"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Denda Satu Juta
***
"Saya cuma mau nambahin poin kesepakatan baru, Alana."
Mirza menjawab santai tanpa menghentikan goresan pulpennya di atas kertas. Jemarinya menari cekatan, menuliskan satu kalimat tambahan tepat di bawah baris nomor sepuluh.
"Poin sebelas," baca Mirza lantang setelah selesai menulis, menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan.
"Apabila di kemudian hari salah satu atau kedua belah pihak terbukti memiliki perasaan suka, cinta, atau ketertarikan emosional, maka seluruh isi surat kontrak ini dianggap hangus seketika ... dan kedua belah pihak dilarang keras untuk berpisah sampai kapan pun."
"Mirza! Kamu gila, ya?!" amuk Alana seketika. Matanya melotot lebar, dadanya kembang-kempis menahan napas yang mendadak berburu.
"Enggak ada! Aku enggak mau ada poin pembodohan kayak gitu! Itu namanya poin menjebak!"
Mirza menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menyilangkan kedua tangan di dada sambil menatap Alana penuh rasa percaya diri.
"Kenapa menjebak? Bilang aja kamu takut. Takut kalau suatu saat nanti kamu beneran jatuh cinta sama saya, kan?"
"Siapa yang takut?! Nggak usah keperdayaan!" bentak Alana sengit, melipat bibirnya rapat-rapat.
"Aku enggak akan pernah jatuh cinta sama kamu, Mirza. Paham? Semua yang kita jalani ini murni kerja sama bisnis dan profesionalitas semata!"
Tanpa membuang waktu, Alana menyambar kertas dokumen itu dari tangan Mirza. Dia meraih pulpen dengan gerakan kasar, lalu menggoreskan tinta hitam bertubi-tubi di atas tulisan Mirza sampai baris poin nomor sebelas itu benar-benar tertutup coretan hitam tak beraturan.
"Aku tolak keras poin ngaco ini!" tegas Alana sambil mendesis kesal.
Mirza justru tertawa terkekeh melihat reaksi sang istri yang kelabakan. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, memancing Alana lebih jauh.
"Jangan kelewat yakin begitu, Alana. Orang yang biasanya paling keras membantah di awal, ujung-ujungnya malah yang paling duluan jatuh cinta sampai tergila-gila."
"Nggak akan!" elak Alana cepat dengan pipi yang kian memerah. Dia menegakkan tubuhnya, mengacungkan pulpennya ke arah wajah Mirza.
"Aku bakal nambahin poin baru lagi! Kalau kamu sampai berani menggoda, memancing, atau bikin aku risih, kamu harus bayar denda yang jauh lebih mahal daripada satu juta!"
Mirza bukannya gentar, malah terkekeh renyah.
"Boleh. Mau denda berapa? Jangankan cuma bayar uang denda, aku rela jual organ tubuhku sekalian buat bayar ... asal bonusnya bisa meluk kamu setiap malam kayak tadi malam."
"Mirzaaa!"
Puncak kekesalan Alana akhirnya meledak. Rasa malu, salah tingkah, dan kejengkelannya menyatu menjadi emosi yang meluap. Alana menyambar bantal kepala di atas ranjang, lalu memukulkannya bertubi-tubi ke tubuh dan kepala Mirza tanpa ampun.
"Rasain ini! Dasar mesin bengkel mesum! Nyebelin banget!" teriak Alana sambil terus mengayunkan bantalnya.
Mirza hanya bisa tertawa terbahak-bahak sambil pasrah melindungi wajahnya dengan kedua tangan, menikmati luapan emosi Alana yang berhasil dia bongkar pertahanannya malam itu.
***
"Wah, pengantin baru baru pada turun nih," sapa Dwi renyah saat melihat Mirza dan Alana melangkah bersama menuruni anak tangga menuju meja makan.
Mata Dwi tertuju pada Alana, lalu menyunggingkan senyum penuh godaan.
"Lho, Alana ... rambut kamu kok masih basah gitu? Lupa di-hair dryer atau sengaja ditinggal basah nih?"
Pertanyaan itu sukses membuat Alana membeku di tempat. Wajahnya seketika merona merah. Dengan gerakan canggung dan serba salah, dia menyapukan tangan ke rambutnya yang memang masih lembap, lalu duduk terburu-buru di kursi sebelah Mirza yang sudah lebih dulu mendaratkan diri.
