NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Mereka yang Masih Memanggilku Zero

Pukul 04.45 pagi.

Bip! Bip! Bip!

Suara alarm memecah keheningan kamar.

Sebuah tangan terulur dari balik selimut, meraih ponsel di atas meja, lalu mematikan alarm sebelum bunyinya membangunkan penghuni kamar lain.

Ervan Noir membuka mata.

Berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, kali ini ia tidak langsung beranjak untuk berlatih.

Ia justru berbaring beberapa saat, memandangi langit-langit kamar yang masih gelap.

Hari ini akhirnya tiba.

Hari Seleksi Hunter.

Ervan duduk di tepi ranjang, kemudian mengusap wajahnya.

Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat daripada biasanya.

𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢...

Selama bertahun-tahun, ia hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya mengikuti seleksi resmi untuk memperoleh lisensi Hunter.

Dahulu, membicarakan hal itu saja sudah cukup membuat orang-orang menertawakannya.

Namun sekarang, seluruh dokumen pendaftarannya telah tersusun rapi di dalam tas.

Ervan berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

Sebelum membuka pintu, ia sempat melirik cermin. Rambutnya masih mencuat ke satu sisi, dan pipinya masih menyisakan bekas lipatan bantal.

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘪𝘢-𝘴𝘪𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘱," gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pada bayangannya sendiri.

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil.

"𝘖𝘬𝘦. 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘰𝘣𝘢."

Pukul 05.35 pagi.

Aroma telur goreng dan nasi hangat memenuhi ruang makan panti asuhan.

Ervan yang baru selesai berpakaian menemukan Rosaline Laurentcia sedang menyiapkan sarapan.

"𝘕𝘦𝘬?" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti di ambang pintu. "𝘒𝘰𝘬 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘫𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪?"

𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 menoleh, spatula masih di tangannya. "𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨? 𝘋𝘶𝘥𝘶𝘬."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandang dua porsi makanan yang sudah tertata di meja. "𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵-𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵, 𝘕𝘦𝘬. 𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘭𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪."

"𝘙𝘰𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶, 𝘢𝘪𝘳 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨." 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 meletakkan spatula dan menarik kursi untuknya. "𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘧𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯."

Ervan tertawa kecil, lalu duduk. Kalau Rosaline sudah bicara dengan nada seperti itu, membantah hanya akan membuat nasinya dingin.

Rosaline duduk di hadapannya.

Tidak banyak yang mereka bicarakan.

Sesekali Rosaline menanyakan barang bawaannya. Kartu identitas. Formulir. Pas foto. Ervan menjawab sambil membuka map lagi, padahal sejak bangun tadi ia sudah memeriksanya dua kali.

Setelah selesai makan, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengambil tasnya. "𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘕𝘦𝘬. 𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘶𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴."

𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 berdiri dan merapikan kerah kemejanya, padahal kerah itu sudah rapi sejak tadi. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪. 𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢-𝘮𝘢𝘯𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersenyum. "𝘐𝘺𝘢, 𝘕𝘦𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵, 𝘺𝘢."

Namun sebelum ia benar-benar melangkah keluar, 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 kembali memanggilnya. "𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯."

Pemuda itu menoleh.

Suara 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 lebih pelan daripada sebelumnya. "𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵."

Ervan terdiam sejenak.

Ia hampir menjawab dengan candaan, bahwa ia hanya pergi ujian, bukan berangkat perang. Namun ia belum lama keluar dari rumah sakit. Candaan seperti itu tidak akan terdengar lucu bagi Rosaline.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangguk. "𝘈𝘬𝘶 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘕𝘦𝘬."

Pukul 07.10 pagi.

Kompleks Seleksi Hunter Regional telah dipadati kendaraan.

Puluhan mobil pribadi dan kendaraan umum silih berganti memasuki kawasan tersebut. Di sepanjang trotoar, calon peserta berjalan menuju gerbang pemeriksaan dengan membawa tas dan dokumen masing-masing.

Ervan turun dari kendaraan umum, kemudian mengangkat wajah.

Di hadapannya berdiri sebuah kompleks luas yang dikelilingi pagar pengaman tinggi.

Lambang W.H.O — World Hunter Organization terpampang di atas gerbang utama.

