Puncak! Satu tingkat penuh di atasmu!" raung Ling'er, berusaha menutupi teror di hatinya dengan arogansi. Ia memberi isyarat kalap pada dua pengawalnya yang masih tersisa. "Serang dia bersamaan! Hancurkan Dantian-nya!"
Kedua pengawal itu menerjang dari sisi kiri dan kanan, memusatkan seluruh Qi mereka ke ujung tombak.
Namun, kali ini Mo Yuan tidak menghindar.
Ia melesat ke depan, menyambut kedua tombak itu. Saat ujung tombak nyaris menembusnya, tubuh Mo Yuan membelah diri menjadi tiga siluet bayangan berkat Teknik Langkah Bayangan yang kini ditopang oleh Qi Foundation Establishment.
Kedua pengawal itu menusuk bayangan kosong. Mata mereka membelalak ngeri.
"Terlalu lambat," bisik sebuah suara dari udara tepat di atas mereka.
Sebelum mereka bisa mendongak, Mo Yuan menukik turun layaknya elang hitam. Kedua tangannya menghantam leher masing-masing pengawal dengan hantaman fisik yang telah diperkuat Qi murni.
KRAAAK!
BUGGGH!
Suara retakan tulang terdengar mengerikan. Kedua pengawal elit dari Alam Abadi itu langsung ambruk ke tanah berbatu, mata mereka memutih, pingsan seketika dengan meridian leher yang terkunci total. Hanya butuh satu tarikan napas bagi Mo Yuan untuk melumpuhkan dua ahli yang ranahnya satu tingkat diatasnya.
Jian Ling'er membeku. Cambuk api di tangannya padam.
Gadis angkuh itu mundur selangkah. Kakinya gemetar. Meski secara teori kultivasinya satu tingkat di atas Mo Yuan, insting bertahan hidupnya menjerit liar. Jika Mo Yuan serius, rentetan teknik efisien dan mematikan itu akan merobek jantungnya sebelum ia bisa merapal satu teknik pun. Orang ini tidak bertarung untuk poin turnamen atau gengsi sekte; dia bertarung untuk membunuh.
Mo Yuan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Jian Ling'er. Ia menekuk lututnya, bersiap melesat untuk menangkap mangsa utamanya.
Melihat predator itu bersiap menerkam, kewarasan Ling'er putus. Ia menjerit histeris, merogoh kerah jubahnya, dan mencabut sebuah jimat giok merah darah. Tanpa ragu, ia meremukkan jimat itu.
"MATI KAU, TIKUS KOTOR!"
BLAAAAAAAAAAAAAARRR!!!
Seketika, jimat pelindung itu meledak. Namun itu bukanlah jimat serangan, melainkan jimat penyelamat nyawa tingkat tinggi yang diisi oleh aura Nascent Soul milik Jian Wu sebelum mereka turun ke dunia fana. Ledakan energi raksasa berbentuk perisai pedang menyapu radius lima puluh tombak, menghancurkan sisa-sisa kedai dan menerbangkan puing-puing batu ke udara.
Mo Yuan yang sedang melesat maju terhantam gelombang kejut tersebut. Ia memaksakan Qi-nya membentuk perisai silang menggunakan kedua lengannya, namun ledakan energi dari tingkatan yang jauh lebih tinggi itu tetap memukulnya mundur belasan langkah, membuat darah segar menetes dari sudut bibirnya.
Debu mengepul tebal, menutupi seluruh jalanan.
Saat angin akhirnya menyingkirkan debu, ruang dimensi di tempat Jian Ling'er berdiri sebelumnya telah terdistorsi. Gadis itu menghilang, menggunakan kekuatan sisa dari jimat tersebut untuk berteleportasi menjauh dari kota.
Mo Yuan mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan, matanya menyipit kesal menatap ruang kosong tersebut.
"Sial. Aku kurang fokus," umpat Mo Yuan mendecakkan lidah. Ia terlalu meremehkan jumlah harta penyelamat nyawa yang dimiliki oleh anak-anak manja dari sekte atas.
Mo Yuan menghela napas panjang, meredakan Qi di dalam tubuhnya kembali ke titik tenang. Ia berjalan menghampiri dua pengawal Ling'er yang masih terkapar pingsan tak berdaya di atas tanah.
Dengan kasar, Mo Yuan mengangkat kedua tubuh itu, masing-masing satu di pundak kiri dan kanannya.
"Yah, mau bagaimana lagi. Setidaknya aku mendapat dua mainan hidup ini," gumam Mo Yuan, membayangkan taruhan yang akan ia pasang dengan Shen Lu dan Xie Yan nanti. "Kadal Xie Yan pasti senang punya bahan ujian baru untuk racun sumsumnya. Mari kita lihat berapa lama orang-orang ini bisa menahan siksaan fana."
Tanpa mempedulikan tatapan ngeri warga kota yang mengintip dari puing-puing, Mo Yuan melesat kembali ke arah utara, membawa 'oleh-oleh' berharga untuk ruang bawah tanah Aliansi Bayangan Langit.
Ratusan mil dari Kota Daun Gugur, di dalam sebuah istana megah milik seorang penguasa kota yang kini berlutut gemetar di lantai.
Jian Wu duduk di atas takhta berlapis kulit macan tutul, menikmati anggur yang disajikan oleh para pelayan fana yang menangis ketakutan. Pemuda dari Sekte Pedang Bintang itu sedang memejamkan mata, memindai aliran Qi di wilayah tersebut untuk mencari petunjuk tentang Roh Dunia.
Tiba-tiba, mata Jian Wu terbuka lebar.
PRANG!
Gelas anggur di tangannya diremukkan hingga hancur berkeping-keping. Darah dan anggur bercampur mengalir dari sela-sela jarinya, namun bukan karena ia terluka, melainkan karena Niat Membunuh yang luar biasa buas meledak dari dalam jiwanya.
Tekanan Foundation Establishment Puncak miliknya menyapu ruangan. Pilar-pilar istana retak, dan penguasa kota fana di bawahnya langsung memuntahkan darah, pingsan karena tekanan aura tersebut.
"Jimat pelindung Ling'er... hancur?" bisik Jian Wu, urat-urat di keningnya menonjol liar.
Hanya kekuatan yang setara atau melebihi Foundation Establishment Puncak yang bisa memicu jimat pertahanan mutlak itu. Di planet fana yang miskin ini, penduduk lokal mustahil memiliki kekuatan seperti itu.
Logika Jian Wu langsung menarik satu kesimpulan yang paling masuk akal bagi seorang jenius Alam Abadi.
"Sekte Teratai Es... atau anjing-anjing dari Klan Iblis Darah," geram Jian Wu, pedang perak di punggungnya bergetar merespons amarah tuannya. "Baru beberapa hari kita turun ke dunia sampah ini, dan kalian sudah berani menyentuh orang-orang dari Sekte Pedang Bintang?!"
Jian Wu berdiri, jubah putihnya berkibar oleh angin Qi yang berputar liar di sekelilingnya. Matanya memancarkan arogansi yang tidak mengenal ampun. Ia sama sekali tidak menduga bahwa yang menghancurkan arogansi adiknya bukanlah sekte rival dari Alam Abadi, melainkan seorang mantan pengemis jalanan dari dunia yang ia sebut sampah.
"Jika kalian ingin memulai perang sekte lebih awal di ladang perburuan ini... maka aku, Jian Wu, akan memenggal kepala jenius kalian satu per satu untuk dijadikan hiasan!"
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