"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Daftar Hitam
Tebak apa yang sedang dilakukan Kate pagi ini. Duduk di meja rias sambil mempercantik diri? Membicarakan ayahnya yang menyebalkan seperti biasa? Tidak. Justru sang putri tunggal Duke Raventhal itu sedang melakukan hal yang benar-benar membuat Rhea bertanya-tanya.
"Nona, apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Rhea dengan tatapan polos yang penuh kebingungan.
Kate yang sedang duduk di atas ranjangnya, menggenggam ujung pena tinta dan meletakkan selembar kertas di depannya, menoleh kesal ke arah sang dayang. "Ck, diamlah Rhea. Jangan mengganggu fokusku!" katanya dengan alis mengerut tajam.
Rhea hanya bisa mengangguk. Perlahan, dayang itu makin menundukkan kepalanya agar bisa membaca tulisan dari pena tinta nonanya yang tergores di atas kertas.
---
Daftar Hitam (Rencana Cadangan Jika Kabur Pas Pertunangan Gagal): Bikin Jenderal Batu Membenciku!
Teh rasa aneh.
Menaruh kodok di sepatu saat dia mau latihan.
Mengganti pedang agungnya dengan pedang kayu latihan.
Menyebarkan gosip ke para bangsawan kalau Salvatore takut kucing.
(Opsional) Menculik kudanya dan memberikan pita berwarna merah muda.
---
Rhea memiringkan kepalanya. Ia akhirnya mengeluarkan suara. "Nona..." panggilnya.
Kate yang masih sibuk memikirkan poin daftar hitam lainnya tidak menoleh, tetapi menyahut percaya diri. "Ya, Rhea? Kau mau memujiku karena rencanaku sangat bagus? Tidak apa-apa, puji saja.”
"Anda tahu kalau semakin Anda mencoba hal-hal seperti ini, Anda hanya akan terlihat makin menarik di mata beliau?" tanya Rhea polos, menatap lurus ke arah Kate yang seketika merasa seperti disambar petir di siang bolong.
Tatapan horor Kate langsung tertuju pada Rhea. "Hah? Itu tidak mungkin!"
"Mungkin saja, Nona." Rhea menaruh tangannya di dagu, bersikap sok serius.
"Pria-pria seperti Jenderal Sal itu tidak suka gadis cantik yang lembut dan penurut. Itu sudah jadi standar nasional gadis bangsawan dan tentu saja membosankan. Tapi Anda? Anda galak, bahkan menyusun rencana kekanak-kanakan ini. Anda hanya akan membuat beliau makin tertarik karena berbeda dari perempuan lain."
Kate menjatuhkan pena tintanya sampai meninggalkan noda hitam besar di atas seprai sutranya. Ia menatap Rhea seolah dayangnya itu baru saja meramalkan kiamat lima menit lagi.
"Menarik? Aku? Di mata jenderal kaku itu? Rhea, kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu karena terlalu sering menghirup aroma pembersih jendela!" seru Kate dengan nada ngeri.
Rhea hanya mengangkat bahu, wajahnya tetap datar tanpa riak emosi. "Nona, pikirkan secara logis. Jenderal Ardan sudah menghabiskan sepuluh tahun di medan perang. Beliau terbiasa dikelilingi pria-pria kasar berbau keringat atau para bangsawan yang bicaranya terlalu manis sampai bikin gigi linu. Tiba-tiba ada Anda, yang menaruh kodok di sepatunya? Beliau akan mengira itu adalah 'variasi hidup' yang menyegarkan.
"Menyegarkan apanya? Itu penghinaan!" bantah Kate, meski kini tangannya mulai gemetar. "Baiklah, kalau kodok tidak berhasil, aku pakai daftar nomor lima. Menculik kudanya! Aku akan mengubah citra panglima perangnya menjadi... pecinta warna merah muda!"