Beberapa petugas berseragam berjaga di pos pemeriksaan, sementara layar elektronik besar menampilkan informasi registrasi peserta.

Ervan berhenti beberapa saat.

𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢...

Sejak kecil ia sudah sering melihat kompleks pelatihan Hunter melalui televisi dan siaran dokumenter.

Namun melihatnya secara langsung memberikan kesan yang berbeda.

Terlebih karena hari ini ia datang bukan sebagai penonton.

Ia datang sebagai peserta.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Sebastian.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: "𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘯𝘺𝘢𝘴𝘢𝘳. 𝘓𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪."

Ervan tersenyum, lalu mengetik balasan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻: "𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩. 𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: "𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘜𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘮𝘪𝘯𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘰𝘬 𝘫𝘢𝘨𝘰, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘯𝘤𝘪𝘯𝘨."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻: "𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯. 𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘪."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: "𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘶."

Ervan tertawa kecil.

Ia memasukkan ponsel ke saku, kemudian berjalan menuju gerbang.

Suasana di dalam kompleks jauh lebih ramai daripada yang dibayangkannya.

Ratusan calon Hunter memenuhi halaman utama.

Sebagian melakukan peregangan ringan. Beberapa duduk bersama teman-temannya sambil membaca catatan. Ada pula yang berbincang dengan anggota keluarga sebelum memasuki area khusus peserta.

Ervan memperhatikan mereka satu per satu.

Seorang pemuda bertubuh tinggi sedang membicarakan teknik pedang bersama temannya. Tidak jauh dari sana, beberapa peserta mengenakan atribut akademi dan membahas pengalaman simulasi pertarungan.

Di sudut lain, seorang gadis membawa kotak penyimpanan Regalia yang masih tersegel untuk pemeriksaan keamanan.

𝘗𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢...

Sebagian besar dari mereka tampak terbiasa dengan lingkungan Hunter.

Postur tubuh terlatih.

Cara berjalan yang mantap.

Bahkan beberapa peserta tampak mengenal satu sama lain.

Ervan tanpa sadar membandingkan pengalaman mereka dengan dirinya sendiri.

Ia baru benar-benar mempelajari Basic Combat selama dua minggu.

Sementara banyak peserta di tempat ini telah mengikuti pendidikan dan pelatihan sejak kecil.

𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘶𝘩.

Namun ia segera teringat ucapan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 beberapa hari lalu. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘝𝘢𝘯. 𝘏𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘪𝘭."

Ervan mengembuskan napas perlahan.

Ia kembali berjalan menuju area registrasi.

Sampai sebuah suara menghentikan langkahnya.

"𝘌𝘩, 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶. 𝘐𝘵𝘶 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯?"

Ervan menoleh.

Tiga pemuda berdiri tidak jauh dari jalur antrean. Salah seorang di antaranya menatapnya seperti melihat orang yang seharusnya sudah lama menghilang.

"𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘯? 𝘐𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢."

Temannya mengerutkan kening. "𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳? 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢, 𝘴𝘪𝘩?"

"𝘔𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘶𝘱𝘢?" Pemuda pertama tertawa pendek. "𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘢𝘵𝘪𝘣𝘪𝘭𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘰𝘬 𝘥𝘪 𝘯𝘰𝘭."

Keheningan singkat menyusul.

Lalu pemuda ketiga menjentikkan jari. "𝘖𝘩! 𝘚𝘪 𝘡𝘦𝘳𝘰!"

Bahu Ervan menegang.

Julukan itu.

Sudah cukup lama ia tidak mendengarnya diucapkan langsung dengan nada seperti itu.

"𝘚𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢? 𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."

"𝘒𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘱 𝘥𝘰𝘬𝘶𝘮𝘦𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪."

Beberapa orang di sekitar mereka mulai menoleh.

Ervan memilih mengabaikannya.

Ia kembali berjalan.

Namun suara berikutnya membuat langkahnya melambat.

"𝘏𝘦𝘪, 𝘡𝘦𝘳𝘰! 𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳?"

Seorang pemuda berambut hitam kecokelatan melangkah keluar dari kelompok tersebut.

Tubuhnya tinggi dan cukup berotot. Sebuah jaket olahraga berwarna gelap dikenakannya, dengan emblem sekolah Hunter pada bagian dada.

Ervan mengenal wajah itu.

Rangga Pradipta.