"Nih, Mama udah masakin nasi goreng spesial buat kalian," ujar Dwi seraya menaruh dua piring hangat di hadapan mereka. Dia melirik Mirza sambil terkekeh.
"Mirza, kamu makan yang banyak ya. Harus ekstra kuat biar sanggup menghadapi Alana yang juteknya minta ampun begini."
Liam yang sedang menyesap kopi hangatnya ikut menyahut tanpa beralih dari koran yang dibacanya.
"Alana ini memang jutek, Mirza. Tapi tenang aja, dia itu tipe jinak-jinak merpati. Dilepas agak jauh dikit juga pasti ujung-ujungnya terbang balik lagi ke sangkarnya Mirza."
Mirza menahan tawa, menyunggingkan senyum tipis yang makin membuat Alana ingin menghilang saat itu juga.
"Siap, Pa. Lagian sangkarnya udah dibuat senyaman mungkin, jadi enggak bakal bisa kabur jauh kok."
"Nah, gitu dong! Itu baru menantu kesayangan Mama," timpal Dwi semangat, disambut kekehan puas dari Liam.
Sementara tiga orang di meja itu sibuk saling melempar candaan renyah, Alana hanya bisa tertunduk dalam-dalam. Jemarinya mencengkeram erat sendok di tangannya. Rasanya dia ingin menyumbat telinga rapat-rapat mendengar orang tua dan suaminya sendiri bersatu memojokkan dan meledeknya habis-habisan di pagi hari.
"Sudah-sudah, ayo dimakan dulu," ucap Liam akhirnya menengahi setelah puas tertawa.
Mereka pun mulai menikmati sarapan dengan tenang. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Liam meletakkan cangkirnya, lalu menatap pasangan muda di hadapannya dengan raut wajah serius tapi hangat.
"Oh iya, Mirza, Alana ... Papa sama Mama itu kasihan melihat kalian. Kemarin habis nikah langsung sibuk kerja lagi, kagak ada istirahatnya sama sekali," kata Liam memulai.
Alana mendongak pelan, menatap papanya bingung.
Liam tersenyum lebar.
"Makanya, Papa sudah siapkan hadiah khusus buat kalian. Tiket honeymoon ke Swiss berdua, sekalian menginap di private resort selama dua minggu penuh. Kalian berangkat besok malam."
Uhuk! Uhuk!
Alana seketika tersedak hebat. Nasi goreng yang baru saja dikunyahnya terasa menyangkut di tenggorokan. Matanya membelalak lebar dengan napas terengah-engah, memukul dadanya sendiri yang terasa sesak karena kaget setengah mati.
"Eh, minum, minum!" cetus Mirza cepat. Dengan sigap dia menyambar gelas berisi air putih di sampingnya dan menyodorkannya ke mulut Alana, sambil menepuk-nepuk pelan punggung istrinya itu untuk meredakan rasa sakitnya.
***
"Kamu ngomong dong sama Papa, Mirza! Bikin alasan apa gitu biar rencana gila ini dibatalin!"
Omelan Alana bergema sepanjang koridor sejak mereka keluar dari pintu depan rumah hingga melangkah menyusuri pelataran. Wajahnya yang memerah dipenuhi rasa panik dan kekesalan yang tak tertampung lagi.
"Kerjaan aku di kantor itu lagi banyak-banyaknya, Mirza! Nggak bisa ditinggal gitu aja selama dua minggu!" seru Alana setengah frustrasi, melangkah lebar-lebar menyejajarkan posisinya dengan Mirza.
"Lagian dua minggu berduaan sama kamu di Swiss? Mau ngapain coba?! Pokoknya aku nggak mau pergi! Titik!"
Langkah mereka terhenti tepat di samping mobil sedan hitam yang sudah terparkir rapi. Alana berbalik, memasang badan di depan pintu mobil sambil berkacak pinggang, menatap Mirza dengan tatapan menuntut yang makin sengit.
Mirza yang mendengarkan sejak tadi sama sekali tidak terlihat panik. Dia justru menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat tenang, menatap istrinya yang sedang sibuk menggebu-gebu.
"Masuk ke mobil dulu, Alana," potong Mirza lembut sambil mengetuk pelan atap mobil.
