Tiga tahun menikah, Arini hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Setiap hari ia diejek mertua karena belum juga hamil. Padahal, suaminya Bara Mahendra tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Pernikahan mereka hanya formalitas bisnis.
Sampai di malam anniversary ke-3, Bara pulang.
Bukan dengan bunga. Tapi dengan seorang wanita hamil dan selembar surat cerai.
"Maaf, Arini. Kamu mandul. Aku butuh anak. Luna sudah mengandung anakku 2 bulan. Tanda tangani ini, aku beri kamu 500 juta."
Di malam hujan itu, Arini diusir dengan satu koper butut. Tidak ada yang membelanya.
Tapi Tuhan tidak tidur.
Di pinggir jalan, dalam keadaan hampir pingsan, Arini ditolong oleh Revan Aditya — CEO muda paling berkuasa di Jakarta yang terkenal dingin dan tak tersentuh wanita.
Dan Sebuah rahasia terungkap, Yang mandul bukan arini tapi bara.
arini kembali bukan lagi sebagai wanita terbuang yang menangis di meja makan tapi sebagai wanita elegan pemilik saham terbesar di perusahaan bara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sertifikat Palsu
Jam 8 pagi, Senin, 20 Oktober Seharusnya hari ini adalah hari paling bahagia bagi Mandor Kecil Dari Puncak.
Alesha sudah berangkat sekolah dengan rompi oranye dan helm kuning miringnya. Aku di rumah dengan perut 9 minggu 5 hari yang pagi ini mualnya lebih parah dari biasanya, muntah 3 kali sampai Mbak Sari panik. Revan sudah berangkat ke kantor Argan Group untuk meeting penting yang tidak bisa dibatalkan lagi, karena hari ini ada investor dari Singapura yang mau investasi 50 miliar untuk proyek Puncak.
Semua terlihat normal. Pondasi 20 persen aman. Foto USG dan gelang 5 ribu aman di bawah batu bata pertama. Bunga matahari liar aman dengan pagar bambu kecil.
Sampai jam 08:40:31, handphone Revan yang tertinggal di meja makan berdering. Bukan. Handphone ku yang berdering. Nomor tidak dikenal. Surabaya.
Aku angkat dengan tangan gemetar. Masih trauma dengan telepon Luna kemarin yang minta donor ginjal.
"Halo? Ini dengan Ibu Arini? Ini saya Pak Slamet, mandor proyek Puncak."
Jantungku berhenti. Pak Slamet tidak pernah telepon pagi-pagi. Biasanya dia telepon sore untuk laporan progres ke Revan.
"Iya Pak Slamet, saya Arini, ada apa Pak? Pondasinya kenapa?"
Di seberang, suara Pak Slamet panik, bercampur suara angin Puncak dan suara orang berdebat. "Bu Arini, maaf Bu, saya gak enak. Tadi jam 7 pagi ada ibu-ibu datang ke tanah Puncak, Bu. Bawa 2 orang laki-laki berbadan besar. Ibu-ibu itu bilang tanah ini punya anaknya. Bawa sertifikat, Bu. Sertifikat asli katanya. Atas nama Bara Mahendra. Dia bilang tanah 500 meter ini dia yang beli dulu tahun 2018, sebelum dijual ke Pak Revan. Dia mau gusur pondasi kita, Bu! Dia bilang batu bata pertama yang dipasang Mandor Kecil kemarin itu di atas tanah anaknya!"
Dunia runtuh untuk kelima kalinya.
Bara Mahendra. Lagi. Lagi-lagi Bara Mahendra.
Bahkan setelah gagal ginjal, bahkan setelah dibayari Revan biaya rumah sakitnya di RS Darmo Surabaya, bahkan setelah tulisanku LUNAS di kulkas, nama Bara Mahendra masih muncul lagi. Kali ini bukan Bara nya, tapi sertifikat atas nama Bara Mahendra tahun 2018.
