NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Pintu Belakang

...#...

...Di seberang sana tidak ada suara jalan, tidak ada klakson, dan tidak ada orang yang bicara di latar belakang. Hanya sunyi yang terlalu rapi, seperti telepon itu dipegang di ruangan yang sudah dikosongkan....

..."Aku nggak kenal kamu," kata Bima....

..."Iya. Itu yang bikin kamu bisa tidur sampai tadi malam."...

...Bima menoleh ke pintu belakang. Pintu itu tertutup, tapi kuncinya belum ia pasang. Ia berdiri, lalu duduk lagi, lalu berdiri lagi tanpa alasan yang jelas....

..."Kamu mau apa?"...

..."Aku belum mau apa-apa. Aku cuma mau kamu buka halaman tiga belas."...

..."Halaman tiga belas buat apa?"...

..."Kamu tahu buat apa. Kamu sudah melihatnya tadi, sebelum sampai ke tanggal itu."...

...Bima menelan ludah. Tenggorokannya kering, dan ia baru sadar sejak tadi tidak minum apa-apa. "Saya nggak bawa bukunya ke sini."...

..."Tapi kamu menyimpannya di laci kasir. Yang di bawah kertas nota."...

...Bima tidak menjawab. Ia menatap laci itu, seolah laci bisa bicara dan mengaku sendiri....

..."Dengar," kata perempuan itu. Suaranya tidak naik, tidak turun. Justru itu yang membuat Bima ingin menaruh ponsel dan lari ke luar. "Aku bukan orang yang suka menelepon lewat malam. Biasanya aku kirim orang. Tapi orang yang aku kirim tadi siang kamu perlakukan seperti pelanggan biasa. Itu bagus. Tapi tidak cukup."...

..."Saya memperlakukan semua pelanggan sama."...

..."Aku tahu. Makanya kamu masih hidup."...

...Ada bunyi kecil di seberang, seperti seseorang meletakkan gelas di atas meja kayu. Bima merasakan dadanya menegang dengan cara yang tidak ia kenal....

..."Adikmu sekolah di SMA Tiga, kan?" lanjut suara itu. "Pulang jam dua. Lewat gerbang belakang karena gerbang depan sering macet. Bu Wartini biasanya masak nasi goreng jam tujuh malam. Pak Darto tinggal di Gang Melati, rumah cat hijau, pintu kedua dari ujung."...

...Bima tidak bisa menahan diri. "Jangan bawa-bawa mereka."...

..."Aku nggak bawa mereka. Mereka sudah ada di situ sejak awal. Aku cuma bilang aku tahu."...

...Tangan Bima menekan meja kasir. Kayunya terasa dingin dan agak lengket oleh minyak sate yang tidak pernah benar-benar hilang....

..."Saya mau tutup telepon."...

..."Kalau kamu tutup, aku akan tahu. Dan besok pagi, orang yang datang ke sini bukan yang pakai jas."...

...Hening lagi....

...Bima membuka laci. Tangannya bergerak sendiri, tanpa ia perintahkan. Buku resep itu ada di sana, di bawah nota-nota yang sudah menguning. Ia mengeluarkannya dengan satu tangan, sambil tetap menempelkan ponsel di telinga....

..."Halaman tiga belas," katanya....

..."Iya."...

...Bima membuka sampul. Halaman satu, dua, tiga. Ia tidak membaca. Ia membalik lembar-lembar itu dengan cepat seperti sedang mencari nomor kamar di hotel yang tidak ia kenal....

..."Pelan-pelan," kata perempuan itu. "Kamu seperti orang yang takut bukunya akan menggigit."...

...Bima berhenti di halaman tiga belas....

...Berbeda dari halaman lain, halaman ini hanya berisi kolom. Ada tanggal, ada angka, ada kata-kata pendek yang ditulis rapat. *Gudang 4. Timur. Tiga kontainer. Lepas jam 2.* Di bagian bawah, ada gambar kecil dengan pensil: lingkaran dan sebuah jangkar, tapi jangkarnya terbalik, seperti dibuat oleh tangan yang tidak sabar....

...Di sudut kanan atas, ada nama yang dicoret dengan tinta hitam, sampai nyaris tidak terbaca. Hanya huruf depan yang tersisa. *G.*...

