Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL06. Sisi Lain Syaqiera
Pintu ruangan terbuka, manampilkan seorang mahasiswi berdiri di sana. Wajah menunduknya terlihat pucat. Tangannya menggenggam tali tas begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
“Maaf, Kak,” katanya pelan. “Boleh bicara sebentar?” tanya mahasiswi itu memberanikan dirinya untuk mengangkat wajah.
Suasana ruangan yang sebelumnya santai langsung berubah.
Arga berdiri dan mempersilakannya masuk. “Tentu. Duduk dulu.”
Mahasiswi itu duduk dengan ragu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mulai menceritakan apa yang dialaminya. Tidak ada yang menyela. Qiera yang awalnya hanya mendengarkan perlahan mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.
Laporan itu berkaitan dengan perilaku tidak pantas dari seorang dosen terhadap mahasiswa.
Qiera tidak bertanya secara detail di depan banyak orang. Ia tahu hal seperti itu bukan sesuatu yang boleh dibicarakan sembarangan. Setelah laporan awal dicatat, Arga meminta anggota lain memberi ruang agar mahasiswi tersebut bisa berbicara dengan lebih nyaman.
Ketika pintu kembali tertutup, ruangan BEM terasa jauh lebih sunyi.
“Ini harus kita tangani dengan serius,” kata Qiera.
Arga mengangguk. “Iya. Tapi kita juga harus hati-hati. Kita perlu memastikan prosedurnya benar dan identitas pelapor terlindungi.”
Qiera menatap berkas di depannya. “Aku setuju. Tapi jangan sampai kata ‘hati-hati’ berubah jadi alasan untuk diam.”
Arga menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum tipis. “Aku tahu kamu bakal bilang begitu.”
“Karena memang begitu.”
“Kita cari bukti, kumpulkan laporan yang relevan, lalu minta audiensi resmi dengan pihak fakultas. Kalau tidak ada respons, baru kita tentukan langkah berikutnya.”
Qiera mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, ia merasa benar-benar serius. Ada kemarahan yang pelan-pelan tumbuh di dalam dirinya, tetapi ia tahu kemarahan saja tidak cukup. Ia mahasiswa hukum. Ia seharusnya tahu bahwa perjuangan juga membutuhkan kepala yang dingin.
Namun, saat matanya kembali jatuh pada berkas laporan, sebuah pikiran tiba-tiba melintas.
Ravi.
Qiera mengerutkan kening.
Ia tidak tahu kenapa kasus itu membuatnya teringat pada Ravi. Mungkin karena Ravi juga dosen. Mungkin karena beberapa hari terakhir ia semakin sadar bahwa hubungan antara dosen dan mahasiswa memiliki batas yang sangat jelas.
Ravi tidak pernah membuatnya merasa seperti itu. Bahkan ketika Ravi menyebalkan, terlalu kritis, atau sengaja menggodanya, ia tetap tahu bagaimana bersikap sebagai dosen di kampus.
Qiera menarik napas perlahan.
Justru karena itulah ia tidak boleh membiarkan satu kasus membuatnya menggeneralisasi semua orang.
“Aku akan ikut dalam tim penanganan kasus ini,” katanya akhirnya.
Arga mengangguk. “Aku juga.”
Mereka kemudian mulai menyusun langkah-langkah yang harus dilakukan.
...****************...
Dua hari berikutnya hari Qiera terasa jauh lebih sibuk setelah BEM menyelidiki kasus aduan mahasiswi sebelumnya.
Tim BEM mengumpulkan laporan yang masuk, melakukan koordinasi dengan pihak terkait, dan mengajukan permintaan audiensi resmi. Qiera hampir tidak pernah benar-benar duduk tenang. Seusai kelas, ia langsung menuju ruang BEM. Seusai rapat, ia masih harus membaca berkas sebelum pulang.
Bahkan Naya sampai mengeluh karena hampir tidak pernah menemukan Qiera di kantin.
“Kamu sekarang lebih sering di BEM daripada di kelas,” protes Naya suatu siang.
