Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.
Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.
Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.
Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.
Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.
Namun Noah bukan anak biasa.
Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.
Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?
Dan sebenarnya...
siapa Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA SEBASTIAN VIRELL
Semakin lama Althea menghabiskan waktu di lingkaran keluarga Virell, semakin dia menyadari bahwa pertemuannya dengan Adrian lima tahun lalu mungkin tidak sesederhana yang selama ini dia yakini.
Kecurigaan itu bermula dari hal-hal kecil yang mulai dia perhatikan. Cara Sebastian menatapnya setiap kali mereka berada di ruangan yang sama, tatapan yang bukan sekadar rasa ingin tahu seorang kakek terhadap ibu dari cucunya, melainkan sesuatu yang lebih dalam, seolah dia sudah mengenal Althea jauh sebelum pertemuan resmi mereka terjadi. Cara beberapa staf lama keluarga Virell terkadang menyapanya dengan kecanggungan aneh, seolah mereka mengenali wajahnya dari suatu tempat yang tidak seharusnya mereka ketahui.
Suatu sore, ketika Noah sedang bermain di taman belakang bersama Elena yang sangat menikmati perannya sebagai nenek yang baru ditemukan, Althea memberanikan diri menemui Sebastian sendirian di ruang bacanya, sebuah ruangan besar dipenuhi rak buku yang menjulang sampai langit-langit.
"Aku ingin bertanya sesuatu," katanya, duduk di kursi seberang Sebastian tanpa menunggu diundang, sebuah keberanian yang jarang ditunjukkan siapa pun terhadap kepala keluarga Virell yang sebenarnya.
Sebastian menatapnya lama, kemudian meletakkan buku yang sedang dia baca dengan hati-hati di meja samping. "Aku sudah menunggu pertanyaan ini sejak pertama kali kau menginjakkan kaki di rumah ini," jawabnya, suaranya tenang namun ada sesuatu yang berat di baliknya.
"Malam itu, di hotel, lima tahun lalu," kata Althea, matanya tidak berkedip menatap wajah tua di hadapannya, "apakah itu benar-benar kebetulan?"
Keheningan panjang mengisi ruangan sebelum Sebastian akhirnya menghela napas, sebuah gestur yang jarang dia tunjukkan kepada siapa pun.
"Tidak sepenuhnya," jawabnya akhirnya, dan pengakuan itu membuat dada Althea terasa sesak, insting lamanya sebagai Black Rose langsung bangkit waspada.
Sebastian menjelaskan, dengan nada yang jauh lebih rapuh daripada reputasinya sebagai pria paling ditakuti di dunia bawah tanah, bagaimana dia telah mengetahui keberadaan Althea jauh sebelum malam itu, melalui jaringan intelijen lama yang masih dia pertahankan meski sudah lama pensiun dari posisi kepemimpinan aktif.
"Aku mengetahui Obsidian Order memiliki rencana terhadap keluarga kami," katanya, matanya menerawang jauh seolah mengingat kembali peristiwa bertahun-tahun lalu. "Mereka melihat kekuatan Virell Dynasty sebagai ancaman, dan mereka merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar transaksi informasi biasa malam itu."
"Jadi kau menempatkanku di sana," kata Althea, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya. "Kau yang mengatur pertemuan itu."
"Aku percaya Adrian membutuhkan seseorang yang mampu berdiri di sisinya ketika perang besar datang," jawab Sebastian, tidak mencoba menyangkal atau membela diri. "Seseorang dengan kemampuan sepertimu, yang bisa melindungi dirinya sendiri sekaligus melindungi orang di sekitarnya. Aku tidak pernah merencanakan apa yang terjadi setelahnya. Aku hanya ingin kalian bertemu, tidak lebih dari itu."
Althea berdiri, langkahnya gelisah mondar-mandir di ruangan itu, mencoba mencerna kebenaran yang baru saja dia dengar. "Kau memanipulasi hidupku tanpa pernah bertanya."
"Ya," jawab Sebastian sederhana, tidak berusaha membenarkan tindakannya. "Dan aku tidak akan meminta maaf untuk niat di baliknya, meski aku menyesali cara aku melakukannya. Namun rencanaku kemudian dimanfaatkan oleh orang lain, seseorang yang aku sendiri tidak sepenuhnya kenali sampai sekarang."
Kata-kata itu membuat Althea berhenti bergerak, menatap tajam kepada Sebastian. "Apa maksudmu?"
"Kesalahan kecil menciptakan konsekuensi besar," jawab Sebastian pelan. "Efek zat yang kau konsumsi malam itu, yang membuatmu kehilangan kendali untuk pertama kalinya, itu bukan kesalahan dosis biasa seperti yang mungkin kau yakini selama ini. Seseorang memanipulasinya, memanfaatkan rencanaku sebagai kesempatan untuk tujuan mereka sendiri."
Althea merasakan lantai di bawah kakinya seolah bergeser, mengingat kembali malam itu, kebingungan yang tidak pernah bisa dia jelaskan sepenuhnya kepada dirinya sendiri selama bertahun-tahun.
"Siapa?" tanyanya, suaranya kini dipenuhi ketegangan yang tidak bisa disembunyikan.
Sebastian menggelengkan kepala perlahan. "Aku belum sepenuhnya yakin. Tapi seseorang di dalam jaringan lama kami mengetahui rencanaku dan memutuskan untuk memanfaatkannya demi tujuan mereka sendiri, dan dari kesalahan itu, kau melahirkan Noah."
Nama itu membuat sesuatu berubah dalam raut wajah Sebastian, dari kegelisahan seorang pria tua yang mengaku kesalahan masa lalu, menjadi kelembutan yang jauh lebih dalam.
"Aku ingin kau tahu satu hal," katanya, suaranya melunak. "Aku tidak pernah menginginkan Noah menjadi senjata seperti yang mungkin kau khawatirkan. Sebaliknya, sejak pertama kali aku mendengar tentang keberadaannya, aku melihatnya sebagai anak yang harus dilindungi, bukan alat yang harus dimanfaatkan."
Althea menatapnya lama, mencoba menentukan apakah dia bisa mempercayai kata-kata itu sepenuhnya, mengingat betapa rumitnya dunia yang selama ini mengelilingi keluarga Virell.
"Tapi ada orang lain," lanjut Sebastian, nada suaranya kembali serius, "seseorang yang mengetahui rencanaku sejak awal, dan menggunakan jaringan yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya pahami untuk mengawasi keluarga ini selama bertahun-tahun terakhir."
Di luar jendela ruang baca itu, tawa Noah yang bermain bersama Elena terdengar samar dari taman belakang, ceria dan tidak menyadari sedikit pun bahaya yang mungkin sedang mengintai dari bayangan yang bahkan belum sepenuhnya terungkap identitasnya, sebuah misteri yang akan tetap menggantung, mengancam ketenangan yang baru saja mulai mereka rasakan sebagai sebuah keluarga.