NovelToon NovelToon
Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Abu Kebohongan

​Fajar menyingsing dengan warna kelabu yang muram di atas Lembah Seratus Obat.

​Tepat ketika lonceng pagi berdenting untuk ketiga kalinya, dua penjaga elit yang bertugas mengantar bahan herbal ke sayap barat Paviliun Dalam mendapati ada yang tidak beres. Tidak ada suara rebusan kuali, tidak ada asap belerang yang mengepul dari ventilasi, dan hawa di sekitar Ruang Tungku Besi terasa sedingin kuburan.

​Ketika mereka mendobrak pintu obsidian yang engselnya telah bengkok, bau darah kering dan belerang hangus langsung menerjang wajah mereka.

​"Diakon Han!" salah satu penjaga menjerit ngeri.

​Di tengah ruangan yang hancur berantakan, Diakon Han Mo tergeletak tak bernyawa. Pemandangannya sungguh mengerikan. Tubuhnya kurus kering seperti ranting layu, rambutnya memutih seutuhnya, dan dada serta perutnya meledak dari dalam, meninggalkan rongga hangus yang berbau asam korosif.

​Di sudut ruangan yang jauh, tertimbun di bawah karung-karung kotoran kelelawar dan kapur yang tumpah, Tabib Li ditemukan tak sadarkan diri. Tubuhnya dipenuhi luka gores berdarah, wajahnya pucat pasi, dan napasnya sangat tipis.

​Dalam waktu kurang dari satu jam, sayap barat dipenuhi oleh petinggi sekte. Inspektur Zhao Yan tiba dengan wajah sedingin besi, dan tak lama kemudian, Master Lu dari Balai Formasi melangkah masuk dengan raut wajah kesal karena dibangunkan pagi-pagi buta.

​"Penyimpangan Qi," Zhao Yan memberikan vonis pertamanya setelah menatap mayat Han Mo. Ia tidak menyentuh mayat itu, terlalu jijik dengan sisa energi kotor yang merembes dari Dantian sang Diakon. "Energi airnya memberontak dan menghancurkan organ dalamnya sendiri."

​Master Lu mendengus keras, tawanya dipenuhi nada merendahkan yang luar biasa. "Sudah kubilang pada idiot ini semalam! Formasinya menyedot uap belerang dari tungku di sebelahnya. Esensi Qi-nya tercemar. Bukannya berhenti bermeditasi dan meminum pil pembersih, dia malah memaksakan diri memutar Qi-nya untuk melawan polusi itu! Air yang dipaksa menelan racun asam pasti akan mendidih dan meledak!"

​Zhao Yan menoleh ke arah sudut ruangan. "Dan tabib fana itu?"

​Seorang penjaga medis sekte yang baru saja memeriksa denyut nadi Li Yun menunduk hormat. "Dia masih hidup, Inspektur. Namun organ fana-nya terguncang hebat akibat gelombang kejut dari ledakan Dantian Diakon Han. Lengan kanannya mengalami retak tulang parah. Dia hanya beruntung tumpukan karung kapur ini meredam sebagian besar ledakannya."

​Mendengar itu, Zhao Yan kehilangan minat sepenuhnya. Kematian Han Mo adalah hasil dari kebodohan dan arogansi, bukan pembunuhan. Sisa-sisa energi di ruangan ini murni berasal dari fluktuasi Han Mo sendiri dan limbah beracun, tanpa ada jejak Qi pembunuh asing.

​"Tutup kasus ini," perintah Zhao Yan sambil membalikkan badan. "Buang mayat Han Mo ke rawa. Sekte tidak menyediakan kuburan bagi orang bodoh yang mati karena tak bisa mengukur kemampuannya sendiri. Dan buang tabib fana itu keluar dari Paviliun Dalam. Aku tidak mau melihat lagi ada sampah manusia di area suci ini."

​Tiga hari kemudian, di Sektor Ketiga Wilayah Luar.

​Musim dingin pertama telah turun, menyelimuti tenda-tenda kumuh dengan salju tipis. Di dalam klinik kayunya yang gelap, Li Yun perlahan membuka perban di lengan kanannya.

​Tulangnya sama sekali tidak retak, tentu saja. Kulit luarnya memang memar dan robek—luka yang sengaja ia buat sendiri menggunakan gesekan batu obsidian untuk mengelabui penjaga medis sekte—namun di bawah daging itu, Tulang Kayu Besi-nya bersinar hijau gelap dengan serat perak yang absolut. Fondasi fisiknya telah sempurna.