Qiera memasukkan beberapa dokumen ke dalam map. “Aku tetap masuk kelas, kok.”
“Masuk. Tapi habis itu menghilang.”
“Ada urusan organisasi.”
“Arga lagi?”
Qiera langsung menatapnya seolah bertanya maksud sahabatnya itu.
Naya tertawa. “Aku cuma nanya.”
“Jangan mulai.”
“Aku kan cuma nanya, ngga bermaksud apa-apa.”
Qiera menggeleng sambil menyembunyikan senyum. Ia sudah terlalu terbiasa dengan candaan semacam itu.
Namun, kesibukan tersebut akhirnya membawa BEM pada keputusan untuk mengadakan aksi damai di area kampus. Mereka ingin menyampaikan tuntutan agar laporan mahasiswi ditangani secara serius, proses pemeriksaan dilakukan secara transparan, dan mahasiswi yang melapor mendapatkan perlindungan.
Hari itu halaman fakultas dipenuhi mahasiswa.
Tidak ada keributan. Tidak ada tindakan yang berlebihan. Hanya poster, suara orasi, dan barisan mahasiswa yang berdiri menyampaikan tuntutan mereka.
Qiera berdiri di samping Arga sambil memegang lembar pernyataan yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya.
“Siap?” tanya Arga.
Qiera menarik napas. “Siap.”
Arga mengangguk, lalu memberikan isyarat kepada anggota lain.
Suara orasi mulai terdengar.
Qiera yang biasanya hanya berada di belakang layar untuk mengurus administrasi kali ini ikut maju. Ia menyampaikan beberapa poin tuntutan dengan suara lantang dan jelas. Tangannya sempat gemetar pada awalnya, tetapi setelah melihat banyak mahasiswa berdiri di belakangnya, rasa itu perlahan hilang.
Dari kejauhan, seorang dosen berdiri di bawah koridor gedung fakultas.
Ravi.
Ia tidak datang untuk ikut campur. Ia hanya baru selesai mengajar dan kebetulan melewati halaman tersebut. Namun, pandangannya berhenti ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya berdiri di antara kerumunan.
Qiera.
Rambut panjangnya tertiup angin, tangannya menggenggam megafon, dan wajahnya terlihat jauh lebih serius daripada ketika berada di rumah.
Ravi hampir tersenyum, menyadari fakta bahwa istrinya cukup berani. Namun senyum itu tak bertahan lama ketika seseorang berdiri di sebelah Qiera.
Arga.
Laki-laki itu sesekali menunduk untuk membisikkan sesuatu kepada Qiera. Qiera akan menjawab, kemudian keduanya kembali memperhatikan jalannya aksi.
Ravi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia tidak tahu kenapa pemandangan itu membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.
Bukankah itu hanya Ketua BEM yang sedang bekerja bersama Wakil Ketua BEM? Tidak ada yang aneh.
Ravi bahkan tahu betul posisi mereka. Tetapi tetap saja, tatapannya beberapa kali kembali ke arah yang sama.
Sampai akhirnya Qiera selesai menyampaikan pernyataannya dan turun dari tempatnya. Saat itulah Arga langsung memberikan sebotol air dan Qiera menerimanya sambil tersenyum.
Entah kenapa, Ravi langsung berbalik. Ia berjalan menuju gedung dosen dengan langkah yang sedikit lebih cepat daripada biasanya.
Tidak ada alasan untuk memperhatikan. Sama sekali tidak ada. Lagipula, Qiera adalah mahasiswanya.
Meskipun di luar kampus, Qiera adalah...
Ravi menghentikan pikirannya sendiri. Ia masuk ke ruangannya dan meletakkan berkas di atas meja dengan sedikit lebih keras daripada biasanya.
Sementara itu, Qiera sama sekali tidak tahu bahwa seseorang baru saja memperhatikannya cukup lama. Ia justru sedang sibuk membereskan poster bersama Arga.
“Kerja bagus,” kata Arga.
Qiera mengembuskan napas lega. “Akhirnya selesai juga.”
“Belum selesai. Kita masih harus rapat evaluasi.”