Mereka pernah berada di lingkungan sekolah yang sama.

Dahulu Rangga termasuk murid yang cukup menonjol dalam pelatihan fisik dan pertarungan dasar.

Dan seperti beberapa murid lainnya, ia juga mengetahui riwayat kegagalan CORE Ervan.

"𝘙𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membetulkan pegangan pada mapnya. "𝘓𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶. 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘪𝘯𝘪."

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 menyeringai. "𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪. 𝘉𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘰𝘭." Ia sengaja memberi jeda. "𝘊𝘰𝘤𝘰𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶."

Ervan tidak langsung menjawab.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mendekat sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket. "𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩. 𝘐𝘯𝘴𝘵𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘯𝘰𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘰𝘭𝘰𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯? 𝘗𝘦𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘳𝘪𝘸𝘢𝘺𝘢𝘵𝘮𝘶, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢?"

Beberapa peserta mulai berbisik.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mempertahankan nada suaranya. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘥𝘶𝘳, 𝘮𝘦𝘫𝘢 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢." Ia mengedikkan dagu ke arah antrean registrasi. "𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘯𝘶𝘩𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢."

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mengangkat alis. "𝘞𝘢𝘩. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴, 𝘺𝘢." Nada suaranya lalu turun, seperti sedang menasihati anak kecil. "𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳, 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘯𝘦𝘬𝘢𝘵. 𝘈𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘶𝘮𝘶𝘳 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪."

"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘭𝘪𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘨𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢-𝘤𝘶𝘮𝘢."

Senyum 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 sedikit memudar. "𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘢𝘯𝘨?" Ia melirik lengan Ervan. "𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩? 𝘉𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪, 𝘰𝘬𝘦. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘵𝘰𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘮𝘣𝘢𝘭 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membalas tatapannya. "𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘵𝘰𝘵 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘊𝘖𝘙𝘌. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘵𝘦𝘴𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘯𝘦𝘣𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘶𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘦𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."

Seorang peserta di belakang Rangga terkekeh.

Namun Rangga tidak ikut tertawa.

Ia justru melangkah lebih dekat. "𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢, 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢. 𝘒𝘶𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳?" Ia memiringkan kepala. "𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢? 𝘋𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪."

Ekspresi Ervan berubah.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 menangkap perubahan itu. "𝘖𝘩? 𝘒𝘦𝘯𝘢, 𝘺𝘢?" Senyumnya kembali melebar. "𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪, 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶."

Jari-jari 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengencang di tepi map. "𝘌𝘫𝘦𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘸𝘢-𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢."

Nada suaranya tetap terkendali.

Namun kali ini tidak ada senyum di wajahnya.

Rangga mendengus.

Ia maju, lalu sengaja menyenggol bahu Ervan ketika melewatinya.

Benturan itu tidak keras.

Tetapi cukup untuk memicu reaksi spontan.

Dalam sepersekian detik, tubuh Ervan hampir bergerak mengikuti kebiasaan latihan.

Kaki belakangnya bersiap melakukan pivot.

Bahunya ingin berputar.

Tangan kanannya hampir terangkat untuk melakukan counter.

Namun Ervan menghentikan semuanya.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘯𝘤𝘪𝘯𝘨.

Ucapan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 terlintas di kepalanya. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯, 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘤𝘰𝘳𝘦𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢."

Ervan mengendurkan kedua tangannya.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 sudah berbalik, jelas menunggu. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪? 𝘉𝘢𝘩𝘶𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳." Sudut bibirnya terangkat. "𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatapnya beberapa saat. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶, 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘭𝘪𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘭𝘢𝘩𝘪 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯."

Senyum 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 menghilang. "𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶, 𝘡𝘦𝘳𝘰?"

"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘥𝘪𝘴𝘬𝘶𝘢𝘭𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶."

Rangga maju setengah langkah.

Namun sebelum ia sempat menanggapi, suara keras terdengar dari samping.

"𝘏𝘦𝘪! 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢!"

Seorang petugas seleksi mendekat dengan langkah lebar. "𝘐𝘯𝘪 𝘢𝘳𝘦𝘢 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵, 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯."

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 segera mundur dan mengangkat kedua tangan. Senyumnya kembali dalam sekejap. "𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢, 𝘗𝘢𝘬. 𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢."