...Bima menatap huruf itu lama....

..."Sudah?"...

..."Belum."...

..."Kamu lihat jangkarnya?"...

..."Lihat."...

..."Tahu itu buat apa?"...

..."Nggak."...

..."Bagus. Jangan tahu dulu."...

...Bima tidak tahan lagi. "Kamu sebenarnya siapa?"...

..."Itu pertanyaan yang sama dari tadi. Kamu cuma lebih keras sekarang."...

..."Karena saya dapat kartu, saya dapat tamu, saya dapat orang pakai jas, dan sekarang saya disuruh baca buku bapak saya seperti ini sudah wajar. Itu nggak wajar, Mbak."...

..."Aku tahu."...

..."Terus kenapa?"...

...Perempuan itu diam sebentar. Bima bisa mendengar napasnya, pelan dan teratur, seperti orang yang sedang menahan sesuatu supaya tidak keluar terlalu cepat....

..."Karena ayahmu tidak sempat menyelesaikan sendiri," katanya akhirnya. "Dan aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu orang lain melakukannya."...

...Bima membuka mulut, tapi tidak ada yang keluar. Dari dapur, di balik tirai, Wartini batuk kecil. Ia pasti mendengar suara Bima yang meninggi tadi....

..."Ibu," panggil Bima pelan....

..."Kenapa, Mas?" Suara Wartini datang dari dekat pintu kamar. Pelan dan curiga. "Siapa?"...

..."Nggak ada. Tidur, Bu."...

...Hening. Lalu pintu kamar menutup, tapi tidak sepenuhnya....

...Bima kembali ke telepon. Perempuan itu tidak bertanya siapa yang tadi bicara. Itu lebih menakutkan daripada kalau ia bertanya....

..."Besok jam sembilan," katanya. "Tutup warung. Bawa ibu dan adikmu ke rumah Pak Darto. Jangan bilang ke siapa-siapa, termasuk ke Pak Darto kalau kamu merasa dia terlalu banyak bicara."...

..."Saya nggak akan—"...

..."Kamu akan. Tapi tidak sekarang."...

...Telepon mati....

...Bima menatap layar. Angka yang tadi menelepon sudah hilang, digantikan wallpaper foto kosong. Ia menurunkan ponsel perlahan, lalu meletakkannya di atas meja, di sebelah buku yang masih terbuka di halaman tiga belas....

...Ia tidak menutup buku itu....

...Ia mengambil kursi plastik dan duduk, menatap pintu belakang. Lampu neon di atas kepalanya berkedip dua kali, lalu diam....

... ...

...Bima tidak tidur. Ia hanya duduk di kursi kasir sampai subuh, sesekali berdiri untuk mengintip celah tirai jendela depan. Jalan kosong. Lampu jalan berkedip. Di ujung gang, kucing hitam lewat dan berhenti sebentar, menoleh ke warung, lalu pergi....

...Menjelang jam empat, Bima sudah memutuskan sesuatu. Ia tidak mau memberi tahu siapa pun....

...Ia menyelipkan buku resep ke dalam kain batik, lalu memasukkannya ke tas ransel hitam tua milik ayahnya yang selama ini hanya dipakai untuk membawa arang cadangan. Ia menaruh kartu hitam di saku dalam jaket. Kemudian ia berdiri, mematikan lampu depan, dan berjalan ke dapur untuk mengambil sisa minyak tanah....

...Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Mungkin hanya ingin tangannya sibuk....

...Bunyi kaki di gang belakang membuatnya membeku....

...Langkahnya pelan, dua orang, mungkin tiga. Tidak berjalan seperti orang yang mau pulang. Berhenti, bergerak lagi, berhenti. Lalu suara logam pelan, seperti kunci yang dimasukkan ke gerendel pintu....

...Bima mematikan lampu dapur....

...Gelap menutup warung seperti kain basah. Ia bisa mencium arang sisa semalam dan bau daging yang sudah dibersihkan terlalu lama. Di tangannya, botol minyak tanah terasa terlalu licin....

...Pintu belakang terbuka sedikit. Celah cahaya dari gang jatuh di lantai semen....