​Tubuh fananya kini adalah wadah kokoh yang siap menampung samudra Qi dari proses Pembentukan Fondasi.

​Namun, ia tahu ia tidak bisa melakukannya di sini.

​Pembentukan Fondasi bukanlah proses sunyi seperti Pengumpulan Qi. Proses itu akan memicu fenomena alam kecil—awan spiritual akan berkumpul, pusaran Qi akan terbentuk di atas kepalanya, dan tubuhnya akan memancarkan cahaya. Melakukannya di sekte pinggiran ini sama saja dengan menyalakan suar di tengah malam yang gelap, mengundang setiap Tetua Sekte untuk datang membedahnya. Ia butuh tempat yang memiliki urat nadi bumi yang kaya, namun terisolasi dari pandangan sekte raksasa.

​"Waktunya pergi," gumam Li Yun.

​Tirai tendanya terbuka, membawa masuk embusan angin dingin. Ah San melangkah masuk dengan sangat hati-hati, memanggul sebuah karung kecil.

​"Tabib Li," bisik Ah San, menatap lengan Li Yun yang dibalut perban dengan tatapan penuh simpati. Di mata Ah San, Tabib Li adalah korban malang dari kejamnya dunia kultivator. "Saya membawakan beberapa herbal penambah darah seperti yang Anda minta."

​Li Yun tersenyum tipis. Ia merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil, lalu mendorongnya ke arah Ah San.

​"Ini adalah resep Pil Penghalau Miasma milikku, beserta sepuluh botol pil yang sudah jadi," ucap Li Yun perlahan.

​Ah San terbelalak. Tubuhnya gemetar. "T-Tabib... apa maksudnya ini?"

​"Organ dalamku rusak akibat ledakan di Paviliun Dalam, San. Udara beracun di lembah ini hanya akan mempercepat kematianku. Aku harus kembali ke dunia fana, mencari desa yang hangat untuk menghabiskan sisa umurku," Li Yun mengucapkan kebohongan itu dengan raut wajah melankolis yang sempurna. "Dengan resep ini, kau dan Si Pincang Ma bisa terus bertahan hidup. Jual pilnya secara diam-diam, kumpulkan batu roh, dan mungkin suatu hari nanti... kau bisa membeli kebebasanmu dari sekte ini."

​Ah San berlutut di tanah tanah yang dingin, air mata menetes dari mata pemuda keras kepala itu. Di dunia yang dipenuhi pembunuhan dan pengkhianatan ini, Tabib Li adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya layaknya manusia.

​"Hamba tidak akan melupakan kebaikan Anda, Guru Li," isak Ah San, bersujud tiga kali.

​Li Yun menerima sujud itu dalam diam. Ia telah menanam benih kesetiaan di lembah ini. Jika sepuluh atau dua puluh tahun lagi ia membutuhkan informasi dari Lembah Seratus Obat, Ah San akan menjadi mata dan telinganya yang paling tajam.

​Satu jam kemudian, sesosok pria berbalut jubah rami abu-abu tebal melangkah perlahan keluar dari gerbang barat Sektor Ketiga.

​Para penjaga gerbang tidak mempedulikannya. Bagi mereka, itu hanyalah punggung ringkih seorang budak medis yang telah habis masa pakainya, berjalan tertatih-tatih menuju kematiannya di dunia fana.

​Begitu Li Yun melewati bukit terakhir yang menutupi pandangan dari sekte, posturnya yang bungkuk perlahan menegak. Langkahnya yang tertatih berubah menjadi stabil, ringan, dan tanpa suara. Salju tipis di tanah bahkan tidak meninggalkan jejak kaki di belakangnya.

​Udara dunia luar terasa membekukan, namun bagi Li Yun, ini adalah napas kebebasan pertamanya sejak ia menginjakkan kaki di lembah neraka tersebut.

​Ia berhenti sejenak di persimpangan tebing. Di utara, membentang daratan tak bertuan yang dipenuhi monster dan sekte-sekte iblis. Di timur, terletak ibu kota fana Kekaisaran Zhou Agung—tempat di mana keluarga kerajaan konon dikendalikan oleh kultivator Pembentukan Fondasi dari balik layar, yang menggunakan nadi naga emas kerajaan untuk berkultivasi.

1
Armoire
1 vote meluncur lah /Drool//Drool/
ARay
mantap Thor 😎
ARay
bagus ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!