Tahun 2018. Tahun aku menikah dengan Bara. Tahun dimana aku masih jadi pembantu di rumah mertua, diejek mandul, tahun dimana semua gajiku sebagai guru honorer aku berikan ke mertua untuk ditabung katanya buat beli tanah di Puncak untuk masa depan.
Tanah itu. Tanah yang sekarang atas nama Alesha Pratama Argan. Tanah yang dulu... dulu aku yang nabung!
"Ibu itu siapa Pak Slamet?" tanyaku, suaraku bergetar, perutku yang 9 minggu 5 hari terasa kram.
"Ibu itu bilang namanya Bu Lastri, Bu. Ngakunya ibu kandung Pak Bara. Dia bilang..." Pak Slamet terdiam, tidak enak. "Dia bilang Alesha itu masih cucu kandungnya. Jadi tanah atas nama Alesha itu harusnya atas nama keluarga Bara juga. Dia mau gugat, Bu. Dia sudah foto-foto pondasi kita."
Bu Lastri. Mertua jahatku. Perempuan yang 5 tahun lalu setiap hari memanggilku "perempuan mandul tidak berguna", perempuan yang menyuruh Bara menceraikanku dan menikahi Luna karena Luna hamil, perempuan yang mengambil semua tabunganku 32 juta tahun 2018 dengan alasan "Mama simpenin buat beli tanah Puncak buat kamu sama Bara nanti kalau sudah punya anak".
32 juta. Tanah 500 meter di Puncak tahun 2018 memang harganya 32 juta. Aku ingat persis. Aku yang transfer dari ATM BRI depan sekolah tempat aku ngajar honorer. Aku yang catat di buku tulis kecilku: "Tabungan Tanah Puncak - 32 juta - Untuk Masa Depan Anakku Nanti".
Dan sekarang... sertifikat itu atas nama Bara Mahendra. Bukan atas namaku. Bukan atas nama Alesha. Atas nama Bara.
Revan membeli tanah itu bulan lalu dari seorang makelar, dengan harga 350 juta. Harga sekarang. Makelar itu bilang tanah itu tanah kosong tidak sengketa, sudah SHM, atas nama orang lain yang butuh uang. Revan cek BPN, aman. Revan bayar lunas. Revan balik nama atas nama Alesha Pratama Argan untuk hadiah ulang tahun Alesha.
Tapi ternyata... ternyata tanah itu memang tanahku dulu. Tanah yang aku tabung dengan 32 juta keringatku jadi guru honorer. Tanah yang mertuaku, Bu Lastri, sertifikatkan atas nama anaknya, Bara Mahendra, bukan atasku.
Dan sekarang Bu Lastri datang dengan sertifikat palsu atau asli tahun 2018 itu, mau merebut lagi tanah yang sudah dibeli Revan 350 juta dan sudah ada pondasi 20 persen dengan foto USG adik dan gelang 5 ribu di bawah batu bata pertamanya.
Aku tidak bisa bernapas. Mual. Pusing. 9 minggu 5 hari. Aku duduk di lantai ruang tamu, di atas denah biru Rumah Bunga Matahari yang sudah penuh coretan crayon Alesha.
Handphoneku berdering lagi. Kali ini Revan. Video call. Wajahnya panik di mobil, di jalan tol menuju Puncak, meninggalkan meeting 50 miliar investor Singapura.
"Arini! Kamu di mana? Pak Slamet barusan telepon aku! Kamu jangan panik! Kamu di rumah aja! Jangan ke Puncak! Kamu lagi hamil 9 minggu 5 hari! Biar aku yang urus!"
"Tapi Revan... tanah itu... tanah itu dulu aku yang nabung 32 juta... Bu Lastri... mertuaku dulu... dia ambil uangku..."