...Bima bergerak ke samping kompor, mundur sampai punggungnya menyentuh rak piring. Ia mendengar napas seseorang di luar pintu. Tidak tenang. Napas orang yang sudah berlari dan belum sempat berhenti....

...Pintu terbuka lebih lebar....

...Laki-laki pertama masuk dengan kepala menunduk. Ia tidak membawa senjata di tangan, tapi tangannya masuk ke saku jaket dan tidak keluar lagi. Bima melihat sepatunya yang basah. Lalu laki-laki kedua masuk, lebih tinggi, dan langsung menyapu ruangan dengan matanya....

..."Di mana?" bisik laki-laki kedua....

..."Di kasir."...

..."Yakin?"...

..."Dia tadi nelepon, kan?"...

...Bima menahan napas. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya tahu bahwa ia tidak boleh bersuara....

...Laki-laki pertama melangkah ke arah ruang depan. Bima melihat bayangnya melewati tirai dapur, lalu berhenti. Laki-laki itu menoleh ke kamar kecil, tempat Wartini tidur, dan Bima baru sadar pintu kamar itu masih setengah terbuka....

...Darahnya naik sampai ke telinga....

..."Jangan..." kata Bima, tanpa suara yang berarti....

...Laki-laki pertama mendengar. Ia berbalik cepat dan menatap ke arah kompor. Bima mengangkat botol minyak tanah dan melemparkannya ke arah tungku. Botol itu pecah di sisi besi, dan minyak tanah tumpah ke lantai semen, mengalir ke bawah panggangan....

...Laki-laki kedua berteriak pendek, lalu mencoba mundur, tapi kakinya tergelincir di minyak. Ia jatuh sambil memegang meja....

...Bima tidak berpikir. Ia meraih bara dari panggangan dengan penjepit besi, dan melemparkannya ke genangan minyak....

...Api menyala. Tidak besar, tapi cukup untuk membuat laki-laki pertama melompat ke belakang dengan teriakan kaget. Panas menjalar ke wajah Bima. Kipas di atas tungku terbakar sebagian, plastiknya meleleh dan menetes ke lantai....

..."Anjing!" laki-laki kedua bangkit, wajahnya merah karena api. Ia menerjang ke arah Bima....

...Bima mengangkat tangan, dan pukulan laki-laki itu mengenai sisi kepalanya. Dunia bergetar sebentar. Ia terjatuh ke rak piring, piring-piring pecah berserakan di bawah kakinya. Sesuatu yang tajam menggores lengan kirinya, panas dan basah, tapi ia tidak sempat melihat....

...Laki-laki kedua menarik kerah jaket Bima dan mengangkat tinjunya lagi....

..."Mana bukunya?!"...

..."Nggak ada!"...

..."Bohong!"...

...Dari kamar, Wartini menjerit. Bukan jeritan panjang. Satu kali, keras, seperti refleks....

...Laki-laki kedua menoleh sepersekian detik. Di detik itu Bima mengambil satu-satunya benda yang ada di jangkauannya: kursi plastik. Ia mengangkatnya dan menghantamkannya ke bahu laki-laki itu. Kursi itu pecah, dan laki-laki itu terhuyung ke samping....

...Bima tidak menunggu. Ia berlari ke pintu depan, menarik gagangnya, dan terjatuh keluar ke jalan yang masih gelap dan basah....

...Udara dingin menghantam paru-parunya. Lengannya berdenyut, dan ada darah yang menetes ke aspal....

...Pintu belakang terbanting....

...Dari gang samping, sebuah mobil hitam muncul dengan lampu redup. Bima mengenalinya sebelum melihat platnya. Pintu belakang terbuka sebelum mobil berhenti....

...Dua laki-laki turun dari kursi depan. Bukan laki-laki yang tadi, bukan juga yang pakai jas. Mereka lebih diam. Salah satunya langsung berlari ke arah gang belakang, dan Bima mendengar suara pukulan, lalu jeritan tertahan, lalu sunyi....

...Yang satu lagi berdiri di depan Bima, tidak menyentuhnya. Ia menatap lengan Bima yang berdarah, lalu menatap wajahnya....