"Kuda Jenderal Ardan itu seekor stallion tempur seberat setengah ton yang hanya patuh pada tuannya, Nona," sela Rhea kalem. "Alih-alih menculiknya, Anda malah akan diseret berkeliling istana karena kaki Anda tersangkut di pelana. Lalu Jenderal Ardan akan datang menyelamatkan Anda seperti pahlawan di buku cerita. Sangat romantis, bukan?"
Kate membayangkan adegan itu—dirinya tergantung terbalik di badan kuda sementara Salvatore menangkapnya dengan lengan berototnya—dan langsung merinding hebat. "Ugh! Singkirkan bayangan menjijikkan itu! Aku tidak mau jadi pemeran utama di buku roman picisan!"
"Tapi Anda cantik, Nona," tambah Rhea tiba-tiba, membuat Kate tertegun sejenak.
"Hah? Apa hubungannya?"
"Fakta lapangan menunjukkan bahwa apa pun yang dilakukan orang cantik akan selalu dianggap sebagai 'keunikan', bukan 'kegilaan'. Jika Anda memberinya teh rasa aneh, beliau mungkin hanya mengira Anda sedang bereksperimen dengan resep kesehatan untuk menarik perhatiannya," jelas Rhea dengan nada filosofis yang menyebalkan.
Kate memegangi kepalanya yang mulai berdenyut. "Jadi maksudmu... apa pun yang aku lakukan, dia tetap akan menyukaiku?"
"Selama wajah Anda masih seperti porselen mahal dan bukan seperti pantat panci gosong, kemungkinan besar iya," jawab Rhea polos. "Lagipula, Jenderal itu tipe pria yang menyukai tantangan. Dan bagi pria yang sudah memenangkan perang seratus tahun, menjinakkan Putri Raventhal yang sedang merajuk mungkin adalah hiburan paling seru di masa pensiunnya nanti."
Kate langsung meremas kertas 'Daftar Hitam' itu menjadi bola kecil dan melemparkannya ke pojok ruangan. "Ini tidak adil! Kenapa jadi cantik dan galak malah jadi bumerang buat aku sendiri?"
"Nasib, Nona," pungkas Rhea sembari memungut pena tinta yang jatuh. "Saran saya, daripada sibuk menaruh kodok, lebih baik Anda belajar cara menyeduh teh yang benar. Siapa tahu jika Anda membuatnya terlalu enak, beliau malah akan sering datang dan... oh, tunggu, itu malah makin buruk buat Anda, ya?"
Kate mengerang frustrasi dan menjatuhkan tubuhnya ke tumpukan bantal. "Keluar, Rhea! Cari lowongan kerja di perpustakaan kerajaan sana! Aku butuh orang yang mendukung rencanaku, bukan orang yang mematahkan semangatku dengan fakta realistis!"
Rhea membungkuk sopan sebelum melangkah keluar. "Baik, Nona. Saya akan pergi mencari informasi lebih lanjut... tentang apakah Jenderal Ardan benar-benar takut kucing atau tidak. Siapa tahu itu satu-satunya poin yang masuk akal di daftar Anda."
Pintu tertutup pelan. Kate bangkit dari ranjang, menatap gulungan kertas di lantai dengan tatapan sendu, lalu berjalan mendekati jendela.
"Huh..." Ia menghela napas panjang dan dramatis. Wajah tegasnya mendadak sendu. Ia meletakkan punggung tangan kanannya di dahi. "Dari banyaknya wanita cantik, wanita yang tulus dan baik hati... kenapa harus aku? Padahal ini bukan pilihanku."
Kate memejamkan mata erat-erat, membayangkan masa depannya yang suram: bangun setiap pagi di samping pria yang aromanya mungkin campuran antara besi pedang dan debu medan perang. Pria yang mungkin menjawab "Selamat pagi" dengan nada komando serangan garis depan.
"Kenapa dunia begitu kejam pada kecantikan ini?" ratapnya pelan. "Apakah ini kutukan karena aku terlalu sering menolak pangeran-pangeran tengil itu?"