Petugas itu menatap mereka bergantian. "𝘛𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪. 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘳𝘦𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘤𝘰𝘳𝘦𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪. 𝘗𝘢𝘩𝘢𝘮?"

"𝘗𝘢𝘩𝘢𝘮, 𝘗𝘢𝘬." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sedikit menundukkan kepala. "𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵𝘢𝘯."

Petugas itu lalu menyuruh mereka kembali ke antrean.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 melirik Ervan untuk terakhir kalinya, lalu berkata cukup pelan agar petugas itu tidak mendengar. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵, 𝘡𝘦𝘳𝘰. 𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘳𝘶."

Ia berbalik dan pergi.

Ervan memperhatikannya sesaat sebelum melanjutkan langkah.

Dadanya masih terasa panas.

Namun kali ini ia berhasil menahan diri.

𝘕𝘺𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢...

Pukul 08.03 pagi.

Ervan akhirnya tiba di meja registrasi.

Petugas perempuan di balik meja berbicara tanpa mengalihkan mata dari layar komputernya. "𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘨𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯."

"𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘨𝘪, 𝘉𝘶. 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyerahkan map beserta kartu identitasnya.

Petugas itu menerima map tersebut, kemudian memeriksa data di komputer.

Beberapa saat kemudian, ia mengangguk. "𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵. 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘬 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘯𝘰𝘮𝘰𝘳 𝘪𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘤𝘦𝘵𝘢𝘬."

Ervan memperhatikan layar.

Semua data sesuai.

"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘉𝘶."

Petugas menekan beberapa tombol. Sebuah mesin kecil di sampingnya mulai berdengung.

Tak lama kemudian, kartu peserta keluar dari mesin pencetak.

Petugas itu menyerahkannya. "𝘐𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘦𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴." Matanya sudah beralih ke belakang bahu Ervan. "𝘉𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerimanya dengan kedua tangan. "𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩, 𝘉𝘶."

Ia menepi dari antrean.

Kemudian menunduk memperhatikan kartu tersebut.

WORLD HUNTER ORGANIZATION

SELEKSI HUNTER — REGIONAL INDONESIA

NAMA: ERVAN NOIR

STATUS: PESERTA TERDAFTAR

Ervan terdiam.

Untuk sesaat, suara keramaian di sekitarnya terasa menjauh.

Selama bertahun-tahun, ia selalu menjadi orang yang berdiri di luar dunia Hunter.

Mendengar cerita orang lain.

Melihat keberhasilan orang lain.

Dan menelan kenyataan bahwa dirinya dianggap tidak memiliki kesempatan.

Namun sekarang...

Namanya benar-benar tercetak di kartu peserta resmi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengusap permukaan kartu itu dengan ibu jarinya. Senyum kecil muncul di wajahnya. "𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢..."

Ia mengangkat kepala.

Di ujung koridor, sebuah papan elektronik mulai menampilkan pembagian kelompok peserta untuk pengarahan awal.

Ervan mencari namanya.

Setelah beberapa saat, ia menemukannya.

Namun senyumnya perlahan memudar ketika membaca nama berikutnya yang tercantum dalam kelompok yang sama.

RANGGA PRADIPTA.

Ervan menatap layar tersebut.

𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪.

Pada saat bersamaan, suara pengeras memenuhi kompleks.

"𝘗𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. 𝘙𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱. 𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘪 𝘢𝘳𝘦𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨."

Pintu besar di ujung koridor mulai terbuka.

Ervan menggenggam kartu pesertanya.

Dan ketika ia hendak melangkah, seseorang berhenti tidak jauh di sampingnya.

Rangga.

Pemuda itu melirik papan elektronik, lalu terkekeh. "𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬, 𝘺𝘢? 𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘡𝘦𝘳𝘰."

Ervan tidak membalas.

Ia hanya menatap pintu yang perlahan terbuka semakin lebar.

Ujian sesungguhnya bahkan belum dimulai.

Namun ia sudah mengetahui satu hal.

Hari ini, dirinya tidak hanya harus menghadapi standar dunia Hunter yang selama ini terasa mustahil dijangkau.

Ia juga harus berhadapan kembali dengan masa lalu yang menganggap dirinya tidak pantas berada di sana.

Dan kali ini...

Ervan Noir tidak berniat mundur.

— BAB 23 SELESAI —

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!