..."Bisa jalan?"...

..."Adik saya..."...

..."Adikmu sudah dijaga. Pak Darto sudah ada di sana."...

..."Ibu saya—"...

..."Ibumu juga sudah dijaga." Laki-laki itu tidak sabar, tapi suaranya tetap datar. "Kamu harus ikut sekarang. Kalau tidak, besok orang-orang itu kembali dengan jumlah lebih banyak."...

...Bima melihat ke arah warung. Api di dalam sudah padam, tapi asapnya masih naik lewat celah pintu belakang. Wartini berdiri di ambang pintu depan, memakai mukena yang setengah terlepas, dan wajahnya pucat seperti kertas....

..."Mas..." katanya....

...Bima ingin bicara. Ia ingin bilang bahwa ini bukan urusannya. Ia ingin bilang bahwa ia sudah bilang tidak akan ikut apa-apa. Tapi mulutnya terbuka dan kata-kata itu tidak keluar....

..."Ibu masuk," katanya akhirnya. "Kunci pintunya."...

..."Kamu mau ke mana?"...

..."Nggak tahu."...

...Wartini menggeleng keras. "Jangan pergi sama mereka."...

..."Nggak ada pilihan lain, Bu."...

...Laki-laki yang berdiri di depannya membuka pintu belakang mobil. Di dalam, di kursi yang paling jauh dari pintu, duduk perempuan itu. Mantelnya hitam dan rapi. Di pangkuannya ada map cokelat yang tidak terbuka. Lampu kecil di kabin menyinari wajahnya dari samping, dan Bima melihat bahwa perempuan itu tidak terlihat terkejut. Tidak juga marah. Hanya memperhatikan lengan Bima yang berdarah, seperti seseorang memeriksa barang yang rusak sebelum dibayar....

..."Kamu lebih cepat dari yang aku kira," katanya....

..."Saya nggak mau ikut."...

..."Aku tahu. Makanya aku tidak memaksamu masuk." Ia menggeser sedikit, memberi ruang di kursi sebelahnya. "Tapi kalau kamu tetap di luar, mereka yang akan masuk. Dan mereka tidak akan bertanya dulu."...

...Bima tidak bergerak. Hujan tipis mulai turun lagi, membasahi bahunya dan lengan yang berdenyut....

...Perempuan itu membuka map di pangkuannya. Tangannya tenang, tidak tergesa. Ia mengeluarkan selembar foto kecil, sudah menguning di bagian pinggir, dan menyodorkannya ke luar pintu....

...Bima mengambilnya dengan tangan kanan. Foto itu menunjukkan dua laki-laki berdiri di depan deretan kontainer, dengan latar laut yang kelabu. Yang sebelah kiri tinggi, berkacamata, dan tersenyum tipis. Yang sebelah kanan lebih pendek, memakai jaket kulit, dan menatap kamera seperti tidak suka difoto....

...Bima mengenali laki-laki kedua. Ia mengenal lengkungan rahangnya, cara bahunya sedikit condong ke depan, dan kerutan kecil di sudut mata yang sering ia lihat tiap kali ayahnya tertawa sambil mengipasi arang....

...Tenggorokannya tercekat....

..."Itu..."...

..."Ayahmu," kata perempuan itu. "Dua belas tahun lalu. Di pelabuhan."...

...Bima membalik foto itu. Di belakangnya, tulisan tangan yang sama dengan buku resep, miring dan sedikit naik ke kanan. Hanya satu baris....

...*Gudang 4. Tanggal 14. Jangan sendirian.*...

...Bima mengangkat wajahnya. Perempuan itu sudah menatapnya sejak tadi, dan kali ini ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Bima baca. Bukan belas kasihan. Bukan juga kemarahan. Seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu yang belum selesai....

..."Ayahmu juga pernah duduk di kursi ini," katanya pelan. "Dan dia juga bilang akan pulang sebelum subuh."...

...Hujan turun lebih deras. Di belakang Bima, dari arah warung, terdengar suara pintu belakang yang dibuka lagi dengan kasar....

...Perempuan itu tidak menoleh....

..."Masuk, Bima," katanya. "Atau mereka yang masuk untukmu."...

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!