Tiba-tiba matanya terbuka lebar. Sebuah kilatan ide menyeruak di benaknya. Jika menjadi galak dianggap menarik dan menjadi cantik adalah beban, maka ia harus menyerang dari sudut lain!
"Kebersihan!" gumam Kate sambil mengetuk-ngetuk dagunya. "Pria militer pasti sangat disiplin. Aku akan jadi wanita paling berantakan yang pernah dia temui! Aku akan makan ayam panggang dengan tangan kosong dan menyekanya ke jubah kebesarannya! Atau... aku mengoleksi serangga mati dan menatanya di meja makan!"
Kate tersenyum miring, membayangkan wajah Salvatore yang sekeras semen itu berubah pucat pasi saat melihat kecoa kering dijadikan hiasan piring.
"Iya! Aku akan bersikap sangat aneh sampai dia sendiri yang memohon pada Raja untuk membatalkan pertunangan ini karena menganggapku gila! Aku akan belajar cara tertawa menyeramkan. MUAHAHAHA! Nah, itu sempurna!"
Saking asyiknya bertingkah gila, Kate tidak menyadari pintu kamarnya kembali terbuka sedikit. Rhea berdiri di sana membawa baki berisi susu hangat dan roti gandum, menatap nonanya yang sedang berdiri di atas kursi sambil merentangkan tangan ke atas seolah memanggil kekuatan gelap.
Kate terlonjak kaget dan hampir jatuh dari kursi jika tidak segera memegang sandaran.
"Rhea! Kau ini hobi sekali masuk tanpa suara!" semprot Kate buru-buru memperbaiki posisinya.
Rhea meletakkan baki di atas meja kecil, lalu menatap Kate dari ujung kaki hingga kepala dengan pandangan datar. "Nona... Anda sedang apa?"
"Kau mau bilang kalau pura-pura gila juga dianggap menarik oleh Jenderal Ardan? Jangan bercanda! Tidak ada pria waras yang mau menikahi wanita yang hobi mengoleksi bangkai serangga!" tantang Kate penuh kemenangan.
Rhea menghela napas panjang, merapikan seprai yang terkena noda tinta. "Saran saya, Nona... jangan repot-repot pura-pura gila. Jenderal Ardan sudah sering menghadapi orang yang benar-benar gila di medan perang. Beliau bahkan pernah menangkap mata-mata yang menyamar jadi pohon selama tiga hari tanpa berkedip. Tingkah Anda tadi... jujur saja, lebih terlihat seperti anak kecil yang sedang belajar teater di pasar malam."
Kate ternganga. "Anak kecil? Teater pasar malam? Kau menghina kemampuan aktingku?"
"Saya hanya realistis, Nona. Lagipula, jika Anda makan ayam panggang dengan tangan kosong di depannya, beliau mungkin hanya akan tertawa kecil dan menganggap Anda 'berjiwa bebas'. Pria yang terbiasa makan daging tikus di tengah kepungan musuh tidak akan merasa jijik hanya karena sedikit minyak ayam di jubahnya."
Kate jatuh terduduk di ranjangnya, harga dirinya hancur berkeping-keping. "Jadi... tidak ada harapan?"
Rhea menyodorkan gelas susu hangat dengan wajah tanpa dosa. "Nona, jangan terlalu dramatis. Minumlah susunya. Daripada menyusun rencana gila yang tidak akan berhasil, lebih baik Anda fokus menjaga kesehatan. Karena jika rencana kabur Anda pas hari pertunangan nanti benar-benar dilakukan, Anda butuh banyak energi untuk berlari dari kejaran anjing pelacak militer milik Jenderal."
Kate menatap gelas susu itu, lalu menatap Rhea yang sedang merapikan gaun di lemari.
"Aku benci kau, Rhea," gumam Kate sebelum meneguk susunya.
"Saya tahu, Nona. Itu sudah ada di daftar tugas saya sejak sepuluh tahun lalu," balas Rhea santai sebelum mematikan lampu minyak di sudut ruangan.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