Qiera menatapnya tidak percaya. “Kak, tolong jangan bilang begitu sekarang.”
Arga tertawa. “Aku bercanda.”
“Jahatnya.”
“Makanya jangan terlalu serius.”
Qiera ikut tertawa kecil. Beberapa anggota yang berada tidak jauh dari mereka kembali bersiul dan menggoda.
“Wah, Bu Waka sama Ketua lagi!”
Qiera langsung menunjuk mereka. “Kalian kalau masih ngomong begitu, besok aku kasih tugas tambahan.”
Suasana kembali ramai oleh tawa. Qiera tidak memikirkan apa pun selain pekerjaan mereka hari itu.
Ia tidak tahu bahwa dari kejauhan, Ravi sempat menoleh sekali lagi sebelum akhirnya menghilang di balik pintu gedung.
...🌃🌃🌃...
Malam hari, Qiera akhirnya pulang ke apartemen. Ia cukup terkejut saat menemukan Ravi sudah duduk di meja makan sambil membuka laptop.
Qiera meletakkan tasnya di kursi. “Mas.”
Ravi mengangkat wajah. “Pulang juga.”
“Iya. Hari ini capek banget.”
“Kelihatan.”
Qiera menarik kursi lalu duduk. “Tadi ada aksi di kampus.”
“Saya tahu.”
Qiera menatapnya. “Kok tahu?”
“Saya ada di sana.”
“Oh.”
Qiera kemudian mulai bercerita. Tentang rapat, tentang tuntutan mahasiswa, tentang bagaimana Arga sempat salah membawa dokumen sampai semua orang panik sebelum akhirnya ditemukan di bawah tumpukan proposal.
Ravi hanya mendengarkan tanpa banyak menyela. Sampai akhirnya ia bertanya dengan nada yang terdengar terlalu biasa.
“Arga ikut?”
Qiera berhenti bercerita. Gadis itu kemudian menatap Ravi beberapa detik. “Kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Terus kenapa Mas nanya?”
“Saya hanya bertanya.”
Qiera menyipitkan mata. “Arga itu Ketua BEM. Ya pasti ikut.”
Ravi mengangguk pelan. “Oh.”
Hanya satu kata singkat. Tetapi entah kenapa terdengar seperti ada sesuatu di baliknya.
Entah pemikiran dari mana, Qiera tiba-tiba menahan tawa. “Mas cemburu?”
Ravi langsung menatapnya. “Jangan mengada-ada.”
Pria itu kembali fokus pada laptopnya.
Namun hal itu justru membuat Qiera tertawa kecil. “Aku cuma bercanda.”
“Bagus.”
“Tapi Mas tadi nanyanya aneh.”
“Saya bertanya biasa.”
“Biasanya dilihat dari mana?”
Ravi kembali melihat laptopnya. “Lily.”
“Hm?”
“Kalau sudah selesai makan, jangan lupa istirahat. Besok kamu kuliah.”
Setelah mengatakan itu, bahkan Ravi kembali diam bekerja.
Melihat sisi Ravi ini, membuat Qiera hanya bisa menghela napas. “Iya, iyaa...”
Namun, untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal yang sebenarnya cukup mengganggunya.
Ia terlalu banyak memperhatikan Qiera.
Dan yang lebih mengganggu lagi, ia mulai memperhatikan siapa saja yang berada di sekitar perempuan itu.
Sementara Qiera sendiri tidak menyadari apa pun. Baginya, Arga tetap seorang senior sekaligus rekan organisasi. Kasus di kampus adalah urusan yang harus diperjuangkan.
Dan Ravi?
Tetap sosok dosen menyebalkan yang kebetulan juga menjadi suaminya.
Setidaknya untuk sekarang.
Karena tanpa mereka sadari, kehidupan kampus yang selama ini terasa biasa mulai membawa mereka pada sesuatu yang jauh lebih rumit.
Bukan hanya tentang rahasia pernikahan.
Bukan hanya tentang organisasi.
Melainkan tentang perasaan yang perlahan tumbuh di tempat yang bahkan belum siap mereka akui.
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