"Aku tahu," potong Revan cepat. "Aku sudah cek ke BPN Puncak tadi di jalan. Sertifikat atas nama Bara Mahendra tahun 2018 itu... itu sertifikat palsu, Ma. BPN tidak ada recordnya. Bu Lastri bikin sertifikat palsu pakai makelar liar. Tanah yang kita beli itu legal, SHM asli atas nama Pak Haji Sulaiman yang kita beli, sudah aku cek 3 kali sebelum aku beli dan balik nama ke Alesha. Bu Lastri mau nipu kita."
Sertifikat palsu. Lagi-lagi penipuan. Keluarga Bara memang keluarga penipu. Dulu menipu uang tabunganku 32 juta, sekarang menipu dengan sertifikat palsu mau merebut tanah 500 meter yang sekarang harganya 350 juta dan sudah ada pondasi Rumah Bunga Matahari di atasnya.
Tapi cerita belum selesai. Belum. Karena jam 09.51, saat aku masih di lantai ruang tamu menangis dengan perut kram 9 minggu 5 hari, saat Revan masih di tol menuju Puncak, handphone Pak Slamet masuk lagi ke handphone ku. Video call.
Di layar, bukan hanya Bu Lastri dengan 2 laki-laki berbadan besar dan sertifikat palsunya. Tapi ada satu lagi. Satu orang yang membuat darahku berhenti mengalir.
Bara. Bara Mahendra. Dengan baju pasien rumah sakit putih biru RS Darmo Surabaya, dengan selang infus masih menempel di tangannya yang kurus, dengan wajah pucat gagal ginjal, dengan mata cekung, berdiri di atas tanah Puncak kami, di atas pondasi 20 persen, di atas batu bata pertama tempat foto USG dan gelang 5 ribu berada.
Bara kabur dari rumah sakit. Gagal ginjal stadium 4, kabur dari RS Darmo Surabaya, naik bus 12 jam ke Puncak, untuk merebut tanah bersama ibunya.
"Arini..." suara Bara di video call, parau, hampir tidak terdengar karena angin Puncak. "Tanah ini... tanah ini hak ku... Aku yang beli pakai uang tabungan kamu dulu... 32 juta... harusnya... harusnya ini hak Alesha... hak anak ku... bukan anak Revan..."
Alesha. Dia masih menyebut Alesha anaknya.
Di belakang Bara, Bu Lastri berteriak-teriak ke Pak Slamet, "Gusur! Gusur pondasinya! Ini tanah anak saya! Cucu saya Alesha harus dapat tanah ini, bukan Revan!"
Pondasi 20 persen. Batu bata pertama dengan foto USG 9 minggu 1 hari dan gelang 5 ribu di bawahnya. Bunga matahari liar dengan pagar bambu kecil. Semua mau digusur. Oleh keluarga yang dulu menelantarkan aku karena mandul, yang sekarang gagal ginjal dan membuat sertifikat palsu.
Alesha masih di sekolah, dengan rompi oranye Mandor Kecil, tidak tahu bahwa tanah atas namanya, tanah yang batu bata pertamanya dia letakkan sendiri, sekarang sedang mau digusur oleh ayah kandungnya yang gagal ginjal dan neneknya yang dulu memanggil Mama nya perempuan mandul tidak berguna.
Aku harus bagaimana? Aku hamil 9 minggu 5 hari, kram, mual, di lantai ruang tamu. Revan masih 1 jam lagi sampai Puncak. Alesha masih 3 jam lagi pulang sekolah. Dan Bara sudah di sana, di atas tanah kami, dengan selang infus.
Konfliknya sudah balik lagi, ADIRA. Bahkan lebih besar dari sebelumnya. Bukan hanya donor ginjal. Tapi sertifikat palsu. Penipuan 32 juta. Perebutan tanah 500 meter. Dan Alesha di tengah-tengahnya.
Apakah Revan akan sampai tepat waktu sebelum pondasi digusur? Apakah foto USG dan gelang 5 ribu di bawah batu bata pertama akan selamat? Apakah Mandor Kecil Dari Puncak akan menangis melihat tanahnya digusur ayah kandungnya sendiri?