Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Pengakuan di Balik Kabut dan Sumpah sang Pelindung Rahasia
Malam membungkus padepokan Cheon Gi Won dalam kesunyian yang mencekam, namun badai yang berkecamuk di dalam dada Han Seol jauh lebih dahsyat dari gemuruh angin di luar.
Di dalam ruang tengah kediamannya, pria berjubah hitam itu berdiri mematung di depan meja kayu. Sepasang matanya yang sedingin es kini memancarkan gurat penyesalan yang teramat mendalam.
Pandangannya terkunci tanpa henti pada lentera giok Jinyowon yang berada di atas meja—lentera istimewa yang sempat dipadamkan oleh Jin So Hwa dan kini telah menyala kembali dengan pendaran cahaya biru keperakan yang benderang.
Setiap kerlip apinya seolah memproyeksikan kembali runtunan kenangan manis yang telah ia lalui bersama gadis nekat itu. Mulai dari pertemuan pertama mereka di kamar Jinyowon, senyuman polosnya di kedai makan, hingga kebohongan konyol tentang kehamilan di hadapan Raja demi menyelamatkan diri.
Dalam kesunyian malam itu, dinding keangkuhan Han Seol runtuh seutuhnya. Ia akhirnya tersadar dari kebutaan batinnya selama ini: ia telah jatuh cinta dan tergila-gila pada Jin So Hwa.
Rasa kehilangan yang menusuk dada membuatnya tidak bisa bertahan lebih lama lagi dalam kepura-puraan. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Han Seol menyambar pedangnya dan segera bergegas memacu langkah menuju benteng Jinyowon demi merebut kembali istrinya.
Namun, kejutan takdir menantinya. Sesampainya di benteng Jinyowon dan mendapati kamar paviliun dalam kosong, Han Seol berbalik arah dengan kecemasan yang kian memuncak.
Tanpa di duga, langkah kakinya justru menuntun dirinya kembali ke pelataran sepi Cheon Gi Won. Di bawah naungan pohon rindang yang berkabut, ia menjumpai Jin So Hwa sedang berdiri termenung menatap riak air kolam.
Rupanya, semenjak momen perpisahan yang getir di rumah keluarga Han malam lalu, Jin So Hwa ternyata belum sama sekali melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah ibunya. Ia terjebak dalam dilema dan duka di antara dua tempat yang menolaknya.
"So Hwa..." panggil Han Seol, suaranya sedikit bergetar memecah keheningan kabut malam.
Jin So Hwa memutar tubuhnya dengan cepat, matanya yang sembap membelalak kaget menatap kehadiran sang Penyihir Agung. Belum sempat So Hwa membuka mulut untuk melayangkan protes atau meluapkan rasa sakit hatinya, Han Seol sudah melangkah lebar, mempersempit jarak di antara mereka.
Dengan keberanian yang baru ia temukan, Han Seol langsung mendekap pundak So Hwa dan mengungkapkan seluruh isi hatinya yang terdalam tanpa ada lagi kata-kata dingin yang membentengi.
"Aku mencintaimu, So Hwa." ucap Han Seol tulus.
Mendengar pengakuan cinta yang teramat tulus dari pria yang selama tiga tahun ini menutup hatinya, tangis So Hwa pecah. Dan pada detik berikutnya, hal indah yang selama ini mereka berdua inginkan pun akhirnya terjadi di bawah saksi cahaya bulan malam itu.
Setelah rentetan ketegangan dan adu mulut yang melelahkan di antara ego masing-masing, Han Seol menarik tubuh So Hwa kian mendekat, dan keduanya saling berciuman dengan teramat mesra—sebuah ciuman yang menyatukan kembali jalinan takdir mereka yang sempat koyak.
Usai adegan emosional tersebut, Han Seol menggandeng erat tangan So Hwa, bertekad di dalam batinnya untuk tidak akan pernah melepaskannya lagi ke tangan Jinyowon.
"Aku akan mencari solusi hukum agar kita bisa kembali bersama tanpa memicu perang, So Hwa," ucap Han Seol mantap.
Oleh karenanya, hal krusial mengenai pembatalan kesepakatan barter ini akan segera ia diskusikan secara mendalam dengan pamannya, Do Kwang, malam ini juga.