"Sebelum Pak Satpam sama pelayan di rumah pada ngeliatin kita berantem di halaman begini. Nanti dikira aku KDRT lagi."
Alana melirik sekeliling dengan gusar, menyadari beberapa pekerja rumah tangga memang mulai mencuri pandang ke arah mereka. Dengan dengkusan kasar, Alana membanting pintu mobil, masuk dan duduk di kursi samping pengemudi. Mirza berputar, lalu masuk ke kursi kemudi dan menyalakan mesin.
Sedan hitam itu perlahan bergerak mulus melintasi gerbang utama dan membelah jalanan kompleks.
Baru beberapa meter mobil berjalan, Alana kembali meledak. Dia berputar menatap Mirza dari samping, tidak terima dengan respon santai suaminya.
"Mirza! Kamu dengar aku nggak, sih?!" cerca Alana dengan suara meninggi.
"Kamu dari tadi cuma diam aja! Bukannya mikir gimana caranya ngebatalin liburan ngaco itu! Aku nggak mau ikut bulan madu, dan kamu harus ngomong sama Papa hari ini juga!"
"Mirza! Jawab dong! Kamu dengar aku omong dari tadi enggak, sih?!" bentak Alana frustrasi, menepuk dasbor mobil dengan telapak tangannya.
"Cari cara buat ngebatalin tiket itu! Kamu kan pintar bikin alasan, buruan mikir!"
Mirza yang tetap tenang mengendalikan kemudi hanya menghela napas panjang. Dia melirik Alana sekilas lewat kaca spion tengah sebelum kembali fokus menatap jalanan di hadapan mereka.
"Enggak bakal bisa dibatalin, Alana," sahut Mirza santai.
"Semua fasilitasnya sudah dibeli, tiket pesawat, resort, semuanya sudah dibayar lunas sama Papa kamu. Mubazir kalau dibatalin gitu aja. Lagian uangnya kagak bisa balik."
"Aku enggak peduli mubazir apa enggak!" potong Alana cepat dengan napas berburu.
"Dua minggu di Swiss itu sama aja bunuh diri buat kontrak kita, Mirza! Kita mau ngapain di sana berduaan selama itu?! Kamu tahu kan resort privat itu bentuknya kayak apa? Pasti cuma ada satu kamar, satu ranjang, dan cuma ada kita berdua di sana! Enggak ada orang lain!"
Mirza menyunggingkan senyum tipis, sudut bibirnya terangkat jahil.
"Ya bagus, dong. Kamu bisa makin kaya mendadak di sana."
"Maksud kamu apa?!"
"Ya kan poin nomor sepuluh kemarin berlaku," goda Mirza santai. "Denda satu juta per sentuhan bakal jalan dua puluh empat jam penuh selama dua minggu. Gimana coba caranya kagak bersentuhan kalau tidurnya aja seranjang berdua di kamar yang sama?"
"Mirza! Nggak usah bercanda, deh! Ini tuh serius!" jerit Alana kesal setengah mati, melempar pandangan tajam yang seolah siap menguliti suaminya hidup-hidup.
Seketika raut wajah Mirza berubah menjadi lebih serius. Dia memelankan laju mobilnya saat mendekati lampu merah, lalu berbalik menatap Alana lurus-lurus.
"Alana, coba kamu pikir pakai logika," ujar Mirza dengan suara berat dan tenang.
"Kita mau cari alasan apa lagi buat menolak pemberian Papa? Mau bilang saya sibuk di bengkel dan kamu sibuk di kantor? Pasangan pengantin baru mana yang menolak hadiah honeymoon gratis ke Swiss cuma gara-gara alasannya kerjaan menumpuk dan deadline meeting?"
Alana terdiam, lidahnya mendadak kelu.
"Kalau kita menolak sekarang, mereka pasti langsung curiga," lanjut Mirza menatap istrinya dalam-dalam.
"Papa sama Mama kamu pasti bakal kecewa berat. Mau kamu melihat mereka membenci saya lagi kayak waktu pertama kali saya datang ke rumah itu? Saya ini sudah susah payah meluluhkan hati kedua orang tua kamu, Alana. Kalau sekarang kita mendadak nolak hadiah honeymoon dari Papa ... itu baru namanya tindakan bunuh diri yang sebenarnya."