****
Bersamaan dengan bersatunya kembali sepasang kekasih tersebut, di sudut ruang medis Seojukwon, Baek Seo Jun sedang merapikan pakaian perjalanannya.
Meskipun tubuhnya belum begitu pulih sepenuhnya dari sisa gerogotan parasit, hatinya merasa teramat tidak enak dan dirundung rasa bersalah yang besar. Ia tahu betul bahwa Han Seol terpaksa harus berpisah dan mengembalikan Jin So Hwa ke Jinyowon adalah murni demi menukar keselamatan nyawanya dari cacing darah.
"Aku tidak bisa membiarkan Nara menderita lagi demi diriku," gumam Seo Jun dengan tatapan mata yang mengeras penuh tekad.
Didorong oleh keinginan besar untuk membalas seluruh kebaikan dan pengorbanan Han Seol, Seo Jun nekat melangkah keluar dari Cheon Gi Won menuju benteng Jinyowon untuk menemui Jin Hwa Young secara pribadi.
Di dalam ruang pertemuan Jinyowon yang sepi, Jin Hwa Young menatap kedatangan putra jenderal utara itu dengan dahi berkerut heran.
Namun, sebelum wanita paruh baya itu sempat membuka suara untuk mengusirnya, Baek Seo Jun sudah melangkah maju dengan wibawa yang menekan. Dengan memanfaatkan rahasia sakral yang sudah ia ketahui dari Master Lee, Seo Jun secara terang-terangan melayangkan ancaman mutlak kepada Jin Hwa Young.
"Nyonya Jin, aku datang ke sini bukan sebagai pasien yang berterima kasih," ucap Baek Seo Jun dengan suara rendah yang sarat akan intimidasi.
"Aku meminta Anda dengan sangat... biarkan Jin So Hwa tetap tinggal dan hidup bahagia bersama Han Seol. Jangan pernah mencoba menariknya kembali ke tempat ini. Jika Anda menolak atau kembali mengusiknya, maka malam ini juga aku bersumpah akan membongkar dan mengungkap identitas asli Jin So Hwa yang tak lain adalah jiwa Nara sang pembunuh bayangan ke hadapan Raja dan seluruh Pertemuan Umum!"
Jin Hwa Young tersentak mundur dengan wajah memucat, tangannya gemetar menahan amarah akibat rahasia paling mengerikan miliknya diancam akan dibongkar ke publik.
Meski begitu, melihat kepanikan di wajah sang ibu pemimpin, Seo Jun menarik napas panjang. Nada suaranya melunak, berubah menjadi kalimat yang bermaksud menghibur batin Jin Hwa Young dengan informasi mistis baru yang baru saja ia ketahui dari Master Lee.
"Anda tidak perlu cemas kehilangan putri kandung Anda selamanya, Nyonya Jin," tutur Seo Jun dengan gurat kesedihan yang samar di matanya.
"Master Lee telah memeriksa raganya. Faktanya... jiwa Jin So Hwa yang asli saat ini sedang bergerak mendekati kesadaran dan sebentar lagi akan terbangun sepenuhnya dari tidurnya. Yang mana, di waktu yang sama, kebangkitan pemilik asli tubuh itu juga akan secara otomatis menyingkirkan, mengikis, dan melenyapkan jiwa Nara yang selama tiga tahun ini menguasai tubuhnya."
Seo Jun mengepalkan tangannya di balik jubah, menahan sesak di dadanya saat harus mengucapkan kalimat berikutnya.
"Jadi... sebelum sisa waktu itu habis, dan sebelum jiwa Nara benar-benar menghilang selamanya dari dunia ini... aku memohon kepada Anda selaku ibunya. Biarkan ia merasakan kebahagiaan sejati di sisa hidupnya yang singkat ini bersama pria yang dicintainya."
Mendengar penuturan ulang yang teramat logis sekaligus menyentuh sisi keibuannya mengenai kepulangan jiwa anak kandungnya yang sesungguhnya, pertahanan Jin Hwa Young runtuh seutuhnya.
Air mata kepasrahan mengalir di pipinya yang mulai berkerut. Setelah terdiam cukup lama menimbang takdir kelam kedua jiwa tersebut, Jin Hwa Young akhirnya mengangguk pelan dan setuju untuk membiarkan Jin So Hwa tetap tinggal bersama Han Seol tanpa gangguan lagi dari Jinyowon.